
"Opa, maafkan aku. Aku benar-benar bodoh dan sangat ceroboh. Bisa-bisanya Aku membawa bahaya ke dalam ruangan Kak Livy." Daisy memandang Katterine. Wanita itu kini yang paling khawatir diantara yang lain. "Tante, maafkan aku."
"Daisy sayang, semua akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Opa Zen bisa mengatasinya," bujuk Lana agar Daisy tidak panik lagi.
Zeroun memandang Daisy dengan senyuman. "Daisy, kembalilah ke tempat Norah. Lana akan mengantarkanmu."
Daisy mengangguk. "Maafkan aku Opa."
Lana segera membawa Daisy pergi dari sana. Jika wanita itu tetap ada di ruangan tersebut, Zeroun tidak lagi fokus untuk menjinakkan bom yang ada di boneka tersebut.
"Dia benar-benar licik. Kenapa dia tidak berani berhadapan langsung dengan kita yang sudah tua? Kenapa harus mencelakai anak-anak muda yang sedang berbahagia?" protes Oliver kesal.
"Belatih! Aku butuh belatih," pinta Zeroun. Oliver segera memberi berlatih miliknya kepada Zeroun.
"Dad, hati-hati," ucap Katterine khawatir. Sebenarnya wanita itu sama saja dengan Daisy. Kalau ada masalah bisanya nangis atau marah-marah.
__ADS_1
Zeroun kembali fokus dengan boneka yang ada di tangannya. Dia tahu kalau bom itu sudah bekerja. Jika sampai waktunya habis maka tamatlah riwayat mereka semua.
Secara perlahan Opa Zen membela boneka itu agar bisa melihat bom yang ada di dalamnya. Tatapan Opa Zen tetap tenang meskipun kini bahaya ada di genggaman tangannya. "Kita memiliki waktu lima menit," celetuk Oliver kaget. Entah bagaimana nasip mereka jika tadi mereka tidak sadar kalau boneka yang ada di pelukan Daisy ada bomnya.
Opa Zen tidak mau banyak bicara. Meskipun waktu yang mereka miliki hanya tersisa sedikit tapi pria itu merasa yakin kalau dia bisa menjinakkan bom tersebut. Ini bukan bom yang pertama bagi Zeroun. Sudah puluhan bom ia jinakkan.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Shabira dan Kenzo muncul di dalam ruangan itu sambil membawa parcel buah. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada rasa curiga sedikitpun ketika melihat Zeroun sedang sibuk dengan boneka yang ada di tangannya.
"Semakin tua sifat kita semakin kekanak-kanakan bukan? Yang membuatku tidak habis pikir, Kenapa ketua mafia geng Gold Dragon tuanya suka main boneka," ledek Kenzo sambil melirik Zeroun.
"Bom?" celetuk Shabrina dan Kenzo bersamaan. Sepasang suami istri itu bersama-sama mendekati Zeroun untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak, Apa benar ada bom di dalam boneka itu?"
"Ya," jawab Zeroun singkat.
__ADS_1
"Berapa sisa waktu yang kita miliki?" tanya Kenzo khawatir.
"Empat menit." Zeroun memandang Kenzo sejenak sebelum kembali fokus dengan bom yang ada di tangannya.
"Empat menit? Kenapa tidak buang saja bom itu ke jendela?" protes Kenzo.
"Aku bisa mengatasinya. Jangan sampai kita mengorbankan orang lain demi melindungi diri kita dari bahaya."
Kenzo kembali diam. Tadinya pria itu datang ingin mengajak Zeroun bercanda. Namun, situasinya sangat tidak tepat. Bahkan kini pria itu tidak bisa duduk tenang karena ada bom yang kini waktunya terus berjalan.
"Kau yakin masih ingat cara menjinakkan bom?" tanya Kenzo ragu.
"Aku kurang yakin. Apa lagi bom ini model terbaru," sahut Zeroun dengan santai.
"Sudah ku duga!" Kenzo menghela napas sebelum duduk bersandar.
__ADS_1