
Abio dan Livy akhirnya turun ke bawah. Bertahan di sana juga bukan pilihan yang tepat. Pertama kali mereka di serang oleh dog dog yang ingin mengigit. Abio sadar akan tugasnya. Pria itu menendangnya agar tidak ada yang menyentuh Livy.
Livy segera memutar otak untuk mendapatkan senjata. Namun ternyata para preman tidak ada yang memiliki senjata canggih yang biasa digunakan Livy. Hanya senjata biasa yang kelihatan tidak menarik.
"Apa kau pikir aku ini wanita lemah?" umpat Livy. Sekali melayangkan tangannya saja sudah berhasil membuat pria yang ada di hadapannya terjungkal.
Abio terlihat kebingungan. Penyerangan yang aneh. "Livy, jika bukan demi cintamu. Aku tidak akan mau seperti ini!" teriak Abio agar Livy tahu. Kalau sampai detik ini perasaannya masih sama. Bahkan bertambah lebih besar.
Livy memandang Abio sejenak. "Fokus sama sama mereka. Awas kena gigit. Aku dokter manusia bukan dokter hewan!" sahut Livy.
Abio mengukir senyum. "Oke baby!" Abio bertambah semangat untuk mengalahkan beberapa hewan yang ingin mengigitnya.
Karena sejak awal Abio tidak dibekali ilmu melawan binatang buas, pria itu sama sekali tidak memiliki keahlian. Abio berhasil di dorong oleh dua dog dan terlentang di tanah. Hal itu membuat Livy panik hingga mau tidak mau dia ikut menolong.
Namun, salah satu pria di sana juga masih belum puas dengan Livy. Dia mendorong Livy hingga kepala wanita itu terbentur pohon.
"Livy!" teriak Abio. Dia juga tidak bisa terlalu fokus dengan Livy. Lengah sedikit saja dia bisa tergigit.
Livy memegang kepalanya. Tidak ada yang luka. Dengan geram dia menghajar pria-pria yang ada di hadapannya hingga babak belur.
Bersamaan dengan itu, pasukan The Filast muncul. Mereka sudah pasti tidak akan membiarkan bos mereka dalam bahaya. Jika Livy sampai celaka, nyawa mereka bisa melayang dibuat Oliver.
"Sepertinya kita akan menang dalam pertarungan ini," ujar Abio dengan senyum mengembang di bibirnya. Livy memandang Abio sejenak sebelum memandang ke depan lagi. Kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit. Livy merasa pusing. Padahal tadi dia sudah makan malam dan terbentur pohon juga tidak terlalu keras.
"Kenapa kepalaku sakit sekali," gumam Livy di dalam hati. Livy merasa semua berputar. Pemandangan ketika Abio memukul preman yang ingin mendekati mereka juga mulai terlihat tidak jelas. Livy tidak sanggup berdiri. Ia memegang lengan Abio dengan sangat erat.
"Abio, kepalaku."
Abio memandang ke samping. Pria itu khawatir melihat keadaan Livy. "Livy, apa kau baik-baik saja?"
Suara sirine polisi membuat semua orang yang ada di sana waspada. Walau tujuan utama Livy adalah mencebloskan preman jalanan itu ke penjara, tetapi jika keadaannya seperti ini pasukan The Filast juga bisa terlihat.
"Abio, ayo kita pergi dari sini. Polisi sudah datang. Kita akan tertangkap."
"Tidak akan," jawab Abio dengan penuh keyakinan.
"Abio aku-" Ketika Livy ingin terjatuh, Abio segera menahannya. Pria itu duduk hingga Livy ada di atas pangkuannya. Sambil menepuk pipi Livy, pria itu memanggil nama Livy agar Livy tetap sadar.
"Livy, kau kenapa?"
__ADS_1
"Ayo kita harus pergi. Bawa aku pergi. Aku tidak mau terlibat dengan polisi," lirih Livy sekali lagi.
"Jangan bergerak!" teriakan polisi yang sudah mengepung lokasi tersebut membuat kepala Livy semakin terasa sakit. Wanita itu memejamkan matanya walau telinganya masih bisa mendengar jelas apa yang terjadi di sana.
Abio memandang polisi-polisi itu menangkap preman jalanan. Tidak ada satupun yang lolos. Bahkan pasukan The Filast juga di tangkap.
"Kau baik-baik saja?"
"Mereka orang ku. Kenapa kau menangkap mereka juga?" protes Abio tidak suka.
Polisi wanita itu tertawa geli. "Maaf. Aku akan membebaskan mereka. Tenang saja." Wanita itu melirik Livy yang sekarang ada di pelukan Abio. "Dia pacarmu?"
"Bukan. Dia-"
"Wanita yang spesial?" potong polisi wanita itu cepat. "Kau tidak akan memperlakukan wanita itu hingga selembut ini jika tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya."
"Diana, sepertinya apa yang kau katakan benar. Aku akan berubah menjadi pria baik hati jika sudah bertemu dengan wanita yang membuat jantungku berdebar cepat. Dialah wanita itu." Abio memandang Livy lagi.
"Abio, aku harap kau benar-benar sudah berubah. Aku pergi dulu. Masih ada banyak tugas yang harus aku selesaikan. Oh ya, tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Foster." Polisi wanita itu mengambil sesuatu dari dalam saku. "Dia menitipkan ini. Sepertinya dia sudah memiliki firasat kalau kita akan bertemu."
"Ini surat dari Foster?"
Abio hanya mengangguk saja. Dia memasukkan surat dari Foster ke dalam saku. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk baca surat. Abio harus segera membawa Livy ke rumah sakit untuk diperiksa.
***
"Aku kalah. Maafkan aku. Bukan aku tidak mau berjuang seperti yang kau minta. Tadi aku sempat melihat dia di Universitas Yale. Dia wanita yang pintar. Memiliki cita-cita yang tinggi. Sepertinya masa depannya jauh lebih berharga daripada sebuah hubungan. Aku mundur. Aku akan pergi dan menetap di Eropa. Eropa luas bukan? Kali ini kau tidak akan bisa mencariku. Aku akan mengabarimu jika keadaan hatiku sudah membaik. Aku ingin menjadi pria yang sukses tanpa campur tangan kedua orang tuaku. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Jika memang aku dan Daisy berjodoh, aku berharap ketika aku sukses nanti Daisy masih sendiri. Tetapi jika sudah ada pria lain di sampingnya, aku ikhlas. Asalkan pria itu bisa membahagiakan Daisy seperti aku membahagiakannya selama ini. Maafkan aku telah mengecewakanmu Abio. Kali ini aku tidak mendengar kata-katamu lagi. Pria sepertiku bisa apa? Tidak mungkin juga besok Daisy mau menikah denganku bukan? Masa depan kami masih panjang. Aku akan mencari jati diriku. Aku juga memberi kesempatan kepada Daisy untuk meraih kesuksesannya. Tapi kau tenang saja. Aku juga sudah mengirim surat untuk Daisy. Semoga dia mengerti.
Masalah kedua orang tuaku. Apa yang dikatakan Zion benar. Orang tuaku tidak akan pernah menerima Daisy dengan penuh cinta. Karena sejak awal yang mereka cari adalah harta dan tahta. Mereka sedang dalam tahap mencarikanku jodoh. Aku tidak akan goyah. Aku sudah menyimpan nama Daisy di dalam hatiku. Jika aku tidak berjodoh, aku akan memilih sendiri sampai tua.
Salam sahabatmu Foster."
Abio meremas surat itu sebelum menunduk dalam. Rasanya dia masih belum siap berpisah dari Foster. Baru Foster sahabat yang cocok dengan karakter Abio. Tidak banyak aturan dan selalu bis menolong ketika dia dalam bahaya. Bahkan Abio bisa kenal Diana saja karena dia berteman dengan Foster. Diana itu sepupu Foster. Wanita cantik yang baik hati.
"Sekarang aku lebih baik fokus saja dengan Livy. Aku juga tidak mau larut dalam kesedihan. Aku hanya bisa berdoa semoga Foster segera bangkit dan sukses atas kemampuannya sendiri."
Seorang dokter keluar dari ruang tempat Livy di rawat. Pria itu berdiri dan memasukkan surat tadi ke dalam saku lagi.
"Dok, bagaimana keadaan Livy?"
__ADS_1
"Dokter Livy mengkonsumsi obat yang memberikan efek mengantuk dan pusing. Ini hal yang biasa. Nanti setelah efeknya habis, dia juga akan sadar. Saat ini Dokter Livy sedang istirahat. Sebaiknya tidak ada yang mengganggunya."
"Obat apa dok?"
"Untuk obatnya kami belum tahu jelas apa. Karena kandungnya cukup langkah," jawab dokter itu lagi.
"Segera beri tahu saya jika hasil pemeriksaan telah keluar dok."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu." Dokter itu segera pergi. Sedangkan Abio masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan Livy. Dia juga tidak akan mengganggu Livy nantinya.
Di dalam ruangan, Livy masih berbaring dengan bibir yang pucat. Abio merasa sedih. Dia duduk di samping tempat tidur dan memegang tangan Livy. Mengecup tangan itu dengan mata berkaca-kaca.
"Livy sayang ... bangun ya."
"Abio Abio ...."
Abio mengeryitkan dahinya mendengar Livy memanggil namanya. Wajahnya semakin bingung ketika melihat Livy masih dalam keadaan tidur.
"Livy, apa kau sudah bangun?"
"Jangan tinggalkan aku." Buliran air mata menetes di sudut mata Livy. Hal itu membuat perasaan Abio semakin tidak karuan. Dia beranjak dari kursi dan mendekati wajah Livy.
"Livy, aku di sini. Aku tidak akan pergi. Bangunlah. Lihat aku ada di sini."
Abio kembali ingat dengan pesan dokter. Livy harus istirahat. Tidak boleh di ganggu. Setelah menghapus air mata Livy, Abio memutuskan untuk kembali duduk di kursi. Pria itu mengusap tangan Livy dengan lembut.
"Obat apa yang sudah kau minum hingga kau sampai mengigau seperti ini? Livy, aku tetap di sini menjagamu. Jangan khawatir. Tetapi maafkan aku sebelumnya. Karena terlalu serakah ingin menjagamu, aku tidak menghubungi keluargamu. Bahkan pasukan The Filast saja tidak ada yang tahu kalau kau aku bawa ke rumah sakit."
Grubakk
Suara pintu terbuka membuat Abio kaget. Dia memandang ke sana dan melihat Lukas dan juga Lana berdiri dengan wajah menahan marah. Abio segera menurunkan tangan Livy dan cengengesan. "Baru saja diceritain sekarang sudah muncul. Keluarga mereka benar ajaib," umpat Abio di dalam hati.
"Livy ...." Lana segera berlari mendekati Livy. Wanita itu menangis sedih melihat cucunya berbaring lemah seperti itu. "Apa yang terjadi? Kenapa cucuku sampai sakit seperti ini? Kau benar-benar tidak bisa dipercaya. Sebagai seorang pria, kau seharusnya menjaga cucuku dengan baik. Kau mungkin akan di hajar oleh Oliver ketika dia tahu putrinya sakit seperti ini!" protes Lana kesal.
"Oma, saya juga tidak tahu apa yang menyebabkan Livy seperti ini. Tiba-tiba saja dia tidak sadarkan diri," sahut Abio membela diri.
"Pergi sana. Biar aku yang jaga cucuku!" Lana yang sudah terlanjur kesal terpaksa mengusir Abio. Andai saja pasukan Gold Dragon tidak memberi tahu mereka, mungkin sampai detik ini mereka tidak tahu kalau Livy ada di rumah sakit.
"Baik, Oma." Dengan wajah kecewa, Abio beranjak dari kursi. Dia memandang Lukas sekilas sebelum pergi. Lukas tidak bisa berbuat banyak jika masalah ini sudah ada campur tangan Lana. Dia sendiri juga takut sama istrinya.
__ADS_1