
Ruangan kelas itu hening sejenak sebelum tawa semua orang pecah. Mereka memandang Daisy dan terus meledek wanita itu. Jelas saja mereka semua tidak percaya karena Daisy tidak menunjukkan bukti apapun. Mereka menganggap apa yang diucapkan oleh Daisy hanya omong kosong semata.
"Aku juga ingin memperkenalkan diri kalau aku ini adalah putri kerajaan Belanda," ucap seorang wanita dengan penuh bangga diri. Jelas saja kalau wanita itu sedang meledek Daisy saat ini. Daisy bisa tahu dari cara wanita itu menertawakannya.
"Aku adalah putri dari konglomerat terkaya yang pernah ada. Kalian semua tidak akan percaya kalau sebenarnya aku hanya menyamar saja saat ini. Aku tidak mau kuliah di Universitas Yale ini," sahut wanita lainnya sambil tertawa meledek Daisy.
Kini kejujuran Daisy bukan membuat semua orang berhenti untuk meledeknya justru menjadikan Daisy sebagai bahan candaan. Daisy menunduk dengan hati yang begitu sakit. Ia sudah berjuang namun sekarang tidak tahu harus bagaimana lagi. Tidak mungkin bukan dia mengundang kedua orang tuanya hanya untuk mengatasi masalah yang sepele.
"Ada apa ini? kenapa kalian ribut sekali?" Tanpa mereka semua sadari, kalau dosen yang ingin mengajar sudah tiba di ruangan tersebut.
"Miss, siapa orang tua Daisy? Apa dia orang terpandang. Atau justru hanya karyawan kantoran biasa?" tanya salah satu wanita yang ada di sana.
"Kenapa kalian harus membicarakan pekerjaan orang tua Daisy?" Dosen itu terlihat bingung.
Jelas saja dia tahu bahkan seluruh Dosen yang ada di Universitas Yale sudah mengetahui identitas asli Daisy sejak Zeroun menjemput Daisy waktu itu.
"Kami hanya ingin menyadarkan Daisy. Bisa-bisanya wanita kampung ini mengaku kalau dia adalah putri dari kerajaan Cambridge. Kabar terakhir yang kami terima kalau putri dari kerajaan Chambridge kuliah di Universitas yang tidak diketahui oleh siapapun. Identitasnya dirahasiakan karena nyawanya selalu saja terancam. Berbeda jauh dengan Daisy yang selama ini secara terang-terangan memperlihatkan identitasnya. Bagaimana mungkin dia begitu percaya diri mengatakan kalau dia adalah keturunan kerajaan sedangkan selama ini tidak ada satupun pengawal yang menjaga dan mengawasinya."
"Kau ingin melihat pengawal yang selama ini menjagaku?" Lagi-lagi Daisy tidak bisa diam saja.
"Ya. Buktikan kepada kami semua kalau kau benar-benar keturunan kerajaan Cambridge dan selama ini dijaga oleh pengawal." Salah satu teman sekelas Daisy lagi-lagi menantang wanita itu.
"Baik," jawab Daisy mantap.
Dia memperhatikan ruang kelasnya dengan seksama untuk mencari barang yang bisa ditembak oleh sniper yang selama ini menjaganya secara diam-diam. Ada seulas senyum di sana ketika Daisy berhasil menemukan benda yang akan mereka tembak. "Jangan dekat-dekat dengan apel itu karena aku akan meminta sniper yang selama ini menjagaku untuk menembaknya."
Ekspresi wajah Daisy yang begitu serius membuat semua orang terdiam. Mereka semua memperhatikan apel yang tergeletak di atas meja. Jika saja kali ini Daisy sampai gagal, maka tamatlah sudah. Semua orang yang ada di Universitas Yale tidak akan mempercayainya lagi.
__ADS_1
Daisy mengangkat satu tangannya ke atas lalu ia menunjuk ke arah apel yang akan ditembak oleh sniper. Wanita itu memejamkan mata lalu berdoa di dalam hati berharap sniper yang selama ini menjaganya mengerti dengan maksud gerakan tangannya.
"Mana? Tidak terjadi apa-apa. Atau sniper yang kau bilang itu menembak dengan peluru bayangan?" ledek salah satu pria yang ada di ruangan itu. "Kau hanya membuang-buang waktu kami saja. Lihatlah apel itu masih ada di sana. Tidak ada seorangpun yang menembaknya. Lebih baik apel ini aku makan saja!" Pria itu berjalan mendekati apel.
Daisy memutar kepalanya lalu memandang ke arah jendela. "Jangan-jangan sniper yang dikirim oleh kak Norah dan Kak Zion sudah tidak mengawasiku lagi," gumam Daisy dengan wajah kecewa.
DUARRRR
Tiba-tiba saja mereka melihat apel itu terpental karena sebuah peluru mendorongnya dengan begitu keras. Daisy dan semua orang yang ada di ruangan kelas itu sama-sama kaget.
"Akhirnya aku berhasil," gumam Daisy penuh riang. Semua orang yang ada di kelas itu terdiam dan memandang Daisy dengan tatapan takut. Tidak ada satu orang pun yang berani meledek wanita itu lagi.
"Sekarang kalian percaya?" tanya Daisy dengan senyum kemenangan.
...***...
Harumi terlihat tidak bersemangat sore itu. Demamnya sudah hilang, tetapi wajahnya tidak ceria lagi. Awalnya Norah takut untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Dia takut jika Harumi tidak percaya dan justru membencinya. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
"Sayang, Harumi tidak senang tinggal bersama kita. Sepertinya kita tidak bisa membawanya ke Cambridge," ucap Austin. Pria itu mempererat pelukannya lalu mengecup leher Norah.
"Mungkin dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri," jawab Norah.
Wanita itu sudah mantap untuk membawa Harumi tinggal bersama dengannya dan juga Austin di rumah utama keluarga Edritz Chen. Namun semua itu bisa terjadi jika mereka telah berhasil menjebloskan kedua orang tua angkat Harumi ke dalam penjara. Norah tidak rela jika sepasang suami istri itu dibiarkan berkeliaran.
"Aku sudah membereskan mereka berdua. Sekarang mereka sudah ada di dalam penjara," jawab Austin dengan santai.
"Benarkah?" Norah melepas pelukan Austin lalu memandang pria itu dengan begitu serius. Rasanya sulit untuk percaya dengan Austin karena hampir setiap waktu yang dimiliki pria itu selalu diketahui oleh Norah. "Kapan kau melakukannya?"
__ADS_1
"Aku meminta pasukan Dominic melakukan semua itu. Ternyata mereka bisa diandalkan juga."
Mendengar nama Dominic membuat Norah kembali ingat dengan kakak kandungnya. Dia merasa senang ketika tahu kalau Zion dan Faith akan segera menikah. Namun wanita itu terlihat kecewa ketika tahu kalau Faith adalah adiknya Dominic. Pria yang pernah mencelakai keluarganya. Bahkan hampir membuatnya tewas karena ledakan bom.
"Ada apa? Istriku yang cantik ini bisa juga murung ternyata. Harumi pasti mau menerima kita sebagai keluarganya. Sebagai orang tuanya. Aku akan mendidiknya menjadi wanita tangguh yang tidak terkalahkan. Apa kau setuju?"
"Bagaimana kalau Kak Zion di jebak? Bagaimana kalau Kak Faith bekerja sama dengan Dominic untuk balas dendam? Kak Zion itu sudah cinta mati sama Kak Faith. Dia pasti tidak bisa berpikir jernih lagi." Norah menjadi tidak tenang sekarang. Ditambah lagi Zion tidak bisa dihubungi. Norah semakin murkah.
"Tante!" teriak Harumi hingga membuat Austin dan Norah memandang ke arah anak kecil tersebut.
"Ya, sayang," sahut Norah sambil tersenyum. "Tante akan ke sana." Norah memegang tangan Austin dan menariknya.
Harumi mengukir senyum melihat Norah dan Austin. Anak kecil itu beranjak dari kursi yang ia duduki. "Tante, aku kangen sama mama dan papa."
Deg.
Norah mematung mendengarnya. Wanita itu merasa kasihan hingga ingin menangis juga.
"Harumi mau bertemu mama dan papa."
"Sayang ...." Norah berjongkok agar bisa melihat wajah Harumi dengan jelas. "Orang tua Harumi sudah tiada. Harumi harus bisa merelakan kepergian mereka ya."
Harumi menggeleng. "Harumi tidak punya siapa-siapa lagi. Semua orang jahat sama Harumi."
"Siapa bilang?" Austin juga berjongkok. "Paman dan Tante menyayangi Harumi. Kami janji akan membuat Harumi selalu bahagia."
"Janji?" Harumi berhenti menangis.
__ADS_1
"Ya, sayang. Kami janji," jawab Norah sambil menghapus air mata di pipi Harumi. "Sekarang tersenyumlah. Senyummu sangat manis. Kau terlihat sangat cantik jika tersenyum."
Harumi mengukir senyuman manis. Lalu dia memeluk Norah dengan begitu erat. "Terima kasih Tante. Harumi sayang Tante."