Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 34


__ADS_3

“Daisy … Daisy.”


Foster sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Namun, pria itu belum mau membuka matanya. Kedua orang tua Foster masih setia mendampingi Foster. Walau mereka sudah menerima permintaan maaf dari keluarga Serena. Tetapi, tetap saja mereka masih belum tenang sebelum melihat putra mereka bangun.Mereka masih terus saya menyalahkan keluarga besar Edritc Chen. Karena ulah cucu mereka, putranya jadi korban.


“Pa, bagaimana ini? Mama gak mau Foster tidur terus. Anak mama ini anak yang ceria. Melihatnya seperti ini membuat mama ingin menangis,” lirih sang ibu.


“Sabar, Ma.”


Foster mulai menggerakkan jemarinya. Tentunya ini menjadi pertanda yang baik. Kedua orang tua Foster terlihat sangat bahagia. Mereka segera menekan tombol di samping tempat tidur agar dokter segera datang. Perlahan Foster mulai membuka kedua matanya. Pria itu melepas selang oksigen yang ada di hidungnya.


“Pa, Foster sudah bangun Pa.” Wanita itu terlihat sangat bahagia. Ia sudah tidak sabar untuk melihat putranya tersenyum dan memanggilnya mama seperti biasa.


“Ma, dimana ini?” Foster memegang kepalanya yang masih terasa berat. Sekujur tubuhnya juga terasa sakit. Dia tidak bisa bergerak bebas. Rasa linu di tulangnya membuat Foster tetap berbaring di atas tempat tidur.


“Kau ada di rumah sakit, Foster. Mama sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa kau tidak bilang jika pergi ke Universitas Yale? Mama pikir kau masih di Sapporo untuk bersiap-siap peresmian perusahaan yang baru,” ujarnya kesal.


Mendengar Universitas Yale membuat Foster kembali ingat dengan Daisy. “Ma, dimana ponselku?”


“Ponsel?” Wanita itu mengeryitkan dahi. Bukan menjelaskan justru setelah sadar putranya mala mencari ponsel.


“Iya, Ma. Dimana?” Foster ingin bangkit. Tetapi sang ibu melarang. Ayah Foster yang mengambilkan ponsel. Karena memang ponsel itu tergeletak begitu saja di atas nakas.


“Kau ingin menghubungi siapa Foster?” tanya ayah kandung Foster.


Foster tidak menghiraukan pertanyaan kedua orang tuanya. Pria itu menekan nomor seseorang sebelum melekatkan ponselnya di telinga. “Kenapa dia tidak segera mengangkat teleponku!” umpat Foster.


Kedua orang tua Foster saling memandang sebelum sama-sama menghela napas. Memang sudah seperti itu watak anak mereka. Mereka sendiri sudah tidak kaget lagi.


“Kenapa lama sekali!” umpat Foster ketika panggilan teleponnya telah tersambung. “Bagaimana dengan Daisy? Dia berhasil ditemukan?”


“Nona Daisy sudah berhasil ditemukan, Tuan. Sekarang Nona Daisy ada di kediamannya,” jawab pria di dalam telepon. Foster terlihat ceria. Pria itu memutuskan panggilan teleponnya dan memandang kedua orang tuanya secara bergantian.


“Kau mencintainya?” tanya sang ibu dengan ekspresi yang serius.


Foster mengangguk. Pria itu meletakkan ponselnya ke nakas lagi. Mereka memandang ke pintu melihat dokter dan perawat yang baru saja tiba. Foster tidak terlalu peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan. Pria itu terlalu gembira mendengar kabar Daisy telah ditemukan. Bahkan rasanya Foster ingin cepat-cepat kuliah agar bisa bertemu dengan Daisy.


“Dok, bagaimana keadaan putra saya? Apa keadannya sudah jauh lebih baik?” tanya wanita paruh baya itu.


“Tuan Foster masih membutuhkan istirahat total. Di larang turun dari tempat tidur selama beberapa hari,” jawab Dokter tersebut.

__ADS_1


“Tidak bisa. Aku harus segera ke universitas Yale!” protes Foster.


“Diamlah!” ketus sang ibu. Dia memandang dokter itu lagi. “Terima kasih, dok.”


“Sama-sama, Nyonya.” Dokter itu memerintahkan perawat yang ikut bersamanya untuk merapikan selang oksigen yang sempat digunakan oleh Foster. Walau sudah sadar, tetapi selang infuse yang tertancap di punggung tangan Foster tetap dibiarkan. Selang infuse akan dibuka jika Foster sudah terlihat jauh lebih cerah dan bisa berjalan seperti biasa.


“Ma, Foster harus menemui Daisy. Foster ingin tahu bagaimana kabar Daisy!”


“Kau menjadi seperti ini karena ingin menyelamatkan seorang wanita! Foster, dimana akal sehatmu? Begitu banyak wanita yang mengejar-ngejarmu, kenapa kau tertarik kepada wanita yang seperti dia? Mama lihat dia tidak terlalu cantik. Bahkan masih kuliah. Pengalamannya belum banyak. Dia belum memiliki sesuatu yang patut di banggakan. Beruntungnya dia berasal dari orang terpandang. Entah bagaimana lagi mama harus berkata jika wanita bernama Daisy itu hanya sekedar wanita biasa.”


“Ma, Daisy itu unik. Tidak ada wanita yang seperti dia. Dia baik dan sangat lembut,” puji Foster.


“Tetap saja dia masih kuliah dan kau tidak bisa dekat-dekat dengannya. Dia memiliki masa depan. Begitu juga dengan kau, Foster. Mama tidak mau sampai kau gagal memimpin perusahaan hanya gara-gara seorang wanita! Kau mengerti Foster?”


Foster hanya diam tanpa mau menanggapi ocehan ibu kandungnya. Sekeras apapun kedua orang tuanya melarang. Dia akan tetap mencintai Daisy dan akan menjadikan wanita itu kekasihnya.


“Foster, mama akan keluar untuk membelikanmu makanan. Kau harus makan,” ucap wanita itu lagi. “Biar papa yang akan menjagamu. Mama tidak mau kau kabur lagi!”


Foster dan ayah kandungnya hanya diam saja. Mereka selalu kalah jika wanita paruh baya itu sudah angkat bicara. Jangankan menang. Cari seri aja mereka berdua tidak sanggup. Setelah pintu kembali tertutup rapat, Foster menghela napas panjang.


“Pa, bagaimana ini? Papa ada dipihakku kan?” tanya Foster penuh harap.


Foster terlihat kecewa. Pria itu memejamkan mata dan memijat kepalanya lagi. “Aku akan pikirkan nanti.”


“Foster, kalau boleh papa tahu. Apakah Daisy juga mencintaimu? Atau ini hanya perasaan yang bertepuk sebelah tangan? Hanya kau saja yang mencintai Daisy?”


Foster diam sejenak. Ia kembali mengingat beberapa pertemuannya dengan Daisy. Saat itu, terlihat jelas kalau Daisy seperti tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Foster. Bahkan wanita itu jarang memandang Foster seperti apa yang dilakukan Foster setiap kali mereka bertemu.


“Foster gak tahu, Pa,” jawab Foster.


“Jika memang ini hanya perasaanmu saja, papa harap kau bisa berusaha untuk melupakannya. Papa hanya tidak mau anak papa ini sakit hati. Uda di tolak keluarganya, kau juga harus menahan sakit karena di tolak oleh Daisy. Pikirkan perkataan papa ini, Foster. Semua ini demi kebaikanmu juga.”


Foster terlihat keberatan. Bagaimanapun juga, dia sudah terlanjur tergila-gila sama Daisy. Rasanya sangat sulit untuk melupakan Daisy. Apa lagi cinta yang dirasakan Foster sudah terlalu besar untuk Daisy.


“Baiklah, Pa,” jawab Foster agar ayahnya bisa kembali tenang.


“Papa mau keluar dulu cek mama. Restorannya tidak jauh, seharusnya mama sudah sampai,” ujar pria itu. Dia pergi meninggalkan Foster sendirian di kamar. Foster meraih ponselnya lagi dan membuka galeri foto yang berisi foto Daisy. Pria itu tersenyum sebelum mencium layar ponselnya sendiri.


“Aku merindukanmu, Daisy ….”

__ADS_1


***


Austin juga sudah sadar setelah hampir seminggu koma. Pria itu di bawa ke rumah orang tuanya. Awalnya Austin menolak. Tetapi, dia juga tidak mungkin kembali ke rumah lamanya. Kondisinya masih belum stabil. Dipikiran Austin, apa yang harus ia lakukan jika sampai Gold Dragon kembali menyerangnya.


Austin duduk di meja makan bersama dengan kedua orang tuanya. Pria itu tidak berselera untuk makan. Dipikirannya, terus saja dipenuhi dengan trik dan strategi agar bisa mengalahkan Zion Zein. Ia terus menebak-nebak, seperti apa wajah Zion Zein di balik topengnya yang hitam itu.


“Austin, ada apa? Apa makanannya tidak enak?” tanya Nyonya Clark.


“Ma, Austin masih kenyang,” jawabnya dengan malas. Dia meletakkan sendok dan garpu yang sempat di genggam. “Austin ke kamar dulu ya ma?”


“Sayang, kau belum ada makan. Makanlah sedikit,” bujuk sang ibu.


“Austin, makanlah. Mamamu sudah capek-capek memasak semua ini hanya untukmu. Makanlah walau sedikit,” bujuk Tuan Clark.


Austin kembali duduk di kursi. Pria itu menyendok makanan yang ada di piring dan memasukkannya ke mulut. Walau terlihat tidak berselera, tetapi pria itu berusaha mengunyah dan menelan makanan tersebut. Nyonya Clark tersenyum melihatnya. Wanita itu juga lanjut makan diikuti oleh Tuan Clark.


“Apa mereka berpikir kalau aku sudah tewas? Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu? Siapa yang sudah menolongku? Kenapa aku bisa bersama papa dan mama,” gumam Austin di dalam hati.


“Austin, apa yang kau pikirkan nak? Kau masih memikirkan musuhmu itu?” tanya Nyonya Clark. Austin hanya menggeleng pelan.


“Tidak, Ma.”


“Lalu, apa yang kau pikirkan?”


“Aku merasa sedikit pusing,” dusta Austin.


“Pusing? Mama panggilkan dokter ya?” Wajah wanita itu berubah panik.


“Jangan, Ma. Austin hanya butuh istirahat saja,” tolak Austin.


“Austin, setelah makan datang ke ruang kerja papa. Ada beberapa hal penting yang ingin papa sampaikan,” ujar Tuan Clark. Austin hanya mengangguk saja. Walau dia tahu Tuan Clark bukan ayah kandungnya. Tetapi Austin sangat menyayangi Tuan Clark. Bahkan pria itu selalu berusaha menghargai Tuan Clark.


“Pa, jangan marah sama Austin ya?” tanya sang istri.


Tuan Clark hanya mengukir senyuman saja. “Papa tidak mungkin marah sama anak papa, Ma. Dia sudah besar, sudah tidak pantas di marah-marah seperti anak kecil.”


Austin hanya diam saja. Dia mencoba untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya walau sedikit.


“Apa papa tahu soal permusuhanku dengan Gold Dragon?”

__ADS_1


__ADS_2