Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 219


__ADS_3

Dominic baru saja tiba di parkiran rumah sakit. Pria itu turun dari mobil dengan beberapa paper bag berisi makanan ringan pesanan Faith. Ketika ingin masuk ke dalam rumah sakit, tiba-tiba saja Dominic menahan langkah kakinya karena dia tahu sejak tadi dia turun dari mobil, ada seseorang yang mengawasinya. Pria itu memutar tubuhnya lalu memandang ke belakang. Tetapi ia tidak menemukan siapapun di sana.


Karena penasaran Dominic memutuskan untuk menjebak orang yang sekarang mengawasinya. "Jika aku berhasil menangkapmu, aku akan menghabisimu," gumam Dominic di dalam hati. Pria itu sudah mengeluarkan senjata apinya.


Ketika sudah hampir meninggalkan parkiran tiba-tiba saja Dominic mengarahkan senjata apinya ke belakang dan menembak ke arah dinding yang sejak tadi ia curigai sebagai tempat persembunyian seseorang yang memata-matainya. Tembakan Dominic memang meleset. Namun dia yakin kalau itu sudah cukup untuk menjadi peringatan terhadap musuhnya.


Suara senjata api itu menggema di ruangan parkir tersebut. Dominic segera bersembunyi di balik mobil. Dia juga tidak mau sampai di tangkap karena sudah membuat keributan di sana.


Seperti apa yang dipikirkan oleh Dominic. Kini orang yang sejak tadi mengawasinya keluar dari tempat persembunyiannya dan mencari-cari keberadaan Dominic. Dominic bisa melihat pria itu dengan begitu jelas dari balik mobil tempatnya bersembunyi.


"Sebenarnya siapa dia dan apa yang ia inginkan?" Dominic mengernyitkan dahi ketika melihat tato Gold Dragon di tangan pria itu. "Dia adalah pasukan Gold Dragon? Tapi untuk apa dia mengikutiku? Apa dia orang suruhan Zion Zein?"

__ADS_1


Bersamaan dengan itu Zion keluar dari rumah sakit menuju ke mobil. Pria itu menahan langkah kakinya ketika melihat orang yang ia tugaskan untuk menjaga markas kini berkeliaran di Amerika. Tanpa pikir panjang Zion segera mendekati pria itu dengan wajah marah.


"Sejak kapan kau tiba di sini? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau mengikutiku. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?" umpat Zion dengan emosi tertahan.


"Bos. Apa Anda melihat Dominic?" tanya pria itu tanpa mau menjawab pertanyaan Zion yang sebelumnya.


"Dominic kau bilang?" Zion memperhatikan lokasi parkir dengan seksama namun ia tidak menemukan Dominic di sana. "Apa kau beniat untuk mengalihkan pembicaraan agar aku tidak memarahimu dan menghukummu?" tuduh Zion.


"Benarkah?" tanya ion tidak percaya. Tanpa sengaja pria itu melihat kaki Dominic yang berada di samping mobil. Pria itu tersenyum. "Ini adalah kesempatan yang bagus bagiku untuk mendapatkan penilaian baik dari Dominic. Dia harus memandangku sebagai adik ipar yang baik dan pantas untuk menikahi Faith," gumam Zion di dalam hati.


"Bos, Kenapa Anda diam saja? Sebenarnya apa yang anda lakukan di Amerika sampai-sampai kami semua tidak boleh ikut." Pria itu sangat penasaran.

__ADS_1


"Aku ke sini karena ingin menjaga dan merawat calon mertuaku," jawab Zion dengan lantang agar Dominic bisa mendengar dengan jelas.


"Calon mertua Bos? Itu berarti anda sudah menemukan wanita yang cocok untuk menjadi istri Anda?" tanya pria itu dengan wajah gembira.


"Ya. Dia wanita yang sangat baik dan berasal dari keluarga terhormat. Saya merasa bangga karena bisa menjadi calon suaminya." Zion merangkul pundak bawahannya lalu membawanya berjalan ke dekat mobil tempat Dominic bersembunyi. "Apa kau tahu? Wanita yang kucintai ini memiliki kakak yang sangat baik dan pengertian. Aku yakin, hidupku akan jauh lebih baik ketika aku berhasil menikah dengannya."


"Maafkan saya, Bos. Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu anda. Tadinya Saya pikir anda sedang menjalani misi rahasia. Saya sangat mengkhawatirkan keselamatan Anda. Jika tahu seperti ini, saya tidak akan sampai mengikuti Anda ke Amerika. Sekali lagi maafkan saya. Malam ini saya akan pamit kembali ke markas."


"Kenapa terburu-buru sekali? Kau harus temani aku untuk mencari sesuatu yang menarik agar calon istriku bahagia. Aku ingin selalu melihat dia tersenyum."


"Anda sudah banyak berubah setelah jatuh cinta. Saya jadi tidak sabar melihat Anda menikah Bos."

__ADS_1


Zion dan bawahannya itu berjalan menuju ke mobil meninggalkan Dominic sendirian di sana. Dominic yang masih bersembunyi hanya diam saja merenungi perkataan Zion. Meskipun Ia tidak percaya 100% dengan apa yang dikatakan Zion, tetapi setidaknya ia sudah memiliki nilai yang baik untuk Zion. "Sepertinya dia benar-benar mencintai Faith."


__ADS_2