Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 159


__ADS_3

Setelah memotong salah satu kabel yang ada pada bom tersebut, Zeroun telah berhasil menjinakkan bom yang akan mencelakai mereka. Tersisa waktu hanya hitungan detik dan Zeroun berhasil di detik-detik terakhir. Tentu saja hal ini membuat lega semua orang. Kenzo yang sejak tadi rasanya sudah ingin membuang bom itu kini masih bisa duduk dengan tenang.


"Sebenarnya musuh kita ini memang anak kecil. Tapi dia cerdas. Dia bisa tahu kelemahan keluarga kita. Luar biasa bukan? Jika bertemu dengannya aku ingin minta tanda tangan!" ujar Kenzo karena terlalu geram. "Berani sekali dia mengusik cucuku."


"Jika dia ada di hadapanku, aku akan langsung ratakan mukanya dengan tanah," sahut Shabira yang tidak kalah geram dari Kenzo.


"Sayang, kau tidak bisa melakukannya. Jalan sedikit saja sekarang sudah mengeluh capek," ledek Kenzo.


"Setidaknya aku masih memiliki kekuatan untuk membalas musuhku!" Shabira masih membela diri.


"Bagaimana keadaan Abio? Maafkan aku karena tidak bisa menjaga cucu kalian dengan baik." Zeroun meletakkan bom itu di atas meja beserta bonekanya. Sedangkan Oliver segera mengutip boneka itu lalu membawanya keluar untuk dibuang.


"Kami tidak bisa menyalahkan siapapun untuk saat ini," jawab Kenzo pasrah.


"Tapi Alana terlihat tidak terima setelah dia tahu kalau orang yang sudah membuat Abio celaka adalah wanita yang disukai oleh Zion. Dia terus marah-marah tidak jelas bahkan ingin bertemu dengan wanita itu. Aku sampai tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya. Sharin dan Biao saja sampai menyerah. Mereka kehabisan cara untuk menenangkan Alana."


"Bagaimana dengan Kwan? Dia tidak bisa membujuk Alana?" tanya Zeroun dengan eskpresi yang serius.


"Kau sendiri pasti tahu kalau semua pria yang ada di dalam keturunan kita takut dengan istri. Jadi jangan tanya lagi apa yang dilakukan oleh Kwan. Jelas saja dia hanya diam sambil menonton Alana marah-marah tanpa tahu harus berbuat apa."


"Sebenarnya aku sepemikiran dengan Alana. Awalnya aku tidak pernah mempermasalahkan jodoh cucu-cucuku. Tapi melihat wanita itu aku merasa curiga. Bukan karena dia memiliki niat jahat. Tetapi karena dia tidak cinta dengan Zion. Zion mati-matian memperjuangkannya agar tetap aman. Tetapi dia terus saja mencari cara untuk memberikan celah kepada Dominic agar bisa menyerang kita. Contohnya saja tadi malam. Dia Hampir saja menghubungi Dominic yang ada di Las Vegas dengan telepon yang ada di markas Gold Dragon. Jika saja penjaga tidak mengetahuinya bisa-bisa keberadaan markas rahasia Zion ketahuan. Wanita itu bertindak tanpa berpikir dahulu. Dia wanita yang sangat ceroboh. Bahkan lebih parah dari Daisy." Zeroun memijat dahinya secara pelan.


"Tiba-tiba saja Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin berbicara langsung dengannya. Aku ingin bertanya Sebenarnya dia cinta atau tidak dengan Zion. Jika tidak ya sudah kita pulangkan saja Dia ke Las Vegas. Untuk apa kita mempertahankan dia lagi ada di sini," ujar Katterine memberi solusi.


"Tidak semudah itu. Karena Zion sudah tergila-gila padanya. Zion pasti akan marah jika kita membiarkan wanita itu kembali ke Las Vegas. Yang harus kita lakukan untuk saat ini adalah menunggu kabar dari Lukas. Aku harap mereka bisa memberi kita kabar baik." Zeroun memandang Livy. "Dan semua cucuku yang ada di rumah sakit bisa kembali pulih."

__ADS_1


...***...


"Daisy, kenapa kau murung seperti itu? Ada apa?" tanya Leona. Wanita itu segera menyambut Daisy dan memeluknya. Meskipun mereka baru saja bertemu, tetap saja Leona selalu ingin memeluk anak paling kecilnya tersebut.


"Daisy, hampir saja mencelakai semua orang, Ma. Daisy benar-benar bodoh." Daisy terlihat sangat sedih dan terus saja menyalahkan dirinya.


"Kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri, Sayang. Apa yang sebenarnya terjadi? Cepat Ceritakan sama mama."


"Tadi ada anak kecil memberikan sebuah boneka kepadaku. Sebenarnya dia tidak memberikan boneka itu hanya menitipkannya sebentar saja. Tetapi setelah diselidiki ternyata di dalam boneka itu ada bomnya. Aku benar-benar bodoh bisa semudah itu ditipu. Saat aku dan Oma Lana datang ke ruangan yang dikatakan anak kecil itu, ternyata di dalam ruangan itu kosong. Belum ada pasien di dalamnya. Sepertinya anak kecil itu memang disuruh oleh seseorang untuk mencelakai keluarga kita. Kalau saja tadi Paman Oliver tidak tahu kalau di dalam boneka itu ada bomnya maka kami semua akan celaka. Bahkan mungkin semua orang yang ada di rumah sakit ini bisa celaka," ucap Daisy dengan penuh kejelasan.


"Sayang, itu benar-benar berbahaya. Lain kali Jangan mudah percaya sama orang. Entah itu anak kecil ataupun kakek nenek. Kau tidak dibekali ilmu apapun untuk menghadapi orang jahat. Kau sangat mudah ditipu karena kau terlalu polos. Mama juga tidak bisa menyalahkanmu. Bagaimanapun juga kau tidak ingin hal ini terjadi bukan. Lalu siapa yang sudah menjinakkan bom tersebut. Apa Opa Zen yang melakukannya?"


"Benar Ma. Opa Zen yang sudah menjinakkan bom itu. Opa Zen selalu saja bisa mengatasi masalah yang kita hadapi. Apa jadinya hidup kita jika Opa Zen sudah tidak ada di dunia ini lagi."


"Ma, Apa Kak Norah belum bangun? Di mana Papa? Bukannya Papa tadi ada di ruangan ini bersama mama."


"Papa pulang mengambil baju ganti. Ada beberapa berkas juga yang harus di ambil."


"Sendirian?"


Leona mengangguk. "Semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir. Mama yakin Papa pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Semua orang juga repot hari ini. Papa pasti tidak mau menyusahkan orang lain. Mobil Papa juga dikawal oleh pasukan Gold Dragon. Sebelum berangkat mobil papa juga sudah diperiksa dengan baik. Semoga saja tidak ada masalah lagi."


"Apa Kak Zion sudah memberi kabar?"


"Belum. Tapi kalau dilihat dari waktunya seharusnya mereka sudah tiba di Las Vegas. Semoga saja mereka bisa melakukan misi mereka dengan lancar agar kita bisa hidup dengan tenang lagi."

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan anak kecil tadi. Dia pasti disuruh oleh seseorang untuk memberikan bom itu kepadaku. Itu berarti musuh masih ada di sekitar kita. Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui kalau musuh kita bersembunyi di rumah sakit ini. Bisa saja dia menyamar sebagai dokter atau suster yang merawat Kak Norah, Kak Livy dan juga Kak Abio."


"Itu kenapa Opa Zen meminta penjagaan di setiap kamar karena untuk menghindari hal-hal yang seperti ini. Semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir seperti ini. Jarena terlalu banyak khawatir juga bisa membuatmu sakit."


Daisy bersandar di pundak Leona. "Ma, sebelum Kak Norah menikah dengan Kak Austin maukah Mama liburan?"


"Liburan?"


"Setelah aku sadari Kita sudah lama sekali tidak berkumpul satu keluarga. Ada aku, mama, papa, Kak Norah dan juga Kak Zion. Kita berliburan di suatu tempat dan berkumpul seperti masa-masa kecil kami dulu. Hanya membayangkannya saja sudah membuatku bahagia. Apa Mama mau mengabulkan permintaanku ini?"


"Kak Austin di tinggal?"


Daisy mengangguk. "Kan acara keluarga. Tidak harus jauh Ma. Yang penting kita semua bisa berkumpul sambil menikmati sebuah pemandangan. Opa Zen juga ikut. Apa boleh, Ma? Nanti kalau ada Kak Austin, Kak Norah pikirannya pacaran mulu."


Leona menyelipkan rambut Daisy di balik telinga. "Boleh sayang. Mama akan bicarakan hal ini sama papa setelah Kak Norah kembali sehat."


"Terima kasih, Ma. Aku sayang sama Mama."


"Mama juga sangat menyayangimu, Daisy." Leona dan Daisy saling berpelukan. Mereka sama-sama memandang ke arah Norah. Tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan tangannya. Dengan cepat Leona dan Daisy mendekati Norah.


"Sayang, apa kau sudah sadar?" Leona segera menekan tombol yang tersedia di sana.


"Kak, ini aku," ucap Daisy berharap Norah segera memberi respon.


Perlahan Norah membuka kedua matanya. Wanita itu mengukir senyum indah meskipun masih memakai perban di wajahnya. "Ma, Daisy ... dimana Austin?"

__ADS_1


__ADS_2