
Di dalam kamar, Foster dan Livy masih berjuang mengalahkan dua pria berbadan besar yang ada di hadapan mereka. Rasanya mereka seperti bertarung dengan seorang moster. Tenaga Foster sudah hampir habis untuk melawan musuhnya. Tapi, musuhnya belum ada tanda kalah sedikitpun. Bahkan, wajah Livy sudah terlihat babak belur dengan darah yang keluar dari hidung dan mulutnya. Foster berlari mengambil belati miliknya. Memutar tubuhnya lalu berlari menerjang musuhnya. Belati itu tertancap tepat mengenai jantung musuhnya. Darah keluar dengan begitu deras.
Foster tidak berhenti sampai di situ. Belati itu ia tarik ia tusukkan di bagian tubuh yang lainnya. Membuat musuhnya merubah ekpresi dengan wajah kesakitan. Jika memang musuhnya itu seorang manusia, seharusnya luka separah itu sudah membuatnya segera mati. Tapi, ini tidak. Pria itu masih sanggup berdiri bahkan ingin membalas perbuatan Foster. Dengan melayangkan satu pukulan saja, dia sudah berhasil membuat Foster terpental. Tubuh pria itu terbentur dinding hingga mengeluarkan darah segar dari mulut.
Livy juga terduduk di lantai. Wanita itu berusaha mengatur napasnya. Dia tidak akan kalah. Dia pasti bisa mengalahkan pria berbadan besar yang kini ada di depannya. Seperti itulah Livy terus menyemangati dirinya sendiri.
Pria yang tadi sempat di tusuk Foster kini mengambil balok kayu yang tergeletak di lantai dan berniat memukul Foster. Livy menggeleng kepalanya sebelum berdiri lagi.
“Awas,” teriak Livy.
Satu pukulan mendarat tepat di punggung Foster. Pria itu jatuh tersungkur ke permukaan lantai. Padahal dia baru saja berdiri karena ingin bertarung lagi. Namun, pukulan itu membuatnya lemah tak berdaya. Matanya mulai kabur dan pandangannya tidak jelas. Wajah Livy yang berdiri di kejauhan samar-samar ada di hadapannya. Namun, dalam sekejap semua berubah menjadi gelap. Foster tidak lagi sadarkan diri.
“Foster!” teriak Livy dengan wajah khawatir. “Sekarang aku harus bagaimana?” Livy kebingungan ketika dia hanya sendirian di sana. Sementara musuhnya masih bertahan dua orang. Walau satu memang sudah kehilangan banyak darah, tetapi tetap saja keduanya bisa di bilang sangat berbahaya. Sesaat Livy kepikiran untuk melompat dari balkon dan meninggalkan Foster. Namun, dia juga tidak berani ambil resiko. Bagaimana jika nanti mereka sampai membunuh Foster? Livy tidak mau hal itu sampai terjadi. Mereka adalah tim. Harus saling melindungi satu sama lain.
Livy melihat cairan di sebuah botol yang tergeletak di dekat nakas. Wanita itu seorang dokter. Dia tahu, kira-kira benda apa yang bisa digunakan untuk mengalahkan musuhnya. Dengan cepat Livy berlari menuju ke nakas. Kamar itu memang sangat luas. Wajar saja bisa digunakan sebagai arena bertarung. Livy mengambil botol yang berbentuk seperti farpum itu sebelum memecahkan kacanya. Dia menuang cairannya ke gelas dan siap melemparkannya ke musuh yang kini sudah terluka.
“Kau harus mati di tanganku!” umpat Livy. Dia melempar cairan itu hingga mengenai areal yang terluka. Pria berbadan besar itu kesakitan karena rasa perih yang begitu menyiksa tubuhnya.. Dia terduduk dengan posisi berlutut. Memegang luka yang sempat di tusuk oleh Foster.
Satu musuh lagi tidak tinggal diam. Dia berlari untuk menangkap Livy. Sepertinya dia tidak terima jika rekannya bisa kalah di buat wanita berbadan kecil seperti Livy. Pria itu memegang balok kayunya dan mengincar kepala Livy.
__ADS_1
“Tubuhku benar-benar lemah. Aku tidak akan bisa mengalahkannya. Kak Zion. Kak Zion dimana? Bantu Livy kak,” lirih Livy di dalam hati.
Satu tendangan yang sangat kuat membuat pria berbadan besar itu mundur beberapa langkah. Zion berdiri tidak jauh dari posisi Livy berada. Memandang kekacauan yang terjadi. Tatapannya terhenti pada Foster yang tidak sadarkan diri.
“Livy, bawa Foster pergi dari sini.” Zion menatap wajah Livy dengan seksama. “Sebenarnya ia sangat tidak tega melihat keadaan Livy yang sekarang. Namun, mau bagaimana lagi. Setiap pertarungan pasti aka nada luka. Sekarang Zion saja juga dipenuhi dengan luka. Dia tidak berhasil menolong Abio di dalam kamar karena memang kamar itu di kunci dari dalam. Hanya orang yang di dalam yang bisa membuka kuncinya. Hingga akhirnya Zion memilih untuk mencasri Livy dan Foster setelah dia berhasil mengalahkan pria-pria berbadan tegap yang sempat menyerangnya.
Livy mengangguk, lalu berlari ke arah Foster. Menopang tubuh pria itu dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Livy kembali ingat dengan laptop di meja. Wanita itu mengambil laptopnya sebelum membawa Foster pergi meninggalkan kamar.
Zion menatap tajam wajah pria yang berdiri di hadapannya. Satu tendangan ia keluarkan tepat di wajah pria itu. Hingga membuat balok kayu yag ada di genggaman musuhnya terjatuh.
Saat melihat musuhnya lengah, Zion mendorong tubuh pria itu ke arah dinding. Sepertinya Zion dibekali tenaga yang masih penuh malam itu. Setelah tubuh pria itu terbentur dinding, Zion mengambil pistolnya dan menembak ke pelipis pria itu.
Satu peluru mendarat di tubuh pria itu. Namun, sepertinya dia kebal dengan peluru. Peluru yang mendarat di dalam tubuhnya tidak berdampak apa-apa. Zion kini baru tahu kalau lawan yang dihadapi Foster dan Livy tidak main-main. Dia melempar pistolnya karena tahu benda itu tidak berguna lagi.
“Oke, baiklah. Bagaimana kalau dengan tangan kosong?” tawar Zion.
Pria berbadan tegap itu sepertinya setuju. Dia melempar balok kayu yang sempat ia genggam sebelum berlari untuk menerjang Zion. Zion menghindar ketika pria itu sudah sangat dekat dengannya. Setelah itu dia mendorong pria itu ke arah jendela kaca.
Tubuh pria berbadan besar itu membuat kaca pecah dan membuat dirinya sendiri terjun keluar kamar melalui jendela. Zion tersenyum melihat musuhnya telah kalah. Setelah tahu kalau lawannya tidak mudah dikalahkan, pria itu memilih untuk menjebaknya. Hanya itu satu-satunya cara agar dia bisa menang.
__ADS_1
Zion berdiri di kamar itu untuk beberapa saat. Dia memandang pintu yang terletak di dekat posisinya berdiri. Entah kenapa hatinya tergerak untuk membuka pintu tersebut dan melihat isi di dalamnya. Sebelum masuk ke dalam kamar itu, Zion mengambil senjata yang sempat dia lempar ke lantai dan memastikan musuh yang tergeletak di kamar itu benar-benar sudah tewas atau masih hidup.
DUARRR
Satu tembakan di daratkan Zion di kepala pria berbadan besar yang tergeletak di lantai. Zion memandang ke pintu bercat hitam itu dan segera membukanya. Namun pintu itu terkunci. Zion mencari cara untuk membukanya. Tanpa sengaja Zion melihat kunci yang tergantung di tali pinggang pria yang tadi sempat dia tembak. Zion mengambil puluhan kunci itu dan memperhatikannya satu persatu.
“Semoga salah satu kunci yang ada di sini bisa membuka pintu kamar ini,” ucap Zion penuh harap.
“Kak,” teriak Norah. Wanita itu berlari mendekati Zion. “Kakak baik-baik saja?”
“Ya. Bagaimana dengan wanita itu?” tanya Zion sembari mencoba kuncinya satu persatu.
“Aku sudah meminta The Filast membawanya pergi. Tetapi Abio belum keluar dari kamar itu. Aku takut dia celaka,” jawab Norah. Dia memperhatikan kunci-kunci yang ada di tangan kakaknya. “Ruangan apa ini kak?”
“Norah, kunci mana yang cocok untuk membuka pintu ini?” tanya Zion. Norah mengambil kunci-kunci itu dari tangan Zion dan memperhatikannya dengan saksama. Wanita itu mengambil kunci yang berwarna emas dan membuka pintu tersebut. Tebakan Norah memang benar. Kunci itu bisa membuka pintu tersebut.
Zion dan Norah sama-sama masuk ke dalam ketika pintu itu terbuka. Mereka berdua mematung melihat wanita yang mereka cari ada di dalam sana.
“Daisy ….”
__ADS_1