
Austin berulang kali menekan nomor telepon Norah. Tidak biasanya wanita itu seperti ini. Biasanya Norah cepat sekali mengangkat panggilan telepon darinya. Har ini, sudah berulang kali dihubungi tetap saja tidak di angkat. Austin merasa kalau dia tidak melakukan kesalahan apapun. Tidak mungkin Norah dengan sengaja membiarkan panggilan masuk di teleponnya tidak di angkat.
“Apa ada Zion disamping Norah?” Hanya itu tebakan yang dipikirkan Austin. Pria itu meletakkan ponselnya di atas meja dan memeriksa lagi informasi yang di bawa oleh anak buahnya.
Paman Tano yang sejak tadi juga ada di ruangan itu tersenyum melihat Austin yang sekarang sudah banyak berubah. Jika Austin masih sama seperti dulu, detik ini juga meja itu pasti sudah melayang entah kemana.
“Apa Nona Norah sibuk, Tuan?” tanya Paman Tano.
“Sepertinya. Wanita memang sulit di tebak.” Austin mengeryitkan dahi melihat foto yang dikirimkan anak buahnya. “Siapa pria ini? Apa dia orang baru di dalam The Bloods? Saya melihat fotonya selalu berada di samping Mr. A. Tidak sembarang orang bisa berdiri sedekat ini dengan Mr. A.”
Paman Tano menerima foto tersebut. Pria itu sendiri juga tidak tahu menahu soal identitas pria yang sekarang menjadi orang kepercayaan Mr. A itu. “Sepertinya dia orang yang hebat. Tidak mungkin Mr. A mau didampingi oleh pria lemah bukan?” Paman Tano meletakkan foto itu kembali ke meja.
Austin bersandar di kursi kerjanya. “Jika saya masih duduk di sini, kapan saya bisa menikah dengan Norah? Saya sudah tidak sanggup berpisah dengannya seperti ini.”
“Penyerangan harus segera dilakukan. Tetapi, untuk mengalahkan orang berkuasa seperti Mr. A anda juga perlu tim, Tuan. Anda tidak bisa sendirian. Mr. A pernah dekat dengan anda. Dia pasti tahu dimana kelemahan anda. Begitu juga dengan anda yang sudah banyak tahu kelemahan Mr. A. Sayangnya anda tidak bisa menyerang kelemahan Mr. A sendirian.”
“Hartanya. Kelemahan Mr. A ada pada hartanya. Jika aku berhasil menemukan mansion harta karun yang ia bangun, maka aku akan menang.” Austin memutar kursi kerjanya. "Aku akan meledakkan mansion itu."
“Ya, Tuan. Itu target kita sekarang. Kita tidak perlu membunuhnya. Dengan menghancurkan seluruh kekayaannnya, kita sudah termasuk membunuhnya. Semua kekuatan yang ia miliki ada di rumah itu. Tetapi masalahnya, kita tidak tahu dimana mansion itu berada.” Paman Tano menunduk dan berpikir. Sebenarnya dia juga sudah membayar beberapa orang, tetapi hasilnya belum juga dapat. Sekarang ruang Austin terbatas. Semua orang memutuskan untuk menjadi pengikut Mr. A karena mereka semua takut mati. Hanya beberapa saja yang bertahan dengan Austin. Untuk melawan mereka semua, tentu saja Austin tidak akan menang walau kemampuan yang ia miliki hebat.
Ponsel Austin berdering. Austin terlihat ceria melihat ponselnya berdering. Apa lagi ketika nama kekasihnya muncul di layar tersebut. “Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menjawab teleponku sejak tadi?” tanya Austin tanpa memberi kesempatan bagi Norah bicara sekatapun.
__ADS_1
“Ini aku.” Austin membisu mendengar suara yang menjawab di sana bukan Norah, melainkan Zion. Bagaimana mungkin ponsel kekasihnya ada di tangan Zion Zein? Apa ini yang sudah menyebabkan puluhan panggilan teleponnya di biarkan begitu saja.
“Dimana Norah?” tanya Austin tanpa mau basa basi. Toh dia juga tidak perlu bicara lembut karena Zion tidak akan mau menerimanya sebelum ia membawa bukti-bukti itu.
“Norah di culik Mr. A.”
“APA?”
Beberapa waktu yang lalu.
Zion melajukan mobilnya menuju ke lokasi yang ia pikir itu adalah markas Mr. A dan The Bloods. Namun, satu hal yang tidak di sangka terjadi. Di tengah perjalanan, Daisy berdiri di tengah jalan dalam kondisi terikat. Mulutnya juga di ikat. Zion segera memberhentikan mobilnya secepat mungkin karena di balik jalan berkelok itu ada adiknya di tengah jalan.
Daisy memejamkan mata ketika jarak mobil yang dikemudikan kakaknya sedikit lagi menyentuh lututnya. Wanita itu bahkan tidak berani membuka matanya lagi karena berpikir kalau dia sudah mati tertabrak.
DUARRR
Tiba-tiba seseorang menembak Daisy. Bagian paha wanita itu mengluarkan darah. Ketika Daisy hampir terjatuh, Zion segera menangkap Daisy. Pria itu mencari sumber tembakan. Tetapi dia tidak menemukan apapun di sana. Hanya lokasi sunyi yang dikelilingi semak yang begitu tinggi.
“Kakak,” ucap Daisy menahan sakit. Wanita itu terus saja meneteskan air mata. “Kak,” ucapnya lagi.
“Daisy, siapa yang sudah melakukan semua ini? Apa kau masih bisa mendengar suaraku?” Zion benar-benar syok melihat Daisy sampai tertembak. Kejadian ini begitu cepat hingga membuat Zion tidak memiliki persiapan apapun. Padahal baru beberapa saat yang lalu dia memastikan kalau adiknya sedang asyik bermain bersama sahabatnya. Kenapa sekarang adiknya sudah ada di dalam pelukannya dalam keadaan tertembak. “Kita harus segera ke rumah sakit.”
__ADS_1
“Kak Norah,” lirih Daisy pelan.
“Norah?” Zion menggeleng kepala.
“Mereka membawa Kak Norah,” ucap Daisy lagi.
Di detik ini Zion baru sadar kalau adiknya ada dua. Dia sudah bodoh dengan membiarkan Norah pergi tanpa pengawasan. Padahal walaupun Norah hebat dalam hal bela diri, tetap saja jika dia sendirian dia akan kalah jika dihadapkan musuh yang begitu banyak.
“Kemana? Mereka membawa Norah ke mana?”
Daisy menggeleng pelan. “Kak, hubungi Austin. Ajak dia menyelamatkan Kak Norah. Kak Norah datang untuk menolongku. Tetapi, justru mereka semua sebenarnya mengincar nyawa Kak Norah. Kakak harus bekerja sama dengan Kak Austin. Hilangkan ego kakak demi keselamatan Kak Norah.” Daisy sudah kesulitan bicara. Wanita itu tidak bisa menahan sakit seperti ini.
“Daisy, bertahanlah.” Zion segera mengangkat tubuh Daisy dan membawanya masuk ke dalam mobil. Pria itu memutar arah mobilnya untuk membawa Daisy ke rumah sakit terdekat.
***
Austin memasukkan beberapa peluru ke dalam senjata apinya. Pria itu mengenakan topi dan juga jaket hitam. Dia tahu kemana Mr. A membawa Norah pergi. Dia juga sudah memberi tahu Zion lokasinya. Kali ini Austin sendiri tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Zion sudah mempercayainya saratus persen bahkan memaafkannya. Tetapi, untuk mendapatkan restu dari Zion dia harus kehilangan kekasihnya untuk kedua kalinya. Padahal sejak kemarin inilah hal yang selalu dikhawatirkan Austin. Maka dari itu dia selalu menghubungi Norah untuk memastikan keadaan wanita tercintanya itu.
“Tuan, saya hanya bisa mendoakan anda.” Paman Tano menunduk hormat di samping Austin. “Apapun yang terjadi, saya harap anda tetap pulang dengan selamat.”
Austin memandang paman Tano dan menggeleng pelan. “Aku akan pulang jika Norah baik-baik saja. Karena sekarang nyawaku ada pada dirinya,” sahut Austin sebelum dia memasukkan senjata apinya ke saku. Pria itu segera pergi meninggalkan kamar.
__ADS_1
Paman Tano memandang foto keluarga yang ada di dalam ruangan kamar tersebut. “Saya harap keturunan Clark tidak berakhir sampai di sini. Tuan Austin harus kembali dalam keadaan selamat,” gumam Paman Tano dengan wajah yang sangat sedih.