Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 248


__ADS_3

Dominic terlihat sibuk memainkan ponselnya. Kini bersama dengan Zean, dia sudah berada di salah satu restoran bintang 5. Tadi Zean berkata kalau dia ingin sarapan di luar. Hingga pada akhirnya Dominic menuruti permintaan pria itu dan membawanya ke salah satu restoran yang berada di pusat kota. Dominic sama sekali tidak tahu kalau sebenarnya Zean membawanya ke restoran itu karena sudah mengatur janji dengan Letty dan putrinya.


Setelah selesai menghabiskan sarapan pagi yang mereka pesan, Zean justru terlihat gelisah. Pria itu tidak bisa bernapas dengan tenang karena sampai detik ini Letty tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Berulang kali Zean menekan nomor Letty dan mengirimkan pesan singkat. Tetapi belum juga ada balasan dari Letty yang ada di sana. Zean takut pertemuan ini akan gagal.


Sedangkan Dominic mulai merasa curiga karena memang tingkah laku ayah kandungnya itu terlihat tidak biasa. Pria itu menurunkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja lalu ia memandang Ayah kandungnya lagi dengan saksama.


"Papa menunggu seseorang? tebak Dominic asal saja. Hingga akhirnya membuat Zean tertegun kaget.


"Tidak. Papa tidak menunggu siapa-siapa!” dusta Zean berharap Dominic percaya. Dominic masih memandang ayah kandungnya. Tentu saja dia tidak percaya begitu saja. Karena memang saat itu tingkah laku Zean memang sangat mencurigakan.


Zean langsung memandang ke arah pintu. Wajah pria itu terlihat bersemangat ketika melihat Letty dan Elyna muncul di dalam restoran tersebut. Mereka berdua berjalan menuju ke posisi meja Zean dan Dominic berada. Sambil berjalan, Letty sudah mengukir senyuman bahagia. Berbeda dengan Elyna yang langsung mual ketika melihat wajah Dominic juga ada di restoran itu.


"Tuan Zean, Anda ada di sini juga? Wah, kebetulan sekali kita bertemu hari ini,” ucap Letty dengan penuh basa-basi. Wanita itu segera duduk. Dia juga menarik tangan Elyna agar segera duduk di sampingnya.


Dominic memandang Elyna dengan tatapan tidak suka. Namun pria itu masih berusaha untuk menunjukkan sikap sopannya di depan Letty.


"Sebenarnya kami sudah selesai sarapan. Sebentar lagi kami juga akan pulang. Tetapi karena kita bertemu di sini, sebaiknya kita mengobrol saja dulu. Sudah lama juga kita tidak mengobrol santai seperti sekarang.” Pria itu menautkan ke 10 jarinya dan meletakkannya di atas meja.


"Perkenalkan, ini Putraku Dominic.” ucap Zean memperkenalkan Dominic.


Letty tersenyum karena memang sebelumnya ia sudah pernah bertemu dengan Dominic. "Dominic, ini Putri Tante namanya Elyna,” ucap letty dengan penuh kebahagiaan.


Elyna dan Dominic saling memandang satu sama lain sebelum berkenalan. Mereka sama-sama tidak senang pagi itu. Kalau ada kesempatan untuk kabur, mungkin mereka akan segera kabur!


"Mom, Aku harus pergi karena ada urusan penting.” dusta Elyna agar ia bisa kabur dari restoran itu. Namun dengan cepat Letty memegang tangannya dan menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam. Hingga akhirnya membuat Elyna tetap duduk di kursinya. Meskipun wajahnya harus cemberut.


"Dominic, Apa kau tidak bekerja?” tanya Letty.


“Tidak, Tante. Aku libur hari ini,” jawab Dominic dengan senyum yang ramah.


“Setahu Tante, pria sepertimu ini pasti sangat sibuk. Tetapi karena kau sangat menyayangi Zean, kau rela meluangkan waktumu untuk menemaninya sarapan pagi. Kau benar-benar anak yang baik Dominic,” puji Letty. Dia melirik lagi ke arah Elyna berharap wanita itu tersentuh mendengar cerita kebaikan Dominic.


"Pekerjaanku sebenarnya tidak terlalu banyak,” jawab Dominic singkat.


Letty memandang ke arah Zion lagi. Kini wanita itu tidak mau banyak basa-basi. Ia ingin segera masuk ke topik utama.


"Tuan, apa putra anda ini masih sendiri? Atau sudah ada wanita yang menjadi pilihan hatinya?"


Zean melirik ke arah Dominic untuk memastikan reaksi wajah putranya itu. Dia kembali memandang Letty setelah tidak melihat perubahan dari ekspresi wajah Dominic.


"Putra saya ini masih sendiri dan sedang mencari jodoh.Bagaimana dengan Putri anda?" tanya Zean balik.


"Wah, kebetulan sekali. Putri saya juga masih sendiri. Saya juga sedang mencari jodoh untuk putri saya. Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak-anak kita ini? Sepertinya mereka sangat cocok."


Dominic dan Elyna saling memandang tanpa memberikan respon apapun. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh orang tua mereka sudah ketebak sejak awal. Bahkan Dominic juga sudah tahu kalau pertemuan ini bukan tidak sengaja tetapi sudah direncanakan.

__ADS_1


"Kenapa Dominic dan Elyna tidak memberikan respon apapun? Apa ini pertanda kalau mereka berdua setuju?” gumam Letty di dalam hati. Wanita itu semakin bersemangat untuk menjodohkan putrinya dengan Putra Dominic.


"Tetapi mereka baru saja bertemu. Sebaiknya kita tidak perlu terlalu terburu-buru untuk menjodohkan mereka. Kita beri dulu mereka kesempatan untuk mengenal satu sama lain. Bukankah begitu, Dominic?” tanya Zean sambil tersenyum. Tidak lupa pria itu menepuk pundak putranya agar segera memberi respon.


"Seperti yang Papa tahu. Wanita seperti ini sama sekali bukan kriteriaku. Aku lebih baik tidak menikah seumur hidupku daripada aku harus menikah dengannya!" ketus Dominic sambil menatap tajam ke arah Elyna.


Mendengar penghinaan yang keluar dari bibir Dominic membuat Elyna menjadi emosi. Wanita itu berdiri lalu menggebrak meja. "Sok tampan sekali! Kau pikir kau ini siapa? Aku juga tidak mau menikah dengan pria sepertimu. Sejak tadi Aku diam bukan karena aku menyetujui keinginan Mommy. Tetapi karena aku malas bicara denganmu!" sahut Elyna dengan nada yang tidak kalah kejam dari Dominic.


Dominic juga berdiri. Namun pria itu tidak mau berteriak seperti Elyna. "Dari sini kita bisa tahu siapa yang benar-benar tidak berpendidikan!"


Tanpa permisi Dominic segera pergi meninggalkan mereka semua. Zean seperti kehabisan kata-kata hingga tidak berani mencegah Dominic pergi. Sedangkan Elyna dipaksa untuk kembali duduk oleh Letty.


"Elyna! Kenapa kau berteriak seperti itu? Itu sama sekali tidak sopan!” bisik Letty memperingati.


"Dia duluan yang mulai. Apa Mommy tidak dengar bagaimana cara dia menghinaku? Seolah-olah dia itu satu-satunya pria yang ada di dunia ini." Elyna yang sudah disulut api emosi, tidak bisa bicara baik-baik lagi.


Zean masih terdiam di posisinya berada. Pria itu juga kaget ketika tahu kalau wanita yang dijodohkan dengan putranya sangat tidak sopan. "Letty, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Anak kita tidak memiliki kecocokan.Jadi sebaiknya kita lupakan saja,” ucap Zean memberi solusi.


Letty memandang wajah Elyna dengan sedih. Namun dia juga tidak bisa memaksa Zean lagi karena sudah jelas-jelas Elyna tadi memperlihatkan sifat aslinya. Letty sendiri juga tidak akan mungkin bisa untuk mengubah putrinya menjadi wanita yang baik jika Elyna sendiri tidak menginginkannya. Jadi, mau tidak mau dia harus menyerah. Letty tidak mau ke depannya sifat Elyna akan jadi masalah bagi keluarga Zean. Letty juga tidak mau terlalu memaksa agar putrinya berjodoh dengan Dominic. Toh tadi dia lihat sendiri bagaimana Dominic menolak Elyna.


"Baiklah. Maafkan aku karena sudah mengganggu waktumu hari ini.”


"Aku permisi dulu." Zean segera beranjak dari kursi itu dan pergi meninggalkan restoran. Dia tahu kalau Dominic tidak akan mungkin meninggalkannya begitu saja. Pasti putranya itu telah menunggunya di dalam mobil.


Setelah Zean pergi, Letty menjatuhkan kepalanya di atas meja. Wanita itu menghela napas panjang. Dia menatap putrinya dengan tatapan penuh arti. Mau marah juga Letty rasanya sudah kehabisan tenaga.


"Mommy sendiri yang salah. Sejak dari rumah tadi aku sudah bilang kalau aku tidak mau bertemu dengan dia. Tetapi mami terus saja memaksaku. Jadi jangan salahkan aku jika aku bersikap seperti tadi. Tetapi aku sama sekali tidak merasa bersalah karena sudah bersikap seperti itu padanya. Hitung-hitung Paman Zean jadi tidak menyukaiku dan perjodohan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Bukankah itu berarti sikap kasar ku menguntungkan diriku sendiri?" ucap Elyna dengan begitu bangga.


"Kalau begitu Mama akan serahkan kepada Opa Lukas saja. Biar Opa Lukas yang mencarikanmu jodoh. Mommy tidak mau tahu. Pokoknya tahun ini kau harus menikah. Entah itu dengan Dominic atau pria manapun Mommy tidak peduli. Yang penting kau menikah! Mommy ingin kau segera memberikan Mommy cucu sebelum Mommy meninggalkan dunia ini!"


Elyna menghela napas kasar. Lagi-lagi ibu kandungnya membahas soal kematian dan itu membuat Elyna tidak suka. Tetapi Elyna menjadi khawatir ketika jodoh yang akan menikah dengannya dipilih langsung oleh Opa Lukas. Dia tahu kalau selera Opa Lukasnya itu jauh lebih buruk daripada selera Mommynya sendiri.


"Sepertinya mulai dari sekarang aku harus mencari pria yang mau menikah denganku. Tidak papa aku harus membayarnya asalkan dia mau berpura-pura menjadi suamiku," gumam Elyna di dalam hati. Wanita itu benar-benar stress memikirkan perjodohan ini.


***


Zean masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Dominic. Pria itu tersenyum memandang putranya yang kini terlihat kesal. Dia menepuk lagi pundak Dominic lalu tersenyum.


"Maafkan, Papa. Papa tahu kalau Papa salah. Tidak seharusnya Papa bersikap seperti ini. Kemarin itu Papa benar-benar tidak bisa menolak ketika Tante Letty mengajak Papa untuk mengatur pertemuan kalian berdua. Memang awalnya Papa juga yang setuju jika kalian berdua menikah. Papa tahu kalau kau sangat sibuk sampai-sampai kau tidak pernah menemukan jodohmu sendiri. Tetapi tadi ketika Papa lihat kau merasa tidak nyaman, Papa merasa sangat bersalah. Sekali lagi maafkan papa, Dominic."


"Aku tidak masalah jika harus menikah dengan wanita pilihan papa. Tetapi aku tidak mau menikah dengan wanita seperti dia."


"Kalau boleh papa tahu, kenapa kau sangat membenci Elyna? Bukankah dia sangat cantik. Sifatnya memang sangat barbar. Tetapi dia seperti itu karena dia adalah pemimpin mafia. Tadi awalnya kau juga yang cari masalah. Kenapa kau harus menghinanya seperti itu. Seolah-olah dia itu wanita paling jelek yang ada di dunia ini."


"Ya, Papa memang benar kalau dia cantik. Tapi sayang sifatnya sangat serakah,” sahut Dominic. Pria itu segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu kalau dia serakah? Apa sebelumnya kalian pernah bertemu?" Zean semakin penasaran.


Dominic menahan kalimatnya. Pria itu tidak mau sampai keceplosan lagi dan membuat Zean tahu kalau dia dan Elyna pernah bertarung saat berada di Las Vegas.


"Anggap saja aku bisa membaca sifat seseorang melalui reaksi wajahnya."


Zean tertawa mendengar jawaban dari Dominic. "Setelah tiba di rumah Tante Leona kita harus segera bersiap-siap. Sepertinya Papa ingin segera berangkat ke Las Vegas. Adikmu juga sangat sibuk hari ini. Papa tidak mau mengganggunya."


Dominic hanya diam saja. Pria itu terus melajukan mobilnya menuju ke kediaman Leona berada.


***


Ternyata masalah perjodohan yang gagal itu tidak cukup sampai di situ saja. Setiap bertemu dengan Elyna, Letty terus saja membahasnya. Hari ini Elyna baru saja menjemput Letty pulang dari acara arisan yang diadakan oleh Letty dan teman seumurannya. Elyna sudah jarang bergabung dengan Queen Star akhir-akhir ini. Letty selalu saja memiliki cara untuk menghalanginya.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Elyna dan Letty terus saja berdebat. Baik ibu dan anak itu tidak ada yang mau mengalah. Mereka berdua sama-sama keras kepala. Hatinya keras dan egonya tinggi.


"Mommy juga memiliki teman yang tinggal di Korea. Dia memiliki anak laki-laki yang belum menikah sampai detik ini. Nanti Mommy akan mengatur jadwal dengannya. Siapa tahu saja kalian berjodoh,” ucap Letty dengan penuh semangat. Sepertinya wanita itu benar-benar pantang menyerah.


Elyna menghela napas panjang ketika mendengar ocehan ibu kandungnya. Walaupun begitu ia sangat menyayangi Letty. Meskipun kupingnya terasa panas, tapi dia tetap mendengarkan apa yang diucapkan oleh Letty.


"Mom, daripada Mommy capek memikirkan jodoh untuk Elyna, lebih baik kita jalan-jalan saja. Kita belanja misalnya atau ke salon. Bukankah biasanya ibu dan anak akan melakukan rutinitas seperti itu. Setelah Elyna ingat-ingat kembali, sejak Elyna dewasa sepertinya Mommy tidak pernah mengajak Elyna ke salon. Bahkan kita tidak pernah belanja bersama."


"Bukan karena Mommy tidak mau mengajakmu, tetapi kau sendiri yang menolaknya. Sejak dulu Mommy berusaha untuk meriasmu menjadi wanita feminism. Tetapi kau malah lebih memilih pakaian yang menurutmu nyaman. Jadi sekarang jangan salahkan Mommy jika kau jadi seperti ini." Letty membela diri.


"Ya, ya. Aku akui aku salah. Lalu sekarang apa Mommy mau ke salon? Kalau aku lihat-lihat lagi sepertinya Mommy butuh perawatan. Wajah Mommy terlihat sangat kusam. Kuku Mommy juga perlu dirawat." Elyna sengaja mencari tempat yang membuat Letty sibuk karena wanita itu bosan mendengar ocehan ibu kandungnya. Elyna berharap setelah pulang dari salon nanti, topik pembicaraan wanita itu tidak lagi soal jodoh. Tetapi masalah salon yang nanti mereka kunjungi.


"Baiklah, kalau begitu Mommy setuju. Tapi Mommy mau pulang dulu ke rumah. Ada beberapa barang yang ketinggalan tadi. Mommy harus memastikan kalau barang itu tidak diambil orang lain karena Mommy lupa meletakkannya di mana."


Elyna mengangguk setuju. "Baik, Mom,” jawab Elyna dengan penuh kesabaran. Wanita itu menambah laju mobilnya agar mereka bisa segera tiba di rumah.


Tidak lama setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam akhirnya Elyna dan Letty tiba di kediaman mereka. Tadinya Elyna mau menunggu di mobil saja tetapi Letty bilang kalau dia akan lama hingga akhirnya Elyna memutuskan untuk turun dan mereka berdua sama-sama masuk ke dalam rumah.


Letty kaget ketika melihat pintu rumahnya terbuka. Padahal dia tahu kalau hari ini pekerja yang biasa membereskan rumah cuti.


"Elyna, sepertinya ada yang tidak beres," ucap Letty dengan wajah penuh waspada.


"Mommy, kemarilah. Tetap berdiri di belakangku,” pinta Elyna. Wanita itu mengeluarkan senjata apinya lalu berjalan masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sedangkan Letty tetap berada di belakang Elyna.


Elyna memperhatikan segala sudut rumahnya. Tetapi ia tidak menemukan hal yang aneh. Letty langsung maju ke depan. Wanita itu tiba-tiba ingat akan kamar dan barang berharganya yang tertinggal.


"Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk dan sekarang dia ada di kamar Mommy? Gawat! Dia pasti sudah mengambil barang berharga Mommy,” teriak Letty panik. Wanita itu langsung berlari menuju ke kamarnya. Elyna juga ikut berlari mengikuti Letty dari belakang.


Letty menahan langkah kakinya sebelum ia tiba di depan kamar ketika melihat seorang pria berdiri di hadapannya. Sama halnya dengan Elyna yang kini juga kaget bukan main.


"Daddy!” teriak Elyna. Wanita itu langsung melempar senjata apinya dan berlari untuk memeluk Miller yang tidak lain adalah Ayah kandungnya!

__ADS_1


Sedangkan Letty masih berdiri mematung di tempatnya berdiri. Tiba-tiba saja buliran air mata menetes dan bibirnya gemetar. Letty sama sekali tidak menyangka kalau ia bisa bertemu dengan pria yang ia cintai itu lagi. "Miller, kau masih hidup?"


__ADS_2