Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 200


__ADS_3

Norah tidak bisa berhenti tertawa setiap kali membayangkan ekspresi kekecewaan suaminya. Bahkan ketika mereka sudah keluar dari kamar wanita itu masih belum bisa menahan tawanya. Ia terus saja tertawa sambil menggandeng lengan Austin. Sesekali justru wanita itu mencubit perut suaminya karena gemas.


"Maafkan aku karena tidak memberitahumu sejak awal. Salah sendiri kenapa kau menyerangku secara mendadak seperti itu. Aku belum biasa tidur ditemani. Jadi aku kaget dan mencoba melindungi diri." Ternyata tadi Norah tidak sengaja menendang suaminya sendiri. Hal itu membuat Austin kesakitan dan duduk di ujung tempat tidur. Awalnya Norah merasa bersalah karena tanpa sengaja ia menendang sesuatu yang menjadi senjata suaminya. Namun ketika Austin menarik tubuhnya dan menggelitikinya untuk memberi hukuman, Norah kembali berpikir kalau semua baik-baik saja.


"Untung saja aku mencintaimu. Jika tidak kau sudah habis kubuat. Wajahmu ketika bangun tidur sangat menggemaskan. Aku tidak bisa untuk tidak menggodamu," ucap Austin sebelum mengecup pipi Norah. Kali ini mereka akan menjenguk Leona yang masih belum keluar dari kamar. Norah ingin mengajak ibu kandungnya menghirup udara segar di taman samping. Bukan hanya Leona saja. Wanita itu juga ingin mengajak seluruh keluarganya yang ada di rumah itu untuk sarapan pagi di sana. Hari ini matahari bersinar terang. Taman samping merupakan lokasi yang cocok untuk berjemur dan menikmati sarapan pagi. Para pelayan sudah diberi perintah untuk menyiapkan sarapan pagi di sana. sambil menunggu sarapan siap, Norah ingin menjemput Leona di kamarnya.


Belum sempat masuk ke dalam kamar, Norah dan Austin sudah bertemu dengan Jordan yang baru saja keluar. Pria itu memandang anak dan menantunya sebelum tersenyum. "Apa kalian ingin bertemu dengan Mama. Kebetulan sekali kalau mama baru saja selesai mandi dan dia baru saja bertanya tentangmu Norah," ucap Jordan apa adanya. Pria itu mengambil air minum di meja yang tidak jauh dari pintu kamar sebelum membawanya masuk ke dalam.


"Ya, kami ingin membawa Mama ke taman belakang untuk sarapan. Apa Papa bisa membantu kami. Jika Papa tidak bisa menggendong Mama lagi biar Austin saja yang melakukannya." Norah berjalan di samping Jordan menuju ke kamar.


"Mama sudah bisa jalan. Dia juga tidak mau digendong. Tadi saat Zion datang ke kamar dan mengajak Mama untuk sarapan di luar. Mama terlihat menolak. Tetapi Papa tidak tahu. Bisa jadi dia berubah pikiran setelah melihatmu." Jordan memegang handle pintu lalu mendorongnya.


"Baiklah. Kalau gitu Norah akan coba membujuk mama." Norah memandang ke arah Austin. "Cari Kak Zion dan ajak Kak Zion untuk sarapan di taman samping."


"Baiklah," ucap Austin. Pria itu segera pergi menuju ke kamar Zion. Sedangkan Jordan dan Norah sama-sama masuk ke dalam kamar untuk membujuk Leona agar mau sarapan di taman samping.


Ketika tiba di dalam kamar, Leona terlihat sedang merapikan meja yang menurutnya sangat berantakan. Padahal tubuh wanita itu masih terasa lemah tapi rasanya ia tidak bisa diam saja di tempat tidur. Melihat Norah muncul di kamarnya membuat Leona tersenyum bahagia. Wanita itu duduk di sofa lalu menepuk sisi sofanya untuk meminta Norah duduk di sampingnya.


"Kemarilah sayang."


Jordan melangkah ke arah kamar mandi. Pria itu juga ingin segera bersiap-siap untuk sarapan di taman samping.


"Ma, kita sarapan di halaman samping ya. Kita sudah lama tidak sarapan di situ. Terakhir kali kita sarapan di situ saat Daisy tidak ada di rumah. Sekarang mumpung Daisy masih ada di sini. Aku ingin sarapan di taman samping seperti dulu lagi. Besok juga aku akan berangkat ke Jepang untuk bulan madu. Aku pasti sangat merindukan mama. Ini akan jadi sarapan paling berkesan karena setelah ini aku tidak tahu kapan lagi bisa sarapan sama mama, papa, Daisy dan juga Kak Zion.

__ADS_1


"Cepat atau lambat kau memang pasti akan pergi meninggalkan rumah ini untuk ikut dengan suamimu. Mama sudah menguatkan hati Mama jauh-jauh hari sebelum kau menikah dengan Austin. Tetapi semakin ke sini rasanya semakin berat untuk melepas kepergianmu. Mungkin memang seperti ini rasanya sakit kehilangan. Sekarang mama tahu apa yang dirasakan oleh GrandNa ketika Mama menikah dengan papamu dulu. Setiap orang tua memang harus siap untuk melihat putrinya dibawa oleh pasangan hidupnya. Dia tidak boleh egois demi kebahagiaan anak-anaknya. Satu hal yang mama minta darimu. Entah di mana pun nanti kau dan Austin tinggal Mama harap kau sering-sering meluangkan waktu untuk menjenguk mamamu yang sudah tua ini. Sesibuk apapun itu sempatkan waktu untuk menjenguk mama. Mama sendiri merasa menyesal karena dulu tidak pernah sering-sering menjenguk GrandNa. Sekarang ketika GrandNa sudah tiada Mama justru sangat ingin bertemu dengannya."


"Iya Ma. Tetapi meskipun Norah sudah menikah Norah tetap putri mama. Jika Norah melakukan kesalahan Mama berhak untuk menegur dan memarahi Norah. Norah janji tidak akan tersinggung," ucap wanita itu dengan sungguh-sungguh.


"Tapi mama tidak mau memarahimu. Mama sangat menyayangimu." Leona segera memeluk Norah. "Besok ketika dia merindukan Norah, dia tidak akan bisa memeluk putrinya seperti itu lagi karena setelah bulan madu Norah akan menetap di rumah yang sudah disiapkan oleh Austin. Mereka berdua tidak akan tinggal di rumah ini lagi.


"Setelah menikah, cerita yang baru akan segera dimulai. Siap atau tidak kau harus menjalaninya. Kehidupan pernikahan tidak selamanya berbuah manis. Adakalanya kita berselisih paham dengan pasangan kita. Mama minta padaMu jika nanti kau dan Austin berselisih paham, lebih baik sebagai seorang istri kau mengalah. Di dalam rumah tangga kunci dari semuanya ada pada istri. Jika istrinya sabar maka rumah tangga itu akan kokoh. Tapi dengan kata lain kesalahan yang diperbuat oleh Austin masih bisa dimaafkan. Jika sudah terlalu fatal kau berhak untuk marah dan pergi. Di sini Mama bukan mendoakan rumah tanggamu yang buruk-buruk. Tetapi mama hanya ingin berbagi cerita sesuai dengan pengalaman yang Mama jalani setelah menikah. Dulu kita bangun tidur sendirian tetapi kini ketika kita membuka mata sudah ada pria yang kita cintai di samping kita. Rasanya memang sangat membahagiakan."


"Ma, Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepada Mama. Tapi aku malu." Norah memandang ke arah pintu kamar mandi untuk memastikan kalau Ayah kandungnya masih ada di dalam sana dan tidak menguping pembicaraan mereka.


"Apa yang ingin kau tanyakan, Norah? Katakan saja kepada Mama. Mama pasti akan membantumu untuk mencari solusi terbaiknya."


"Ma, bagaimana caranya agar suami kita bahagia?"


Norah lagi-lagi memandang ke arah pintu kamar mandi sebelum melanjutkan ceritanya. "Norah dan Austin belum berhubungan ...." Norah menahan kalimatnya sambil memejamkan mata. Namun kini ibu kandungnya sudah paham dengan apa yang ingin dikatakan oleh putrinya. "Kenapa? Apa kau belum siap. Jika kau belum siap sebaiknya katakan baik-baik dengan Austin. Jika dia memang benar-benar mencintaimu seharusnya dia tidak akan keberatan."


"Bukan karena belum siap, Ma. Tetapi karena Norah datang bulan. Tetapi Austin sangat tidak pengertian. Dia terus saja mengganggu Norah dan menggoda Norah sampai-sampai Norah tidak bisa tidur dengan tenang. Yang ingin Norah tanyakan kepada Mama. bagaimana caranya agar Austin tidak menggoda Noah untuk saat ini. Norah berpikir kalau sebuah pernikahan tidak hanya seputaran ****. Tetapi untuk hidup saling melengkapi dan saling menemani sampai tua nanti. Bahkan sebelum menikah Norah tidak pernah berpikir untuk segera memiliki anak. Tetapi jika diberi kepercayaan cepat Norah juga tidak akan menolak. Norah ingin menikmati pernikahan Norah bersama Austin dalam waktu yang cukup lama. Tetapi setiap kali Norah membayangi tentang malam pertama tiba-tiba Norah merasa takut. Norah seperti merasa tidak nyaman. Apa ini wajar ma? Atau memang ada kelainan di dalam diri Norah. Norah tidak mau membuat Austin kecewa. Dia sudah cukup berjuang keras selama ini. Norah tidak mau membuatnya bersedih setelah menikah." Norah memasang wajah sedih.


"Ada beberapa wanita yang pernah merasakan hal yang sekarang kau rasakan. Meskipun tidak semuanya. Ketakutan yang kau rasakan merupakan hal yang wajar. Tetapi kau tidak boleh membiarkannya terus-menerus ada di dalam dirimu. Kau harus menyingkirkannya jauh-jauh. Ini semua demi kebaikanmu dan suamimu juga. Sebagai wanita yang sudah menikah kita memiliki tanggung jawab untuk memuaskan suami kita. Mungkin sebagian orang yang sudah menikah menganggap hal itu tidak penting. Tetapi itu salah satu kekuatan agar rumah tangga kita bertahan. Agar suami tidak tergoda oleh wanita lain di luar sana."


"Terima kasih Ma. Setelah bercerita dengan Mama sekarang Norah tahu apa yang harus kulakukan. Norah harap Mama sehat-sehat selalu agar mama bisa menjadi tempat Norah cerita ketika Norah mengalami jalan buntu. Norah tidak mau kehilangan mama." Norah segera memeluk Leona sambil memejamkan mata bersamaan dengan Itu Jordan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi.


"Ayo kita sarapan," ajak Jordan sambil tersenyum.

__ADS_1


Norah segera mengangguk. Dia membantu ibu kandungnya untuk berdiri sebelum menggandeng lengannya dengan begitu kuat. "Ayo Ma kita jalan pelan-pelan. Norah akan terus memegang tangan Mama agar Mama tidak terjatuh," ucap Norah penuh dengan keyakinan.


Leona hanya tertawa saja mendengarnya. Meskipun tidak dibantu oleh Norah wanita itu merasa yakin kalau ia bisa berjalan dengan sendirinya.


Ketika mereka tiba di depan pintu, Mereka melihat Daisy, Austin dan Zion yang saat itu sudah menunggu di depan kamar. Padahal tadinya Norah berpikir kalau mereka semua akan langsung berangkat ke taman samping dan menunggu di sana.


"Mama. Apa Mama sudah bisa jalan?" tanya Daisy khawatir.


"Ya, tentu saja Mama sudah jauh lebih sehat. Bukankah kata dokter Mama sakit karena terlalu banyak pikiran jika pikiran mama bahagia Mama pasti bisa sehat kembali," jawab Leona dengan penuh keyakinan. Dia memandang Zion sejenak sebelum memandang ke arah Daisy lagi. "Di mana Foster. Sejak kemarin Mama tidak ada melihat Foster. Apa dia sudah pulang."


Daisy melirik ke arah Zion sebelum memandang ibu kandungnya. Entah kenapa setiap kali ada Zion di sana Daisy idak ingin membahas apapun yang berhubungan dengan Foster karena dia tahu kalau Kakak kandungnya belum memberi restu atas hubungan mereka berdua.


"Kak Foster harus mengurus masalah di perusahaan orang tuanya ma. Dia tidak akan kemari. Kalaupun bertemu mungkin nanti kami akan bertemu di Universitas Yale," jelas Daisy apa adanya.


"Dia memang anak yang pekerja keras." Leona melanjutkan langkah kakinya menuju ke taman samping. Mereka semua akan segera sarapan di sana.


Norah segera menggandeng lengan Austin. Sedangkan Zion memilih untuk menggandeng lengan Leona agar wanita itu tidak terjatuh. Daisy yang tidak mau kalah justru menggandeng lengan Jordan. Mereka semua sama-sama berjalan menuju ke tempat sarapan sambil bergandengan tangan.


Beberapa pelayan terlihat berlalu-lalang dan sangat sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi. Ini merupakan sarapan yang sangat berarti. Karena besok mereka sudah tidak bisa seperti ini lagi. Norah akan segera bulan madu dan menetap di rumah Austin. Daisy akan segera kembali ke Universitas Yale. Sedangkan Zion biasanya pria itu sibuk di markas Gold Dragon hingga lupa pulang. Leona ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk bercerita dan berkumpul bersama dengan anak-anaknya.


"Jika Opa Zen ada di sini pasti akan lebih seru," ucap Daisy. Wanita itu segera duduk. Dia memilih kursi yang ada di samping Leona.


Leona memandang satu persatu yang kini ada di hadapannya sebelum tersenyum bahagia. "Akhirnya aku masih diberi kesehatan untuk berkumpul dengan suami dan anak-anakku," gumam Leona di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2