
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi pria berbadan tegap yang berdiri di tengah ruangan. Semua orang yang menyaksikannya memilih untuk menunduk. Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara. Satu persatu dari mereka juga akan mendapat gilirannya.
"Bodoh!" umpat pria bernama Dominic. Pria itu kecewa ketika mendapatkan laporan kalau anak buahnya gagal membawa Faith ke Las Vegas. "Pergi!" Pria itu mencengkram wajah pria yang berdiri di hadapannya dengan penuh emosi. "Pergi cari wanita itu. Jangan pernah kembali sebelum kau berhasil menemukannya."
Dengan kasar Dominic menghempaskan pria itu hingga terjatuh. Ia merapikan lagi penampilannya sebelum melangkah menuju ke arah kursi. Seorang wanita seksi yang berdiri di sana menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas. Wanita itu juga terlihat ketakutan melihat ekspresi bosnya yang mengerikan. Tetapi, ada senyum bahagia di dalam hatinya karena Faith tidak berhasil ditemukan.
"Faith! Sepertinya aku sudah terlalu memanjakannya! Kau harus di hukum. Secepatnya aku pasti akan menemukanmu!" umpat Dominic dengan penuh emosi.
Sejak Faith datang ke rumah mereka. Keadaan rumah ini tidak setenang dulu lagi. Dominic lebih sering marah-marah tidak jelas dan sering juga menyiksa bawahannya. Padahal sebenarnya sumber utama masalah yang terjadi di rumah ini adalah Faith. Tetapi Faith justru selalu berada di posisi yang aman. Andai saja wanita itu menuruti apa yang diinginkan Dominic, maka semua tidak akan sampai seperti ini.
Dominic adalah seorang pengusaha. Dia dikenal sangat dermawan dan sopan. Wajahnya sering muncul di media sebagai donatur tetap sebuah panti asuhan. Setiap kali ada penggalangan dana, dia selalu hadir dalam acara itu. Dominic disegani banyak orang karena sifatnya yang baik.
Siapa sangka kalau seorang Dominic memiliki sisi gelap yang begitu menakutkan. Dia bukan hanya kejam. Tetapi dia rela melakukan apa saja jika ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Bahkan sampai rela membunuh.
Dominic didekati banyak wanita berkelas selama hidupnya. Tidak sedikit wanita yang suka rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk memuaskan hasrat seorang Dominic. Dominic sendiri seperti tidak pernah puas. Ia terus saja bergonta-ganti pasangan tanpa mau memberikan status yang jelas pada pasangan sebelumnya.
Beberapa bulan yang lalu adalah pertemuan pertama antara Dominic dan Faith. Saat itu tanpa sengaja Dominic melihat Faith sedang melayani beberapa pengusaha yang mengunjungi sebuah klub malam. Pakaian Faith yang seksi dan wajahnya yang cantik membuat Dominic tertarik. Dia berpikir kalau Faith sama seperti wanita pada umumnya.
Si penggila harta yang rela melakukan apa saja demi uang. Tidak disangka tawaran Dominic ditolak mentah-mentah oleh Faith. Bukan hanya itu saja. Faith tega menampar Dominic yang saat itu menciumnya secara paksa. Bukan menyerah justru Dominic semakin penasaran. Dia membawa Faith ke rumah mewahnya yang ada di Las Vegas. Dia merasa yakin kalau tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari Las Vegas tanpa izin darinya.
Dominic memberikan fasilitas mewah kepada Faith. Berharap wanita itu akan luluh dan mau menjadi kekasihnya. Prinsip yang dimiliki Dominic ialah dia tidak mau bercinta jika wanita yang ia inginkan tidak bersedia. Prinsip Dominic membuat Faith selamat. Selama dia tinggal di sana, dia tidak pernah di siksa maupun dikasarin. Dia diperlakukan layaknya seorang ratu di rumah itu.
Tetapi, semua tidak semulus yang dibayangkan. Seorang wanita yang sejak dulu tergila-gila dengan Dominic merasa sakit hati melihat keistimewaan hidup Faith selama ini. Wanita itu pura-pura baik di depan Faith dan membantunya untuk kabur dari rumah. Dia juga yang menyuruh orang untuk membunuh Faith.
"Bos, anda lelah?" Wanita seksi itu mendekati Dominic. Dia memijat pundak Dominic dengan penuh godaan. Dominic yang masih emosi merasa risih. Pria itu memegang tangan wanita tersebut dan mendorongnya ke depan. Ada senyum kecil di sudut bibir Dominic yang membuat wanita itu ketakutan.
"Buka bajumu!" perintah Dominic.
Wanita itu memandang sekelilingnya. Ada banyak pria di sana. Wanita itu malu. Mungkin jika harus melayani Dominic dia akan rela. Tetapi jika harus memperlihatkan tubuhnya di depan pria-pria itu, dia tidak rela.
"CEPAT!" teriak Dominic emosi. Dia bahkan melempar gelas yang sempat ada di genggamannya. "Oh, aku tahu. Sepertinya kau suka cara kasar ya."
"Bos, tolong jangan paksa saya untuk melakukan semua ini. Saya malu!" lirih wanita itu sambil menangis. Dia menunduk dengan kaki di tekuk berharap Dominic mau mengasihaninya.
"Cepat lakukan atau aku akan membunuhmu!" Dominic mengambil senjata api yang tergeletak di meja. Pria itu ingin menembak pelayan wanita yang ada di hadapannya. Dia tidak suka dibantah. Apapun perintahnya harus dilaksanakan. Sedikit saja membantah, maka tidak akan ada ampun lagi.
__ADS_1
Sambil menangis wanita itu melucuti satu persatu pakaian yang ia kenakan. Beberapa pria yang ada di sana terlihat menghina wanita itu.
Mereka tahu kalau pelayan yang bekerja di rumah itu sudah tidak ada yang suci. Semua sudah menjadi bekas para bawahan Dominic yang rakus akan ****.
Dominic beranjak dari kursi yang ia duduki. Sebelum wanita itu benar-benar menanggalkan semua pakaiannya, Dominic lebih dulu menembaknya hingga tewas.
Semua orang yang ada di sana syok bukan main. Entah apa yang diinginkan bos mereka. Entah bagaimana caranya agar Dominic bisa lebih tenang dan tidak suka marah-marah seperti sekarang.
"Urus wanita ini! Aku tidak mau melihatnya lagi!" Dominic memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Beberapa pria maju untuk menguburkan pelayan wanita tersebut. Sisanya memilih untuk pergi dan menjaga Dominic agar tetap aman.
Dominic menahan langkah kakinya ketika dia melihat kamar yang pernah ditempati oleh Faith. Pria itu tersenyum lalu masuk ke dalam. Pria yang bersama dengan Dominic terlihat bingung. Mereka tidak ada yang berani masuk karena memang tidak diperbolehkan satu priapun masuk ke kamar Faith kecuali Dominic.
Dominic memperhatikan kamar itu dengan penuh Kerinduan. Aroma tubuh Faith masih tercium dengan jelas. Dominic memejamkan mata dan membayangkan kalau kini Faith ada di hadapannya. Menatapnya dan menyentuhnya dengan penuh cinta.
Namun dalam hitungan detik saja pria itu kembali membuka mata dengan tatapan yang begitu mengerikan. Satu tangannya terkepal kuat hingga memutih. Sebuah kalung yang tergeletak di atas nakas mencuri perhatian Dominic. Pria itu berjalan ke nakas untuk memeriksa kalung tersebut. Di kalung itu terdapat huruf Z yang Dominic sendiri tidak tahu artinya apa. Dia mengambil kalung itu dan memakainya. Dominic memandang pantulan dirinya di depan cermin.
"Aku pasti akan Menemukanmu. Kau tidak bisa jauh-jauh dariku. Hanya Aku pria yang boleh memilikimu," ucapnya penuh dengan kerinduan.
***
Faith Membuka matanya secara perlahan. Pertama kali melihat wajah Zion ada di hadapannya wanita itu kaget bukan main. Dia berangsur mundur hingga duduk bersandar di dinding. Kedua tangannya menutup diri. Dia memandang ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua di tempat itu.
"Perkenalkan namaku Zion Zein," ucap Zion sambil mengulurkan tangannya.
"Apa yang kau inginkan? Kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Faith tanpa mau menyambut uluran tangan Zion. Wanita itu sangat ketakutan hingga dia lebih Waspada.
Zion menarik kembali tangannya. Ini pertama kalinya dia memperkenalkan diri di depan wanita dan pertama kalinya juga ditolak. "Apa yang kau lakukan malam itu. Kenapa kau harus menghalangi mobilku. Bagaimana kalau saat itu kau celaka. Mungkin bukan kau saja yang celaka. Tetapi aku juga akan celaka. Perbuatanmu malam itu bukan hanya merugikan dirimu sendiri tetapi merugikan orang lain juga."
Faith kembali mengingat kejadian sebelum dia tidak sadarkan diri. Wanita itu merasa ketakutan setiap kali dia membayang Las Vegas. "Aku butuh pertolongan malam itu. Maafkan aku karena sudah menyusaimu. Aku akan segera membayarnya.
"Apa Kau pikir aku butuh uang?" jawab Zion tidak suka.
Faith Memandang wajah Zion dengan tatapan Waspada. Dia memeluk tubuhnya sendiri. "Aku tidak akan menyerahkan tubuhku atas alasan apapun. Aku rela mati daripada harus kehilangan kehormatanku," lirih Faith dengan wajah ketakutan.
Jawaban Faith membuat Zion semakin bingung. Dia bukan pria yang seperti itu. Tetapi kini justru ada wanita yang berpikir kalau dia adalah pria yang jahat dan memiliki hati yang kotor.
"Nona, Sepertinya anda telah salah menilai orang lain. Saya tidak seperti yang anda pikirkan. Sedikitpun Tidak ada niat di hati saya untuk melukai anda. Niat saya sejak awal hanya untuk menolong."
__ADS_1
"Terima kasih jika memang Anda berniat untuk menolong saya." Faith kembali ingat perkataan suster yang mengatakan kalau pria yang menolongnya rela mendonorkan darahnya.
"Sebaiknya anda kembali istirahat karena kondisi Anda belum benar-benar pulih," ucap Zion. Dia tidak mau Faith sakti lagi.
"Ada satu hal penting yang ingin aku tanyakan. Aku minta kau jawab dengan jujur."
"Baiklah," jawab Zion tidak keberatan.
"Apa benar kau telah mendonorkan darahmu untuk menyelamatkan nyawaku. Jika memang benar kenapa kau mau melakukannya. Aku ini hanya wanita miskin yang tidak punya apa-apa. Aku tidak bisa membalas kebaikanmu. Aku sendiri tidak tahu ke mana harus melangkah setelah ini. Hanya ucapan terima kasih yang bisa aku berikan. Selebihnya aku tidak sanggup."
"Saya tidak menuntut apa-apa dari anda. Melihat anda kembali sehat saja sudah lebih dari cukup. Boleh saya tahu, di mana anda tinggal selama ini?"
Faith terlihat kebingungan menjawab pertanyaan Zion. Dalam hitungan detik saja kedua matanya berkaca-kaca. Dia seperti tidak sanggup menceritakan kisah kehidupannya sendiri.
"Aku tidak memiliki rumah sekarang. Setelah kedua orang tuaku tiada. Aku sudah terbiasa hidup sendiri."
"Apakah rumahmu di sekitar sini? Aku akan mengantarkanmu pulang ke rumah."
Zion tahu kalau rumah Faith ada di San Diego. Namun Zion ingin mendengar langsung jawaban dari Faith.
"Aku tinggal di San Diego. Aku di culik oleh pria gila dan di bawa ke Las Vegas. Lalu aku kabur dari sana. Hingga akhirnya aku tiba di sini. Aku bahkan tidak tahu dimana sekarang aku berada," jawab Faith tanpa ada yang mau dia tutupin.
Mendengar nama San Diego membuat Zion semakin percaya kalau wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang pernah ia temui 10 tahun yang lalu. Walau penampilannya berbeda. Tetapi gaya bicaranya tetap sama.
"Faith, apa kau memiliki kekasih? Maksudku, apakah kau memiliki seseorang yang sangat dekat denganmu?"
"Aku hanya sebatang kara. Aku tidak memiliki keluarga lagi. Bahkan teman aku tidak punya." Faith memandang ke arah lain. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Apa kau pernah bertemu dengan seorang pria lalu kau berjanji untuk menunggunya sampai kembali lagi?" tanya Zion lagi.
Faith tertawa geli mendengarnya. Hal itu membuat Zion bingung.
"Kenapa kau tertawa?"
"Kau ini pria yang aneh. Untuk apa aku menunggu seorang pria? Hei, sini aku beri tahu. Pria itu tidak ada yang bisa dipercaya. Dipikiran mereka hanya tentang hidup mereka saja. Mereka tidak benar-benar menyayangi wanita yang mereka cintai. Berbeda dengan wanita yang selalu menjaga cintanya dengan baik walau pria nya sudah tidak tertarik lagi."
Zion hanya diam saja. Dari jawaban Faith dia ingin menyimpulkan kalau wanita itu tidak kenal dengan dirinya lagi.
__ADS_1
"Oh ya, aku ingin memperkenalkan namaku." Kali ini Faith yang mengulurkan tangannya lebih dulu. "Namaku Faith. Siapa tadi namamu?"
Zion membalas uluran tangannya. "Zion Zein!" jawabnya dengan tatapan penuh arti. Dia ingin Faith segera mengingat kenangan yang pernah terjadi di antara mereka.