
Dokter dan tim medis lainnya keluar dari ruang operasi. Mereka di sambut oleh keluarga besar Livy dan juga Abio. Mereka semua panik dan ingin tahu kabar terbaru Livy dan Abio. Kabar terakhir yang mereka dengar, Livy dan Abio kritis bahkan ada penyusup di ruang operasi. Jelas saja informasi itu membuat tidak tenang semua orang.
"Dok, bagaimana keadaan putri saya?" Katterine orang pertama yang bersuara. Sejak tadi air matanya tidak berhenti menetes. Dia sangat mengkhawatirkan putri dan juga calon menantunya.
"Kondisi Dokter Livy sudah jauh lebih baik. Dia sudah melewati masa kritisnya. Begitu juga dengan Tuan Abio. Operasi kami berjalan lancar hari ini. Anda dan keluarga tidak perlu khawatir," jawab dokter itu dengan eskpresi yang santai.
"Terima kasih, Dok," sahut Oliver. "Kapan kami diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan Livy dan Abio?"
"Untuk saat ini sebaiknya hanya satu orang saja yang menjaga pasien."
"Baik, Dok."
Opa Zen, Leona dan Jordan yang mendengar kabar itu merasa jauh lebih tenang sekarang. Tapi, tidak dengan Lukas. Pria itu masih tidak terima cucunya di celakai. Rasanya ia ingin segera menemui dalang dari semua masalah ini.
__ADS_1
"Ma, Zion mau mengatakan Faith pulang," bisik Zion secara diam-diam.
Leona melirik Zion dengan alis saling bertaut. "Zion, kau harus temui mama dan ceritakan semuanya. Mama tidak suka jika kau merahasiakan sesuatu dari mama."
"Ya, ma. Untuk saat ini, maafkan Zion. Zion akan cari waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya."
"Bahkan masalahnya sampai berbuntut panjang seperti ini. Mama tidak bisa tidur nyenyak lagi sekarang. Mama mengkhawatirkanmu dan juga Norah."
"Iya, Ma." Zion memandang Faith lagi yang kini berdiri di ujung sana. "Faith wanita yang baik. Itu sudah cukup membuat mama tenang kan?"
"Mama percaya padamu," sahut Leona. Zion merasa jauh lebih lega. Dia memandang Norah dan mendekati wanita itu. Austin melirik Zion sekilas sebelum menunduk lagi.
"Tolong kabari aku jika terjadi sesuatu. Faith harus istirahat."
__ADS_1
"Baiklah, Kak."
Norah dan semua orang yang ada di sana memandang ke arah lorong yang di ujung. Mereka melihat Keluarga Abio telah tiba di sana. Padahal jaraknya sangat jauh. Tetapi mereka bisa tiba lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Kak Zion, sekarang waktunya. Cepat pergi dari sini."
Zion tidak mau banyak bicara lagi. Pria itu segera mengganting tangan Faith dan membawanya pergi meninggalkan rumah sakit. Dia sempat berpapasan dengan Biao dan juga yang lainnya. Pria itu tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia hanya diam saja sambil membawa Faith segera menghilang dari rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Abio? Kenapa bisa jadi seperti ini. Apa yang mereka lakukan. Saat menghubungiku dia bilang kalau semua baik-baik saja. Dia bilang ingin pulang ke rumah kalian." Alana memandang Katterine dan menagih sebuah penjelasan. Dari semua orang baru saja tiba, Alana yang paling tidak bisa tenang.
"Alana, tenanglah. Semua akan baik-baik saja. Dokter bilang kondisi Livy dan Abio sudah stabil. Mereka sudah melewati masa kritis. Tetapi Dokter bilang hanya boleh satu orang yang menjaga di dalam."
"Aku. Biar aku yang menjaga mereka," sahut Alana cepat.
__ADS_1
"Ruangan mereka masih di pisah. Katterine bisa menjaga Livy dan Alana bisa menjaga Abio. Tetapi sebaiknya kalian tidak sendirian. Oliver dan Kwan harus ikut ke dalam. Untuk jaga-jaga jika ada musuh yang berhasil menyusup masuk dan berniat mencelakai mereka lagi," ucap Lukas memberi solusi. Solusi pria itu di setujui oleh semua orang yang ada di sana. Alana dan Katterine sama-sama lemah dalam hal bela diri. Jika sampai ada yang berniat jahat mereka berdua tidak akan bisa berbuat apa-apa selain berteriak. Lukas memberi solusi itu karena dia tahu kalau saat ini keadaan belum aman.