Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 166


__ADS_3

Setibanya di dalam mobil, Foster langsung mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada wanita itu. Uang itu langsung disambut cepat. Wanita itu tersenyum bahagia melihat hasil kerjanya malam ini yang begitu memuaskan. Rasanya dia tidak menyesal karena sudah mendapatkan tawaran pekerjaan ini.


"Terima kasih, Tuan. Senang bekerja sama dengan anda. Lain kali jika anda butuh bantuan, anda bisa menghubungi saya. Saya siap kapanpun untuk membantu anda."


"Sebenarnya tadi aku sempat ingin memotong bayaranmu karena tingkah kurang ajar yang kau lakukan. Berani sekali kau menciumku. Bagaimana jika pacarku sampai melihat kejadian tadi? Dia pasti bisa salah paham. Sulit untuk bisa mendapatkan maaf darinya. Tetapi karena di akhir tadi kau begitu sangat membantu jadi aku masih memaafkan kesalahan yang kau perbuat. Bahkan aku tidak mau mengambil uang yang sudah kau selipkan di tubuhmu itu." Foster menghidupkan mobilnya. Rasanya ia ingin segera menurunkan wanita itu di tengah jalan sebelum menemui Zion.


"Maafkan saya, Tuan. Saya ini hanya wanita miskin yang sangat membutuhkan uang. Jadi wajar saja kalau saya mengambil kesempatan seperti tadi. Itu juga tidak akan membuat Anda miskin. Soal ciuman itu saya sudah sangat gemas dengan anda. Anda itu tampan sekali." Wanita itu mengedipkan matanya dengan gaya menggoda.


"Diamlah. Jika kau berbicara lagi, aku akan benar-benar menurunkanmu di tengah jalan," ancam Foster tanpa memandang wanita itu hingga membuat sang wanita segera membungkam mulutnya dan memandang ke depan.


Masih di tengah jalan menuju ke tempat Zion, Foster melihat segerombolan mobil serba hitam yang melaju dengan begitu cepat. Ada beberapa sepeda motor yang sengaja membuka jalan. Para pengguna jalan raya saat itu minggir untuk memberikan jalan. Termasuk Foster yang saat itu harus menyingkirkan mobilnya dan berhenti karena tidak mau mendapat masalah.


"Anda tidak tahu mobil siapa itu?" tanya sang wanita yang kini duduk di samping Foster.


"Apa kau tahu?" Foster mengeryitkan dahinya.


"Jelas saja aku tahu. Meskipun aku tidak tinggal di Las Vegas tapi aku banyak mengetahui tentang informasi yang ada di Las Vegas. Mobil itu berisi segerombolan orang-orang Dominic. Sepertinya telah terjadi sesuatu hingga mereka pergi sangat terburu-buru sekali seperti itu."


"Gawat!" ujar Foster dengan wajah yang serius. Dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tidak lagi mau memikirkan alamat rumah wanita yang ikut bersama dengannya.


"Kenapa anda belok ke sini? Rumahku tidak melalui jalan ini," protes sang wanita.


"Aku harus tiba di tempat itu secepatnya sebelum semua terlambat." Foster bahkan tidak sempat lagi memandang wajah wanita itu. Ia terus aja melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat Zion berada saat ini.

__ADS_1


...***...


Di sisi lain, Lukas dan Austin tenyata belum berhasil meledakkan mansion mewah milik Dominic. Mobil yang berisi bom itu belum bisa dibawa masuk ke dalam Mansion. Satu persatu musuh bersenjata dan berbadan kekar terus saja muncul hingga membuat Austin dan Lukas kewalahan untuk menghadapinya. Bahkan pasukan Gold Dragon yang turut membantu mereka jumlahnya sudah berkurang banyak.


"Aku sudah tebak sejak awal kalau penyerangan ini tidak akan mudah. Karena kita menyerang orang di wilayah kekuasaannya. Bagaimanapun juga tamu tetaplah tamu. Jumlahnya akan selalu kalah dengan sang pemilik rumah," ujar Austi. Saat itu dia terlihat sudah mulai menyerah karena terlalu kelelahan.


"Tinggal satu langkah lagi. Jika kau mau menjadi pemimpin sebuah geng mafia, memiliki pemikiran seperti itu akan membuat geng mafiamu tidak pernah maju. Ini belum seberapa. Bahkan aku pernah menghadapi orang yang jumlahnya tiga kali lipat daripada ini. Bom di mana-mana. Setiap pertarungan akan jadi pengalaman. Kau tidak boleh menyerah sebelum kalah," sahut Lukas.


"Aku tidak akan pernah menyerah Opa. Aku hanya memikirkan Kak Zion sekarang. Jika sudah seperti ini pasti salah satu dari mereka segera menghubungi Dominic. Kemungkinan besar Dominic sekarang menuju ke lokasi kita berada. Itu berarti dia akan melewati Kak Zion. Pertarungan akan terjadi di sana tapi kita di sini belum selesai. Bagaimana caranya kita bisa membantu Kak Zion jika tugas kita saja belum berhasil."


"Kau dan Zion sama-sama pria yang hebat. Aku yakin kalau Zion bisa menghadapi Dominic. Sekarang ayo kita maju lagi dan selesaikan pertarungan malam ini. Bukankah kau sendiri sudah sangat merindukan Norah? Besok pagi ketika matahari terbit kita sudah ada di dalam pesawat menuju ke rumah."


Mendengar perkataan Lukas membuat Austin semakin bersemangat. Ia mengambil lagi senjata apinya lalu keluar dari mobil dan menyerang. Sedangkan Lukas tetap berada di mobil karena mereka akan segera membawa mobil itu masuk ke dalam Mansion sebelum diledakkan.


Sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh Austin kini pintu itu bisa dibuka. Austin mendorongnya dengan sekuat tenaga. Dilihat dari berat pintu itu bisa dipastikan kalau orang yang membuka pintu tersebut tidak berjumlah hanya satu atau dua orang saja. Austin mengeluarkan semua tenaga yang ia miliki hanya untuk membuka pintu saja.


"Opa, aku berhasil!" teriak Austin sambil melambaikan tangan. Pria itu menyingkir dan memberikan jalan kepada Lukas untuk melajukan mobilnya masuk ke dalam Mansion.


Lukas yang memang sudah bersiap-siap untuk melajukan mobil itu terlihat sangat bersemangat. Pria itu menggenggam setir mobilnya kuat-kuat sebelum menginjak gas mobil. Mobil itu melaju dengan sangat cepat.


Ketika sudah mau masuk ke dalam, Lukas lompat dari dalam mobil. Mobil itu meluncur ke dalam mansion begitu saja tanpa pengemudi.


Lukas mengeluarkan remote yang menjadi kontrol atas bom yang ada di dalam mobil. Sebelum menekannya Lukas dan Austin berlari kencang menjauhi lokasi mansion tersebut. Tidak lupa Lukas memberi kabar kepada pasukan Gold Dragon untuk menjauh dari mansion agar mereka juga tidak terkena ledakan yang akan terjadi.

__ADS_1


"Sepertinya di sini sudah cukup jauh, Opa. Cepat sekarang lakukan. Aku sudah tidak sabar untuk melihat pertunjukan ini," ujar Austin penuh dengan semangat.


Lukas memberikan remote itu kepada Austin. "Tekanlah. Kau yang berhak untuk melakukannya. Aku ini hanya guru yang sedang mengajari anak muridnya," ucap Lukas.


Austin tidak mau membuang-buang waktu lagi. Dia segera mengambil remote itu dan menekannya tanpa pikir panjang. Suara dentuman bon yang begitu memekakkan telinga terdengar dari dalam mansion. Tidak lama setelah itu bangunan Mansion mewah itu runtuh. Kepulan asap dan api meratakan mansion mewah milik Dominic bersama dengan orang-orang yang ada di dalamnya.


Lukas dan Austin tidak mau membuang banyak waktu hanya dengan menyaksikan kehancuran mansion tersebut. Mereka segera pergi meninggalkan Mansion menuju ke mobil cadangan yang sudah mereka persiapkan.


Sambil berlari Austin melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Pria itu mengumpat kesal karena kini dia sudah terlambat 15 menit dari perjanjian awalnya bersama dengan Zion.


"Opa, aku yakin sekarang Kak Zion sedang berjuang keras melawan Dominic," ujar Austin sambil berlari kencang.


Tiba-tiba saja Lucas menahan langkah kakinya dan memegang dadanya. Pria itu seperti menahan rasa sakit sambil memejamkan mata. Austin yang khawatir segera berhenti dan memutar balik untuk mendatangi posisi Lukas berada.


"Apa Opa baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja. Cepat pergi temui Zion. Jangan pikirkan Aku di sini."


"Tidak. Aku tidak bisa seperti itu Opa. Aku bertugas untuk menjaga Opa. Jika aku muncul tanpa membawa Opa, Kak Zion pasti akan menyalahkanku," tolak Austin.


"Aku akan baik-baik saja di sini. Aku bisa melindungi diriku sendiri dari bahaya. Aku tidak sanggup untuk berlari lagi. Mobilnya sangat jauh dari posisi kita berada sekarang. Kau akan terlambat jika menungguku."


Austin kali ini benar-benar dilema. Dia tidak tahu harus berbuat apa. "Maafkan aku Opa. Tapi aku tidak bisa menuruti permintaan Opa kali ini. Aku akan berlari ke sana untuk mengambil mobil dan menjemput Opa di sini. Opa Jangan pergi ke mana-mana sampai aku tiba. Kita akan pergi menjemput Kak Zion bersama-sama," ucap Austin sebelum berlari kencang meninggalkan Lukas.

__ADS_1


Lukas hanya tersenyum saja melihat kepergian Austin. "Dia memang selalu bisa diandalkan," gumam Lukas di dalam hati .


__ADS_2