
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Norah dan Austin telah tiba. Lokasi pesta pertunangan itu sudah diisi para tamu undangan. Rata-rata tamu undangan yang datang berasal dari keluarga dan kerabat dekat.
Norah dan Austin masih ada di ruang ganti. Walau berada di ruangan yang berbeda, Tetap saja tidak menghalangi mereka untuk mengobrol. Austin dan juga Norah Menggunakan ponsel mereka untuk tetap saling terhubung. Walau udah latihan sejak semalam sore, tetap saja Norah merasa tidak tenang karena takut melakukan kesalahan.
"Ingat, nanti kau dulu yang datang ke lokasi. Baru setelah beberapa menit aku yang akan muncul dari atas tangga. Jangan lupa untuk menyambutku di depan tangga," ucap Norah. Walaupun dia tahu Austin tidak akan lupa, tapi tetap saja dia mengingatkan kekasihnya itu hingga berulang kali.
"Lalu aku akan membawamu ke tempat yang sudah ditentukan. Setelah Cincin datang kita akan bertukar cincin dan status kita akan menjadi tunangan," sahut Austin dengan penuh percaya diri.
"Kau melupakan sesuatu."
"Apa?" tanya Austin dengan alis saling bertaut.
"Jangan lupa untuk mencium tanganku agar kita terlihat mesra."
Austin tertawa geli mendengarnya. Meskipun adegan itu tidak ada di dalam latihan mereka semalam. Tetapi Austin pasti akan melakukannya. Bahkan jika ada kesempatan dia ingin mencium bibir kekasihnya di depan semua orang.
"Austin, Apa kau sedang menertawakanku?" tebak Norah Ketika kekasihnya tidak memberikan reaksi apapun. Dia malu. Kesannya sebagai seorang wanita Dia terlalu agresif.
__ADS_1
"Tidak sayang aku tidak sedang menertawakanmu. Aku sedang menertawakan diriku sendiri. Dusta Austin agar Naura tidak marah.
Itu berarti memang sekarang kau sedang tertawa. Protes Norah Semakin menjadi.
"Sepertinya waktunya akan segera tiba Apa kau sudah siap. Austin terpaksa mengalihkan topik pembicaraan mereka agar Norak tidak membahas sesuatu yang sama hingga berulang kali. Hal itu hanya akan membuat mereka berselisih paham.
"Sudah Ketus Norah. Hal itu menandakan kalau wanita itu sedang marah.
"Norahku Sayang, jangan marah-marah ya. Sebentar lagi kita kan akan bertunangan, kita akan segera menentukan tanggal pernikahan kita. Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita berdua. Tersenyumlah. Jika kau tersenyum kau kelihatan semakin cantik," rayu Austin berharap kekasihnya itu tidak marah lagi.
Norah memandang dirinya sendiri di depan cermin. Sampai detik ini dia masih tidak percaya kalau wanita yang ada di cermin itu adalah dirinya. Norah tidak pernah memakai bedak. Penampilannya selalu saja polos. Tetapi kini wanita itu memakai lengkap beserta dengan lipstik dan lain-lainnya. Norah terlihat sangat cantik. Berbeda jauh dengan Norah yang biasanya. Make up yang dia gunakan membuatnya terlihat jauh lebih mudah.
"Aku merasa wajahku sedikit aneh. Mungkin beberapa orang akan menertawakanku ketika melihat penampilanku nanti."
"Tidak akan. Selama aku ada di sampingmu maka tidak akan ada yang boleh menertawakanmu. Percayalah padaku. Kau akan menjadi wanita paling cantik yang ada di lokasi pesta hari ini."
"Bukankah tadi kau bilang sudah waktunya kenapa sekarang tidak juga pergi ke sana Aku akan menyusul sebentar lagi."
__ADS_1
"Baiklah aku matikan teleponnya ya. Sampai jumpa di lokasi pertunangan sayangku."
Di saat Austin dan Norah sedang mengobrol melalui telepon. Di saat yang bersama Daisy juga sedang menghubungi Foster. Wanita itu baru saja mengirim foto terbarunya kepada sang kekasih. Beberapa pujian ia terima dan itu membuatnya sangat bahagia.
"Foster, andai saja kau ada disini maka kebahagiaanku akan lengkaplah sudah."
"Bersabarlah. Sedikit lagi aku akan muncul sebagai Foster yang sukses."
"Foster, aku harus segera pergi. Mama akan marah jika aku datang setelah Kak Norah dan Kak Austin tiba."
"Ya pergilah. Jika nanti kau tidak sibuk segera hubungi aku. aku akan selalu menunggu kabar darimu disini."
"Baiklah aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," jawab Foster
Daisy tersenyum bahagia. Wanita itu mengecup ponselnya berulang kali karena menganggap ponsel itu adalah poster. "Kak Foster, aku sangat merindukanmu." Daisy memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia berputar karena ingin pergi ke lokasi pesta. Langkahnya terhenti melihat Zion berdiri di sana. Tas yang sempat ada di genggaman Daisy terlepas. Hal itu membuat Daisy panik bukan main.
__ADS_1
"Kak Zion sejak kapan kakak ada di sana?"