Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 31


__ADS_3

Seorang pria paruh baya melangkah dengan langkah yang begitu gusar. Di sampingnya ada seorang wanita berusia 50 tahun yang kini berjalan dengan wajah sedih. Pria itu menggandeng lengan pasangannya sambil sesekali mengusap punggung wanita itu. Dia tidak tega melihat istrinya bersedih seperti itu. Tetapi, dia juga tidak tahu bagaimana caranya untuk membuat istrinya tidak bersedih lagi.


"Ini yang aku takutkan. Sudah terlalu jauh kita membiarkannya bermain. Sudah saatnya Austin tinggal bersama kita lagi seperti dulu," ujar si wanita sambil menghapus air mata yang menetes.


"Kita lihat keadaan Austin sekarang," ucap si pria itu. Dia membawa istrinya masuk ke dalam ruangan tempat putranya di rawat.


Austin memang tidak pernah kalah bahkan terlihat sangat kuat. Namun, pada kenyataannya. Pria itu sedang menahan sakit yang ia rasakan. Organ dalam di tubuhnya sudah sangat lemah dan rapuh. Akibat perbuatannya yang terlalu memaksakan diri, kini Austin harus berbaring di atas tempat tidur dengan bantuan alat medis di sekujur tubuhnya. Pria itu juga tidak sadarkan diri. Ada perban di kepalanya dan beberapa perban di bagian tubuh lainnya. Pria itu masih memejamkan mata dengan hembusan napas yang tidak normal. Dia masih dalam fase kritis.


"Austin ...."


Ibu mana yang sanggup melihat anak yang sudah beberapa tahun tidak bertemu dengannya kini berbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Wanita yang biasa di sapa Nyonya Clark itu tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia menangis sejadi-jadinya melihat putra semata wayangnya berbaring dengan tubuh dipenuhi luka seperti ini.


"Austin ... apa yang terjadi padamu Nak. Kenapa kau sampai seperti ini? Siapa yang tega melakukan semua ini?" lirih Nyonya Clark dengan begitu pilu.


Berbeda dengan Tuan Clark sendiri. Pria itu terlihat muak dengan tingkah laku anaknya. Sudah berulang kali dia meminta Austin untuk meninggalkan geng mafia itu. Namun berulang kali juga Austin menolak. Perdebatan terakhir mereka justru membuat Austin memutuskan untuk meninggalkan rumah. Pria berusia 28 tahun itu pergi tanpa memberi tahu kedua orang tuanya kemana dia akan pergi. Bahkan kedua orang tua Austin tidak tahu dimana dia tinggal. Austin sendiri tidak pernah memberi kabar kepada kedua orangtuanya yang setiap saatnya mengkhawatirkan keadaannya.


Austin pernah masuk ke daftar pencarian orang hilang. Semalam ketika polisi datang ke kediaman Austin, pihak polisi mengetahui kalau Austin adalah orang yang dicari oleh konglomerat bernama Clark. Austin tidak di tangkap karena pihak kepolisian menganggap Austin adalah korban. Pria itu diserang oleh segerombolan orang bersenjata ketika sedang mengadakan pesta. Dengan begitu secara tidak langsung Austin terbebas dari jerat hukum.


"Pa, lakukan sesuatu. Tangkap para brandal yang sudah membuat putra kita menjadi seperti ini. Mama tidak terima Austin diperlakukan seperti ini. Mereka harus merasakan apa yang dirasakan oleh Austin!" pinta sang ibu. "Mereka harus di hukum seberat-beratnya!"


"Dengan melihat Austin seperti ini jangan langsung berpikiran kalau Austin adalah korban. Bagaimana kalau pada kenyataannya putra Kita duluan yang mencari masalah? Sudah hampir tiga tahun kita tidak bertemu dengan Austin. Kita tidak tahu bagaimana lingkungan tempat dia tinggal. Siapa-siapa saja temannya dan apa saja yang ia lakukan selama ini. Jadi jangan langsung berpikiran untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah membuat Austin seperti ini!" ujar Tuan Clark. Pria itu tidak mau bertindak gegabah. Dia tahu bagaimana sifat putranya. Berbeda dengan Nyonya Clark yang tidak pernah tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh putranya.

__ADS_1


Tuan Clark tidak mau membesar-besarkan masalah ini. Dia tahu, bagaimana putranya. Jika cerita yang disampaikan Austin nantinya sesuai dengan bukti di lapangan, baru dia mau mengambil tindakan. Namun, jika sebaliknya yang terjadi. Tuan Clark sendiri sudah menyiapkan hukuman yang pas untuk putranya itu. Kali ini dia tidak akan kalah lagi dari Austin. Austin harus mau mematuhi perintahnya.


"Pa, sikap papa yang seperti ini yang sudah membuat Austin pergi dari rumah. Dia tidak mau tinggal seatap dengan kita karena orang tuanya sendiri tidak pernah percaya dengan apa yang dia katakan!" teriak Nyonya Clark tidak terima.


"Ma, ini semua karena kita sudah memanjakannya sejak kecil. Kita selalu menuruti apa yang dia inginkan. Membiarkannya melakukan apapun yang dia suka. Apa mama masih ingat, kejadian saat Austin masih kecil? Saat dia memukul temannya sampai masuk rumah sakit, Mama justru membela Austin dan menyalahkan temannya hingga akhirnya teman Austin dikeluarkan dari sekolah. Itu tidak hanya sekali, Ma. Berulang kali terjadi tetapi Mama tetap membela Austin padahal jelas-jelas Austin yang salah.


Sekarang saat dia besar dia akan melakukan hal yang sama. Meyakini kalau dirinya benar dan memandang orang lain lah yang salah. Mau sampai kapan Austin seperti ini? Seorang laki-laki harus bisa menerima sebuah kekalahan. Karena kita tidak tinggal sendirian di dunia ini. Ada banyak orang-orang yang mengelilingi kita dan semuanya belum tentu baik. Tetapi belum tentu juga jahat. Kita harus mulai mengajarkan Austin untuk bisa menerima sebuah kekalahan. Dengan begitu dia akan berubah menjadi anak yang jauh lebih baik lagi. Bahkan mungkin bisa menghormati kita sebagai orang tuanya."


"Cukup, Pa! sekarang mama minta papa keluar saja dari ruangan ini. Papa hanya bisa menyalakan Austin. Papa tidak pernah memandangnya sebagai seorang anak. Karena Austin adalah putra mama. Dia bukan anak kandung papa!"


"Ma, papa tidak pernah memandang Austin seperti itu. Papa hanya ingin Austin menjadi pria yang berguna!"


Tuan Clark sendiri tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tega melihat istrinya menangis hingga seperti itu. Dia juga sedih melihat putra tirinya berbaring lemah seperti sekarang. Tetapi dia juga tidak mau bertindak gegabah. Tuan Clark memang akan melakukan penyelidikan terhadap kasus yang dialami putranya. Tetapi dia melakukan penyelidikan ini hanya ingin tahu sebenarnya siapa yang salah. Jika memang benar Austin yang salah, pria itu tidak akan bertindak banyak. Namun jika musuh Austin yang bersalah. Pria itu akan melakukan segala cara untuk membuat musuh Austin menyesal.


"Maafkan papa, Ma. Papa tunggu di depan ya," jawabnya dengan nada lembut. Semarah apapun istrinya, dia akan berusaha untuk tetap mengalah. Berkata dengan lembut agar istrinya tidak semakin sedih. Setelah menutup pintu ruangan itu, Tuan Clark duduk di kursi. Ia sudah tidak sabar untuk mendengar laporan dari orang yang ia utus melakukan penyelidikan ini.


"Selamat pagi, Tuan," ucap pria itu dengan nada sopan. Ia berdiri di depan Tuan Clark dengan penampilan yang begitu rapi.


"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil?"


"Ya, Tuan. Saya sudah berhasil menyelidiki kasus ini. Saya juga sudah tahu sumber masalahnya dari mana," jawab pria itu dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Ceritakan padaku. Aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya."


"Tuan Austin membentuk sebuah geng mafia bernama The Bloods. Mereka melakukan bisnis gelap selama ini. Bisnis yang mereka lakukan di antaranya, menjadi pembunuh bayaran dan menjual para wanita. Tidak hanya itu, mereka juga bekerja sama dengan beberapa casino ternama dalam sebuah bisnis minuman keras. Tuan Austin juga-"


"Jangan teruskan. Lanjut ke inti permasalahannya!" potong Tuan Clark. Soal geng mafia anaknya dia sudah tahu sejak lama. Walau sebenarnya dia sendiri tidak tahu kalau semengerikan itu bisnis yang sudah dilakukan oleh putranya.


"Tuan Austin ingin menghancurkan sebuah rumah sakit. Misinya di gagalkan oleh geng mafia bernama Gold Dragon. Hal ini yang sudah membuat Tuan Austin menjadi dendam. Dia ingin membalas perbuatan dari geng Gold Dragon. Tuan Austin menculik adik dari pemimpin geng Gold Dragon. Membawanya ke kediaman Tuan Austin yang sekarang. Geng Gold Dragon datang menyerang untuk menyelamatkan adiknya. Sepertinya Tuan Austin kalah, hingga akhirnya dia bisa sampai seperti ini, Tuan." Pria itu memandang wajah Tuan Clark yang terlihat pusing. Pria berusia 55 tahun itu memijat dahinya yang mulai berkerut sambil memejamkan mata.


"Pertarungan antar geng mafia?" Tuan Clark menggeleng pelan. "Bagaimana kalau dia mati?" ketusnya kesal. "Ini bukan pekerjaan! Ini bukan bisnis! Ini namanya cara mempersingkat hidup!"


"Tuan, apa yang ingin anda lakukan? Apa anda ingin membalas perbuatan gold Dragon? Anda ingin saya menyelidiki tentang mereka?"


"Ya. Aku ingin bertemu dengan keluarga korban. Maksudku, orang tua anak yang di culik tadi. Aku ingin minta maaf. Aku ingin masalah ini berakhir secara kekeluargaan. Semoga saja tidak ada korban jiwa dari pihak gold Dragon itu."


"Anda yakin, Tuan? Bagaimana kalau mereka tidak terima dan akhirnya ini akan membuat masalah bagi diri anda sendiri?" Pria itu seperti menolak permintaan Tuan Clark. Dia tidak mau sampai atasannya itu berada dalam masalah. "Bisnis anda sedang ada di atas. Jika sampai masalah ini terdengar publik, bisnis anda akan jatuh, Tuan. Pikirkan sekali lagi."


"Ini resiko memiliki anak brandal! Aku akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh Austin." Pria itu berdiri. "Jika kau bisa bicara dengan mereka, katakan kepada mereka kalau aku sangat menyesal dan ingin bertemu. Aku tidak mau masa tuaku di habiskan dengan memikirkan masalah seperti ini. Aku ditakdirkan untuk tidak bisa memiliki anak. Namun Tuhan berencana lain. Dia mempertemukanku dengan Ara. Sejak menikah dengan Ara, aku telah jadi seorang ayah. Aku sangat menyayangi Austin. Dia sudah aku anggap seperti anak kandungku sendiri. Aku tidak mau dia sampai salah jalan. Dia harus berubah. Apapun caranya. Sebelum membimbingnya untuk berubah, kita harus memastikan kalau musuhnya tidak mengusik Austin lagi."


"Baiklah, Tuan. Saya akan melakukan perintah anda," jawab pria itu. "Saya permisi." Pria itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan Tuan Clark. Sedang Tuan Clark kembali duduk untuk menunggu istrinya yang masih ada di dalam.


"Cepat bangun Austin! Papa sangat menyayangimu."

__ADS_1


__ADS_2