
Mr. A membuang semua benda yang tertata rapi di atas meja setelah mendapat kabar kalau Norah tidak ada di pulau lagi. Pria itu sangat marah. Dia menyalahkan semua orang termasuk pengawal yang selama beberapa hari ini ada di sampingnya. Hanya Norah satu-satunya senjata yang bisa ia gunakan untuk mengalahkan keluarga besar Gold Dragon.
“Bos, tenanglah. Wanita itu belum tentu juga bisa kembali ke rumahnya. Jika dia tidak pernah muncul, maka selamanya Zeroun Zein akan berpikir kalau Norah sudah tewas.” Pria itu berusaha untuk menenangkan Mr. A. Walau sebenarnya dia sendiri juga kesal dengan anak buahnya yang ada di pulau karena telah gagal menjaga Norah.
“Orang sebanyak itu tidak bisa menjaga satu wanita! Aku benar-benar menyesal karena sudah percaya kepada kalian!” teriak Mr. A semakin emosi. Dia memalingkan wajahnya dan memandang ke arah lain. Melihat orang-orang yang ada di depannya hanya akan membuatnya semakin ingin marah bahkan ingin membunuh mereka semua.
“Maafkan kami Bos. Kami sangat-sangat menyesal. Saat ini pasukan kami masih memeriksa beberapa pulau yang ada di dekat vila. Jika memang wanita itu bersembunyi di salah satu pulau, secepatnya dia pasti akan tertangkap lagi. Karena untuk menuju ke kota, itu mustahil. Butuh waktu hampir satu jam perjalanan dengan speed boots. Dia tidak akan mungkin bisa berenang menuju ke kota. Satu-satunya tempat yang bisa dia jadikan lokasi bersembunyi hanya beberapa pulau yang ada di sana.”
Mr. A tidak memberikan respon apapun lagi. Dia bahkan tidak mau bicara dengan bawahannya itu sebelum mereka membawa kabar baik tentang Norah. Namun, tiba-tiba Mr. A kembali ingat dengan Austin. Kemarin saat penyerangan, Mr. A tidak melihat langsung aksi Austin karena kedatangan Zeroun. Kini pria itu ingin tahu, sebenarnya dimana Austin berada.
“Bawa Austin untuk menemuiku!” perintah Mr. A tanpa mau tahu kemana anak buahnya mencari keberadaan Austin sekarang.
Mereka saling memandang satu sama lain. Sebenarnya mereka juga tahu kalau Austinlah yang sudah membawa Norah kabur. Namun mereka tidak berani menceritakan yang sebenarnya terjadi. Tetapi, jika keadaanya sudah seperti ini. Mau tidak mau mereka harus mengatakan yang sebenarnya terjadi kepada Mr. A.
“Bos, sebenarnya Norah tidak kabur sendirian. Seseorang datang untuk membawanya kabur,” ucap pria itu dengan kepala menunduk. Kedua tangannya terkepal karena dia telah siap menerima hukuman yang akan diberikan oleh Mr. A
Mr. A yang tadinya tidak tertarik memandang wajah bawahannya kini terlihat antusias mendengar siapa yang sudah berani datang menyelamatkan Norah. Setahu dia, tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya di pulai tersebut.
“Kau ingin bilang kalau Austin yang sudah membebaskan Norah?” tebak Mr. A.
Pria itu diam untuk beberapa detik. Keringat jagung berkucur hingga membasahi wajahnya. Dia benar-benar ketakutan. Bahkan bibirnya untuk menjawab ya saja terasa kaku.
__ADS_1
“JAWAB!” teriak Mr. A emosi.
“Ya, Bos. Ya. Austin yang sudah membawa wanita itu-”
PRANGGG
Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, kursi yang tadinya berdiri kokoh kini melayang ke arah jendela. Mr. A semakin murkah. Bawahannya yang masih bertahan di ruangan itu hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Mr. A.
“Kalian semua bodoh! Kenapa kalian semua tidak ada yang tahu kalau Austin berangkat ke pulau itu! Dia sering ke pulau itu. Dia pasti tahu ke mana arah untuk kabur. Aku tidak mau tahu! Cari Norah dan Austin. Apapun caranya! Bawa mereka ke hadapanku!” teriak Mr. A hingga memenuhi seisi ruangan luas tersebut.
“Baik, Bos.” Tanpa mau berlama-lama lagi, mereka segera pergi meninggalkan Mr. A di ruangannya.
Mr. A merasa kalau dialah yang pantas meneruskan Gold Dragon. Dia sudah cukup lama menjadi orang kepercayaan Gold Dragon. Bahkan di saat usianya masih 15 tahun. Dia kenal dengan Gold Dragon ketika masa kejayaan Gold Dragon kembali bangkit di Hongkong. Sudah banyak sekali pengalaman yang ia miliki selama bergabung dengan Gold Dragon. Hal itu yang membuat Mr. A bisa dengan mudah mengetahui kelemahan Zeroun dan keluarganya.
“Zeroun Zein! Jordan Zein! Zion Zein! Kalian semua harus mati di tanganku. Aku yakin, The Bloods tidak pernah kalah. The Bloods sama hebatnya bahkan jauh lebih hebat dari Gold Dragon.” Mr. A tersenyum penuh arti. Walau kemenangan masih sangat jauh, tetapi pria itu sudah merasa sangat percaya diri kalau dialah yang nantinya akan memenangkan pertaruangan ini.
***
Austin terlihat sangat teliti ketika mengikatkan kain di kaki Norah. Hanya kain itu satu-satunya alat yang bisa ia gunakan untuk menghentikan darah di kaki Norah. Dia memandang wajah Norah yang saat itu terlihat sedih. Austin tahu kalau Norah pasti sedang memikirkan keluarganya. Tetapi, untuk saat ini Austin sendiri masih malas membahas tentang Zion dan yang lainnya. Pria itu hanya ingin fokus mendapatkan hati Norah agar wanita itu mau menjadi kekasihnya.
“Sampai kapan kita bertahan di tempat ini?” Norah memandang ke arah Austin. “Aku tahu kau memiliki niat yang baik. Membawaku kabur dari rumah itu. Tetapi, bisakah kau menyusun strategi yang lebih brilian agar tidak ada agenda terdampar di pulau terpencil seperti ini? Bagaimana bisa kita bertahan hidup? Bagaimana kalau hujan? Dimana kita harus tinggal?” protes Norah kepada Austin.
__ADS_1
Bukan menjawab justru Austin memamerkan belatih yang selalu ia bawa. Ada senyum di sudut bibirnya seolah belatih itu adalah benda yang bisa menyelamatkannya saat ini. Norah melipat kedua tangannya dengan tatapan semakin kesal. Ingin marah tetapi dia juga ingin memberikan kesempatan kepada Austin untuk bicara.
“Aku pernah terdampar di hutan belantara selama dua minggu. Sendirian. Buktinya sekarang aku masihh hidup. Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkanmu kelaparan dan kedinginan. Walau kita tidak memiliki selimut, tetapi kau masih memiliki tubuhku untuk di peluk!” jawab Austin dengan santainya.
Norah menyipitkan kedua matanya. “Aku tidak sedang bercanda.”
“Oke oke.” Austin beranjak dari posisinya. Dia memandang ke arah laut untuk memeriksa tidak ada yang datang. Setelah itu dia memandang ke arah pepohonan rimbun yang ada di tengah pulau. “Sepertinya pulau ini lumayan luas. Aku belum pernah melihat pulau ini. Kita harus memeriksa apa yang ada di dalam hutan ini. Kita harus pastikan tidak ada binatang buas di dalamnya.”
“Bagaimana kalau ada binatang buas? Bukankah kita tidak memiliki senjata api untuk menembak?” sahut Norah bingung.
“Hei, Nona. Jangan dipikirkan. Sekarang ayo ikut aku. Kita akan masuk ke dalam hutan ini.” Austin membungkukkan tubuhnya ingin menggendong Norah.
“Apa yang ingin kau lakukan?” Norah menjauhkan tubuhnya bahkan siap memukul Austin.
“Apa anda sudah bisa jalan?” ledek Austin.
Norah melirik kakinya. Sebenarnya dia sudah mulai bisa menggerak-gerakkan kakinya. Tetapi, Norah masih kurang yakin kalau kakinya bisa digunakan untuk berjalan. “Baiklah. Tapi kau harus ingat akan sesuatu. Kalau aku tidak pernah memintamu melakukan semua ini. Jadi, itu artinya aku tidak pernah memiliki hutang budi!”
“Baiklah Nona. Sekarang ayo kita masuk ke hutan.” Austin segera menggedong Norah setelah mendapat izin. Pria itu terlihat sangat bahagia karena bisa sering-sering menggendong Norah seperti ini.
“Aku janji akan menjagamu, Norah. Kau harus percaya padaku.”
__ADS_1