Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 154


__ADS_3

Foster memberhentikan mobilnya di parkiran rumah sakit. Pria itu yang kini mengantarkan Daisy untuk menjenguk Livy dan Abio. Tetapi semua orang berpikir kalau Daisy di jemput oleh pengawal. Tadi Opa Zen sendiri yang bilang kalau Daisy sudah dalam perjalanan dan dia dalam kondisi aman. Hal itu yang membuat Zion mengurungkan niatnya untuk menjemput Daisy di Universitas Yale.


"Aku tidak mungkin turun. Ini bisa jadi masalah besar," ucap Foster. Pria itu memandang Daisy yang saat itu duduk termenung sambil memandang ke depan.


"Tapi aku jadi takut." Daisy memandang Foster. "Kak Foster yakin mau tetap menjadi pacarku. Kak Foster pasti tahu sendiri, kalau keluarga kami selalu dihampiri masalah. Aku ... Aku tidak berani jamin kalau hidup Kak Foster akan tenang setelah Kak Foster memutuskan untuk bersamaku."


Foster mengambil tangan Daisy lalu mengusapnya dengan lembut. "Sekali aku memutuskan untuk serius, maka aku akan tetap mempertahankan yang aku putuskan. Tidak peduli betapa sakitnya resiko yang nanti akan aku hadapi. Daisy, jangan pernah khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Soal masalah yang sekarang menimpa keluargamu, bukannya aku tidak mau membantu. Tetapi aku tidak mau memperkeruh keadaan. Aku harap kau mengerti."


"Aku juga akan melarang Kak Foster jika Kak Foster memutuskan untuk-" Daisy tidak melanjutkan kalimatnya. Wanita itu melihat dua orang mencurigakan yang mengendap-endap di lapangan parkir. "Bukankah itu mobil Kak Norah. Untuk apa pria itu ada di mobil Kak Norah," tunjuk Daisy ke depan.


Foster juga memandang ke depan. Pria itu membawa Daisy untuk menunduk. Foster tidak mau orang yang tidak dikenali itu mengetahui keberadaan mereka.


"Apa yang ingin mereka lakukan Kak?" bisik Daisy Dengan suara yang begitu pelan.


"Aku juga tahu. Biar aku yang memeriksanya. Kau tetap dalam posisi seperti ini agar kita tidak ketahuan." Daisy hanya menjawab dengan anggukan saja. Secara perlahan Foster mengangkat kepalanya untuk mengintip. Dari posisi itu dia bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan oleh pria misterius tersebut. Mereka masuk ke bawah mobil seperti sedang merencanakan sesuatu. Detik itu Foster tahu kalau mobil calon kakak iparnya disabotase oleh seseorang.


"Aku yakin, mereka memiliki niat jahat terhadap Norah."


"Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Kita biarkan saja dulu sampai mereka selesai melakukan tugas mereka. Setelah itu kita akan cegah Norah untuk naik mobil ini."


Tidak lama setelah itu mereka segera berlari meninggalkan mobil Norah. Dari ujung sana terlihat Norah dan Austin baru saja keluar dari gedung rumah sakit. Lagi-lagi mereka berdua terlihat sangat mesra. Sesekali Norah merengek manja agar mendapat perhatian dari Austin. Mereka sampai-sampai tidak peduli ada seseorang yang kini sedang mengamati mereka dari kejauhan.


"Kak, itu Kak Norah sudah keluar. Aku harus segera menyampaikan apa yang terjadi." Tanpa menunggu jawaban dari Foster, Daisy segera keluar dari mobil. Bahkan wanita itu tidak sempat berkata lagi kalau sebenarnya Norah sudah mengetahui hubungan mereka. Foster yang terlihat dilema memilih untuk menunggu di dalam mobil saja. Ia juga tidak mau sampai identitasnya ketahuan dan ini membuat hubungannya dengan Daisy menjadi renggang. Pria itu akan mengamati mereka semua dari kejauhan.


"Kak Norah," teriak Daisy sambil berlari.


Norah yang saat itu sedang tertawa bersama Austin kembali serius. Dia mengernyitkan dahinya melihat dahi berlari menuju ke arahnya.


"Daisy, sejak kapan kau ada di sini. Kakak pikir kau akan datang besok pagi. Ini sudah malam sekali."


"Maafkan aku karena aku tidak memberi tahu Kakak kalau aku sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit."


"Kau datang dengan siapa. Apa benar pengawal Opa Zen yang sudah menjemputmu?" Norah mencari-cari mobil yang digunakan Daisy untuk sampai di rumah sakit. Tadi karena terlalu asik bercanda dengan Austin sampai-sampai wanita itu tidak tahu adiknya keluar dari mobil yang mana.


"Sekarang bukan itu masalah terpentingnya. Tadi sebelum turun dari mobil aku melihat dua orang pria mengendap-endap mendekati mobil kakak. Mereka masuk ke bawah mobil lalu entah apalagi yang sedang mereka lakukan. Aku yakin mereka pasti sedang merencanakan sesuatu." Daisy menceritakannya dengan begitu serius.


Mendengar penjelasan dari Daisy membuat Austin terlihat khawatir. Pria itu segera berlari menuju ke arah mobil untuk memeriksanya sendiri. Norah yang memandang kepergian Austin segera berlari juga. Sebelum berlari ia sempat memperingati adiknya. "Tetap di sini dan segera hubungi papa dan mama."


"Baik," jawab Daisy cepat. Wanita itu segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menekan nomor orang tuanya.

__ADS_1


Austin berhenti di depan mobil lalu segera masuk ke bawah kolong. Pria itu memeriksa ke bawah sana. Kedua matanya melebar melihat bom melekat di dekat ban mobil. Itu jenis bom yang unik. Bom akan mulai bekerja jika terkena gesekan dari ban lalu akan segera meledak jika mobil berhenti. Austin kenal betul jenis bom seperti ini.


"Sial! Sepertinya dia benar-benar ingin kami semua mati!" umpat Austin kesal.


"Austin, apa kau menemukan sesuatu?" tanya Norah sambil berjongkok di samping mobil. Wanita itu berusaha memandang wajah kekasihnya dan melihat apa yang terjadi di bawah sana.


"Ya. Aku akan membawanya kepadamu."


Austin segera mengeluarkan belatih kecil yang selalu dia simpan. Dengan sangat hati-hati pria itu melepaskan bomnya agar tidak sampai meledak.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Norah penasaran.


"Mereka meletakkan bom di bawah mobilmu."


"Apa? Bom?" pekik Norah dengan wajah kaget.


"Menjauh dari mobil ini. Jika aku sampai gagal melepaskannya kau bisa ikut meledak bersamaku," ucap Austin sambil tetap fokus dengan bom yang sudah ada di genggaman tangannya.


"Austin, apa yang kau katakan? Jika kau mati aku juga ikut mati. Aku tidak mau berpisah denganmu."


Austin tidak mau menjawab lagi. Ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


"Kakak, awas!"


Seorang pria bersenjata api sudah menodongkan senjatanya di sana. Austin yang belum selesai dengan tugasnya terus saja mengumpat di dalam hati. "Bisa-bisanya mereka menyerang wanitaku ketika aku sedang sibuk!"


Saat itu Foster tidak bisa diam saja di dalam mobil. Pria itu mengambil senjata apinya lalu keluar untuk menyelamatkan nyawa calon kakak iparnya.


"Ternyata kau muncul dengan sendirinya. Tadinya aku ingin mencari orang yang sudah berani memasang bom di bawah mobilku," ucap Norah masih dengan senjata api di genggaman tangannya. Tatapannya begitu berani dan menantang.


"Kau sudah ditakdirkan untuk mati hari ini. Apapun cara yang akan kau lakukan hanya sia-sia saja."


"Benarkah? Aku lebih percaya dengan kata-kata pembantu di rumahku daripada perkataanmu," ledek Norah dengan senyum kecil di bibirnya.


"Nyawa anda sudah ada di genggaman tangan kami, Nona. Meminta maaf juga bukan hal yang tepat. Bom yang ada di tangan kekasih anda sekarang juga sudah kami buat agar meledak otomatis setelah 10 menit. Itu berarti jika dalam 10 menit kita masih ada di sini maka kita semua akan mati bersama-sama." Satu pria lagi muncul di belakang Norah. Kali ini wanita itu di kepung. Tapi, dia sama sekali tidak panik. Norah masih bisa menghadapi dua pria bersenjata itu sekaligus. Yang sekarang dia pikirkan, bagaimana dengan Austin di bawah sana. Berhasil atau tidak pria itu menjinakkan bomnya. Kenapa bisa lama sekali?


"Kalau sekarang dua lawan dua. Bukankah jumlahnya sangat seimbang?" ujar Foster dengan senjata api di tangannya.


Norah memandang wajah Foster lalu tersenyum. "Sepertinya sekarang adikku pintar berbohong," gumamnya di dalam hati sambil melirik Daisy yang masih dalam posisi aman.


Di kejauhan sana, Daisy terus saja menekan nomor Leona dan juga Jordan. Namun tidak ada satu panggilan pun yang di angkat. Daisy yang khawatir memutuskan untuk masuk ke dalam rumah sakit dan menemui mereka secara langsung.

__ADS_1


Ketika pria yang ada di hadapannya lengah karena memandang Foster, saat itu Norah memanfaatkan kesempatan yang ada. Wanita itu memutar tubuhnya lalu menendang tangan pria bersenjata tersebut sambil mengarahkan senjata apinya ke arah lawan yang berdiri di belakangnya.


DUARR DUARR


Dua tembakan berhasil ia lepas dan menewaskan dua pria yang tadi berdiri di belakangnya. Sekarang tersisa satu orang tanpa senjata. Pria itu menjadi tugas Foster. Ini merupakan pertarungan yang sangat mudah bagi Norah. Wanita itu berdiri memandang Foster yang kini sedang bertarung dengan pria tanpa senjata tadi. Karena tidak mau menjadi penonton sebuah pertarungan wanita itu kembali berjongkok dan memeriksa keadaan tunangannya di bawah mobil. Kedua matanya melebar ketika dia melihat Austin tidak ada di bawah mobil lagi.


"Kemana dia?" Norah segera berdiri lagi dan mencari ke segala arah. Bayangan seorang pria berlari terlihat sebelum menghilang di ujung jalan sana. Karena pria yang tersisa tadi sudah menjadi tugas Foster sekarang Norah ingin mengejar Austin. Dia ingin memastikan pria itu baik-baik saja.


Sambil berlari Austin terus berusaha untuk mematikan bom itu. Seperti apa yang dikatakan oleh pria tadi, kalaupun bom itu berhasil dilepas, tetapi dia akan tetap aktif. Meskipun sekarang waktunya belum ada 10 menit. Yang membuat Austin panik bom itu hanya memiliki waktu 3 menit saja sebelum meledak. Jika tadi Austin bertahan di sana, maka mereka semua akan benar-benar tewas mengenaskan.


"Mati kau mati kau mati kau!" umpat Austin sambil menekan-nekan tombol yang biasa ia gunakan untuk mematikan bom.


Austin berhenti di pinggiran gedung. Pria itu tidak mungkin melempar bomnya ke bawah sana karena ada banyak sekali pengendara mobil yang melintas. Bisa saja salah satu dari pengendara mobil itu adalah kerabat dekat mereka. Tapi membiarkan bom itu meledak di atas gedung juga beresiko besar. Austin tidak tahu seberapa besar daya ledakan bom tersebut. Bagaimana kalau ledakan bom itu besar dan bisa meratakan rumah sakit yang sekarang mereka kunjungi.


"Austin, apa yang kau lakukan?" teriak Norah dari kejauhan.


Austin memandang Norah lalu menggeleng. "Berhenti di sana. Jangan mendekat karena ini sangat berbahaya. Aku masih mengusahakan agar Bom ini tidak sampai meledak. Biasanya sangat mudah untuk menjinakkan bom seperti ini. Kenapa sekarang sangat sulit sekali. Pembuat bom ini benar-benar cerdas. Dia membuat bom yang sudah pasti meledak dan tidak bisa dijinakkan oleh siapapun. Bahkan aku sangat yakin pembuatnya sendiri juga tidak akan mampu untuk menjinakkannya."


"Lalu kau ingin meledak bersama dengan bom itu?"


"Berhenti mengajakku bicara karena itu hanya akan membuat konsentrasiku menjadi hilang," protes Austin. Pria itu kembali fokus untuk menjinakkan bom yang hanya tersisa waktu 100 detik lagi.


Norah berhenti di depan Austin. Melihat Austin sibuk, wanita itu justru berjongkok di depan Austin dan memandang wajah Austin dengan penuh cinta.


"Kenapa tidak dilemparkan saja?"


"Kemana?" Austin memandang ke arah Norah. "Kita tidak bisa mengorbankan orang lain demi menyelamatkan nyawa kita sendiri. Karena kedepannya kita akan mengalami kondisi seperti itu." Austin kali ini benar-benar serius sampai tidak bisa bisa di ajak bercanda lagi.


"Berapa waktu yang tersisa?" tanya Norah.


"Satu menit."


Norah tiba-tiba saja merebut bom itu dari genggaman tangan Austin di saat Austin tidak benar-benar kencang memegangnya. Austin berdiri dengan wajah marah. Belum sempat dia berbicara Norah sudah berlari ke ujung gedung. Entah apa yang ingin dilakukan oleh wanita itu.


"Aku bisa menjaga diriku dengan baik. Percayakan semuanya padaku!" teriak Norah. Wanita itu mengeluarkan tali dan melompat ke gedung lainnya yang lebih tinggi. Gerakannya yang sangat cepat membuat Austin tidak mampu mengejarnya. Dari atas gedung rumah sakit, Austin hanya mengumpat sejadi-jadinya.


"Ternyata memiliki tunangan yang jago bertarung tidak selamanya menguntungkan. Sekarang tingkah lakunya sudah membuat jantungku hampir lepas!" umpat Austin di dalam hati.


Norah terus berpindah dari gedung satu ke gedung lainnya layaknya seorang spider-man. Wanita itu seperti sudah terlatih melompat dengan menggunakan tali. Bom itu masih ada di genggaman tangannya. Dia memegangnya dengan kuat dan memastikan bom itu tidak sampai terlepas. Setelah berhasil tiba di gedung yang paling tinggi, detik waktu yang ia miliki hanya tersisa 20 detik lagi. Wanita itu memandang ke belakang dan melihat Austin yang masih berdiri di sana. Meskipun Wajah pria itu sudah tidak jelas tapi Norah yakin kini tunangannya pasti memasang wajah yang begitu kecewa kepadanya. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan perasaan Austin. Karena nyawa mereka jauh lebih berarti dibandingkan apapun.


Norah mengikat bom itu di tali yang tadi ia gunakan untuk melompat. Setelah memastikan bom itu terikat dengan kuat Norah segera memutar-mutar tali itu dengan kencang sebelum melemparnya dengan sekuat tenaga. Ketika bom itu melayang tinggi, Norah segera tiarap dan mencari posisi yang tepat untuk berlindung. Bersamaan dengan itu bom tersebut meledak di udara. Ledaknya lumayan dahsyat hingga berhasil membuat Austin berteriak histeris dari kejauhan sana.

__ADS_1


"Norah!!!"


__ADS_2