Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 244


__ADS_3

Dua minggu telah berhasil dilewati oleh Zion dan Faith tanpa bertemu. Baik Leona maupun Zean sepakat untuk tidak mengizinkan Faith dan Zion bertemu bahkan berkomunikasi sampai hari pernikahan tiba.


Awalnya Zion sangat tidak setuju. Dia tidak mau tersiksa karena menahan rindu. Namun setelah Faith memberi pengertian, akhirnya pria itu mau menurutinya.


Hari ini, waktu yang di nanti-nanti oleh Zion dan Faith akhirnya telah tiba. Rasanya pengorbanan mereka terbayar juga. Zion sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Faith. Ia ingin segera menikahi wanita itu agar bisa bebas memeluknya kapan saja.


"Aku sangat merindukanmu. Aku harap kau juga merasakan hal sama denganku. Faith, rasanya aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu," gumam Zion di dalam hati.


Pria itu berdiri di depan cermin dengan kemeja putih dan sekuntum mawar merah di sakunya. Hari ini Big bos mafia itu terlihat sangat tampan. Wajah pria itu terlihat sangat berseri karena tidak lama lagi dia akan menikah dengan wanita yang sangat ia cintai. Setelah ini, tidak ada batasan apapun antara dirinya dan Faith. Wanita itu seutuhnya menjadi milik Zion!


Seorang wanita yang sejak tadi membantu Zion bersiap, terlihat sangat kagum dengan ketampanan Zion pagi ini. Meskipun begitu, mereka tidak berani untuk memandang Zion terlalu lama.


“Sudah lama mama menginginkanku menikah. Tetapi aku terus saja menghindari tawaran mama. Bersama Gold Dragon aku tidak kekurangan apapun. Hingga akhirnya aku melupakan kodratku sebagai seorang manusia. Melihat begitu banyaknya wanita yang menggoda, tidak pernah membuat hatiku tergoda. Tetapi berbeda dengan Faith. Memang dia wanita yang unik. Aku sampai dibuat gila olehnya. Bahkan sejak pertama kali kami bertemu dulu. Dia wanita yang spesial," gumam Zion lagi.


"Pertemuanku dengannya membuat sebuah rasa yang tidak biasa. Tadinya aku pikir setelah aku jatuh cinta padanya, semua akan berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tidak ku sangka kalau banyak sekali halangan yang membuat kami hampir saja berpisah. Bahkan aku sempat berpikir kalau mungkin kami tidak berjodoh. Namun semua itu sudah berhasil kami lalui. Pada akhirnya semua pengorbanan itu terbayarkan. Hari ini aku akan menikah dengannya,” ucap Zion.


Karena terlalu bahagia sampai-sampai pria itu tidak bisa menghilangkan senyum di bibirnya. Terlalu indah untuk di pandang hingga membuat Daisy yang saat itu ada di sana juga ikut tersenyum.


"Bukan hanya kakak saja yang merasa beruntung karena sudah memiliki Kak Faith. Tetapi Kak Faith juga pasti merasakan hal yang sama," sahut Daisy. "Wanita mana yang tidak ingin mendapatkan suami sehebat kakak. Aku yakin kalau kakak ini tipe pria yang setia. Kakak memperlakukan wanita yang kakak cintai dengan begitu baik. Hal itulah yang membuat kami sebagai adik juga bertemu dengan laki-laki yang baik." Daisy memandang Zion melalui cermin.


"Tidak, Daisy. Hanya aku yang beruntung." Zion kembali memandang pantulan wajahnya di cermin.


"Faith mau membuka hatinya untuk pria brandal sepertiku. Wanita mana yang siap melihat suaminya bertarung mempertaruhkan nyawanya di luar sana. Kehidupan kita tidak sama dengan manusia normal pada umumnya. Akan ada banyak sekali kejadian tidak terduga yang nantinya akan kita temui. Tetapi Faith justru siap untuk menerimanya. Dia mau menjadi istriku meskipun jelas-jelas dia tahu kalau nyawanya akan selalu dipertaruhkan. Dia memang wanita terbaik yang aku kenal dan aku miliki," jawab Zion lagi.


Daisy kembali diam. Wanita itu takut salah bicara dan membuat suasana hati Zion menjadi buruk di acara pernikahannya. "Kak Faith memang bukan istri sempurna. Tetapi, Kak Faith yang sudah membuat hati Kak Zionku yang sekeras batu ini luluh. Terkadang aku merasa aneh. Bagaimana bisa pria yang nyaris sempurna seperti Kak Zion bisa jatuh cinta kepada wanita sederhana seperti Kak Faith. Bukannya Kak Zion bisa saja menemukan wanita yang jauh lebih baik?" gumam Daisy di dalam hati.


Zion melirik jam di pergelangan tangannya. "Dimana Faith? Apa dia sudah siap?" tanya Zion. pria itu tidak mau sampai datang terlambat di pesta pernikahannya sendiri.


Daisy juga melirik jam di tangannya. Wanita itu tersenyum. "Sudah waktunya, kak? Ayo kita temui Kak Faith. Sekarang aku minta Kak Zion untuk tersenyum manis." Daisy menarik sudut bibir. wanita itu mengajari kakak kandungnya bagaimana caranya agar tersenyum manis di depan semua orang. "Nah, iya benar. Seperti ini. Tetap pertahankan senyuman manis seperti ini agar Kak Zion terlihat tampan."


"Ayo kita pergi. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan wanita yang setengah jam lagi menjadi istriku!" ajak Zion tidak sabar.


"Ayo kita temui kakak iparku," ujar Daisy penuh semangat. Wanita itu merangkul lengan Zion dan akan mengantarkan Zion ke tempat pernikahan sebelum akhirnya nanti ia bergabung dengan keluarga lainnya.


Zion memutar tubuhnya dan melangkah menuju ke pintu. Pria itu terlihat sangat bersemangat untuk menikahi Faith dan menjadikan wanita itu miliknya seutuhnya.


"Faith, Tunggu aku. Sebentar lagi kita akan resmi menjadi suami istri," batin Zion.


Di sisi lain, Faith duduk di depan cermin dengan riasan yang sangat cantik. Ada Norah yang bertugas untuk menemani Faith selama wanita itu berias. Ketika seorang wanita merias wajah cantik Faith, Norah hanya duduk sambil tersenyum.

__ADS_1


Leona sengaja memberi putrinya tugas. Daisy menemani Zion dan Norah menemani Faith. Jika ada yang berniat jahat dengan Faith, sudah ada Norah di sana. Berbeda dengan Zion yang hanya membutuhkan teman cerita bukan pengawal lagi.


Faith yang terlalu bahagia justru rasanya ingin menangis. Namun, wanita itu tidak mau sampai make up nya rusak. Dia ingin tampil sempurna di pernikahannya nanti.


"Kak Faith, apakah bisa untuk tidak menangis lagi? Lihatlah wanita ini. Dia kesulitan merias wajah Kak Faith jika Kak Faith terus saja meneteskan air mata," protes Norah.


"Ini air mata bahagia, Norah," jawab Faith. Wanita itu mengambil tisu dan mengeringkan air mata yang kembali menetes ketika dia mengedipkan mata. "Aku sendiri tidak bisa mengendalikannya. Air mata ini tiba-tiba saja menetes dan membasahi wajahku. Padahal jelas-jelas hatiku sedang bahagia. Tetapi entah kenapa air mata justru menetes tanpa henti."


"Kak Faith, kita sudah satu jam seperti ini terus. Apa yang Kak Faith pikirkan? Apa benar Kakak ipar menangis karena bahagia? Atau jangan-jangan Kak Faith menangis karena tidak rela untuk menikah dengan Kak Zion," tebal Norah asal saja.


"Norah, kenapa kau bicara seperti itu!" protes Faith. Selama dua minggu ini Norah terus saja mendampingi Faith. Hal itu yang membuat mereka semakin akrab. Bahkan kini candaan mereka sudah seperti kakak adik pada umumnya. Faith tidak lagi tersinggung dengan perkataan yang terucap dari mulut Norah. Begitupun sebaliknya.


"Kakakmu itu ternyata sangat romantis. Sampai-sampai aku terharu. Kau tahu apa yang sudah dia lakukan pagi ini? Dia meminta pelayan untuk mengirimkan roti ke kamarku. Lalu menuliskan sebuah surat di sana. Aku terus saja memikirkan perkataannya di surat tadi. Itu sangat romantis. Aku sendiri masih tidak menyangka kalau Zion lah yang sudah menulis kalimat demi kalimat yang ada di dalam kertas tersebut."


Norah menghela napas dengan kasar. Jangankan Faith, bahkan Norah sendiri saja yang sudah bertahun-tahun tinggal bersama Zion sama sekali tidak menyangka kalau Zion bisa berubah sebucin itu ketika sudah jatuh cinta kepada Faith.


"Ya, Kakak memang hebat. Kakak bisa mengubah Kak Zion menjadi pria yang jauh lebih berperasaan."


"Kau mau membacanya?" Tiba-tiba saja Faith memberikan selembar surat yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Norah segera menerima surat tersebut dan membaca. Selang beberapa menit kemudian justru Norah juga ikut menangis. Bahkan wanita itu sampai memukul pundak Faith.


"Apa ini tulisan Kak Zion? Dia dapat inspirasi dari mana hingga bisa menulis kalimat seromantis ini? Kak Faith benar-benar beruntung. Bahkan Austin saja kalah dibuat Kak Zion. Hmm, ini sungguh so sweet. Apa benar kalau Bos Mafia Gold Dragon itu yang menulis semua ini?"


Faith mengangguk cepat. "Bukankah itu sangat manis? Aku yakin dia merangkai kata itu selama dua minggu ini. Dia menuangkan semua kerinduan yang sempat ia mendung di dalam surat itu."


Wanita yang merias Faith kembali merapikan alat-alat make upnya setelah ia menyelesaikan tugasnya. Hal itu memberi kesempatan kepada Faith untuk berdiri. Wanita itu merasa lelah karena sudah berjam-jam duduk di kursi. Setelah berdiri ia memandang ke arah Norah yang kini ada di hadapannya. Wanita itu memegang tangan adik iparnya sambil tersenyum manis.


"Sebentar lagi kita sudah resmi menjadi adik dan kakak. Aku pikir kita tidak perlu menggunakan kata ipar. Karena setelah aku resmi menikah dengan kakakmu, maka aku resmi juga menjadi kakakmu. Aku ingin kau memperlakukanku layaknya kakak kandung. Jangan ada rasa segan atau batasan di antara kita. Jika aku salah, Kau berhak untuk memarahiku. Begitupun sebaliknya. Kita harus bisa bersatu menjadi keluarga yang utuh."


Norah mengangguk. "Baik, Kak." Wanita itu memeluk Faith hingga membuat Faith kembali meneteskan air mata. "Kak jangan menangis lagi. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan Kak Zion!" protes Norah padahal jelas-jelas wanita itu juga menangis saat ini.


Faith tertawa kecil sebelum menggeleng pelan. "Lalu, kenapa kau menangis?" Faith menghapus air mata yang ada di pipi Norah. "Sekarang ayo kita pergi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang sebentar lagi akan menjadi suamiku!"


Norah dan Faith bergandengan tangan menuju ke lokasi pernikahan. Dua wanita itu terlihat kompak. Bahkan jika dilihat sekilas, justru Norah lebih cocok menjadi adik kandung Faith daripada adik kandung Zion.


Surat yang di tuliskan Zion tersimpan rapi di dalam laci. Faith akan menyimpan surat itu sebagai barang antik yang nantinya ketika tua akan dia baca kembali isinya.


"Apa itu rindu? Kenapa rasa rindu begitu menyakitkan. Rasanya luka tusukan saja tidak ada artinya. Siang malam hanya wajahmu yang muncul di dalam ingatanku. Apa kau tahu kalau aku terluka.


Ya, aku merasa terluka sekarang karena tidak memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu. Ternyata luka yang tidak bisa diobati oleh tim medis rasanya sungguh luar biasa. Lihatlah hatiku yang sekarang. Aku benar-benar merindukanmu.

__ADS_1


Faith sayang ...


Apakah juga merindukanku?" Zion Zein


...***...


Pintu berukuran besar di buka lebar ketika Faith dan Norah ingin masuk ke dalam. Semua tamu undangan yang sudah berkumpul berdiri untuk menyambut pengantin wanita. Dengan di dampingi Norah, Faith melangkah menuju ke tempat Zean dan Dominic berdiri saat ini. Wanita itu melangkah dengan hati-hati karena dia tidak mau melakukan kesalahan sedikitpun.


"Kak Dominic, papa," ucap Faith sambil tersenyum bahagia. Setelah Faith ada di dekat Dominic dan Zean, Norah memilih untuk menyingkir dan bergabung dengan keluarganya. Wanita itu merasa kalau tugas beratnya telah selesai. Setelah ini akan ada Zion yang menjaga Faith. Dia tidak perlu repot-repot lagi memikirkan keselamatan kakak nya itu.


"Faith, Kau cantik sekali," puji Zean. Pria itu tersenyum bahagia melihat Faith memakai gaun pengantin. rasanya ia masih tidak menyangka kalau putrinya itu akan segera menikah.


"Faith, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Dominic ingin tahu. Entah kenapa pria itu merasa terharu melihat adiknya memakai gaun pengantin seperti sekarang ini.


"Tentu saja aku merasa campur aduk sekarang. Antara bahagia dan juga sedih. Setelah ini aku akan tinggal bersama dengan suamiku. Aku pasti akan selalu merindukan momen-momen indah ketika kita bertiga bercanda bersama."


Tiba-tiba saja Faith memeluk Zean. Dominic yang tidak mau kalah juga segera memeluk dua orang yang ia sayangi itu. Untuk sejenak mereka meluangkan waktu untuk bersama sebelum akhirnya seseorang memperingati kalau pernikahan akan segera dimulai dan pengantin wanita harus segera menemui mempelai pria.


"Ayo kita temui Zion," ajak Zean.


Faith merangkul lengan Zean dan juga Dominic. Kini wanita itu akan diantar oleh dua pria hebatnya untuk menemui Zion. Ketika Faith melangkah maju, semua tamu undangan terlihat sangat bahagia menyambut kedatangannya. Mereka merasa kagum melihat kekompakan antara Zean dan juga Dominic.


Faith memandang wajah Zion dengan debaran jantung yang tidak karuan. Pernikahan ini adalah pernikahan yang pertama kalinya terjadi dalam hidup Faith. Jelas saja Faith harus mempersiapkan diri dengan sematang mungkin agar tidak membuat Zion malu nantinya.


Ketika sudah tiba di depan, Zean dan Dominic memberikan Faith kepada Zion. Dengan penuh suka cita, Zion menerima Faith dan membawa wanita itu berdiri di sampingnya. Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Sekarang waktu pernikahan sudah tiba. Zion dan Faith tidak mau membuang-buang waktu lagi.


“Kau sangat cantik, sayang,” puji Zion. Faith mengukir senyum bahagia mendengar Zion memanggilnya dengan kata-kata mesra.


"Berhenti memujiku karena itu bisa membuatku terbang melayang," protes Faith. Meskipun sebenarnya dia merasa sangat bahagia mendengarnya.


"Bagaimana kalau kita melayang bersama?" sahut Zion dengan diselingi tawa.


Faith memandang Zion dengan alis saling bertaut. Hal itu membuat Zion juga tersenyum sebelum dia memandang ke depan untuk melalui akad pernikahan.


Cuaca pagi itu seperti mendukung acara pernikahan yang akan dilakukan Zion dan Faith. Gaun putih yang di kenakan oleh Faith terlihat sangat terang dan pas di tubuhnya. Semua tamu undangan memuji sepasang pengantin itu dan mengatakan kalau mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Setelah mengucapkan janji sehidup semati, akhirnya Faith dan Zion resmi menjadi suami istri.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri!" ungkapan yang dikatakan pria yang ada di hadapan Zion dan Faith membuat semua orang bernapas lega. Bukan hanya Zion dan Faith saja. Tetapi semua tamu undangan dan seluruh keluarga besar mereka. Dengan tangan terlipat di depan dada, Dominic menjadi saksi di pernikahan Zion dan Faith pagi itu.


Faith dan Zion saling bertukar cincin. Mereka melakukan ritual yang biasa dilakukan oleh pengantin baru. Sorak tepuk tangan dari tamu undangan tidak henti-hentinya terdengar.

__ADS_1


Satu-satunya orang yang berdiri tanpa ekspresi hanya Dominic. Sebenarnya pria itu bukan tidak suka melihat adiknya menikah. Namun ia sedang berusaha menekan kesedihannya. Pria itu tidak mau meneteskan air mata dan dilihat oleh semua orang karena itu akan menurunkan gengsinya.


"Sepertinya menikah adalah satu-satunya solusi agar tidak kesepian lagi. setelah ini aku harus segera mencari jodohku. Aku ingin segera menikah dan merasakan kebahagiaan seperti yang dirasakan oleh adikku, Faith," gumam Dominic di dalam hati.


__ADS_2