Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 189


__ADS_3

Shabira membuka kedua matanya secara perlahan. Dokter bilang kalau keadaannya baik-baik saja. Wanita tua itu pingsan karena terlalu kelelahan. Bagaimana tidak? Setelah menempuh perjalanan panjang melalui udara wanita itu harus naik kapal menuju ke pulau tempat lokasi pesta berada. Dia bahkan belum ada istirahat sedikitpun. Padahal di usianya yang sekarang ia harus lebih banyak istirahat. Shabira terus saja mengabaikan kesehatannya dan merasa kalau dirinya masih seperti dulu. Kuat dan tidak mudah jatuh sakit.


"Kau sudah membuatku khawatir, sayang. Jangan seperti ini lagi. Bahkan bernafas saja terasa sangat sulit ketika melihatmu tidak sadar seperti tadi," protes Kenzo. Pria itu mendaratkan kecupan di pucuk kepala Shabira sebelum mengusap rambutnya dengan mesra. "Aku takut."


Di ruangan itu hanya ada Shabira dan Kenzo. Kenzo meminta yang lainnya untuk kembali ke lokasi pesta tadi siang. Bagaimanapun juga hari ini adalah hari pernikahan Norah dan juga Livy. Dia tidak mau keluarga yang seharusnya berkumpul jadi berkurang. Cukup mereka berdua saja yang absen di resepsi pernikahan Abio.


"Bagaimana dengan resepsi pernikahan Norah dan Livy? Apa semua berjalan lancar?" tanya Shabira dengan suara yang lemah. Meskipun masih dalam kondisi lemah, wanita itu masih menyempatkan diri untuk menanyakan perihal pesta pernikahan cucunya.


"Tadinya Leona memutuskan untuk mempersingkat pesta pernikahan ini. Ia bahkan ingin menggagalkan resepsi yang seharusnya berlangsung pada malam hari ini. Tetapi aku melarangnya. Aku yakin kalau semua akan baik-baik saja. Tebakanku benar bukan? Buktinya sekarang kau sudah sadar dan semua kembali baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Kenzo memasang ekspresi setenang mungkin meskipun kini perasaanya sedang tidak karuan. Bibir Shabira masih pucat dan hal itu membuat Kenzo masih belum bisa merasa lega.


"Keputusan yang kau ambil sudah tepat. Hari ini adalah hari bahagia cucu kita. Tidak sepantasnya kita datang untuk membuat semuanya berantakan."


Shabira berusaha untuk bangkit. Kenzo menahan wanita itu dengan cara memegang tangannya. "Apa yang ingin kau lakukan? Tetap berbaring karena dokter tidak mengizinkanmu untuk turun dari tempat tidur ini. Jika kau ingin turun, kau harus menggunakan kursi roda." Kenzo benar-benar menolak keras dan tidak mau Shabira sampai pingsan lagi.


"Aku ingin ke resepsi pernikahan Abio. Aku ingin melihatnya tersenyum bahagia di hari pernikahannya. Aku tidak mau terkurung di dalam kamar ini ketika cucuku sedang berpesta," ujar Shabira. Wanita itu berusaha keras untuk turun. Dia tidak peduli meskipun harus membantah suaminya.


"Tapi kesehatanmu jauh lebih utama. Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi," ucap Kenzo dengan begitu tegas.


"Sebentar saja ... tolong izinkan aku untuk menghadiri resepsi pernikahan Abio. Dia satu-satunya cucu yang aku miliki. Sebelum aku pergi, setidaknya aku sudah pernah melihatnya bahagia dengan wanita yang ia cintai." Shabira memasang wajah yang begitu memelas agar bisa meluluhkan hati suaminya.


"Kenapa ekspresi wajahmu jadi berubah seperti ini? Jangan gunakan air mata lagi karena itu akan membuatku kalah," protes Kenzo tidak suka.


Perkataan Shabira membuat Kenzo tidak memiliki alasan lagi untuk menahan wanita itu walau sebenarnya ia belum rela jika istrinya kembali kelelahan. "Tapi dengan kursi roda aku bisa ke lokasi pesta. Aku tidak perlu jalan kaki, dengan begitu Aku tidak akan kelelahan," bujuk Shabira dengan penuh penawaran. "Duduk di kursi roda juga tidak buruk. Yang penting aku bisa melihat Abio di resepsi pernikahannya," gumam Shabira di dalam hati.


"Hem, baiklah," celetuk Kenzo dengan tidak bersemangat.


Kenzo berjalan ke sudut ruangan untuk mengambil kursi roda yang memang sebelumnya dokter sudah mempersiapkan kursi roda itu untuk jaga-jaga jika Shabira memaksakan diri untuk menghadiri resepsi pernikahan. Mereka masih ada di pulau namun di pulau itu terdapat bangunan vila berukuran luas. Resepsi pernikahan diadakan di belakang Villa yang langsung menghadap ke lautan lepas. Sedangkan Shabira kini beristirahat di salah satu kamar yang ada di Villa tersebut.

__ADS_1


"Acaranya akan berlangsung satu jam lagi. Kita masih memiliki waktu untuk bersiap-siap. Jadi kita tidak perlu terburu-buru berangkat ke lokasi resepsi," ucap Kenzo sambil mendorong kursi roda tersebut menuju ke tempat tidur Shabira.


"Ya, aku juga ingin bersiap-siap. Aku tidak mungkin hadir di resepsi pernikahan cucuku dengan penampilan seperti ini." Shabira memandang dirinya sendiri melalui cermin yang terletak tidak jauh dari posisinya berada. Meskipun sudah tua wanita itu tetap memikirkan penampilannya. Hal itu yang membuatmu selalu terlihat cantik dan menarik.


"Tapi bagaimanapun penampilanmu, kau tetap cantik. Kau adalah Shabira yang dulu pertama kali aku kenal. Tidak ada bedanya. Masih seksi seperti dulu," goda Kenzo sambil mengedipkan matanya.


Shabira tertawa mendengar godaan suaminya. Wanita itu membuka kedua tangannya untuk meminta Kenzo datang.


"Kemarilah. Aku sangat ingin memelukmu."


Kenzo tidak mau menolak. Dia berjalan sambil tersenyum hangat. Pria itu duduk di atas tempat tidur lalu menarik tubuh Shabira dan memeluknya. "Malam ini sangat indah bukan? Langit di luar sangat cerah. Bintang-bintang bisa terlihat dengan begitu jelas. Aku berharap di tahun-tahun kedepannya kita masih bisa seperti ini. Selalu bersama ketika menikmati malam. Jika pun harus pergi, kita harus pergi bersama-sama. Itu karena aku tidak mau kehilanganmu. Jika boleh memilih, siapa duluan yang akan pergi. Aku sendiri akan memutuskan untuk pergi lebih dulu. Kau harus tahu kalau aku tidak akan sanggup melihat kepergianmu." Wajah Kenzo sedih. Pria itu merasa ketakutan sekarang. "Ini jauh lebih menyeramkan daripada harus menghadapi musuh," ucap Kenzo lagi sebelum akhirnya Shabira tertawa.


"Kenapa kau egois sekali. Aku sudah sering Kehilangan orang yang aku sayangi. Aku tidak mau merasakan kehilangan lagi." Shabira memalingkan wajahnya.


Kenzo mengecup kepala Shabira lagi sebelum memeluk wanita itu dengan begitu erat. Ia memejamkan matanya karena merasa kelelahan. Kenzo juga belum ada istirahat karena terus saja mengawasi Shabira sampai wanita itu sadar kembali.


"Aku mencintaimu Kenzo," lirih Shabira sebelum memejamkan mata.


Sedangkan Shabira menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. "Siapa yang datang? Bukankah seharusnya semua orang berkumpul di lokasi pesta?" gumam Kenzo di dalam hati.


Abio muncul dengan penampilan yang sudah rapi. Ternyata pria itu tidak bisa tenang sampai-sampai ia menyempatkan waktu untuk melihat Oma Shabira di ruangannya.


"Oma, apa Oma baik-baik saja?" tanya Abio dengan wajah yang sangat khawatir. Pria itu segera berjalan menghampiri Shabira lalu duduk di dekat Shabira. "Oma membuatku khawatir. Tadi aku terus saja mencari cara agar bisa menemui Oma. Tapi Opa bilang kalau oma sedang istirahat dan tidak bisa diganggu." Abio memandang ke arah Kenzo sejenak sebelum memandang Shabira lagi.


"Seperti yang kau lihat. Omamu ini adalah wanita yang kuat. Meskipun sudah tua, oma akan tetap baik-baik saja. Sebenarnya Oma tadi tidak pingsan. Oma hanya pura-pura tidur saja karena terlalu mengantuk. Kalian saja yang terlalu berlebihan dan membesar-besarkan masalah ini. Hingga akhirnya membuat semua orang khawatir," dusta Shabira sambil tersenyum kecil.


"Oma ... aku ini sudah besar. Tidak bisa ditipu lagi seperti dulu," sahut Abio. Pria itu memandang Kenzo yang masih berdiri di dekatnya. "Kenapa ada kursi roda di ruangan ini Opa? Opa ingin menggunakan kursi roda itu untuk membawa Oma Shabira ke lokasi pesta?" tanya Abio ingin tahu.

__ADS_1


"Ya, tebakanmu selalu benar. Tetapi resepsi pestanya akan berlangsung satu jam lagi. Jadi Opa tidak mau berangkat sekarang. Opa akan membantu omamu untuk bersiap-siap agar diresepsi nanti omamu terlihat cantik," jawab Kenzo apa adanya.


"Di mataku Oma selalu cantik dan akan selalu menjadi Oma paling cantik yang aku miliki," puji Abio sambil tersenyum.


"Kalau begitu Oma tidak cantik?" ujar Sharin yang tiba-tiba saja muncul di ruangan itu. Abio memandang ke arah pintu lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak menyangka kalau oma Sharin dan Opa Biao juga ikut dengannya ke dalam ruangan itu untuk menjenguk Oma Shabira.


"Mama juga cantik. Hanya saja Oma jauh lebih cerewet daripada Oma Shabira," jawab Abio sambil tertawa.


"Kau ini," sahut Sharin. Wanita itu berjalan mendekati Shabira sambil bergandengan dengan Biao. Selain Abio ternyata sepasang suami istri itu juga tidak tenang ketika tahu kalau Shabira tidak sadarkan diri.


"Kita ini sudah tua. Kelelahan sedikit bisa sakit. Banyak pikiran sedikit bisa sakit. Segalanya bisa menimbulkan penyakit. Jika tidak pandai-pandai mengendalikan emosi dan pikiran, kita akan jatuh sakit. Jika boleh aku tahu apa yang kau pikirkan? Katakan saja kepada kami. Mungkin saja kami bisa membantumu." Sharin seperti sudah tahu sebenarnya apa yang sudah membuat Shabira sampai pingsan seperti tadi. Hanya saja wanita itu tidak mau mengatakannya langsung.


Shabira mengernyitkan dahi sambil geleng-geleng kepala. "Aku tidak memikirkan apapun. Justru aku sangat bahagia karena hari ini cucu kita akan menikah." Terlihat jelas kalau wanita tua itu sedang menyembunyikan sesuatu.


"Aku tahu kalau kau sebenarnya sedang memikirkan sesuatu. Bukankah itu berhubungan dengan Nona Serena?" tebak Sharin hingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget.


Shabira tertegun mendengar pernyataan Sharin. Sebenarnya tebakan wanita itu benar kalau memang sudah beberapa hari ini pikiran Shabira dipenuhi oleh nama Serena. Dia merindukan wanita itu. Sebagai seorang adik rasanya ia belum siap untuk kehilangan kakak angkatnya. Bahkan rasa sayang Shabira jauh lebih besar kepada Serena daripada kepada Zeroun.


"Dulu Kak Erena pernah bilang ketika nanti cucu- cucunya menikah, dia akan pakai gaun berwarna putih. Aku langsung bertanya kepadanya. saat itu. Kenapa harus gaun putih? Bukankah selama ini ia sangat menyukai gaun berwarna hitam?" ujar Shabira sambil tersenyum. "Dia menjawab kalau dia ingin di sisa hidupnya dia berubah menjadi wanita yang bersih. Baik hati. Tidak lagi bersentuhan dengan darah dan dendam. Sekarang aku baru tahu arti dari gaun putih yang dimaksud oleh kak Erena. Ternyata gaun putih itu menandakan kalau dia akan pergi dan meninggalkan kita semua." Kedua mata Shabira lagi-lagi berkaca-kaca. Wanita itu tidak pernah siap jika bercerita yang berhubungan dengan Serena. "Semakin lama kepergiannya semakin terasa sesak. Setiap detiknya Aku merindukan Kak Erena. Aku Ingin bertemu dengannya bahkan ingin memeluknya." Shabira semakin kesulitan untuk menahan air mata yang ingin menetes.


Kenzo mendekati Shabira lalu memeluk wanita itu. Di detik itu juga tangis Shabira pecah. Wanita itu menangis senggugukan untuk melampiaskan semua kesedihan yang selama ini mengganggu pikirannya.


"Sama seperti Biao ketika dia merindukan Tama. Aku bisa tahu bagaimana rasanya ketika kita merindukan orang yang paling penting di dalam hidup kita. Tapi bagaimanapun juga ini semua adalah takdir. Kita tidak bisa menjadikan mereka sebagai hambatan untuk maju ke depan. Jika kau terus-terusan memikirkan Nona Serena nanti kau bisa jatuh sakit. Di usia kita yang sekarang jika sampai jatuh sakit ujung-ujungnya akan mati. Mungkin memang ini yang kau inginkan karena kau sangat ingin bertemu dengan Nona Serena. Tapi pikirkan perasaan suamimu dan kami keluargamu. Kami tidak siap untuk kehilangan lagi. Tidak ada salahnya jika kita merindukan orang yang sudah tiada. Tapi semua itu akan menjadi kesalahan jika kita terlalu berlebihan ketika merindukannya. Hargai juga orang-orang yang masih hidup dan berada di sekitar kita."


"Apa yang dikatakan Sharin benar. Terkadang aku juga merindukan Daniel tetapi aku tidak mau jatuh sakit hanya karena memikirkannya karena aku masih memilikimu istriku. Kita harus sama-sama ikhlas merelakan kepergian mereka. Cepat atau lambat kita juga akan menyusul mereka. Jadi untuk apa sekarang kita bersedih lagi." Kenzo masih mengusap-usap punggung tangan Shabira.


Abio hanya bisa menunduk saja sambil mendengar cerita Oma dan opanya yang ada di ruangan itu. Biasanya pria itu selalu saja memiliki ide untuk mengembalikan suasana yang haru seperti itu menjadi kembali dipenuhi canda tawa. Tetapi kali ini pria itu kehabisan kata-kata. Bahkan dia sendiri juga ingin menangis mengikuti Oma dan opanya yang kini sedang bersedih.

__ADS_1


"Abio, Kembalilah ke lokasi pesta. Semua orang pasti sedang mencarimu. Terutama Livy," perintah Biao ketika Abio hanya menunduk saja di sana.


Abio menggangguk. "Baik, Opa." Pria itu memandang ke arah Shabira dan Sharin lagi. "Permintaanku cukup sederhana. Aku ingin Oma dan Opa yang aku miliki sehat-sehat selalu," gumam Abio di dalam hati. Pria itu segera pergi meninggalkan Oma dan Opanya yang masih ingin bercerita di dalam ruangan tersebut.


__ADS_2