Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 55


__ADS_3

Zion keluar dari kamar setelah mendengar suara ledakan yang begitu dahsyat. Pria itu segera mengambil senjata apinya dan berlari menuju tangga. Belum sempat dia turun, tiba-tiba sudah terdengar teriakan Daisy.


"Kakak!" Wanita itu berlari mendekati Zion. Dia merangkul lengan Zion dan menangis. "Apa yang terjadi? Aku takut. Apa rumah kita di serang? Apa yang menyerang kita adalah musuh kakak?"


Entah pertanyaan yang mana dulu yang harus dia jawab. Zion mengusap rambut Daisy untuk menenangkan adiknya. Walau pertarungan mungkin sudah terjadi di depan sana. Tetapi, keselamatan Daisy juga yang utama.


"Dimana GrandNa?"


Daisy menggeleng kepalanya. "Aku tidak tahu. Di lantai dua kosong. Tadi saat aku keluar kamar sampai berlari ke sini, tidak ada satu orangpun yang aku temui. Aku takut kak."


Zion harus mengurungkan niatnya untuk turun ke bawah. Membawa Daisy ikut turun ke bawah bukan pilihan yang tepat. Membiarkan Daisy sendirian juga bukan solusi yang baik.


"Kak, lihatlah." Daisy menunjuk ke bawah. Di sana mereka melihat Leona, Jordan, Oliver dan Zeroun memegang senjata api dan berjalan menuju ke pintu utama. Sepertinya mereka ingin membantu pengawal mereka yang berjuang di depan sana.


Sedangkan dari arah bawah tangga. Serena dan Lukas naik ke atas. Mereka semua sudah membagi tugas. Serena dan Lukas di tugaskan untuk menjaga Daisy dan Zion. Mereka tidak mau keturunan mereka sampai celaka. Cukup mereka saja yang sudah berumur yang menjadi tameng bagi cucu mereka.


Setibanya di lantai dua, Serena terlihat kelelahan. Bahkan mengatur napasnya saja sulit. Lukas memandang Serena Dengan wajah khawatir. Andai dia diizinkan menggendong Serena, mungkin sudah dia lakukan sejak tadi. Namun, Serena masih keras kepala. Dia merasa sanggup, walau sebenarnya dia memang sudah pantas untuk istirahat.


"GrandNa baik-baik saja?" Daisy terlihat khawatir melihat GrandNa nya menunduk sambil memegang dada. Zion juga khawatir. Tetapi dia lebih fokus untuk bertanya sama Lukas tentang apa yang terjadi di bawah.


"Opa, apa musuh menyerang kita? Kenapa mereka bisa datang ke sini?"


"Seperti yang pernah dikatakan Opa Zen. Ada pengkhianat. Mereka mengincar nyawa pewaris Gold Dragon. Yaitu, Kau, Daisy dan Norah." Lukas memandang ke bawah lagi untuk memastikan tidak ada musuh di belakang mereka.

__ADS_1


"Opa, izinkan aku keluar untuk membantu yang lain," pinta Zion.


"Tidak, Zion. Mereka mengincar nyawamu. Kau tetap di sini bersama Opa dan grandNa," tolak Lukas.


Daisy merangkul lengan Serena sambil menghapus air matanya. Ini sebuah masalah yang sangat berat. Daisy yang notabenenya hanya wanita manja tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia berpikir akan merepotkan semua orang malam ini.


BRUAKKK


Lukas dan yang lainnya di buat kaget ketika melihat pintu samping terbuka dan segerombolan orang masuk. Zion maju untuk memeriksa. Alisnya saling bertaut melihat Austin. memimpin rombongan yang baru masuk. Hatinya mulai panas hingga ingin mengalahkan Austin dengan tangannya sendiri. Namun, Lukas masih menahan Zion. Dia tetap menuruti perintah Zeroun dengan tidak membiarkan Zion turun tangan dalam pertarungan ini. Mereka di serang secara mendadak. Tanpa persiapan yang matang. Zeroun sendiri bahkan tidak tahu. Ada berapa banyak musuh mereka dan trik apa yang sudah mereka persiapkan untuk mengalahkan keluarga besar Gold Dragon.


"Zion, kita harus segera pergi dari sini," ajak Serena. Wanita tua itu tetap saja mengkhawatirkan cucunya walau kini keadaannya sendiri juga sedang tidak baik saja.


"Aku akan menghadapi pria itu!" sahut Zion.


"Baiklah, GrandNa. Biar Zion yang jaga GrandNa."


Lukas terlihat keberatan dengan keputusan Serena. Tetapi, memang apa yang dikatakan wanita itu benar. Orang yang diincar saat ini adalah Zion dan Daisy. mereka harus melindungi Daisy dan Zion layaknya berlian yang berharga.


Di lantai bawah, Austin melihat Zion yang ingin berlari. Tanpa pikir panjang pria itu segera naik ke tangga di ikuti oleh pasukan The Bloods. Zion sempat kaget ketika pasukan The Bloods menembak ke arah dinding hingga membuat rumah itu berantakan bukan main. Austin sendiri tidak tahu kalau sebenarnya pasukan The Bloods menembak setiap figuran yang memperlihatkan foto Norah. Hanya itu yang bisa mereka lakukan agar Austin tidak pernah sadar kalau dia telah menyerang keluarga wanita yang ia cintai.


Zion menarik tangan Serena dan membawanya ke sisi kanan. Sedangkan Lukas bersama Daisy berlari ke sisi kiri. Mereka akan kabur melalui jendela. Serena dan Zion melalui jalan lain karena Serena sudah tidak mungkin melompat. Gerakannya sudah terbatas.


DUARRR

__ADS_1


Setibanya di lantai atas, Zion langsung melepaskan peluru ke arah dinding yang sangat dekat dengan Zion. Serena menahan langkah kakinya. Wanita itu berputar dan memandang ke arah Austin yang menodongkan senjata ke arah Zion.


"Apa yang kalian inginkan? Pergi dari sini! Kalian hanya anak kemarin sore yang sudah salah jalan. Kalian semua akan menyesal karena sudah melakukan semua ini!" teriak Serena.


Zion menatap tajam Austin. Mereka saling memandang dengan tatapan dendam. Ingin memukul satu sama lain dan saling mengalahkan.


DUARRR


Sesuatu tidak terduga terjadi di saat Austin dan Zion belum memutuskan tindakan selanjutnya. Pasukan The Bloods dengan lancang melayangkan tembakan ke arah Serena. Peluru itu mendarat di bagian perut Serena hingga membuat darah segar mengalir dengan deras.


Austin yang masih menodongkan senjata ke arah Zion hanya diam mematung melihat Serena terluka. Bukan seperti ini rencana yang ia pikirkan. Zion target mereka. Bukan Nenek tua seperti Serena.


"GrandNa!" Zion menangkap tubuh Serena ketika terjatuh ke bawah. Pria itu mengarahkan senjatanya ke arah Austin. Austin masih mematung seperti orang bodoh. Pria itu membuat geram semua pasukan The Bloods yang ada di sana. Seharusnya Austin segera menembak Zion agar mereka menang.


DUARRR


Sebuah tembakan membuat senjata api di tangan Austin terpental. Tembakan itu berasal dari peluru yang dimiliki Zeroun. Dia sudah berdiri di ujung tangga dan menatap Austin beserta pasukannya dengan penuh dendam.


Austin memegang tangannya yang terluka. Tanpa sengaja pria itu melihat foto keluarga yang terpasang di dinding dekat dia berdiri saat ini. Ketika pasukan The Bloods mengambil tindakan dengan menembak ke arah Zion dan juga Zeroun. Austin hanya diam mematung menyerahkan nyawa.


"Norah?" gumam Austin masih tidak percaya. Dia memperhatikan wajah Norah dengan saksama. Tanpa berkedip. Ketika suara tembakan semakin memekakan telinga, pria itu di tarik oleh seseorang untuk kabur. Austin masih kebingungan seperti orang bodoh. Dia ikut berlari tetapi tidak tahu tujuannya kemana.


"Norah ... dia adik Zion Zein?"

__ADS_1


__ADS_2