Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 194


__ADS_3

Zion sudah berada di sebuah kamar hotel yang telah ditentukan oleh Faith. Pria itu sama sekali tidak curiga. Dia menunggu di kamar hotel tersebut sejak lima menit yang lalu. Setibanya di Las Vegas pria itu langsung ke kamar hotel iti. Semakin lama debaran jantung Zion semakin tidak karuan. Meskipun sudah lama tidak berjumpa tapi entah kenapa ketika dia tahu akan bertemu dengan Faith, hatinya menjadi berdebar-debar.


"Selamat siang, Tuan Zion."


Zion memutar tubuhnya ketika mendengar suara seorang pria menyapanya. Pria itu kaget bukan main ketika melihat Dominic muncul di dalam ruangan itu. Saat itu juga Zion berpikir kalau Faith telah menjebaknya. Wanita itu sama sekali tidak bisa dipercaya dan kini Zion merasa sangat kecewa.


"Kenapa kau bisa ada di sini?" ketus Zion dengan wajah tidak suka. Wanita itu kembali memeriksa senjata yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba saja Dominic menyerangnya untuk balas dendam.


"Anda berharap kalau Faith yang muncul di ruangan ini?" ledek Dominic sambil tertawa kecil.


Zion tidak bisa bersabar lagi. Amarahnya benar-benar memuncak. Pria itu mengepal kuat tangannya ingin menghajar Dominic. "Pria brengsek!" umpatnya. Namun sebelum ia berhasil menyentuh wajah pria itu tiba-tiba saja Faith muncul di sana.


"Tunggu!" teriak Faith.


Zion menahan pukulannya dan menatap wajah Dominic dengan penuh dendam. Dominic masih memasang wajah yang menjengkelkan hingga membuat emosi Zion meledak-ledak.


"Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kenapa kau memintaku untuk datang ke sini dan membawa pria ini juga ada di sini," ketus Zion dengan emosi tertahan.


Dominic mendorong tubuh Zion lalu merapikan penampilannya. Pria itu membuka tangannya lalu Faith mendekati Dominic. Dengan mesranya Dominic merangkul pinggang Faith hingga membuat api cemburu di dalam hati Zion semakin tidak karuan. Rasanya pria itu benar-benar menyesal karena sudah menuruti perkataan Faith dan tidak pernah mendengarkan kata-kata orang di sekitarnya. Kini ia merasa sangat sakit hati dan benar-benar sangat patah hati.


"Apa kau memintaku datang karena kau ingin menunjukkan ini kepadaku?" Zion menatap tajam wajah Faith.


"Sekarang apa kau sudah bisa merasakan apa yang sebelumnya aku rasakan. Aku sangat cemburu ketika melihat kau berduaan dengan wanita yang aku cintai." Dominic terus saja memancing emosi Zion. Dia ingin tahu seberapa banyak cinta yang dimiliki pria yang dicintai adiknya tersebut.


"Kau sengaja memancingku untuk menyerang duluan, bukan? Tapi aku tidak akan terpancing dalam permainanmu. Aku tidak mau mengotori tanganku yang bersih ini." Zion masih berusaha bersikap sewajarnya agar tidak terpancing emosi.


"Kak, jangan seperti itu," protes Faith tidak suka. Bahkan dengan beraninya wanita itu mencubit perut Dominic hingga akhirnya membuat ekspresi wajah Dominic berubah. Wajah yang tadinya sangat sangar kini berubah menjadi begitu menggemaskan.


Zion sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan sepasang kekasih yang ada di hadapannya. Pria itu mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja dan berniat untuk segera pergi meninggalkan ruangan itu. Rasanya pemandangan yang ia lihat sudah cukup membuktikan kalau ia harus benar-benar melupakan Faith dari hidupnya. Tidak boleh ada lagi nama wanita itu di dalam ingatannya.

__ADS_1


"Tuan Zion, tunggu. Jangan pergi dulu." Wanita itu segera melepas tangan Dominic yang sejak tadi ada di pinggangnya. Dia berjalan menghampiri Zion.


"Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasa menyesal karena sudah bertemu dengan wanita jahat sepertimu," ketus Zion dengan marah.


"Maafkan aku karena pernah melukai hati anda, Tuan. Tidak ada niat sedikitpun di dalam benakku untuk menyakiti hati pria baik seperti anda. Aku belum menyampaikan rahasia yang sebenarnya terjadi. Tolong jangan pergi dulu. Aku tidak akan meminta waktumu terlalu lama. Hanya 15 menit saja setelah itu anda boleh putuskan bertahan atau pergi."


Rasanya Zion sudah merasa sangat yakin kalau dia tidak perlu bertahan lagi di Las Vegas. Bahkan Zion tidak mau memberikan kesempatan kepada Faith untuk bercerita lagi. Pria itu tidak mau mendengar apapun yang keluar dari mulut Faith karena terlalu kecewa.


"Simpan saja semua cerita itu di dalam ingatanmu karena aku sudah tidak mau mendengar penjelasan apapun darimu!" ketus Zion dengan begitu kejam.


Tiba-tiba saja Faith menggenggam tangan Zion. "Aku mencintaimu."


Zion menahan langkah kakinya. Pria itu masih belum mau memandang wajah Faith meskipun kini dia dalam keadaan mematung. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"


Faith berjalan mendekati Zion lalu berdiri di hadapan pria itu. Wanita itu memegang kedua tangan Zion dan memaksa Zion untuk menatap wajahnya. "Ini semua karena Opa Zen. Opa Zen yang telah membantuku untuk mengungkap sebuah kebenaran. Aku dan Kak Dominic ternyata saudara. Kami memiliki Ayah yang sama. Meskipun ibu kami berbeda tetapi kami tetap memiliki hubungan darah. Hubungan persaudaraan ini yang membuat kami tidak boleh bersatu. Sepertinya takdir sudah menentukan semuanya sejak awal agar kita bertemu." Faith mengukir senyuman manis. Dia merasa sangat yakin kalau Zion pasti akan membalas cintanya.


"Kau dan Dominic saudara? Bagaimana bisa?" tanya Zion yang masih tidak percaya. Dia harus tetap waspada dan memastikan kalau semua ini tidak ada jebakan.


Zion memandang ke arah Dominic sejenak sebelum memandang ke arah wanita itu lagi. Tiba-tiba saja satu hal tidak terduga terjadi. Zion segera melepas genggaman tangan Faith lalu melangkah mundur.


"Maafkan Aku. Seharusnya kau katakan semua yang terjadi sejak awal. Aku tidak mau mengecewakan Ibu kandungku. Setelah Kau Pergi ke Las Vegas aku sudah berjanji kepada Ibuku untuk mencintai wanita yang dipilihkan olehnya. Aku akan menikah dengan wanita pilihan ibuku. Sudah sering kali aku mengecewakannya. Kali ini aku tidak ingin mengecewakannya lagi. Terima kasih karena kau sudah mencintaiku setidaknya hari ini aku tahu kalau kau memiliki perasaan yang sama denganku. Tetapi Sayangnya kita tidak akan pernah bisa bersatu."


Kedua mata Faith terlihat berkaca-kaca. Wanita itu sangat kecewa mendengar keputusan yang dikatakan oleh Zion. Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena memang sejak awal ini adalah kesalahannya. Setiap kali Zion menunjukkan tanda-tanda kalau sebenarnya dia mencintainya, di saat itu Faith justru bersikap cuek dan tidak peduli.


Dominic terlihat tidak terima ketika cinta adiknya ditolak. Namun pria itu sudah berjanji kepada Faith untuk tidak ikut campur dengan keputusan yang akan diambil oleh Zion.


"Baiklah kalau memang seperti itu keputusan yang Anda ambil. Saya tidak bisa memaksa anda untuk mencintai saya. Saya harap Anda bisa hidup bahagia dengan wanita yang dipilihkan oleh ibu kandung anda." Faith memalingkan wajahnya dan menghapus air mata yang tiba-tiba saja menetes. Wanita itu tidak menyangka kalau rencana besar yang ia lakukan ternyata tidak berbuah manis.


"Permisi!" ucap Zion sebelum pergi. Pria itu tidak mau mengatakan apapun lagi karena ia juga tidak tahu harus berkata apa. Zion ingin segera pulang untuk menjelaskan semuanya. Dia tahu kalau ibunya pasti sudah murka ketika mendengar kabar kalau ia telah berangkat ke Las Vegas.

__ADS_1


Dominic berjalan menghampiri Faith lalu memeluknya. Pria itu tidak bisa berbuat banyak karena dia tahu cinta tidak bisa dipaksakan. Meskipun dia tidak bisa melihat Faith bahagia setidaknya hari ini dia merasa jauh lebih bahagia karena adik yang selama ini ia cari telah ia temukan dan kini ada di dalam pelukannya.


"Tidak harus dengan seorang pria kau bisa bahagia. Bersama dengan kakak kau juga akan merasakan kebahagiaan yang tiada tara. Aku berjanji akan membuatmu selalu tersenyum. Anggap saja kau memang tidak berjodoh dengan Zion. Karena jika kalian berjodoh sesulit apapun rintangannya, kalian akan tetap dipersatukan oleh takdir."


Faith tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu hanya mengangguk di dalam pelukan Dominic. "Aku harap Tuan Zion bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik daripada aku agar ia bisa hidup dengan bahagia," gumam Faith di dalam hati.


...***...


Zion memukul setir mobilnya dengan penuh kecewa. Pria itu merasa tidak terima ketika takdir mempermainkan perasaannya. Ini merupakan pilihan yang sulit bagi Zion. Dia sudah mendapatkan titik terang kalau wanita yang ia cintai juga mencintainya. Tetapi di sisi lain ia sudah terlanjur berjanji kepada orang tuanya dan tidak mungkin mengecewakannya.


"Kenapa dia harus mengatakannya sekarang? Kenapa dia tidak mengatakannya sebelum berangkat ke Las Vegas waktu itu. Apa dia pikir rahasia seperti ini tidak bisa berdampak besar. Sekarang aku harus bagaimana. Kenapa aku harus selalu dihadapkan dengan pilihan yang begitu sulit?" Zion mengambil ponselnya lalu menekan nomor seseorang bersamaan dengan itu pria itu telah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Kita pulang sekarang. Aku ingin segera menemui mama," perintah Zion sebelum menambah baju mobilnya lebih cepat lagi.


Setibanya di bandara Zion sudah disambut oleh pasukan Gold Dragon yang sejak semalam ikut bersama dengannya. Pria itu berjalan di samping Zion dengan langkah yang begitu cepat. Kali ini ia ingin segera menyampaikan informasi yang baru saja ia dapat agar Zion bisa jauh lebih tenang.


"Pesta pernikahan berlangsung dengan lancar, Bos. Nyonya Shabira sempat jatuh pingsan. Tetapi sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik. Nyonya Leona sendiri terlihat marah-marah ketika tahu anda berangkat ke Las Vegas. Tetapi dia kembali tenang karena bujukan Bos Jordan. Pesta pernikahan berlangsung meriah. Sekarang semua orang sudah kembali pulang ke rumah masing-masing. Bos Zeroun meminta saya untuk mengantarkan Anda pulang ke rumah sekarang juga. Untuk masalah yang satu ini saya tidak tahu sebabnya apa. Namun pagi ini saya baru saja mendapat kabar kalau Bos Leona jatuh pingsan."


"Mama?" Zion menahan langkah kakinya lalu memandang pria itu dengan wajah khawatir. "Mama pingsan?" tanyanya kembali.


"Benar Bos."


"Ini semua pasti karena ulahku. Mama pasti kepikiran sampai-sampai jatuh sakit. Aku harus segera pulang dan minta maaf sama mama. Aku tidak mau mengecewakannya lagi."


"Berhentilah menyalahkan diri sendiri Bos. Anda sudah bertanggung jawab dengan keputusan yang Anda ambil. Sekarang sebaiknya kita segera pulang dan temui Bos Leona di rumah. Anda bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi agar Bos Leona tidak marah lagi. Saya yakin semua masih bisa diperbaiki. Tidak ada kata-kata terlambat."


"Kau benar," jawab Zion tidak bersemangat. Tiba-tiba saja pria itu kembali mengingat perkataan Faith ketika wanita itu mengatakan kalau dia juga mencintai Zion. Seharusnya ini akan menjadi momen yang sangat membahagiakan. Sayangnya Faith tidak mengatakannya di waktu yang tepat.


"Sebelum meninggalkan Las Vegas Aku ingin mengucapkan satu doa." Zion menahan langkah kakinya lalu memandang ke arah kota Las Vegas sekali lagi. "Aku tidak akan menginjakkan kakiku di kota Las Vegas lagi."


"Bos, jangan bicara seperti itu. Bagaimana kalau Nona Faith adalah jodoh anda? Bukankah kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Takdir tidak ada yang bisa menebaknya."

__ADS_1


Zion tidak mau banyak protes lagi. Pria itu segera naik pesawat. Dia ingin segera pulang dan tiba di rumah untuk melihat kondisi ibu kandung.


__ADS_2