
"Namanya Elyna?" tanya Norah sambil membayangkan bagaimana wajah wanita cantik yang dijuluki sebagai sniper handal itu.
Mendengar namanya saja sudah membuat Norah bisa menilai kalau dia adalah wanita yang cantik. Norah merasa senang memiliki saudara seperti Elyna. Meskipun mereka belum pernah bertemu, tetapi setidaknya Norah tahu kalau sepupunya itu wanita tangguh sama seperti dirinya.
"Hemm. Mama tidak memiliki banyak informasi tentang Tante Letty. Nanti akan mama tanyakan langsung dengan Oma Lana. Semoga saja Oma Lana bisa membantu kita," jawab Leona lagi.
Wanita itu mendorong piring yang berisi potongan buah karena sudah merasa kenyang. Ia kembali memandang wajah Norah yang kini terlihat melamun.
"Kalau mama boleh tahu, kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu dengan Elyna? Kau butuh bantuannya?"
Norah tersenyum ramah. "Aku hanya ingin menjalin tali persaudaraan saja Ma. Mama jangan salah paham," sangkal Norah tanpa mau menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Yakin?" Leona menyipitkan kedua matanya dan menatap Norah dengan penuh curiga. "Tapi mana merasa kau seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari mama."
Norah menghela napas panjang. "Sebenarnya aku ingin menjodohkan Elyna dengan Dominic. Aku tidak mau Dominic terus-menerus menganggu kedekatan Kak Zion dan Kak Faith. Jika aku bisa membuat Elyna dan Dominic berjodoh, bukankah itu akan memudahkan Kak Zion juga?" jawab Norah pada akhirnya.
"Mama setuju setuju saja. Tapi bagaimana dengan dua orang yang akan kita jodohkan ini? Mereka tidak saling kenal bahkan tidak pernah bertemu. Bagaimana cara kita mempertemukan mereka jika salah satu dari mereka saja tidak ada di pihak kita."
Norah kembali diam. Sebenarnya wanita itu sendiri juga tidak tahu bagaimana kedepannya untuk mempertemukan Dominic dan Elyna. "Aku akan pikirkan nanti yang penting aku sudah bertemu dengan Elyna. Mama bantu aku ya?" bujuk Norah lagi. "Kita harus berhasil."
Leona mengangguk. "Pasti sayang. Mama akan selalu mendukungmu."
"Mama ...."
Leona dan Norah dibuat kaget dengan kemunculan Harumi di dapur. Ibu dan anak itu langsung tersenyum melihat bocah berusia 8 tahun itu berdiri di ambang pintu. Dia terlihat kebingungan saat itu.
"Harumi sayang ... kau sudah bangun? Kemarilah duduk sama mama," ucap Norah. Harumi segera berjalan menghampiri Norah. Anak kecil itu memandang ke arah Leona sejenak sebelum melirik buah yang ada di meja.
"Bagaimana tidurmu? Apa kau sudah tidak mengantuk lagi?" Norah langsung mendudukkan Harumi dipangkuannya. Tidak lupa wanita itu mendaratkan kecupan di pipi Harumi yang menggemaskan.
"Harumi mau buah apel?" tawar Leona.
Harumi mengangguk. Tanpa pikir panjang lagi Leona segera mengambil buah apel tersebut lalu memotong-motongnya. Setelah itu dia memberikannya kepada Harumi.
"Apa Daisy sudah menghubungi hari ini?" tanya Leona. Kemarin dia sempat meminta Norah untuk menghubungi Daisy agar mau membujuknya untuk pulang. Leona sangat merindukan putrinya itu.
"Sudah, Ma. Daisy bilang Secepatnya Dia akan pulang ke rumah. Dia juga ingin bertemu dengan Harumi." Norah membantu Harumi memakan potongan buah apel tersebut. Wanita itu terlihat sabar ketika membantu Harumi. Sudah terlihat jiwa keibuannya meskipun dia belum hamil.
"Beberapa hari yang lalu orang tua Foster menelepon Mama. Lagi-lagi mereka membahas masalah hubungan Daisy dan juga Foster. Mama sudah bilang kepada mereka untuk tidak memaksa Daisy dan Foster agar segera menikah. Bagaimanapun juga mereka itu masih sangat muda. Masa depan mereka masih sangat panjang. Sebaiknya mereka bersenang-senang saja dulu menikmati masa muda mereka. Sekarang mama hanya fokus dengan pernikahan Zion dan Faith saja. Juga kesembuhan Paman Zean. Setelah Faith dan Zion menikah, baru mama bisa bernapas dengan lega." Leona mengupas lagi buah apel yang baru ketika potongan buah apel yang ada di piring sudah habis. "Ini makan lagi sayang."
"Kali ini Norah juga setuju sama mama. Daisy belum bisa dikatakan mandiri. Dia anak manja karena memang sejak dulu dirinya selalu dipedulikan sama semua orang. Apa-apa minta bantuan. Apa-apa minta dilindungi. Tidak bisa berdiri sendiri. Norah tidak mau jika nanti dia memutuskan untuk menikah cepat, justru dia akan menyesal sendiri. Bukankah kita semua juga tahu kalau Daisy memiliki mimpi yang begitu indah. Dia ingin kuliah yang tinggi dan mengejar karirnya sebelum memutuskan untuk menikah dengan pria yang ia cintai. Norah hanya takut ketika Daisy memutuskan untuk menikah dalam waktu dekat ini, maka masa depan yang sudah ia impikan sejak dulu akan hancur berantakan."
__ADS_1
Leona menghela napas panjang. "Mama mau jumpai Papa dulu di kamar." Dia kembali memandang ke arah Harumi. "Harumi, Oma pergi dulu ya. Sekarang Harumi main sama mama ya."
"Iya, Oma," jawab Harumi dengan senyuman manis.
Leona segera pergi setelah berpamitan. Sedangkan Norah kembali memandang ke arah Harumi. Wanita itu tersenyum bahagia melihat Harumi makan dengan lahap.
"Sayang, setelah ini kita mandi di kolam yuk. Apa kau mau temani mama berenang?"
"Mau, Ma," ujar Harumi penuh semangat.
"Anak pintar. " Norah memeluk Harumi dengan begitu erat sebelum menciumnya dengan gemas. Wanita itu merasa sangat beruntung karena sudah dipertemukan dengan Harumi. Perjalanan hidupnya semakin berwarna sejak Harumi hadir di antara dirinya dan juga Austin.
...***...
Zean sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya memang sudah mengalami banyak kemajuan. Kini Zean tidak perlu dirawat lagi di rumah sakit. Dia hanya perlu melakukan pemeriksaan rutin setiap 2 minggu sekali.
Karena rumah sakit yang menjadi tempat Zean periksa ada di Amerika, pada akhirnya Dominic membeli rumah di kota tersebut. Mereka tinggal bertiga di sana. Ada juga beberapa pengawal setia Dominic yang sampai saat ini mengikutinya. Namun memang jumlahnya juga tidak terlalu banyak.
"Faith, dimana Zion?" Zean meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja lalu memandang putrinya dengan begitu serius. "Bukankah tadi kau bilang Zion baru saja datang?"
"Kak Dominic membawa Kak Zion ke halaman samping, Pa. Faith juga tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan." Faith terlihat sedih. Dia kini sangat mengkhawatirkan keadaan Zion. Dia tidak mau sampai Dominic memiliki niat jahat terhadap calon suaminya itu.
"Kau tidak ke sana untuk melihat apa yang terjadi?"
"Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama? Kita temui mereka dan lihat apa yang mereka lakukan di sana," ajak Zean. Dia tahu kalau kini di dalam pikiran Faith hanya ada nama Zion seorang.
"Papa yakin?" tanya Faith ragu. "Papa gak mau istirahat aja? Bukankah tadi papa bilang papa ngantuk sekali?"
"Sudah tidak lagi. Ayo kita ke sana."
Wajah Faith kembali berseri. Wanita itu segera mendorong kursi roda Zean dan membawanya menuju ke halaman samping.
Di halaman samping, Zion terlihat bingung ketika melihat ada banyak sekali senjata api yang tersusun rapi di atas meja. Dominic terus membawanya menuju ke tengah-tengah lapangan. Meskipun bingung, tetap saja Zion tidak mau bertanya sebenarnya apa tujuan calon Kaka iparnya itu membawanya ke sini.
"Apa hari ini kau sibuk?" Dominic berhenti lalu memandang ke arah Zion. "Jika tidak sibuk, Aku ingin meminta bantuanmu."
"Apa yang bisa saya bantu?" tanya Zion dengan wajah yang serius. Pria itu senang karena pada akhirnya calon kakak iparnya itu tidak lagi memasang wajah jutek.
"Beberapa hari yang lalu tamu tak diundang datang dan menyerang kediamanku yang ada di Las Vegas. Mereka semua adalah tamu yang tidak diundang. Sama seperti kau dulu. Dia datang hanya untuk membuat keributan di sana. Sebenarnya aku ingin segera berangkat ke Las Vegas untuk mengatasi masalah ini. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Papa karena saat itu Papa masih harus menjalani kemoterapi yang terakhir." Wajah Dominic terlihat sedih. Dia sangat ingin sekali memetik keadaan di Las Vegas. Bagaimanapun juga, kekuasaan Dominic ada di sana. Dia tidak mau sampai direbut orang lain.
"Kenapa tidak minta bantuanku saja saat itu? Aku akan membawa pasukan Gold Dragon untuk membereskannya." Zion juga memasang wajah yang serius. Mulai sekarang, masalah yang terjadi pada Dominic juga akan menjadi masalah bagi dirinya.
__ADS_1
"Jika terus-menerus seperti itu aku tidak akan bisa menjadi diriku sendiri. Mau sampai kapan kau membantuku? Pada akhirnya kita akan hidup di tempat yang berbeda dengan urusan kita masing-masing. Siang ini aku ingin memintamu untuk mengajariku bagaimana caranya menembak yang benar. Saat bertarung di Las Vegas waktu itu aku lihat trik menembakmu sangat jitu. Aku ingin menjadi sepertimu."
"Tentu saja aku tidak keberatan. Aku akan mengajari ilmu yang aku miliki kepada Kak Dominic." Zion. memasang wajah ramah berharap Dominic juga sebaliknya.
"Tetapi kau harus ingat satu hal. Kalau ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan restuku. Kau tetap harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan restu dariku agar bisa menikah dengan adikku." Dominic memandang ke arah lain. Sebenarnya itu hanya perkataannya saja. Yang sebenarnya terjadi, Dominic sudah merestui hubungan antara Zion dan juga Faith.
"Baiklah," jawab Zion tanpa mau banyak protes. Pria itu mengambil salah satu senjata api yang ada di atas meja. Setelah menemukan senjata yang tepat Dia segera memberikannya kepada Dominic. "Untuk pemula, senjata ini sangat mudah untuk dikendalikan. Meskipun bentuknya kecil tetapi kehebatannya sangat luar biasa. Dia bisa menaklukan musuh hanya dengan satu peluru. Senjata ini biasanya menjadi favorit Norah. Sebagai seorang wanita Dia ingin memiliki senjata yang tidak terlalu besar."
Dominic menerima senjata itu lalu memperhatikannya dengan seksama. "Lalu senjata mana yang menjadi favoritmu?" tanya Dominic ingin tahu.
Zion kembali memperhatikan satu persatu senjata yang ada di atas meja. Pria itu langsung menggeleng cepat ketika dia tidak menemukan senjata favoritnya di sana. "Hanya aku yang memilikinya. Aku memesan senjata itu secara khusus kepada seseorang."
"Benarkah?" tanya Dominic kaget. "Bagaimana bentuknya? Coba tunjukkan padaku."
Zion mengeluarkan senjata api yang selama ini ia bawa. Pria itu memamerkannya di depan Dominic. "Di sini sudah ada logo Gold Dragon yang menandakan kalau senjata ini milikku."
Tiba-tiba saja Dominic mengulurkan tangannya. "Aku ingin senjata ini menjadi milikku."
Zion mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Dominic. Sebenarnya bagi Dia sangat tidak masalah jika ia harus memberikan senjata api itu kepada calon kakak iparnya. Toh dia bisa memesan senjata yang baru dengan bentuk dan model yang sama. Akan tetapi yang jadi permasalahannya, Zion sudah berjanji kalau hanya dia satu-satunya orang yang boleh memiliki senjata api tersebut. Jika saja Dominic juga memilikinya itu berarti ada dua orang yang sedang memimpin Gold Dragon. Karena senjata api itu menjadi lambang kekuasaan. Hanya pemimpin Gold Dragon yang boleh memilikinya.
"Kenapa kau terlihat keberatan? Aku tahu senjata api ini sangat berharga maka dari itu aku meminta sesuatu yang berharga darimu. Sama seperti yang kau lakukan saat ini. Kau ingin mengambil adikku yang paling berharga untuk kau jadikan istri. Aku harap kau mengerti dengan sikapku selama ini. Bukankah tidak mudah untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita? Kita tidak bisa percaya dengan orang yang akan menerimanya nanti. Kita tidak tahu dia bisa menjaganya atau tidak. Kalau hanya sekedar kata juga bisa diucapkan oleh semua orang."
Zion tersenyum mendengar perkataan Dominic. Kini pria itu semakin mengerti kalau sebenarnya Dominic ini adalah pria yang sangat baik. Dia sangat menyayangi keluarganya dan selalu ingin melindungi keluarganya. Termasuk Faith yang menjadi adik perempuan satu-satunya.
"Aku tidak keberatan untuk menyerahkan senjata api ini kepada Anda. Tetapi anda harus tahu ada tanggung jawab yang besar di sini. Jika anda memilikinya itu berarti Anda harus siap untuk menerima resiko. Anda harus menjadikan Gold Dragon sebagai bagian dari hidup anda karena memang senjata ini tidak diberikan bebas kepada orang yang tidak mau melindungi geng mafia kami."
Dominic menerima senjata api itu lalu memandangnya. Untuk beberapa saat kemudian, dia memberikan lagi senjata itu kepada Zion. "Aku hanya ingin melihat ekspresimu dan reaksimu saja. Tidak ada niat di hatiku untuk memilikinya. Sekarang apa sudah bisa kita mulai latihannya. Semakin siang di sini akan terasa semakin panas."
Zion menggangguk lalu menyimpan senjata apinya lagi. "Aku janji akan menjadikan kakak iparku ini penembak jitu yang tidak pernah terkalahkan."
Dominic langsung tertawa mendengarnya. "Jangan bilang kau mengatakannya karena ingin mendapat restu dariku," ledek Dominic lagi hingga akhirnya membuat Zion ikut tertawa.
Dari kejauhan, Faith dan Zean juga ikut tersenyum melihatnya. Mereka tidak mau mendekat karena tidak mau merusak suasana manis tersebut.
"Sepertinya kita tidak perlu mengkhawatirkan Zion lagi karena kini kakakmu sudah mau menerimanya sebagai adik ipar."
"Aku senang melihatnya, Pa. Semoga saja kak Dominic benar-benar tulus menerima Kak Zion sebagai adik iparnya."
"Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam lagi. Jangan sampai mereka melihat kita. Jika mereka sampai melihat kita, mereka akan gagal latihannya."
Faith segera membawa kursi roda Zean untuk pergi dari sana. Sambil berjalan, wanita itu kembali membayangkan wajah tampan Zion.
__ADS_1
"Rasanya aku sudah tidak sabar untuk menikah dengannya," gumam Faith di dalam hati.