
Dominic sudah membereskan barang bawaannya. Hari ini juga pria itu akan kembali ke Las Vegas. Tentu saja dia tidak sendirian. Zean akan ikut pulang ke Las Vegas bersama dengan Dominic. Mereka sudah tenang meninggalkan Faith di rumah Leona. Dominic merasa sangat yakin kalau keluarga Leona pasti akan menyayangi adiknya.
Zean yang sejak tadi masih duduk santai di sofa hanya memperhatikan Dominic dengan tatapan penuh arti. Zean terus saja merangkai kata di dalam hati untuk mengajak Dominic ketemuan dengan Letty dan putrinya. Tetapi entah kenapa dia tidak berani mengucapkannya.
Bukan karena Zean takut Dominic menolaknya. Tetapi ia takut dipandang sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab. Baru juga mereka bertemu tetapi dia sudah sibuk menjodohkan anaknya dengan pilihannya sendiri. Hingga akhirnya anaknya menikah dan hidup berbahagia dengan keluarganya yang baru.
"Pa, Apakah papa memikirkan sesuatu? Dominic lihat sejak tadi Papa seperti ingin mengatakan sesuatu kepada Dominic," tanya Dominic yang saat itu sudah selesai membereskan barang-barangnya. Dia berjalan menuju ke arah sofa yang diduduki oleh Zean. Pria itu mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya sebelum duduk di sofa yang ada di depan Zean.
"Papa tidak memikirkan apapun," dusta Zean.
"Bagaimana kesehatan Papa hari ini? Apa masih ada bagian yang terasa sakit. Papa tadi sudah minum obat?"
Dominic yang sekarang benar-benar perhatian terhadap dirinya hingga Zean tidak tega untuk menjodohkan putranya itu dengan Putri Letty yang terkenal bar-bar.
"Apa harus hari ini juga kita pergi ke Las Vegas. Papa yakin Faith tidak akan mengizinkan kita pergi secepat ini." Zean berusaha mencari topik agar bisa mengobrol dengan Dominic.
"Aku masih memiliki beberapa urusan di sana, Pa. Aku harus membereskan masalah itu secepatnya. Jika Papa tidak ingin pulang, Papa bisa tinggal di sini beberapa hari lagi. Nanti Dominic akan jemput papa," ucap Dominic memberi solusi.
"Tetapi Papa maunya kau ada di sini juga bersama dengan papa. Sebenarnya masalah apa yang sedang kau hadapi di Las Vegas. Ceritakan saja kepada Papa. Siapa tahu Papa bisa membantumu."
"Ini akan menjadi masalah Dominic sendiri, Pa. Dominic yakin bisa mengatasinya. Papa tidak perlu khawatir." Dominic tidak mau menjelaskan masalah yang ia miliki karena tidak mau sampai Zean kepikiran.
"Baiklah. Jika kau tidak mau menceritakannya kepada Papa, Papa juga tidak bisa memaksamu." Zean terlihat berpikir lagi. Hal itu membuat Dominic semakin curiga.
"Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh papa? Kenapa dia terlihat gelisah seperti ini?" gumam Dominic di dalam hati.
"Jika Papa keberatan kita pulang hari ini, Dominic akan menundanya sampai besok," ucap Dominic pada akhirnya.
Zean terlihat bahagia mendengar keputusan Dominic. Pria itu mengangguk cepat. "Ya, kalau seperti ini papa setuju. Adikmu juga tidak akan marah jika kita pergi meninggalkannya besok." Padahal yang sebenarnya terjadi besok adalah jadwal ketemuan bersama dengan Letty dan putrinya. Zean ingin Dominic bertemu dengan putrinya Letty sebelum mereka kembali ke Las Vegas.
Saat dua pria itu memutuskan untuk menonton televisi, tiba-tiba saja mereka mendengar suara ketukan pintu. Karena kebetulan pintu tidak dikunci, dari dalam kamar Dominic berteriak dan mempersilakannya untuk masuk.
Faith mendorong pintu kamar itu sedikit demi sedikit sebelum mengintip dari balik pintu. Wanita itu tersenyum manis lalu berlari menghampiri Kakak dan ayah kandungnya.
"Papa, aku sangat merindukan Papa." Faith langsung berlari memeluk Zean. Dengan manjanya wanita itu merangkul lengan Zean lalu menatapnya sambil tersenyum bahagia.
"Apa kau mau cerita kalau kau sangat bahagia setelah menikah?" ledek Dominic sambil tersenyum.
Faith mengangguk cepat. "Ternyata menikah itu enak. Kakak harus cobain," jawab Faith dengan santai.
Dominic mengambil bantal sofa lalu melemparnya ke arah Faith "Kau pikir pernikahan itu sebuah makanan!" protes Dominic. "Lalu kapan rencananya kalian akan pergi bulan madu?"
"Kami tidak akan bulan madu. Kami akan langsung pindah ke rumah baru kami. Sebentar lagi akan turun salju di sana. Aku sudah tidak sabar untuk menetap di rumah itu."
"Faith, sebenarnya kau dan Zion ingin tinggal di mana? Kenapa harus tempat yang wilayahnya itu dituruni salju. Apa kau yakin bisa bertahan di sana?" Zean terlihat ragu. Dia mengkhawatirkan kesehatan Faith nantinya.
"Tentu saja aku yakin. Papa tidak perlu meragukanku. Aku ini wanita yang kuat. Kak Zion juga sudah pasti akan menjagaku."
__ADS_1
Faith memandang koper yang sudah tersusun rapi. Wajah wanita itu terlihat protes. "Kenapa barang-barang papa dan Kak Dominic sudah dikemas? Papa dan Kak Dominic mau pergi ke mana?"
"Rencananya kami akan pulang ke Las Vegas hari ini. Tetapi karena melihat Papa tidak rela untuk berpisah denganmu, akhirnya Kakak undur sampai besok sore," jawab Dominic tanpa memandang.
Faith mengangguk. "Jangan pulang cepat-cepat. Aku masih ingin Kakak dan Papa ada di sini."
"Kau ini sudah menikah dan memiliki suami, sebaiknya belajarlah untuk hidup mandiri tanpa kami," sahut Zean. Pria paruh baya itu mengusap rambut putrinya.
Faith hanya diam saja tanpa mau mengatakan kalimat apapun. Meskipun apa yang dikatakan oleh Zean adalah kenyataan yang memang harus ia hadapi, tetapi tetap saja Faith belum siap.
"Sekarang di mana Zion? Kenapa kau datang sendirian ke sini?"
"Kak Zion pergi memancing sama papa Jordan dan Opa Zen di kolam belakang rumah."
"Memancing?" tanya Zean penuh antusias. "Kenapa mereka tidak mengajakku?" Pria itu beranjak dari sofa. Wajahnya terlihat sangat protes.
"Papa hobi memancing juga?" tanya Faith kurang yakin.
"Papa yakin kalau Papa mertuamu itu takut Papa kalahkan. Maka dari itu mereka tidak mau mengajak Papa memancing." Zean tiba-tiba saja berjalan meninggalkan Faith dan Dominic yang masih duduk di sofa itu.
"Papa mau ke mana?" teriak Dominic bingung.
"Papa mau memancing. Papa akan kalahkan mereka semua," jawabnya dengan penuh percaya diri. Pria itu menghilang di balik pintu.
Faith bersandar di sofa lalu menghela napas kasar. Wanita itu memperhatikan Kak Dominicnya yang kini terlihat sibuk dengan ponsel di genggamannya. "Kak, bagaimana penampilanku kemarin saat di acara resepsi. Apa aku terlihat sangat cantik? Seumur hidupku baru itu aku didandani sampai berjam-jam lamanya. Bahkan aku sampai tidak mengenali wajahku sendiri. Gaun yang kupakai juga nilainya sangat fantastis. Mama Leona benar-benar orang kaya. Dia bisa membeli segala sesuatu yang dia inginkan tanpa berpikir dua kali," puji Faith.
"Tapi aku sedih ketika melihat semua orang berdansa justru Kak Dominic hanya berdiri saja dan memperhatikan kami. Sebaiknya Kak Dominic segera mencari pasangan hidup agar Kak Dominic tidak sendirian lagi. Mau sampai kapan menunggu? Jodoh tidak akan datang sendiri. Aku yakin ada banyak sekali wanita di luar sana yang ingin menjadi istri Kak Dominic. Kak Dominic hanya perlu memilih salah satunya yang sesuai dengan kriteria Kak Dominic. Dekati saja mereka lalu pilih yang sifatnya tidak serakah. Setelah itu nikahi. Bukankah itu sangat mudah?"
"Aku akan pikirkan masalah itu nanti yang terpenting sekarang aku bisa melihat Papa kembali sehat dan melihatmu menikah dengan Zion. Masalah hidupku biar aku saja yang memikirkannya. Kau tidak perlu ikut-ikutan."
Faith tiba-tiba menguap dan menutup mulutnya dengan tangan. Wanita itu mengangkat kedua kakinya di atas sofa lalu mencari posisi yang nyaman. "Aku ngantuk sekali. Apa aku boleh tidur di kamar ini? Bangunkan aku setelah 30 menit."
Dominic hanya tersenyum saja mendengar perkataan Faith. Pria itu kembali fokus dengan ponselnya sedangkan Faith justru memejamkan mata dan tidur dengan lelap.
Dominic mengernyitkan dahi ketika membaca email yang baru saja masuk. Email itu berisi tentang data pribadi Elyna. Wanita yang sudah berani mengusik kekuasaannya beberapa waktu yang lalu. Di situ tertulis jelas kalau tidak sembarang orang bisa melihat wajah asli sang Pemimpin Queen Star. Dominic merasa bangga karena dia sudah melihat wajah Elyna tanpa penutup apapun. Bahkan pria itu juga sudah mengetahui namanya.
Elyna memang dikenal sebagai pembunuh bayaran. Sudah banyak misi yang berhasil ia lakukan. Di dalam dunia gelap wanita itu cukup disegani. Mereka semua takut mengusik ketenangan Elyna. Bukan karena kemampuan yang dimiliki Elyna saja, tetapi karena mereka tahu kalau Elyna adalah pemimpin mafia Queen Star. Geng mafia paling berbahaya yang memang sudah terkenal sejak dulu. Tidak ada yang berani mengusik geng mafia itu karena mereka tidak mau sampai mati sia-sia.
"Padahal jika dilihat sekilas wanita ini terlihat seperti wanita biasa pada umumnya. Mungkin Jika aku bertemu dengannya di jalan, Aku tidak akan pernah tahu kalau dia adalah wanita yang begitu berbahaya." Tiba-tiba saja Dominic tersenyum ketika ia memandang wajah cantik Elyna. Di saat pria itu kembali sadar, ia cepat-cepat menutup ponselnya dan meletakkannya di sofa.
Dominic memandang lagi ke arah Faith yang sudah tidur dengan nyenyak. "Kenapa aku jadi memikirkannya? Bukankah seharusnya aku membencinya karena dia sudah mengusik ketenanganku waktu itu?" gumam Dominic di dalam hati.
...***...
"Tidak, Mom. Aku tidak mau menikah!" teriak Elyna sambil menutup kedua telinganya dengan tangan. Wanita itu tidak mau mendengar penjelasan apapun yang akan dikatakan oleh ibu kandungnya Keputusan Elyna sudah bulat. Dia tidak mau menikah dalam waktu dekat ini.
"Elyna, bukankah kemarin kita sudah sepakat kalau kau mau menuruti perintah Mommy dan juga Opa Lukas. Kau bilang kau mau menikah dengan pria pilihan kami. Kenapa sekarang kau tiba-tiba saja berubah pikiran?" Letty terlihat tidak habis pikir melihat jalan pikiran putrinya itu.
__ADS_1
"Karena aku tahu kalau Mommy akan menjodohkan ku dengan Dominic. Pria sialan itu sangat tidak cocok untuk menjadi suamiku. Kenapa Mommy setega itu padaku?" teriak Elyna lagi.
Letty diam sejenak. Wanita itu tidak menyangka kalau putrinya sudah mengetahui tentang perjodohan ini sebelum ia menceritakannya. "Dari mana kau mengetahuinya? Mommy masih merahasiakan masalah ini darimu sebelumnya."
"Apa yang tidak aku ketahui, Mom? Aku memiliki banyak mata-mata. Saat di pesta pernikahan kemarin, salah satu mata-mataku menguping pembicaraan Mommy dengan pria bernama Zean itu. Aku sama sekali tidak setuju jika dijodohkan dengan Dominic. Kami tidak cocok dan tidak akan pernah cocok."
"Tidak, sayang. Kalian sangat cocok. Justru karena Mommy melihat kecocokan di Antara kalian, maka dari itu Mommy menjodohkan kalian." Letty berusaha membela diri dan mempertahankan keputusannya untuk menjadikan Dominic menantunya.
"Kenapa Mommy bisa begitu percaya diri? Coba katakan pada Elyna, bagian mana diantara kami yang cocok?" Elyna terlihat menantang.
"Kau ingin menguasai Las Vegas bukan? Jika kau menikah dengan Dominic dan kau menjadi istrinya, Bukankah itu berarti Las Vegas akan menjadi milikmu? Jika kalian bersatu, kalian akan menjadi kuat. Bahkan Mommy yakin Gold Dragon sekalipun tidak akan berani mengusik ketenangan kalian berdua. Dominic memiliki pemikiran yang luas dalam hal berbisnis. Begitupun denganmu. Lalu bagian mana lagi di antara kalian yang tidak cocok?"
Elyna diam sejenak untuk mempertimbangkan penjelasan ibu kandungnya. Meskipun apa yang dikatakan oleh Letty ada benarnya juga, tetapi tetap saja rasanya Elyna tidak mau jika sampai ia memiliki hubungan dengan Dominic.
"Tidak, Mom. Tidak! Sekali tidak tetap tidak. Elyna tidak mau menikah dengan Dominic. Jika memang Mommy ingin Elyna segera menikah, tolong carikan Elyna jodoh yang lain. Pokoknya Elyna tidak mau menikah dengan Dominic!"
Elyna beranjak dari sofa yang kini ia duduki. Wanita itu mengambil kunci mobil.
"Elyna berhenti! Mommy belum selesai bicara. Kau tidak bisa menolak. Jika Dominic mau menikah denganmu, maka siap atau tidak siap kau akan segera menikah dengannya. Mommy tidak mau mendengar alasan apapun lagi!" teriak Letty berharap teriakannya itu didengar jelas oleh putrinya.
Sedangkan Elyna hanya melambaikan tangannya saja. Wanita itu terus saja melangkah pergi menuju ke mobil sportnya miliknya. "Dominic Dominic! Kenapa aku jadi terjebak seperti ini?" gumam Elyna. Wanita itu masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sore hari seperti ini memang waktu yang pas untuk balapan di tengah kota yang ramai. Elyna menyukai tantangan. Meskipun begitu Ia tetap memikirkan keselamatan orang lain. Walaupun Elyna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tetapi ia tetap tahu arah dan aturan.
"Setelah ini aku tidak tahu harus ke mana lagi. Aku yakin jika aku pulang ke rumah hal yang akan dibahas Mommy juga pasti akan tetap sama. Dia akan membahas pernikahanku dengan Dominic," gumam Elyna di dalam hati.
Tiba-tiba saja sebuah mobil sport berwarna kuning melaju cepat hingga menyalip mobil Elyna yang saat itu melaju dengan kecepatan tinggi juga. Elyna yang merasa tertantang kembali menambah laju mobilnya. Wanita itu senang sekali karena memiliki lawan di jalanan sore itu. Dia bertekad untuk mengalahkan mobil sport berwarna kuning tersebut.
"Pemilik mobil ini benar-benar hebat. Dia tahu kalau aku mengejarnya," gumam Elyna di dalam hati. Berulang kali wanita itu berusaha untuk menyalip mobil sport berwarna kuning yang jaraknya tidak jauh di depannya, tetapi tetap saja ia gagal. Hingga pada akhirnya mereka memasuki jalanan terjal. Elyna mulai waspada karena sedikit saja dia ceroboh maka nyawa taruhannya.
Mobil sport kuning itu mulai risih karena terus-terusan diikuti oleh Elyna. Hingga akhirnya ia berhenti dan menepikan mobilnya di pinggiran jalan. Elyna yang penasaran segera memberhentikan mobilnya juga di belakang mobil sport kuning tersebut.
"Jika pemilik mobil ini perempuan aku akan menjadikannya saudara. Tetapi jika pemilik mobil ini laki-laki aku akan menjadikannya suamiku," ucap Elyna penuh semangat. "Jika benar-benar dia seorang pria, aku rasa ini adalah keberuntunganku. Aku akan memaksanya untuk menikahiku. Aku tidak peduli bagaimanapun caranya agar aku tidak menikah dengan Dominic sialan itu."
Elyna dan pemilik mobil kuning itu sama-sama keluar dari mobil. Pria itu berdiri dalam posisi membelakangi Elyna. Elyna yang penasaran segera berlari kencang.
"Permisi, Tuan," sapa Elyna dengan wajah yang terlihat bersemangat. "Tuan, anda tadi benar-benar keren!"
Pria itu langsung berputar. Hal itu membuat Elyna kaget bukan main. Dia mematung sambil menatap pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah tidak percaya.
"Kau? Kenapa kau bisa ada di sini!" celetuk Elyna kaget.
Dominic mendengus kesal. "Kau bertanya padaku? Bukankah tadi kau yang mengikutiku?"
Karena tidak mau banyak bicara, Dominic kembali masuk ke dalam mobil. Wanita itu tidak mau bicara dengan Elyna. Elyna melipat kedua tangannya sambil memandang kepergian mobil Dominic dengan tatapan penuh arti.
"Ternyata dia pria yang hebat," puji Elyna tanpa sadar.
__ADS_1