
Zeroun duduk di sebuah kursi sambil memandang ke jendela. Mereka baru saja mengantarkan Serena ke tempat peristirahatan terakhir. Kini wanita itu telah bertemu dengan suaminya. Dia telah meninggal semua orang yang sangat menyayanginya di dunia ini.
Zeroun masih belum bisa menerima semua ini. Sejak pulang dari pemakaman Zeroun hanya diam. Pria itu bahkan tidak merespon pertanyaan orang-orang.
Lukas dan Oliver masuk ke dalam ruangan Zeroun sambil membawa minuman hangat. Mereka tahu kalau Zeroun belum ada makan dan minum. Maka dari itu mereka membawakan Zeroun minuman berenergi agar pria itu tidak sampai jatuh sakit.
"Bos, anda bisa meminumnya sekarang." Lukas meletakkan minuman itu di meja dekat kursi yang diduduki Zeroun. Tetapi Zeroun tidak memberikan respon apapun. Pria itu masih tetap diam sambil memandang keluar jendela. Seolah-olah Serena dan Emelie berdiri di sana sambil tersenyum padanya.
"Dad, sepertinya Paman Zeroun butuh waktu untuk sendiri." Oliver melangkah mundur. "Kita harus pergi dari sini. Kita tidak bisa memaksanya."
Lukas memandang wajah Zeroun lagi. Dia tidak pernah tega melihat Zeroun terpuruk seperti ini. Namun, dia juga tidak memiliki cara untuk membuat Zeroun kembali bangkit. Bukan hanya Zeroun. Bahkan kini semua orang juga sedang merenung setelah ditinggalkan oleh Serena. Mereka semua masih mengira kalau semua ini hanya mimpi.
"Saya permisi, bos." Lukas segera mundur dan pergi dari sana. Oliver juga ikut bersama dengan Lukas.
Setibanya di depan ruangan, dua pria itu saling memandang. Mereka berdua terlihat tidak bersemangat melihat Zeroun seperti itu. Pencarian Norah belum berhenti. Mereka harus tetap berjuang.
"Dad, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Kau tetap di sini. Jaga Bos Zeroun. Urusan Norah biar Daddy dan Zion yang menyelidikinya."
"Daddy yakin? Bagaimana kalau aku saja?"
"Pikirkan Katterine. Dia butuh kau di rumah."
Oliver kali ini tidak bisa membantah lagi. Memang Katterine sekarang juga sudah mulai sakit-sakitan. Oliver tidak tega meninggalkannya sendiri di rumah.
"Baiklah. Aku akan membawa Katterine ke rumah ini agar kami bisa sama-sama menjaga Paman Zeroun."
Lukas melirik jam di tangannya. "Daddy pergi dulu. Sampaikan salam Daddy sama mommymu. Katakan kalau Daddy sangat merindukannya."
Lukas segera pergi. Oliver masih bertahan di tempat itu sambil memandang punggung Lukas yang semakin menjauh.
"Kami yang salah. Seharusnya kami tidak perlu menghidupkan Gold Dragon agar masalah seperti ini tidak pernah terjadi."
...***...
Malam kembali tiba. Sudah hampir dua hari Norah dan Austin terjebak di pulau tersebut. Harapan datangnya bala bantuan seakan sirna karena sudah terlalu lama mereka berada di sana. Austin sendiri mulai kesal kepada Paman Tano. Selama ini pria paruh baya itu selalu bisa diandalkan. Namun kali ini justru hasil yang diberikan pria tersebut sangat mengecewakan.
__ADS_1
Austin ingin segera keluar dari pulau agar dia bisa bertemu dengan Zion dan meminta maaf. Dia sendiri yang akan mengantarkan Norah ke rumah keluarganya. Walaupun begitu, sampai detik ini Austin belum memberi tahu Norah kalau dia sudah tahu Norah adik kandung Zion Zein. Dia ingin sikap Norah tidak berbeda. Tetap seperti ini. Galak dan menggemaskan. Dia tidak mau Norah menjadi jauh dan aneh terhadapnya.
Norah merasa sangat ngantuk setelah perutnya kenyang. Walau mereka terjebak di hutan, tetapi mereka tidak kelaparan. Austin sangat pintar mengolah makanan. Norah sendiri banyak belajar dari Austin. Dia ingin mempelajari cara bertahan hidup jika terjebak di tengah-tengah hutan atau tempat sunyi seperti ini.
Austin membolak-balik kayu yang ada di dalam bara api. Pria itu juga banyak diam akhir-akhir ini. Dia seperti sedang menyusun rencana untuk bisa mendapatkan Norah. Tentu Austin tahu kalau tidak mudah mendapatkan maaf Zion Zein. Ini akan menjadi perjuangan yang sulit bahkan lebih sulit dari pada membuat Norah jatuh cinta padanya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Norah lebih dulu. Wanita itu bahkan memandang Austin yang kini jaraknya sangat dekat dengannya. Mereka duduk berdampingan sambil menghadap api unggun.
"Tidak ada." Austin tersenyum dan memandang Norah. "Apa kau memiliki kakak?"
Deg. Norah terdiam. Dia tidak mau membahas soal ini sekarang. "Punya," jawab Norah. Berharap pria itu tidak bertanya lebih jauh lagi.
Austin itu mengangguk sebelum kembali diam dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa? Apa kau juga memiliki kakak?" tanya Norah gantian.
"Aku anak tunggal. Bahkan aku bukan anak kandung ayahku. Aku bukan darah murni keturunan Clark."
"Itu tidak jadi masalah. Yang terpenting, mereka menyayangimu dan menganggapmu sebagai anak. Aku yakin, mereka pasti akan bahagia melihatmu saat ini. Kau sudah berubah menjadi pria yang jauh lebih baik. Setidaknya mereka bisa tidur dengan tenang di surga sana."
Austin mengeryitkan dahinya. "Surga? Kau tahu kalau kedua orang tuaku sudah tiada?"
"Bukankah kau sendiri yang bilang kalau saat ini kau sendiri di dunia ini?"
Austin kembali diam. Walau rasanya sulit baginya untuk percaya. Tetapi mau bagaimana lagi? Dia juga tidak bisa mengingat semua obrolannya bersama Norah.
Saat Norah dan Austin melamun dengan pikiran mereka masing-masing. Tiba-tiba saja terdengar gemuruh petir dari langit. Norah yang kaget dan merasa takut karena melihat kilatan dari langit segera menekuk kedua kakinya. Ia membenamkan kepalanya di antara kedua kaki dengan tubuh gemetar. Walau mereka bisa saja bersembunyi di dalam tenda, tetapi tetap saja rasanya Norah takut kalau sampai mendengar suara petir di tengah hutan seperti ini.
Austin memandang ke atas sebelum melihat ke arah Norah lagi. Sikap Norah membuatnya khawatir. "Kau takut?"
"Ya. Aku sangat takut dengan petir," jawab Norah penuh kejujuran. Bersamaan dengan itu, suara gemuruh petir yang terdahsyat terdengar dengan begitu jelas. Norah yang kaget dan takut segera melompat menghampiri Austin . Hingga tanpa di sadari, kini wanita itu ada di atas pangkuan Austin.
Sama halnya dengan Norah. Austin juga sangat kaget ketika Norah duduk di atas pangkuannya. Kedua mata mereka saling memandang. Hujan mulai turun dengan derasnya. Tubuh mereka juga mulai basah.
"Kita harus masuk ke dan tenda. Aku akan membawamu masuk." Dengan cepat Austin menggendong Norah dan membawanya masuk ke dalam. Dia meletakkan Norah di tengah sebelum menutup tenda agar angin dan air hujan tidak masuk ke dalam.
"Maaf." Norah memalingkan wajahnya. Dia lagi-lagi memeluk kakinya karena kedinginan.
__ADS_1
"Maaf untuk apa?" Austin mendekati Norah. Duduk di hadapan wanita itu dan memandangnya dengan saksama. "Kau tidak salah, Norah. Kau berlari ke orang yang tepat. Aku bisa melindungimu."
"Austin, aku ingin tidur. Kepalaku terasa pusing." Norah memandang lantai tenda yang sempit dan dingin. Beberapa malam ini dia tidur di sana. Sedangkan Austin di luar. Sekarang saat hujan turun, Norah bingung harus bagaimana. Walau cukup untuk mereka tidur di dalam tenda tersebut. Tetapi tetap saja Norah tidak nyaman jika harus tidur bersama dengan pria asing seperti Austin.
"Anda mengusir saya, Nona? di hujan deras seperti ini?" Austin menaikan satu alisnya. Norah kembali diam. Dengan kepala menunduk wanita itu menggeleng.
"Aku tidur duluan."
Ketika Norah ingin mencari posisi tidur, tiba-tiba terdengar gemuruh petir yang begitu memekakan telinga. Austin menarik tangan Norah dan memeluknya dengan erat. Norah sendiri secara spontan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Austin.
"Semua akan baik-baik saja. Tetaplah seperti ini. Setidaknya sampai hujannya reda."
Norah yang sadar lebih dulu memutuskan untuk menjauh dari Austin setelah petir hilang. Tapi, tidak dengan Austin . Pria itu menahan pinggang Norah agar tidak pergi kemana-mana. Norah menyadari tekanan yang diberikan Austin. Austin mengusap pipi Norah dan memandang wanita itu penuh cinta.
"Apa yang mau dia lakukan?" gumam Norah di dalam hati. Kedua mata Norah masih menatap mata Austin yang kini memandangnya tanpa berkedip.
Wajah Austin perlahan maju mendekati wajah Norah. Tangannya yang lain telah ada di kepala Norah untuk menarik wajah wanita itu agar bisa lebih dekat dengan wajahnya. Norah mematung. Austin seperti sedang menghipnotis dirinya. Namun, dalam hitungan detik Norah tersadar.
"Apa yang mau kau lakukan?" protes Norah. Austin terdiam. Dia memalingkan wajahnya sebelum menjauhi Norah lagi.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu!" perintah Austin. Norah tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia segera menjauhi Austin dan berbaring. Austin hanya diam saja sambil memandang Norah.
Austin memutar-mutar berlatihnya sambil menjaga Norah yang sedang tidur. Hujan mulai berhenti. Kini hanya tersisa udara dingin yang membuat tubuh terasa beku. Austin mengusap kedua lengannya agar hangat sebelum memandang Norah yang meringkuk seperti janin di dalam perut. Wanita itu kedinginan. Ya, itulah yang terlintas di pikiran Austin. Tetapi apa yang bisa dia lakukan?
"Kak Zion ... Kak Zion ...." Lagi-lagi Norah mengigau memanggil nama kakaknya. Austin sudah tidak kaget lagi karena dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi, kali ini ada yang aneh. Norah seperti sedang menahan sakit. Austin memegang dahi Norah untuk memeriksanya. Betapa kagetnya pria itu ketika suhu tubuh Norah sangat tinggi.
"Norah, bangunlah. Apa kau masih bisa mendengarkanku?" Austin menepuk pipi Norah dengan lembut. Norah masih memejamkan mata. Bibir wanita itu pucat.
"Dia demam. Sekarang kau harus bagaimana?"
Austin meletakkan tubuh Norah di atas pangkuan. Pria itu akan memeluk tubuh Norah agar tidak kedinginan.
"Bertahanlah. Kau harus kuat Norah."
Austin memandang wajah Norah lagi. Kali ini pria itu merasa senang melihat Norah kembali membuka mata.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Austin.
__ADS_1
"Dingin." Norah mempererat pelukannya. Rasanya dia tidak mau melepas tubuh Austin karena tubuh pria itu hangat sekali. Austin membalas pelukan Norah.
"Aku akan menjagamu, Norah. Percayalah padaku."