Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 139


__ADS_3

"Norah Sayang ... bangunlah."


Austin menepuk pelan pipi Norah. Pria itu sangat khawatir melihat tunangannya tidak juga sadarkan diri. Padahal setelah diperiksa, Dokter bilang wanita itu baik-baik saja. Cairan bius yang masuk ke tubuhnya juga dosis rendah dan dalam jumlah yang sangat sedikit. Tetapi sampai sekarang wanita itu belum juga mau membuka matanya.


"Norah ... Apa kau memang belum sadar atau pura-pura tidur. Tolong jangan buat aku takut seperti ini." Austin mengusap kepala Norah sebelum mendaratkan kecupan sayangnya di sana. "Sayang ... bangun."


Austin membawa Norah ke rumah sakit yang dekat dengan restoran. Setelah diperiksa di ruang IGD, dokter tidak mengizinkan Norah langsung pulang meskipun kondisi wanita itu tidak serius. Dokter akan mengizinkan Norah pulang jika wanita itu sudah sadar dan keadaannya baik-baik saja.


Ponsel Norah yang ada di dalam tas berdering. Austin segera mengambil ponsel kekasihnya dari sana. Alisnya saling bertaut ketika dia melihat nomor Livy yang muncul di layar ponsel Norah. Tanpa pikir panjang pria itu segera mengangkat panggilan telepon Livy.


"Halo."


"Di mana Norah? Aku ingin bicara dengannya." Livy tahu kalau yang mengangkat teleponnya bukan Norah melainkan Austin.


Austin diam sejenak. Dia tidak tahu harus bicara bohong atau jujur sekarang.


"Austin, apa kau mendengarku?" tanya Livy lagi ketika Austin tidak juga menjawab.


"Terjadi sesuatu dan sekarang kami ada di rumah sakit. Norah masih belum sadarkan diri." Austin tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia tahu kalau Livy adalah seorang dokter. Pria itu ingin Livy memeriksa keadaan Norah.


"Rumah sakit? Rumah Sakit mana. Cepat kirimkan alamatnya kepadaku sekarang. Aku akan segera ke sana." Dari nada bicaranya terdengar jelas kalau Livy sangat mengkhawatirkan keadaan Norah saat ini.


"Aku tidak sempat membaca nama rumah sakitnya. Tapi aku akan segera mengirim posisi kami berada saat ini." Austin mengambil ponselnya dari saku lalu mengirim lokasi mereka berada ke nomor Livy. "Aku sudah mengirimnya. Kau bisa memeriksa sekarang."


"Baiklah. Apa Kak Zion sudah mengetahui masalah ini?"


"Sudah. Hanya kami saja yang tahu." Dari nada bicaranya sudah jelas kalau Austin tidak mau sampai Livy cerita ke yang lainnya. Dia tidak mau semua orang khawatir. Termasuk kedua orang tua Norah.


"Oke, aku akan segera berangkat ke sana." Livy tidak mau banyak tanya lagi. Wanita itu segera mengakhiri panggilannya dan bersiap-siap untuk berangkat.


Austin memasukkan ponsel Norah ke dalam tas lagi. Pria itu memandang kekasihnya dengan wajah yang sangat khawatir. "Norah," panggilnya lagi.


Tetapi kali ini Norah seperti memberikan respon. Wanita itu menggerak-gerakkan tangannya sebelum membuka mata secara perlahan. Austin segera menggenggam tangan Norah dan mengusapnya dengan lembut. Pria itu merasa jauh lebih tenang sekarang setelah melihat tunangannya kembali membuka mata.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Kak Zion?" Norah masih merasa pusing. Namun dia tidak mau sampai kalah dengan rasa pusing itu.


"Dia pergi membawa Faith. Aku juga tidak tahu mereka pergi ke mana. Kak Zion tahu kalau aku membawamu ke rumah sakit. Norah, kenapa kau ceroboh sekali. Kenapa wanita seperti itu bisa membuatmu sampai seperti ini. Aku sangat mengkhawatirkanmu." Austin mengusap lagi punggung tangan Norah.


"Aku tidak berkonsentrasi tadi. Aku terlalu banyak memikirkanmu yang sedang bertarung. Di tambah lagi aku memikirkan Kak Faith. Aku tidak tahu harus membawanya pergi ke mana. Dia ketakutan sekali. Aku juga baru pertama kali bertemu dengannya. Aku tidak mau membuatnya trauma."


"Bukankah kau bilang kalau Faith kabur dari seseorang. Sepertinya tidak lama lagi perang akan di mulai. Dilihat dari pasukan yang dia kirim, sepertinya dia bukan pria biasa."


"Kak Zion bilang kalau pria itu bernama Dominic," jawab Norah sedikit ragu. Dia juga tidak terlalu jelas mendengarnya waktu itu karena Zion menceritakannya lewat telepon.


"Dominic kau bilang?" Austin terlihat kaget. "Apa dia penguasa Las Vegas?"


"Aku tidak yakin. Tapi sepertinya ya. Kak Zion pernah membahas soal Las Vegas. Kau mengenalnya?" Norah memandang Austin dengan curiga.


Austin Menyandarkan tubuhnya di kursi sebelum mengusap wajahnya dengan tangan. "Aku mengenalnya. Tetapi aku tidak pernah kepikiran untuk bermasalah dengannya. Bukan karena aku takut dengannya. Tetapi menghadapi Dominic sama saja kita seperti menghadapi Mr. A. Dia pria yang sangat licik. Rekannya ada di mana-mana. Norah, sebentar lagi kita akan menikah. Aku tidak mau ada masalah lagi. Aku ingin mempersiapkan pernikahan kita dengan tenang. Aku tidak mau sampai ada korban lagi."


"Aku juga inginnya seperti itu. Tapi Kak Faith itu bagian dari Kak ion. Kak Zion telah jatuh cinta padanya. Itu berarti kita juga harus membantu Kak Zion Jika dia berada dalam masalah. Pernikahan kita akan berjalan dengan semestinya. Kau tidak perlu khawatir. Kita akan kuat jika bersatu." Norah memegang tangan Austin. Wanita itu berusaha menyakinkan pasangannya agar tidak khawatir lagi.


"Maafkan Aku. Tapi sebaiknya kita tidak perlu memulai masalah ini. Kembalikan saja wanita itu kepadanya." Entah apa yang sudah merasuki pikiran Austin hingga pria itu mengatakan kalimat sekejam itu di depan Norah. Jelas saja hal itu membuat Norah marah. Dia tidak suka mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Austin. "Maksudmu Kak Zion harus merelakan wanita yang dicintainya kembali kepada pria lain? Austin, bagaimana jika masalah yang sekarang dialami Kak Zion juga kau alami. Apa kau akan melepaskan wanita yang kau cintai begitu saja?" Nada bicara Norah meninggi pertanda kalau wanita itu mulai kesal.


"Pernikahan tidak akan pernah terjadi sebelum masalah Kak Zion dan Kak Faith selesai!" ketus Norah mantap.


"Norah, kenapa kau jadi mengorbankan pernikahan kita? Kau tidak serius menikah denganku?"


"Karena dia kakak kandungku. Masalah ini juga menjadi masalahku sekarang. Jika kau ingin menjadi bagian dari keluarga kami, seharusnya kau jangan berkata seperti itu. Jika kau tidak memiliki solusi sebaiknya diam saja. Jangan buat masalah semakin keruh. Semua orang juga ingin ketenangan. Tapi apa yang bisa kita lakukan jika masalah itu menghampiri kita dengan sendirinya?"


Austin hanya diam saja. Dia tidak mau sampai salah bicara lagi dan membuat Norah semakin marah. Berbeda dengan Norah yang saat ini mulai berusaha kembali tenang. Pernikahan mereka sudah dekat dan Norah tidak mau sampai ada pertengkaran di antara hubungan mereka.


"Tadi sebelum aku sadar, aku dengar kau sempat bicara dengan seseorang."


"Itu Livy. Dia meneleponmu," jawab Austin tanpa memandang. Dia masih kesal.


"Apa dia tahu kalau aku ada di rumah sakit?" Nada bicara Norah melembut.

__ADS_1


"Bahkan sekarang dia sudah dalam perjalanan menuju ke sini." Austin masih belum mau memandang wajah Norah.


"Aku baik-baik saja, kenapa harus merepotkan orang lain?"


"Aku tidak merepotkan orang lain. Dia sendiri yang ingin datang."


Norah mengambil tasnya dan menekan nomor Livy. Wanita itu ingin meminta Livy untuk putar balik saja. Dia juga ingin segera pergi meninggalkan rumah sakti itu. Berbaring di atas tempat tidur yang ada di rumah sakit membuat Norah ingin muntah.


"Kak Livy tidak mengangkat teleponku," ucap Norah dengan wajah kecewa.


"Kita tunggu saja. Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai."


"Aku ingin bertemu dengan Kak Zion sekarang."


"Bagaimana dengan Livy?"


"Jika dia tiba di sini dan kita tidak ada dia pasti akan segera menghubungi kita."


"Norah ini bukan perkara dia bisa menghubungi kita atau tidak. Tetapi hubungan kalian tidak pernah baik. Sebaiknya jangan cari masalah lagi. Kita tunggu Livy sampai datang. Kita bicarakan masalah yang terjadi lalu kita pergi menemui Kak Zion sama-sama."


"Tapi-"


"Kali ini saja. Dengarkan perkataanku. Aku mohon."


Norah kembali diam. Memang solusi yang diberikan Austin tidak merugikan siapapun. Norah hanya perlu menunggu sebentar saja.


"Austin sayang, apa kau marah padaku?"


Sambil menunggu Livy wanita itu berusaha untuk kembali membuat Austin tersenyum.


"Aku trauma. Aku trauma melihatmu terluka dan kritis," jawab Austin.


"Inilah hidup kita. Hidup penuh bahaya."

__ADS_1


"Apa selamat akan seperti ini?" tanya Austin dengan wajah yang serius. Norah hanya bisa diam saja. Dia juga tidak tahu harus jawab apa. Sedangkan Austin beranjak dari kursi dan duduk di tempat tidur yang sama dengan Norah. "Maafkan aku. Semua akan baik-baik saja." Austin mengecup pucuk kepala Norah. Hal itu membuat Norah jauh lebih tenang sekarang.


__ADS_2