Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 117


__ADS_3

Acara pesta ulang tahun itu berjalan dengan lancar. Kebahagiaan Livy benar-benar sempurna. Sambil berbaring di atas tempat tidur, wanita itu memperhatikan cincin yang tersemat di jemarinya. Bayang-bayang wajah Abio memenuhi pikirannya. Baru saja Abio menghubunginya dan memintanya untuk segera tidur. Tapi justru Livy menjadi tidak bisa tidur setelah mendengar suara kekasihnya.


Entah sudah berapa lama ia mencintai pria itu. Bahkan seminggu sebelum acara ulang tahun, dia belum juga menyadarinya. Dua hari sebelum pesta ulang tahun, ia memantapkan hatinya kembali. Ketika itu Alana datang menemui Livy dan menceritakan perasaan Abio yang sebenarnya. Sebagai seorang ibu, jelas saja Alana membantu putranya untuk bisa mendapatkan wanita yang ia cintai. Livy sendiri sangat tersentuh hingga memutuskan untuk mencintai dan menerima Abio sebagai pasangannya. Hingga akhirnya Livy benar-benar yakin kalau dia sebenarnya juga mencintai Abio dan sudah berhasil melupakan cintanya terhadap Zion.


Suara ketukan pintu membuat Livy segera menurunkan tangannya. Dia duduk di atas tempat tidur dan merapikan kembali rambutnya. Katterine muncul sambil membawa sebuah kotak berwarna hitam di tangannya. Wanita itu tersenyum melihat putrinya yang terlihat jauh lebih ceria malam ini.


"Kau belum tidur sayang? Apakah kau memikirkan Abio?" tebak Katterine asal saja.


"Mama apaan sih. Aku tidak sedang memikirkan Abio, tapi memang belum ngantuk saja. Mungkin karena aku terlalu kekenyangan. Tadi semua makanan yang ada di bawah aku makan."


"Nafsu makanmu meningkat ketika kau sedang jatuh cinta. Sepertinya tidak lama lagi berat badanmu akan bertambah," ledek Katterine. Dia meletakkan kotak yang ia bawa di atas tempat tidur. "Ini hadiah dari Opa Zeroun. Mama tidak tahu apa isinya. Apakah kau mau membukanya sekarang agar mama bisa tahu apa hadiah yang sudah disiapkan oleh Opa Zeroun untukmu?"


"Tentu saja, Ma. Aku akan membukanya sekarang."


Livy segera menarik pita yang mengikat kotak tersebut. Setelah itu dia membuka kotaknya agar bisa melihat isi di dalamnya. Alisnya saling bertaut ketika melihat sebuah kunci di dalam kotak tersebut.


"Apa ini ma? Apa ini kunci mobil?"


"Mama juga tidak tahu. Tadi pelayan hanya memberi kotak ini saja kepada Mama. Jika memang benar ini kunci mobil, seharusnya mobilnya sudah ada di depan."


Livy memperhatikan lagi kunci yang ada di tangannya. Dia merasa sangat yakin kalau memang benar kunci itu adalah kunci mobil.


"Aku akan minta pelayan untuk memeriksa di depan. Apakah benar ada mobil baru atau tidak. Jika tidak ada mobil di depan, aku akan segera menghubungi Opa Zeroun. Aku akan tanya langsung sebenarnya hadiah apa yang sudah diberikan oleh Opa."


Katterine tersenyum. "Baiklah. Mama ke kamar dulu ya. Mama sudah ngantuk sekali. Mama ingin tidur. Tubuh Mama juga lelah sekali."


"Ya, Ma. Selamat tidur."


Katterine mengecup pucuk kepala Livy. "Selamat tidur juga sayang. Mimpi indah ya. Jangan begadang malam ini karena tidak baik untuk kesehatan."


"Oke, Ma."


Livy mengambil telepon yang ada di atas nakas. Dia menghubungi salah satu pelayan yang bertugas di rumah itu.


"Halo. Apakah kau bisa membantuku? Periksakan halaman depan. Apakah ada mobil baru di sana atau tidak."


"Tadi saya lihat tidak ada mobil baru di halaman depan, Nona. Tapi sekarang akan saya periksa kembali. Saya akan segera memberi tahu anda jika sudah mengetahui hasilnya."


"Baiklah. Bawakan juga air hangat ke kamar."


"Baik, Nona."


Livy meletakkan telepon itu kembali ke nakas. Dia tersenyum melihat hadiah yang diberikan oleh Opa Zeroun kepadanya. Jika memang ini adalah kunci mobil, Livy merasa sangat Tersanjung. Ini hadiah mewah yang pernah dia terima dari Opa Zeroun. Zeroun tidak terlalu suka memberi hadiah seperti ini. Biasanya setiap kali cucunya ulang tahun, dia hanya mengirimkan sejumlah uang tunai ke rekening cucunya. Uang itu bisa digunakan untuk berbelanja atau memberi barang yang diinginkan oleh cucunya. Bisa dibilang ini pertama kalinya Zeroun memberikan Livy sebuah hadiah ulang tahun.


Tidak butuh waktu lama pelayan yang ditugaskan untuk melihat mobil di halaman depan sudah berada di depan kamar. Livy segera mengizinkannya masuk. Sambil membawa segelas air hangat, pelayan itu Melangkah dengan cepat menuju ke tempat tidur Livy.


"Bagaimana? Apa benar ada mobil baru di depan?" tanya Livy dengan penuh antusias.

__ADS_1


"Benar, Nona. Ada mobil baru di depan yang masih dibalut dengan sebuah pita warna merah. Warna mobilnya putih. Jika dilihat dari modelnya, mobil itu adalah mobil sport keluaran terbaru." Pelayan itu meletakkan minuman hangat yang ia bawa di atas nafas. "Kalau Boleh saya tahu siapa yang sudah mengirimkan hadiah itu nona? Mobilnya sangat cocok untuk anda."


"Opa Zeroun yang memberiku mobil itu," jawab Livy dengan bibir tersenyum manis. Dia meneguk air hangat itu secara perlahan sebelum meletakkannya lagi di atas nakas. "Apakah Esme sudah tidur?"


"Sudah nona. Sebaiknya Anda juga segera tidur. Anda pasti lelah karena seharian berdiri. Apa anda mau saya pijat nona?" tawar pelayan itu.


"Tidak," tolak Livy. "Aku ingin segera tidur saja sekarang. Kau juga sudah bisa istirahat. Aku tidak akan menganggumu sampai besok pagi."


"Terima kasih, Nona. Selamat malam dan selamat tidur."


Livy hanya mengangguk saja. Ketika pintu kembali tertutup, wanita itu memandang cincin dan kunci mobil yang ada di tangannya.


"Tahun ini ulang tahunku benar-benar sangat membahagiakan. Aku harap ulang tahun selanjutnya dan seterusnya akan lebih bahagia lagi. Semua masih bisa berkumpul dengan personil yang lengkap. Tidak ada yang boleh pergi." Livy memejamkan matanya setelah berdoa.


^^^***^^^


Di sisi lain, Zion masih berada di rumah sakit. Luka wanita itu ternyata sangat parah hingga ia harus dilarikan ke ruang ICU. Kondisinya sekarang sangat kritis. Zion sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Karena sudah terlanjur sampai di rumah sakit, ia jngin memastikan apakah wanita itu selamat atau tidak. Seorang suster mendatangi Zion dengan terburu-buru.


"Tuan, kami butuh darah yang banyak untuk pasien. Stok darah kami tidak cukup. Apakah anda mau mendonorkan darah untuk pasien?" tanya Suster itu penuh harap. Sebelumnya memang Zion sudah dilakukan tes darah untuk antisipasi jika wanita itu membutuhkan darah.


Zion merasa terjebak. Sangat-sangat terjebak. Tetapi dia juga masih memiliki hati nurani. Jika dia bisa menolong maka dia akan menolong. Walau sebenarnya dia tidak tahu wanita yang dia tolong wanita baik atau wanita jahat.


"Ya, ambil saja darahku berapapun yang kau inginkannya," ketus Zion hingga membuat suster itu gemetar ketakutan.


"Mari Tuan ikut dengan saya." Suster itu membawa Zion ke ruang khusus tempat donor darah. Zion menahan langkah kakinya ketika melihat pasukan Gold Dragon yang ia panggil telah datang.


"Ya aku baik-baik saja. Tapi wanita itu masih kritis," jawab Zion apa adanya.


"Wanita? Wanita yang mana Bos." Pria itu terlihat kebingungan. Setahu dia saat ini Zion tidak dekat dengan wanita manapun.


"Aku menemukan wanita di tengah jalan. Dia dalam keadaan terluka, lalu aku membawanya ke rumah sakit. Sekarang dia butuh darah. Aku harus memberikan darahku untuk menolongnya. Jika tidak, dia tidak akan selamat."


"Anda yakin Bos?" Pria itu terlihat ragu.


"Aku tidak akan mati setelah mendonorkan darahku kepadanya. Setelah aku mendonorkan darah ini aku akan pergi meninggalkannya. Aku minta padamu untuk mengurus biaya selama wanita itu berada di rumah sakit."


"Baik bos."


Zion mengangguk pelan. "Tunggu di sini! Aku akan segera kembali."


Dia masuk ke ruangan itu untuk mendonorkan darahnya. Ternyata di dalam itu tidak hanya ada suster yang tadi memanggilnya saja. Sudah ada dokter yang akan membantu proses pendonoran darah.


"Tuan, berbaringlah di sini," minta Seorang perawat agar Zion berbaring di atas tempat tidur.


Zion hanya menurut saja. Dia berbaring di atas tempat tidur dan tangannya sedikit ke pinggir. Pria itu memandang langit-langit ruangan rumah sakit.


"Tuan setelah ini anda harus banyak makan makanan yang bergizi agar kondisi anda kembali pulih."

__ADS_1


"Hmmm," jawab Zion malas.


Selang segera dipasang dan darah segera diambil. Zion membali ingat dengan adik-adiknya yang sempat masuk ke rumah sakit. Itu yang membuatnya mau menolong wanita asing tersebut.


Tidak menunggu terlalu lama proses pendonoran darah telah selesai. Zion keluar untuk menemuiha bawahannya di depan sana. Pria itu memilih duduk karena tubuhnya terasa sedikit lemas.


"Bos anda baik-baik saja? Apa perlu saya antar pulang?" tawar pria itu dengan wajah khawatir.


"Tidak. Wanita itu sepertinya sedang dikejar-kejar oleh seseorang. Dia terlihat sangat ketakutan tadi. Aku minta Kau jaga dia jangan sampai bertemu dengan orang-orang yang ingin membawanya lagi. Pastikan kondisinya benar-benar aman sebelum kau memutuskan untuk meninggalkannya."


"Baik bos," jawab kedua itu sambil menunduk hormat.


"Satu lagi. Masalah ini hanya kita dua yang tahu. Tidak ada yang boleh mengetahuinya. Terutama Nora. Aku tidak mau dia berpikiran yang aneh-aneh."


"Baik bos."


"Aku ingin pulang. Aku juga ingin istirahat." Zion beranjak dari kursi tersebut dan pergi. Dia merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Walau kata dokter keadaan wanita itu kritis. Tetapi hanya luka tusukan seperti itu saja, pasti bisa diselamatkan.


Pasukan Gold Dragon itu masih berdiri di sana memandang kepergian Zion. Sebenarnya dia merasa ada yang aneh dengan atasannya tersebut. Tidak biasanya Zion bersikap peduli seperti sekarang. Bahkan pernah ada kejadian seorang wanita menangis meminta tolong tetapi Zion mengabaikannya begitu saja. Tetapi kini keadaannya berbeda. Pria itu berpikir kalau sekarang Zion sudah benar-benar dewasa.


"Dia sudah matang dan layak memimpin Dold Dragon. Banyak sedikitnya dia mulai menyerupai sifat Jordan."


Zion melangkah cepat menuju ke mobilnya yang terparkir. Ia tidak sempat menyuruh seseorang untuk membersihkan darah yang berserak di mobilnya. Dia menahan langkah kakinya ketika merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Pria itu mengeluarkan senjata apinya secara diam-diam untuk jaga-jaga. Suara tidak sepatu itu semakin dekat seolah dia memang benar-benar ingin menyerang Zion


Saat itu. Dia masih terpaku pada posisinya berdiri. Hingga di saat pria di belakang itu ingin menyerangnya dengan cepat Zion berputar dan mengarahkan senjata api itu ke dahi orang yang ingin menyerangnya. Orang itu terdiam terpaku melihat senjata api sudah melekat dikepalanya. Hanya hitungan detik saja nyawanya bisa melayang. Belati yang sempat ada di genggaman tangannya terlepas begitu saja. Zion melirik belati tersebut. Bentuknya sama dengan belati yang tadi menusuk wanita yang ia tolong di jalan. Zion merasa yakin kalau orang yang melukai wanita tersebut adalah orang yang sama dengan orang yang ada di hadapannya ini.


"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau menyerangku."tanyanya sambil mengulur waktu.


"Di mana wanita itu? Serahkan dia padaku. Kami tidak akan mengganggumu lagi," jawab pria itu dengan sisa keberanian yang ia miliki.


Zion tersenyum kecil. "Sekarang dia sudah menjadi milikku. Pergilah lupakan dia. Jangan pernah memiliki pemikiran untuk menangkapnya lagi. Karena sekeras apapun usahamu tidak akan berhasil. Apa yang sudah menjadi milikku tidak bisa direbut oleh orang lain."


"Sebelum kau menyesal, sebaiknya menyerah lah. Orang yang kau hadapi bukan orang yang biasa. Wanita itu adalah kekasih dari bos kami. Kami harus membawanya kepada bos sebelum bos kami marah.,"


"Aku semakin penasaran sebenarnya seperti apa bos kalian itu. Kenapa dia tega sekali melukai seorang wanita. Apa dia pria gila yang tidak memiliki hati."


"Berhati-hatilah ketika bicara sebelum kau menyesal.


"Aku tidak pernah menyesali ucapanku. Jika kau tidak suka. Pergilah dari sini. Dia menjauhkan senjata apinya. Temui pria yang kau panggil dengan bos itu. katakan padanya kalau aku ingin bertemu."


Pria itu tertawa menghina. "Kau benar-benar pria yang malang. Hidupmu akan baik-baik saja jika kau tidak mengusik ketenangan Bos kami. Setelah ini jangan pikirkan cara untuk bersembunyi. Karena di manapun kau bersembunyi kami pasti akan berhasil Menemukanmu."


Zion gantian tertawa menghina. "Aku tidak pernah bersembunyi karena aku tidak takut dengan siapapun. Kapanpun bosmu itu ingin menemuimu aku akan siap untuk menemuinya."


Mendengar perkataan Zion yang terlihat sangat percaya diri membuat pria itu memilih untuk pergi saja. Dia sudah tidak sabar menyampaikan semua kejadian ini kepada bosnya tersebut.


Zion merapikan penampilannya lagi. Memandang ke kanan ke kiri sebelum masuk ke dalam mobil. Padahal Jika dia menyerahkan wanita itu saja maka masalah baru tidak akan datang. Tapi Zion merasa bosan jika hidupnya tidak menemukan masalah. "Sejelek Apa bosnya itu? Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya."

__ADS_1


__ADS_2