Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 56


__ADS_3

Austin masih memikirkan Norah. Hanya Norah yang kini ada dipikirannya. Pria yang kini menarik Austin terlihat kecewa. Begitu banyaknya kesempatan untuk Austin menghabisi keturunan Gold Dragon, tetapi Austin hanya diam seperti pria lemah.


"Anda benar-benar mengecewakan, Bos. Kenapa anda tidak menembak Zeroun Zein? Kenapa anda tidak menembak semua orang yang ada di sana?" umpat pria itu marah. Dia memperhatikan keadaan sekitar. Mereka sudah ada di tempat yang aman.


Austin mengangkat kepalanya memandang pria yang kini berdiri di hadapannya. "Zeroun Zein? Apa maksudmu? Target kita sejak awal hanya Zion. Kenapa kau mengincar semua orang yang ada di rumah itu?"


"Karena sebenarnya target utama Mr. A adalah Zeroun Zein, Jordan Zein dan Zion Zein! Tapi, ada kita tidak bisa di bilang gagal. Serena Wang telah tertembak. Aku yakin, tembakanku pasti bisa merenggut nyawanya. Setidaknya kita memiliki kabar baik untuk di sampaikan kepada Mr. A."


Austin yang geram memukul wajah pria itu dengan emosi. "Kalian menjebakku!" umpatnya kesal.

__ADS_1


Pria itu hanya tertawa meledek sambil memegang pipinya yang baru saja di tinju oleh Austin. "Maaf, Bos. Anda sudah terlambat untuk mundur. Sekarang, di mata mereka anda adalah musuh. Anda dan Norah tidak akan pernah bersatu!"


Austin semakin emosi. Dia menarik jaket pria itu dan menghajarnya habis-habisan. Rasanya mati saja tidak cukup. Austin ingin membuat pria itu menderita dalam keadaan sekarat.


"Kau pantas mendapatkannya. Kau pengkhianat." Austin menahan gerakannya ketika mendengar ada yang mendekat. Pria itu memandang ke belakang dan melihat Zion berdiri sambil menodongkan pistolnya. Pria itu ternyata berhasil mengikuti Austin dan anak buahnya. Setelah membuat GrandNa yang paling disayanginya tertembak. Jelas saja Zion tidak tinggal diam.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau telah kalah?" tanya Zion. "Sejak awal kau hanya ingin melihat wajahku, bukan? Sekarang kau sudah melihatnya. Lalu, apa yang ingin kau lakukan? Kau mau membunuhku? Coba lakukan? Aku yakin kau tidak bisa melakukannya."


"Aku tidak ingin bertarung denganmu malam ini. Sebaiknya pergi dari sini karena di sini tidak aman," ucap Austin memperingati. Dia tahu kalau nyawa Zion salah satu incaran musuh. Jika sampai ada yang tahu kalau Zion ada di sini, pria itu pasti akan di kepung dan di bunuh.

__ADS_1


"Kau takut?" sahut Zion. Kedua matanya memandang Austin dengan penuh dendam.


Austin memandang ke belakang. Seperti apa yang dia katakan sejak tadi. Di sana tidak aman. Sekarang puluhan pria bersenjata mengepung Zion dan Austin. Karena mereka semua tahu kalau Austin ada di tim mereka. Mereka tidak akan mungkin mencelakai Austin.


Zion memandang satu persatu musuhnya. Ini memang terbilang sulit. Semua musuhnya mengepung dengan menggunakan senjata. Dia hanya sendirian. Bisa di bilang Zion kabur tadi. Jadi, tidak ada yang tahu kalau dia ada di sini.


Austin mencari belati yang ia bawa. Hanya itu senjata yang bisa ia gunakan. Gerakan Austin terhenti ketika dia melihat Mr. A juga ada di sana. Pria itu berdiri tidak jauh dari posisi mereka mengepung Zion sambil tersenyum memandang Austin.


"Sial! Sepertinya dia ingin memastikan sendiri aku sudah membunuh Zion Zein atau belum!" umpat Austin di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2