
Austin dan Zion sudah bisa tersenyum ketika pulau yang mereka tuju mulai terlihat di teropong. Kapal-kapal Gold Dragon yang awalnya bergerombolan kini mulai berpencar. Mereka mencari posisi masing-masing hingga berbentuk melingkari pulau. Pulau itu sangat luas, Austin dan Zion tidak menyangka kalau pulau yang mereka datangi akan seluas ini. Bisa dibilang pulau itu seperti negara kecil. Gedung-gedung bertingkat yang ada di pulau itu juga sudah terlihat. Sejenak mereka sempat berpikir kalau mereka dijebak. Tidak mungkin seorang Mr. A bisa membeli dan menyihir sebuah pulau terpencil menjadi semegah ini. Dari mana uangnya?
"Apa bisnis Mr. A? Kenapa dia bisa membangun gedung-gedung pencakar langit seperti ini di pulau pribadinya?" tanya Zion kepada Austin. Walau Mr. A pernah menjadi pasukan Gold Dragon, tetapi pria itu sudah lama berkhianat. Zion tidak tahu bagaimana kehidupan Mr. A setelah pria itu berkhianat. Hanya Austin yang mungkin tahu karena mereka pernah menjadi rekan bisnis sebelumnya.
"Banyak," jawab Austin tanpa memandang. "Dia memiliki bisnis obat-obatan terlarang. Penjualan organ tubuh manusia hingga wanita. Sebenarnya masih banyak lagi bisnis gelap yang ia jalani, tetapi aku tidak terlalu tahu. Bahkan dia mempekerjakan segerombolan orang yang tugasnya merampok bank-bank besar yang ada di negara ini."
Zion mengeryitkan dahi mendengar jawaban Austin. Dia tidak menyangka kalau Mr. A bisa sampai di tahap itu. Tadinya Zion berpikir kalau Mr. A hanya orang biasa yang tidak ada apa-apanya jika keluar dari Gold Dragon.
"Mr. A orang yang sangat ambisius. Apapun yang sudah dia tekadkan, pasti akan dia dapatkan."
"Dia pernah mengajakmu untuk bekerja sama membangun pulau ini?"
Austin menggeleng pelan. "Sayangnya dia tidak percaya padaku. Sepertinya dia sudah punya firasat kalau aku akan berkhianat dan berpaling dari The Bloods," jawab Austin diselingi tawa kecil.
__ADS_1
"Disaat Dion dan Austin sedang sibuk menceritakan Mr.A, Mr. A sendiri sudah mengetahui kedatangan mereka semua. Kini pria paruh baya itu berdiri di depan layar monitor sambil melihat kedatangan mereka semua. Mr. A bahkan tau jumlah kapal yang bakal berkunjung ke pulau pribadinya. Jhon kini yang berdiri di samping Mr. A meresa puas dengan kinerja kerja bawahannya.
"Boss anda ingin meledakan kapal yang mana terlebih dahulu?"
Mr. A terlihat berbangga diri. Dia merasa konilah dia yang diatas segalanya. Semua nyawa gold dragon termasuk Austin dan Zion ada di genggaman tangannya. Hanya sekali berucap saja maka mereka akan tewas satu persatu.
Sebenarnya aku ingin meledakan kapal yang di tumpangin Zion dan Austin terlebih dahulu. Berhubung kita tidak tahu dimana mereka berdua berada, aku ingin meledakan kapanya secara acak saja." Mr.A melangkah maju mendekati layar monitor, dia menunjuk satu kapal yang ingin dia ledakan terlebih dahulu. "Aku ingin kapal ini yang menjadi pembuka dalam permainan kita pagi ini,: tunjuk Mr.A pada salah satu kapal yang ditumpangin pasukan Gold Dragon.
Jhon menekan salah satu tombol yang ada di genggaman nya. Semua bom yang telah terpasang di dalam laut di kendalikan Jhon. Hanya dengan menekan salah satu tombol di remot tersebut, maka salah satu boom yang terpasang akan segera meledak.
Melihat kapal pertama yang dia tunjuk meledak maka Mr.A tertawa kegirangan, pria itu terlihat sangat bahagia sekali. Tidak puas hanya dengan satu kapal saja yang meledak, Mr. A menunjuk tiga kapal sekaligus. "Aku ingin melihat tiga kapal ini meledak secara bersamaan. Apa kau bisa melakukannya?"
"Tentu saja bisa boss. Semua akan terjadi sesuai dengan apa yang anda inginkan. Hidup dan mati mereka telah ada di genggaman tangan Anda." Jhon lagi lagi menekan tombol yang ada di genggaman nya, terlihat jelas tiga kapal yang di tunjuk oleh Mr. A meledak secara bersamaan.
__ADS_1
Dilautan, Zion dan Austin mulai tidak tenang ketika mendengar suara ledakan. Kekhawatiran mereka semakin memuncak ketika mendengar kabar empat kapal pasukan Gold Dragon tidak dapat lagi di hubungi.
"Ini jebakan," ujar Austin kesal. "Kita sudah kehilangan anggota kita sebelum kita berhasil menginjakan kaki di pulau itu."
Bukankah sebelum berangkat kita sudah tahu konsekuwensinya seperti ini," jawab Zion. Walau sebenarnya pria itu panik tapi dia berusaha untuk tetap tenang.
"Kita tidak bisa berada di kapal ini lebih lama lagi. Mereka pasti sudah memasang jebakan di bawah laut." Austin memperhatikan lautan yang akan mereka lewati dengan seksama.
"Pulaunya masih jauh, kita akan kehabisan tenaga jika kita mulai berang dari titik ini."
"Tapi-" Austin tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria itu melebarkan matanya ketika melihat ada bom di depan sana. Lompat!" Teriak Austin sekerasnya. Pria itu berlari ketepian kapal sambil menarik tangan Zion. Dua laki laki itu melompat secara bersamaan. Pasukan Gold Dragon yang ada di kapal itu juga melompat ketika mendengar teriakan Austin.
Kapal itu tetap melaju ke depan, tidak lama kemudian kapal itupun meledak. Zion mengepal kuat tangannya melihat semua itu. "Mr. A kau benar benar bedebah!"
__ADS_1