
Daisy meletakkan teh yang baru saja ia buat di atas meja. Melihat Opa Zen yang tersenyum dengan wajah ceria membuatnya semakin curiga. Sore ini Daisy memutuskan untuk berkunjung ke rumah Opa Zen sebelum berangkat ke Universitas Yale. Bahkan Opa Zen sendiri yang menawarkan diri kalau dia akan mengantarkan Daisy ke Universitas Yale nantinya.
"Aku tahu Opa pasti sedang merencanakan sesuatu," tebak Daisy asal saja. Wanita itu duduk di kursi yang ada di samping Opa Zen. "Opa tidak mau menceritakannya kepadaku? Bukankah selama ini aku orang yang bisa dipercaya? Aku pasti bisa menjaga rahasia Opa," bujuk Daisy lagi dengan penuh semangat. Bahkan ia memasang wajah yang menggemaskan agar Opanya luluh dan mau menceritakan rahasia yang sedang disembunyikan saat ini.
"Kau benar-benar ingin mengetahuinya?" tanya Opa Zen.
Daisy mengangguk cepat. "Ya, Opa. Cepat ceritakan sekarang juga. Aku sudah tidak sabar untuk mendengarkannya."
__ADS_1
"Saat ini kakakmu Zion sudah menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istrinya. Nanti ketika mereka pulang ke rumah sudah ada wanita cantik yang ikut bersama dengan mereka. Mungkin pesta pertunangan akan segera dimulai." Opa Zen menahan kalimatnya sambil berpikir sejenak. "Tidak! Tidak! Mungkin dalam waktu dekat Leona akan menggelar pesta pernikahan. Dia pasti tidak sabar untuk melihat Zion menikah dengan wanita itu."
"Kenapa Opa begitu percaya diri. Bukankah di hati kak Zion masih ada nama Kak Faith? Jika pernikahannya terlalu cepat itu hanya akan membuat calon kakak iparku nanti sakit hati. Sebaiknya Kak Zion menikah setelah dia benar-benar berhasil melupakan Kak Faith. Setelah hatinya berhasil menghilangkan nama Kak Faith di saat itulah wanita yang akan dinikahi Kak Zion boleh mendekati Kak Zion dan meluluhkan hati Kak Zion. Aku yakin jika waktunya telah tiba, calon kakak iparku nanti bisa dengan mudah membuat Kak Zion tergila-gila." Daisy merasa sangat percaya diri. Ini adalah solusi yang menurutnya terbaik.
"Bagaimana kalau Zion sudah jatuh cinta dengan wanita ini?" tanya Opa Zen dengan wajah yang serius.
"Lalu bagaimana kalau wanita yang akan menikah dengan Zion sama dengan wanita yang dia cintai?" tanya Opa Zen sekali lagi.
__ADS_1
"Apa maksud Opa bicara seperti itu?" Daisy membenarkan posisi duduknya agar ia bisa menatap jelas wajah Opa Zen. "Tunggu. Apa Opa mau bilang kalau sekarang Kak Zion bertemu dengan Kak Faith di Dubai. Apa semua ini rencana Opa? Opa ingin menyatukan Kak Zion dengan Kak Faith lagi?" Nada bicara Daisy semakin meninggi. Wanita itu sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Opa Zen.
"Ya. Semua ini rencana Opa. Dan Opa yakin ibumu tidak akan bisa menolak lagi."
Ekspresi Daisy langsung berubah. Wanita itu sangat-sangat senang mendengar kabar gembira ini. "Opa. Apa memang selalu jadi yang terbaik." Daisy segera memeluk Opa Zen dengan begitu erat. "Terima kasih Opa. Daisy sayang opa. Sangat-sangat sayang Opa. Opa segalanya. Sayang Daisy sama Opa tidak ada habisnya."
Sedangkan Opa Zen hanya bisa tersenyum melihat cucunya bahagia. Bahkan pria itu tidak mau meminta Daisy untuk melepas pelukannya.
__ADS_1
"Selama Opa masih hidup. Opa jamin kalau kalian akan selalu bahagia. Tidak pernah merasa menderita apalagi karena cinta," ucap Opa Zen dengan sungguh-sungguh.