
Austin tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Zion dan beberapa pasukan Gold Dragon yang ada di sana bingung. Mereka sedang terapung di tengah laut. Tengah laut! Tidak ada yang bisa menjamin mereka akan selamat. Setelah bom, bisa saja setelah ini akan ada ikan buas yang memangsa mereka. Jelas-jelas tidak ada yang lucu di sana. Bagaimana bisa Austin tertawa seperti itu seolah-olah di depan mereka ada drama komedi.
"Kau gila!" umpat Zion.
"Ya, aku gila! Aku gila." Austin lagi-lagi tertawa geli. "Awas saja kau pria tua. Kau pasti akan mati di tanganku," sambung Austin sambil membayangkan wajah Mr. A. Pria itu bukan tertawa karena bahagia tetapi ia tertawa karena sangat kesal dengan kelakuan Mr. A. Belum pernah ia bertemu dengan pria seperti Mr. A sebelumnya.
Lebih baik kita segera berenang ke pulau itu. Tetap di sini hanya akan membuat kita mati kedinginan. Tapi tetaplah berenang dengan hati-hati karena kita tidak tahu masih ada atau tidak bom di bawah laut. Zion mulai berenang, sebenarnya pria itu juga sangat kesal melihat perbuatan Mr. A tetapi mau bagaimana lagi.
"Kakak ipar. Tunggu aku!" teriak Austin. Zion memandang pasukan Gold Dragon yang berada di dekatnya. Dia masih tidak habis pikir dengan sikap pacar adiknya tersebut.
"Apa kepalanya terbentur sesuatu ketika melompat tadi? "tanya Zion kepada pasukan goldragon. Namun mereka hanya tersenyum saja sebelum lanjut untuk berenang.
Baru beberapa KM berenang Mereka melihat speedboat yang kini melaju kencang menuju ke arah mereka berada. Kali ini wajah mereka Semua terlihat tegang. Termasuk Austin yang sebelumnya banyak tertawa dan ceria. Senjata yang mereka bawa segera mereka ambil. Kini senjata telah ada di tangan mereka. Senjata itu akan mereka gunakan untuk melindungi diri mereka dari bahaya. Seorang wanita berdiri di depan speed boat. Wanita itu menurunkan kacamata hitam yang ia kenakan setelah melihat Zion dan Austin yang terapung di permukaan laut.
"Lipy?" celetuk Zion. Austin memandang Zion dengan alis saling bertaut.
"Musuh atau teman?" tanya Austin penasaran.
Zion memandang Austin sejenak.
"Dia sepupuku."
"Baik atau jahat?" tanya Austin lagi. Pria itu belum mau menurunkan senjata apinya sebelum benar-benar yakin kalau wanita yang ada di hadapannya itu tidak membahayakan nyawa mereka semua.
__ADS_1
"Dia ada di pihak," jawab Zion dengan tatapan tajam ke Austin, agar Austin percaya bahwa memang benar Livy ada di pihak mereka. Bertepatan dengan itu, speedboat yang dinaiki Livy berhenti.
"Hai, boy. Apa kabar?" Livy mengulurkan tangannya untuk membantu Zion naik ke atas speedboat. Tanpa banyak bicara dia segera menerima uluran tangan Livy dan naik ke atas. Pria itu juga membantu Austin dan yang lainnya naik ke atas speedboat. Setelah tidak ada lagi orang di lautan Livy segera menghidupkan kembali speed boatnya dan melajukannya menuju ke pulau.
Livy melirik kearah Zion sejenak sebelum ke arah Austin.
"Bukankah Saya sudah bilang! bukan hanya otot yang dibutuhkan dalam pertarungan ini. Tetapi kecerdasan juga mempengaruhi hasil akhir yang akan kalian dapatkan."
" Apa tidak ada cara lain untuk bisa tiba ke pulau ini dengan selamat selain menggunakan kapal?"
"Kau wanita yang menghubungiku tadi malam? tanya Austin penasaran dengan memandang ke arah Zion."
"Bukankah kalian sepupu? Kenapa wanita ini memilihku untuk memberikan informasi tentang Mr. A?" dia bisa menghubungimu langsung bukan? Tanya Austin berbisik.
"Apa sampai sekarang Livy belum bisa memaafkanku? tapi, dimana letak kesalahanku? apakah karena aku menolak cintanya itu termasuk sebuah kesalahan?".
"Good job! good job!" teriak Mr. A dengan penuh antusias ketika dia melihat sebuah kapal yang menuju ke pulau pribadinya meledak. Dia sangat puas dengan hasil kerja Jhon.
"Aku tidak sia-sia menjadikanmu orang kepercayaanku John!" setelah ini aku ingin melihat rumah Zeroun Zein dan rumah jordan Zein rata dengan tanah. Apakah kau bisa mengabulkan permintaanku Jhon?".
"Jhon tersenyum".
"Tuan apa anda tidak mau bersenang - senang merayakan kekalahan Zion dan Austin?" masalah rumah, itu hal yang sangat mudah bagi saya untuk meledakkannya Tuan, ucap Jhon sambil tersenyum.
__ADS_1
Mr A tertawa sambil menunjuk John. "tidak Jhon satu detik saja bisa mengubah segalanya. Aku tidak suka menunda sebuah kemenangan. Hancurkan sekarang juga aku ingin Goldragon hanya tinggal kenangan".
"Baiklah Bos jika memang itu yang anda inginkan." Jhon memberikan segelas wine kepada Mr. A. "Cheers untuk kemenangan anda."
Mr. A menerima gelas itu dan membalas Cheers dari John. Pria itu meneguk minuman beralkohol itu secara perlahan sambil melihat ke arah layar monitor. Semua akan terlihat jelas melalui layar monitor tersebut. John ingin menyaksikan kehancuran Goldragon sekarang juga.
"Wah sepertinya ada yang sedang berpesta nih!"
Suara seorang wanita membuat Mr. A terkejut dan segera memandang ke arah belakang. Dua pria itu mengernyitkan dahi melihat Livy, Austin dan juga Zion berdiri di sana. Orang yang paling kaget saat itu adalah Mr. A. Namun, dia juga tidak mau langsung menyalakan John karena dia tahu kalau Zion dan Austin memang tidak mudah untuk dikalahkan. Apalagi sekarang mereka sudah bersatu untuk melawannya.
"Kenapa Tuan! Kenapa Anda diam saja ayo segera habiskan minuman anda. Bukankah anda sedang berpesta?" Livy berjalan ke arah sofa. Dengan santainya wanita itu duduk di sofa tersebut dengan kaki terlipat. "Apa kedatangan saya telah mengganggu pesta kalian?"
"Berani sekali kalian masuk ke dalam mention saya. Tapi tidak ada salahnya juga kalian hadir di sini. Saya akan mengajak kalian semua untuk melihat sebuah film action yang baru saja dirilis 3 detik yang lalu," ucap Mr.A dengan penuh percaya diri. "Jhon, berikan padaku teleponnya. Aku akan memerintahkan mereka untuk meledakkan dua rumah mewah itu secara bersamaan. Aku ingin lihat Bagaimana reaksi mereka ketika melihat rumah orang tua dan opah mereka hancur."
Livy dan Zion tetap terlihat tenang. Sebenarnya ekspresi mereka saja sudah membuat Mr A sendiri tidak yakin kalau rencana mereka akan berhasil. Mereka bersikap seolah-olah mereka sudah tahu apa yang ingin dilakukan oleh Mr. A.
Jhon memberikan ponsel yang menghubungkan mereka dengan orang-orang yang akan meledakkan bom yang sudah diletakkan di kediaman Zeroun Zein dan juga Jordan Zein. Tanpa pikir panjang lagi Mr. A segera memberi perintah untuk meledakkan rumah-rumah tersebut.
"Ledakan sekarang juga!" perintahnya tanpa beban.
Mr. A memandang ke layar monitor dengan tatapan tidak sabar. Namun sudah beberapa detik dia menunggu tidak ada tanda-tanda perubahan di sana. Pria itu memandang ke arah John dengan wajah menahan amarah.
"Jangan bilang rencana yang sudah kita rencanakan gagal!" ucapnya dengan nada menahan emosi.
__ADS_1
"Jhon, kemarilah," ujar Livy. "Apa kau tidak bosan dekat-dekat dengan pria tua seperti dia?"