Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 133


__ADS_3

"Siapa yang baru saja kau hubungi?" Zion melangkah mendekat hingga membuat Daisy semakin panik. Wanita itu menyembunyikan ponselnya agar tidak sampai kelihatan Zion. Bisa gawat jika pria itu sampai memeriksa ponselnya. Di dalam galery ada banyak sekali foto mesra Daisy dan Foster saat mereka berada di Ukraina.


"Tidak ada. Memangnya apa yang kakak dengar?" Daisy berusaha tetap tenang. Dia menyelipkan rambutnya di balik telinga.


"Kau baru saja menghubungi seseorang. Aku mendengar semuanya!"


Daisy mematung. Dia semakin khawatir. Ingin sekali rasanya kabur dari sana agar tidak di interogasi lagi. Tetapi, itu tidak mungkin. Bagaimana bisa dia kabur dari Zion jika pria itu belum selesai bicara.


"Ya, aku menghubungi temanku. Namanya Flora. Dia bilang dia tidak bisa hadir hari ini. Aku sudah menunggunya sejak kemarin. Setelah Esme, dialah temanku sekarang," dusta Daisy semakin menjadi. Padahal dia tidak memiliki teman yang bernama Flora. Jika Zion sampai membahas tentang Flora habislah sudah.


"Boleh aku pinjam ponselmu?" Zion mengulurkan tangannya.


"Untuk apa kak?"


"Sejak kapan kau bertanya ketika aku meminjamnya?"


Daisy kembali diam. Dia sudah terlihat gelisah hingga membuat Zion semakin curiga. Sebenarnya Zion tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh Daisy dan Foster. Pria itu hanya penasaran saja, kenapa adiknya terlihat ceria sekali setelah memutuskan panggilan telepon. Tidak seperti biasanya. Kecurigaannya semakin menjadi ketika melihat kepanikan Daisy saat ini.

__ADS_1


"Zion, ternyata kau di sini. Opa mencarimu kemana-mana."


Opa Zen muncul. Sambil memegang tongkat, pria itu berjalan mendekati Zion dan juga Daisy.


"Opa, apa yang terjadi?" Daisy berlari mendekati Opa Zen. Diikuti oleh Zion. "Kenapa opa pakai tongkat? Kali opa kenapa?"


"Opa baik-baik saja?" tanya Zion yang juga khawatir. "Ada apa Opa mencariku?"


"Zion, Opa mau turun ke bawah. Tapi, Opa takut. Apa kau mau mendampingi Opa? semua orang sudah ada di bawah. Sepertinya tidak ada yang ingat dengan pria tua ini," jawab Opa Zen sambil tertawa kecil.


"Bukankah kau belum siap? Cepat dandan. Acara akan segera di mulai. Semua orang sudah berkumpul. Jangan sampai kau datang terlambat di acara penting Norah!"


"Baiklah Opa." Daisy tersenyum bahagia. Pada akhirnya, lagi-lagi Opa Zen yang menjadi malaikat penolongnya.


"Ayo Opa. Zion akan temani Opa." Zion memandang Daisy sekilas sebelum membawa Opa Zen keluar meninggalkan ruangan itu. Saat masih tiba di depan pintu, Opa Zen mengacungkan jempolnya secara diam-diam. Hal itu membuat Daisy semakin yakin kalau Opa Zen muncul karena memang ingin menolongnya.


"Opa memang yang terbaik. Semakin ke sini, aku semakin tidak mau usia Opa bertambah," gumam Daisy di dalam hati.

__ADS_1


Di luar kamar, Zion dengan hati-hati menuntun Opa Zen. Pria itu terlihat sangat sabar. Dia memperhatikan wajah Opa Zen sesekali ketika pria itu membersihkan keringat.


"Opa sakit?"


"Akhir-akhir ini tubuh Opa mengeluarkan banyak keringat. Meskipun Opa berada di ruangan yang sangat dingin," jawab Opa Zen tanpa memandang.


"Opa sudah periksa ke dokter?" Zion kembali khawatir. Dia memastikan langkah Opa Zen dengan waspada.


"Orang tua seperti opa memang sudah waktunya," jawab Opa Zen dengan santai.


"Sudah waktunya?" tanya Zion dengan alis saling bertaut.


Opa Zen memandang Zion dan tersenyum. "Sudah waktunya mati!" sahut Opa Zen sambil tertawa seolah-olah jawabannya sebuah lelucon.


Zion terdiam. Dia tidak suka Opa Zen bicara seperti itu. Walaupun memang pada usia Opa Zen yang sekarang, pria itu pasti akan di serang banyak penyakit dan berujung kematian. Sama seperti Daisy dan Norah. Zion juga tidak rela Opanya pergi.


"Gak lucu, Opa. Jangan bicara seperti itu lagi!" protes Zion dengan ekspresi dingin favoritnya. Opa Zen memandang Zion sekilas sebelum menapakkan kakinya di tangga dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2