Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 70


__ADS_3

Norah membuka kedua matanya secara perlahan. Pertama kali memandang wajah Austin, dia kaget dan segera menjauh. Ternyata semalaman Austin tidak tidur demi menjaga Norah. Pria itu meletakkan kepala Norah di atas pangkuannya sambil sesekali mengusap rambutnya sampai demam Norah turun. Kini pria itu tersenyum melihat Norah sudah tidak demam lagi. Walau sebenarnya dia merasa sangat lelah.


"Bagaimana keadaanmu pagi ini? Apa kau merasa jauh lebih baik?" Austin memandang ke arah pintu tenda. Dia membukanya agar udara masuk ke dalam. "Demammu sudah turun. Tapi, aku tidak tahu. Apakah kepalamu masih pusing atau tidak."


"Kau tidak tidur?" tanya Norah gantian tanpa mau menjawab pertanyaan Austin. Norah bisa tahu dari mata Austin yang terlihat lelah. Namun, Austin tidak mau menjawab. Pria itu hanya menggeleng sambil sesekali menutup mulutnya yang menguap. Dia mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk yang kini begitu menyiksa.


"Aku akan mencari sesuatu untuk kita makan. Kau tetap di sini ya," pinta Austin. Dia segera keluar dari tenda.


"Tunggu!" Tetapi kali ini Norah yang mengkhawatirkan Austin. Wanita itu ikut keluar dari tenda dan berdiri di belakang Austin.


"Kau mau kemana?" tanya Austin bingung. "Tetap di tenda. Jangan kemana-mana."


"Aku ingin membantumu." Norah memandang Austin dengan saksama. "Aku tidak mau hanya duduk diam di tenda. Sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik."


"Tidak sekarang. Kau baru saja sembuh." Austin tidak mau ambil resiko. Dia tidak mau sampai Norah jatuh sakit lagi. Kejadian tadi malam sudah cukup membuatnya panik. Dia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali.


"Aku baik-baik saja." Norah tetap bersih keras untuk ikut. Wanita itu tidak mau jauh-jauh dari Austin. Saat ini kondisi Austin memang sangat mengkhawatirkan. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Austin dan dia tidak mengetahuinya.


"Norah, kenapa kau keras kepala!" Kali ini Austin kurang setuju.


Norah melangkah maju lagi. Namun sialnya dia tersandung akar kayu. Hingga akhirnya tubuhnya mendorong tubuh Austin dan mereka jatuh bersama-sama. Posisinya Norah di atas tubuh Austin. Kedua tangan Norah ada di atas dada Austin. Dia berusaha menahan tubuhnya agar bagian dadanya tidak tertempel dada Austin.


"Maaf," ujar Norah. Austin hanya tertawa saja.


"Aku tidak keberatan," ledeknya dengan satu alis terangkat.

__ADS_1


"Kau benar-benar pria gila!" umpat Norah. Dia segera duduk di samping Austin. Austin juga segera duduk. Pria itu memandang wajah Norah yang menurutnya semakin hari semakin cantik.


"Norah, kenapa kau cantik sekali? Apa yang membuatmu semakin hari semakin cantik?" puji Austin.


Tetapi, kali ini Norah tidak lagi marah-marah seperti sebelumnya. Wanita itu tersenyum dengan wajah malu-malu. Hal itu membuat Austin bahagia dan semakin semangat merayu Norah lagi.


"Aku akan membawamu segera pergi meninggalkan tempat ini. Tapi, kau harus berjanji untuk tidak sakit seperti tadi malam." Wajah Austin kembali serius.


"Aku tidak mau pergi dari sini," jawab Norah tanpa memandang.


Austin mengeryitkan dahinya. "Kenapa?"


"Karena aku senang ada di dekatmu, Austin. Belum pernah aku sedekat ini dengan pria. Hanya Kakakku satu-satunya pria yang selalu ada di sisiku. Aku hampir tidak bisa memahami seorang pria. Tadinya aku pikir semua pria itu jahat. Betapa banyaknya kasus wanita di lecehkan oleh pria. Bahkan tidak sedikit wanita bunuh diri karena di sakiti oleh pria. Hal itu membuatku tidak percaya dengan pria. Bahkan mengenalnya saja aku tidak ada niat sama sekali. Tetapi, setelah aku kenal denganmu, aku menghilangkan pemikiran buruk tentang pria. Kau membuatku sadar, kalau tidak semua pria seperti itu. Kau membuatku paham, kalau ada pria asing yang kau memperlakukan seorang wanita dengan baik. Meskipun wanita itu tidak memiliki ikatan darah dengannya." Norah memandang wajah Austin. Kali ini dia memberikan senyum terbaiknya kepada Austin.


"Kau mencintaiku, Norah?" Entah kenapa Austin ingin sekali mendengar jawaban dari bibir Norah langsung. Dia tidak mau perasaannya di gantung seperti ini.


"Kenapa? Apa karena aku musuh kakakmu?'


Norah melebarkan kedua matanya. Dia segera memandang Austin dengan tatapan tidak percaya. "Sejak kapan kau tahu?"


"Sejak aku melakukan penyerangan di rumah kedua orang tuamu. Aku melihat fotomu ada di sana. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal Norah?"


"Aku takut. Aku bahkan tidak pernah kepikiran kalau kita akan sedekat ini. Pertemuan kita malam itu tidak terduga."


"Norah, sekali lagi aku tanya. Apakah kau mencintaiku? Aku sudah tahu kalau kau adalah adik kandung Zion Zein. Bagiku itu tidak jadi masalah. Aku akan menghadapi Zion dan memperjuangkan cinta kita jika memang kau mencintaiku. Tetapi, jika kau tidak mencintaiku, apa lagi yang harus aku perjuangkan? Aku butuh kepastian. Aku-"

__ADS_1


"Aku mencintaimu," jawab Norah cepat.


Austin masih tidak percaya mendengar pernyataan Norah. Pria itu membenarkan posisi duduknya dan memegang kedua tangan Norah. "Katakan sekali lagi. Norah, apa kau sedang bercanda?"


Cup. Norah mendaratkan kecupan singkat di pipi Austin. "Tidak. Aku benar-benar mencintaimu. Ini terdengar bodoh. Bahkan aku sendiri tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul. Yang aku tahu, aku mencintaimu. Aku tidak mau kau berjuang sendirian. Kita akan berjuang sama-sama menghadapi Kak Zion. Kita akan berjuang sama-sama mendapatkan restu dari Kak Zion."


Austin terlihat sangat bahagia. Pria itu memegang pipinya dengan wajah tidak percaya. Perkataan Norah membuatnya semakin bersemangat.


"Kau membalas cintaku? Kau juga mencintaiku? Itu berarti sekarang kita jadian?" ujarnya dengan senyum berseri.


Norah mengangguk cepat dengan wajah malu-malu. Austin mengecup punggung tangan Norah. "Terima kasih, Norah." Dikecupnya sekali lagi kedua tangan Norah.


Austin memegang rambut Norah dan menariknya. Kedua mata Norah terpejam. Hingga pada akhirnya bibir mereka berhasil menyatu.


Norah benar-benar tidak sanggup menolak pesona Austin. Big Boss mafia yang terkenal kejam itu telah jatuh pada pelukan Norah.


Sudah cukup lama bibir mereka menyatu dan saling memiliki. Norah yang sudah lupa diri kini mulai berani memegang kedua sisi wajah Austin. Ia bahkan jauh lebih aktif ketika bercumbu dengan Austin .


Dari kejauhan, terdengar suara kapal. Suara kapal tersebut berhasil menghentikan ciuman panas mereka. Norah segera merapikan penampilannya. Wajahnya merona karena malu.


"Siapa yang datang?" tanya Norah sambil memandang ke arah jalan menuju ke pantai.


"Biar aku periksa." Austin segera beranjak. Dia berjalan ke depan dan meninggalkan Norah sendirian di sana.


Austin bersembunyi di balik pohon. Dia mengamati kapal speed boat yang baru saja tiba. Satu persatu pria yang ada di sana ia perhatikan. Hingga akhirnya tatapannya terhenti pada seseorang.

__ADS_1


"****! Kenapa dia bisa tahu aku ada di sini!"


__ADS_2