
"Apa-apaan ini? Kenapa takdir mempermainkanku. Kenapa aku harus bertemu dengan wanita yang berusaha aku lupakan. Ini semua tidak mungkin kebetulan. Pasti Opa Zen mengetahui semua ini. Dia sengaja menyatukan aku dan Faith," gumam Zion di dalam hati. Pria itu duduk di taman yang tidak jauh dari rumah sakit. Dia sengaja lari ke sana untuk menenangkan pikirannya yang begitu kacau.
"Zion, Maafkan mama. Mama tahu apa yang sekarang kau pikirkan."
Zion mengukir senyuman mendengar suara ibunya lalu memandang ke samping. Pria itu menghela nafas untuk menenangkan pikirannya. Ia bahkan memijat pangkal hidungnya ketika kepalanya terasa pusing.
"Aku baik-baik saja Ma."
"Mama tahu kalau saat ini kau bingung harus mengambil keputusan apa. Mama akui kalau di sini mama lah yang salah. Mama terlalu egois dan tidak memikirkan perasaanmu. Tidak seharusnya Mama memaksakan kehendak mama. Dulu mama saja tidak mau menikah dengan pria yang tidak mama cintai. Bagaimana mungkin sekarang mama memaksa Putra Mama untuk menikah dengan wanita yang tidak dicintainya. Mama tahu kalau kau masih mencintai Faith. Mama bisa melihat jelas dari caramu menatapnya tadi. Sekarang sudah jadi seperti ini. Faith juga berasal dari keluarga baik-baik. Tidak ada alasan lagi bagi Mama untuk menghalangi cinta kalian. Hari ini mama mau bilang kepadamu kalau mama merestui hubunganmu dan Faith. Perjuangkan Faith. Luluhkan lagi hatinya agar Ia mau menerimamu sebagai suaminya. Maafkan Mama karena pernah mengusik kebahagiaan kalian berdua."
Zion beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan menghampiri Leona lalu memeluknya. "Mama tidak salah. Aku juga tidak salah dan Faith juga tidak salah karena memang tidak ada yang salah di sini. Takdir saja yang sedang mempermainkan kita. Kalau saja semuanya dijelaskan sejak awal mungkin hal ini tidak akan terjadi. Meskipun di antara aku dan Faith tidak ada hubungan apapun setidaknya aku sudah tahu kalau wanita itu mencintaiku. Ini akan menjadi kekuatanku untuk memperjuangkannya."
"Mama akan membantumu untuk meluluhkan hati Faith. Sebaiknya siang ini kita istirahat dulu nanti malam kita temui keluarga Faith lagi. Zean sudah merestui hubungan kalian. Sepertinya untuk mendapatkan Faith tidak akan sulit. Dominic yang mungkin akan menjadi penghalang hubungan kalian. Pria itu sepertinya sangat dendam ketika melihatmu."
"Dominic melakukan hal yang benar Ma. Dia marah padaku karena aku telah melukai hati adiknya. Aku juga memiliki adik. Aku pasti tahu apa yang dia rasakan. Rasanya aku ingin tertawa saat ini ma."
"Tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Leona dengan wajah yang begitu serius.
"Aku masih ingat perjuangan Austin dan Foster untuk mendapatkan restuku. Sekarang justru aku yang ada di posisi mereka. Bukankah ini namanya karma."
"Tetapi kau tidak pernah mempersulit mereka. Pada akhirnya juga kau akan merestui mereka. Sepertinya jalanmu akan sangat mudah untuk mendapatkan restu Dominic," ucap Leona dengan penuh percaya diri.
"Belum tentu dia memiliki pemikiran yang sama sepertiku. Bagaimana kalau dia masih dendam kepadaku dan memiliki niat untuk memisahkan kami berdua."
"Apa kau lupa kalau kau ini masih memiliki seorang ibu yang hebat. Mama akan mengupayakan segala cara agar kau dan Faith bisa menikah. Tugasmu sekarang hanya satu. Pastikan Faith mau menikah denganmu maka semua masalah akan beres. Jangan jadikan Dominic sebagai halangan untuk kalian bersatu."
"Tapi bagaimana kalau paman Zean mengetahui masalah yang pernah terjadi di antara kami. Apakah dia akan memaafkanku?"
"Jika diulang kembali masalah yang terjadi antara kau dan Dominic sebenarnya yang salah adalah Dominic sendiri. Mama sudah bilang tadi Jangan memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Sekarang fokus aja untuk meluluhkan hati Faith."
"Baiklah Ma. Kali ini aku akan dengarkan kata-kata mama. Aku tidak akan memikirkan restu dari Dominic lagi." Wajah Zion terlihat berseri dan lebih bersemangat dari sebelumnya. Hal itu membuat Leona juga merasa bahagia. "Terima kasih Ma terima kasih."
Leona juga bahagia melihat putranya bahagia. Wanita itu lagi-lagi memeluk Zion untuk memberi semangat kepada pria itu.
...***...
Dominic memainkan ponselnya sambil berbaring di atas sofa. Sedangkan Faith duduk di atas tempat tidur sambil memotong kuku Zean. Sore itu ruangan tempat Zean dirawat terasa sangat hening. Tidak ada suara apapun selain jarum jam di dinding.
__ADS_1
Zean memperhatikan Faith dengan seksama. Pria itu ingin memastikan sendiri kalau putrinya tidak akan menolak jika dijodohkan dengan anak Leona.
"Faith, Apa kau memiliki pacar?" tanya Zean dengan suara yang pelan. Dia sengaja mengecilkan suaranya karena tidak mau Dominic mendengar pembicaraan mereka.
Faith menggeleng kepalanya. "Tidak ada Pa. Kenapa Papa bertanya seperti itu?"
"Apa kau mencintai seseorang?"
Kali ini Faith kelihatan sulit untuk menjawabnya. Namun karena tidak mau membuat Zean bingung, wanita itu memilih untuk menggeleng kepalanya sambil tersenyum. "Tidak ada Pa."
"Apa kau mau menikah dengan Zion?"
Faith menurunkan potongan kuku yang sejak tadi ia pegang. Wanita itu melirik ke arah Dominic yang masih seru main game sebelum memandang ke arah Zean lagi. "Apa papa akan sembuh jika aku menikah dengan Tuan Zion?"
"Jangankan sembuh bahkan Papa ingin hidup seribu tahun lagi agar bisa melihatmu melahirkan cucu-cucu papa nanti. Kau mau kan menikah dengan Zion? Dia pria yang sangat baik. Papa berani jamin karena kedua orang tuanya sangat baik kepada papa. Kami bersahabat sejak lama."
"Jika papa bahagia maka aku juga ikut bahagia. Aku akan melakukan apapun yang papa inginkan asal papa cepat sembuh. Tetapi bagaimana dengan Tante Leona. Bagaimana kalau Tante Leona tidak setuju jika aku menikah dengan Tuan Zion?"
"Itu akan menjadi urusan papa dan tante Leona. Kau tidak perlu ikut-ikutan. Yang penting kau bersedia untuk menikah dengan Zion."
Sekarang Faith tidak tahu harus bagaimana. Antara senang dan juga sedih. Ia senang karena pada akhirnya Ia akan segera menikah dengan pria yang ia cintai. Namun ia sedih karena dia takut calon mertuanya tidak menyukainya. Entah bagaimana caranya ia menghadapi kehidupan rumah tangganya nanti jika sampai mertuanya membencinya.
"Aku memikirkan rencana Papa untuk keliling dunia. Apa kita akan membatalkan rencana itu?"
Zean mengangguk-ngangguk kepalanya. "Kau benar. Sepertinya kita harus menunda rencana kita untuk keliling dunia. Sekarang ada urusan yang jauh lebih penting. Kau harus menikah dengan Zion. Nanti malam ketika Tante Leona datang ke sini papa akan langsung membicarakan pertunanganmu dengan Zion."
"Tapi aku mau menikah dengan Tuan Zion jika Papa sudah sembuh. Aku tidak akan sanggup untuk meninggalkan Papa dan hidup bersama Tuan Zion jika Papa masih dalam keadaan sakit. Siapa nanti yang akan mengurus papa. Kak Dominic seorang pria. Dia tidak memiliki bakat untuk mengurus orang sakit."
"Baiklah. Papa setuju dengan persyaratan yang kau ajukan. Papa sangat yakin kalau tidak lama lagi papa akan sembuh. Penyakit ini akan segera pergi dan menjauh dari tubuh papa."
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa kelihatannya serius sekali?" Dominic tiba-tiba beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri Zean dan juga Faith. "Apa aku boleh bergabung?"
"Aku sedang menanyakan makanan favorit papa. Setelah pulang dari rumah sakit nanti aku akan belajar memasak agar bisa menyajikan makanan yang enak untuk Kak Dominic dan juga Papa," dusta Faith sambil tersenyum manis. Dia tidak mau sampai Dominic curiga dan mengetahui obrolan mereka tadi.
"Benarkah. Kalau begitu aku akan membantumu. Aku akan mencari koki terbaik untuk mengajarimu memasak. Nanti ketika kau sudah pintar memasak, masakan beberapa makanan untukku dan juga Papa. Masih membayangkannya saja sudah Membuatku menjadi lapar."
"Baiklah. Aku akan memasak beberapa makanan untuk Kak Dominic dan juga papa."
__ADS_1
Tiba-tiba saja pintu terbuka dan Zion muncul di sana. Dominic terlihat tidak suka ketika melihat Zion muncul lagi di ruangan itu. Sedangkan Faith terlihat bahagia ketika ia bisa melihat Zion lagi. Namun ada kekhawatiran di hatinya ketika melihat Zion muncul. Wanita itu takut jika kemunculan Zion hanya untuk mengatakan kalimat penolakan. Faith tidak mau ditolak untuk yang kedua kalinya.
"Zion kemarilah. Ada yang ingin Paman bicarakan denganmu." Zean .elambaikan tangannya meminta Zion untuk mendekatinya.
Dominic menatap tajam wajah Zion sebelum menyingkir dari sana. Pria itu tetap berdiri di sana untuk mendengar pembicaraan Ayah kandungnya dengan Zion.
"Apa mamamu yang menyuruhmu datang ke sini?" tanya Zean sambil tersenyum bahagia.
"Benar Paman. Tadi kata Mama Paman meminta saya untuk datang ke sini. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Zion dengan ekspresi wajah yang begitu tenang. Dia seperti tidak peduli kalau kini ada sepasang mata yang memandangnya dengan tatapan yang begitu tajam.
"Ya, benar. Bukankah kami berdua telah menjodohkanmu dan Faith. Jadi Paman minta kau untuk melakukan pendekatan dengan Faith. Ajak Faith untuk mengelilingi kota Dubai. Ada banyak sekali tempat menarik di Dubai ini."
"Kenapa harus Zion? Aku juga bisa menemani Faith untuk mengelilingi kota Dubai," ketus Dominic tidak setuju.
"Sebaiknya kau di sini saja temani papa. Biar adikmu jalan-jalan bersama dengan calon suaminya," sahut Zean dengan wajah yang serius.
"Calon suami? Calon suami dari mana? Belum tentu mereka berjodoh. Kenapa Papa mengatakan kalau pria ini adalah calon suami adikku?"
"Mereka sudah pasti berjodoh karena papa dan tante Leona akan menentukan tanggal pertunangan mereka berdua. Setelah Faith menikah papa akan mencarikan jodoh untukmu agar kau tidak iri melihat adikmu menikah."
"Pa, ini bukan karena masalah aku iri melihat Faith menikah. Tetapi aku tidak mau adikku menikah dengan pria yang tidak Mencintainya," ujar Dominic semakin menjadi bahkan nada bicaranya juga semakin kuat.
"Siapa bilang saya tidak mencintai adik Anda, Tuan. Saya sangat mencintai adik anda sejak pandangan pertama. Saya berjanji akan membahagiakannya Ketika saya menikahinya nanti."
Mendengar jawaban Zion membuat Faith melayang-layang namun wanita itu berusaha menyembunyikan kebahagiaannya. Sama halnya dengan Zean yang kini terlihat bangga mendengar jawaban yang terucap dari bibir Zion.
"Apa sekarang kau sudah puas mendengarnya. Mereka berdua ini saling mencintai papa bisa melihat dari tatapan mereka masing-masing dan kau sebagai kakak sebaiknya jangan halangi kebahagiaan adikmu."
"tapi pa-"
"Faith. Pergilah bersama dengan Zion. Kalian bisa saling mendekatkan diri. Kembalilah ke tempat ini jika kalian sudah puas jalan-jalan." Zean kembali memandang ke arah Zion. "Tolong jaga putriku. Jangan sampai dia celaka karena jika dia sampai celaka aku akan menyalahkanmu karena sudah teledor menjaganya."
"Baik Paman. Saya akan menjaga Faith dengan seluruh nyawa yang saya miliki. Anda tidak perlu meragukan saya." Zion memandang Dominic dengan wajah penuh kemenangan. Pria itu lalu mendekati Faith untuk mengajak Wanita itu pergi. Dengan penuh percaya diri Zion mengulurkan tangannya untuk mengajak Faith turun dari tempat tidur. "Ayo kita keluar untuk jalan-jalan," ajak Zion dengan nada yang romantis.
Faith masih memasang wajah cuek padahal sebenarnya hatinya berbunga-bunga. Wanita itu menyambut uluran tangan Zion lalu turun dengan hati-hati. "Pa, Faith pamit jalan-jalan dulu. Faith akan segera kembali."
Zean hanya mengangguk saja. Pria itu menatap Dominic dengan begitu serius agar putranya itu tidak menghalangi adiknya untuk jalan-jalan.
__ADS_1
"Sial. Kenapa aku terus-terusan kalah dari Zion Zein!" umpat Dominic di dalam hati.