
Leona berada di dalam kamar Daisy. Dia ingin bercerita dengan putrinya. Tentu saja topik yang akan mereka bahas tentang Norah. Daisy sendiri lagi-lagi harus menunda keinginannya untuk mendengar suara kekasihnya.
“Ma, tadinya Daisy pikir mama akan mendukung hubungan Kak Norah dengan pria itu,” ucap Daisy untuk membuka obrolan mereka.
“Sayang, sebenarnya mama tidak tahu harus bagaimana tadi.” Leona memandang wajah Daisy. “Mama tidak mendukung tidak juga menolak. Mama memikirkan perasaan kakakmu. Zion. Dia pasti akan sangat sedih dan kecewa jika mama ada di pihak papa dan Norah.”
Daisy mengeryitkan dahinya. Tadinya dia pikir ibu kandungnya itu benar-benar benci sama Austin. Ternyata wanita itu hanya tidak mau Zion kecewa dan sakit hati. “Mama setuju dan merestui hubungan Kak Norah dan Austin?”
Leona memandang ke jendela. “Daisy, kau harus tahu kalau kita sudah mencintai seseorang. Rasanya akan sangat sakit jika harus dipisahkan. Mama belum pernah lihat Norah seberani ini. Bahkan dia berani menentang perkataan Zion. Itu berarti Norah sangat mencintai pria pilihannya. Tugas kita adalah menyelidiki apakah pria itu baik atau jahat. Jika memang pria itu baik, maka tidak ada alasan lagi untuk kita menolaknya. Tetapi, mama yakin. Kakakmu Zion, tidak akan mau menerima Austin. Meskipun nanti Austin terbukti tidak bekerja sama dengan Mr. A.”
Tiba-tiba Daisy kembali ingat dengan Foster. Memang Foster sangat mencintai Daisy. Tetapin Daisy tidak tahu bagaimana dengan keluarga Foster. Bagaimana kalau nanti keluarga Foster tidak suka dengannya karena dia berasal dari keluarga mafia.
“Sayang, apa yang kau pikirkan?” Leona mengusap rambut putrinya. “Oh, ya. Mama dengar kemarin papa meminta Foster untuk menginap di rumah ini agar bisa menjagamu. Sekarang dimana dia? Mama ingin bertemu dengan Foster. Setibanya di rumah ini, mama tidak ada bertemu dengan Foster.”
“Dia sudah pulang ma. Kak Zion yang mengusirnya,” sahut Daisy sedih. Seandainya Foster masih di rumah itu, dia tidak akan sesedih ini.
“Zion yang mengusirnya? Apa Zion juga tidak suka sama Foster? Bukankah Foster yang membantu Zion untuk menyelamatkanmu dari penculikan?”
“Itu dia Ma. Daisy gak tahu bagaimana jalan pikiran kak Zion. Kak Zion marah-marah saat melihat Kak Foster ada di rumah ini. Karena tidak mau ada keributan, akhirnya Kak Foster pulang malam itu juga ma.”
“Mama tahu bagaimana kekhawatiran Zion. Ini pertama kalinya dia melihat adik-adik perempuannya dekat dengan pria. Dia pasti hanya tidak mau kalian sakit hati.”
__ADS_1
“Sakit hati?” Daisy mengeryitkan dahinya. “Tahu apa Kak Zion tentang sakit hati? Kak Zion aja gak pernah dekat dengan wanita.”
Leona mengukir senyuman. “Tidak harus dekat dengan wanita sayang. Zion sosok kakak yang sangat mencintai dan sangat menyayangi adiknya melebihi dirinya sendiri. Dia pasti ingin yang terbaik untuk adiknya. Kau jangan salah paham ya. Mama yakin, Zion pasti akan mengerti. Dia hanya butuh waktu saja untuk menerima semua ini.”
“Ma, bagaimana kalau kita jodohkan saja Kak Zion. Sama anak temen mama.”
“Anak temen mama?” Leona terlihat bingung. “Siapa sayang? Mama memiliki banyak teman.”
“Anaknya Tante Letty. Bukankah dia sangat cantik dan jago bertarung? Dengar-dengar dia juga sniper yang handal. Ma, dia sangat cocok dengan Kak Zion.”
Leona tertawa kecil. “Sayang, kita tidak bisa sembarangan menjodohkan Zion. Jika Zion tahu kita sengaja menjodohkannya, dia pasti akan marah. Kita juga gak tahu kan putri Tante Letty sudah punya pacar atau belum?”
“Iya juga sih.” Daisy memikirkan solusi lain.
“Mama setuju sama pilihan Daisy?” tanya Daisy malu-malu.
“Apapun pilihan anak-anak mama, mama selalu setuju. Selama pilihan kalian juga membalas perasaan kalian. Apa lagi kau dan Norah adalah wanita. Kalian berdua harus bisa menjaga diri. Kita memang mungkin akan merasa sangat mencintai pasangan kita bahkan ingin memilikinya. Tetapi, jangan sampai kita berubah menjadi wanita bodoh karena cinta. Sayang, mama mau kau tetap menjaga dirimu. Jangan sampai kau serahkan satu-satunya mahkota yang kau miliki kepada pria yang sangat kau sayangi.
Nanti setelah menikah, dia juga akan mendapatkannya. Hanya itu pesan mama. Mama tidak pernah memilih-milih menantu mama harus kaya, harus tampan harus jago bela diri. Gak. Bagi mama semua itu tidak penting. Yang terpenting dia bisa menjaga putri mama dengan baik. Jika sampai hal yang kami takuti terjadi, jangan salahkan mama untuk meminta Zion menghabisi nyawanya. Karena pria yang seperti itu cintanya masih harus di pertanyakan. Pria yang benar-benar tulus mencintai, sudah pasti akan menjaga bukan merusak.”
“Daisy, apa kau ada di dalam?” teriak Norah dari luar kamar. Leona dan Daisy sama-sama memandang ke arah pintu. Mereka tahukalau itu suara Norah. Wanita itu pasti akan segera masuk walau Daisy belum menjawab.
__ADS_1
“Sayang, mama harap kau bisa menjelaskan semua ini kepada Norah. Mama tidak mau Norah benci dan kecewa sama mama. Mama percaya padamu.” Leona beranjak dari sofa. Wanita itu melangkah menuju ke arah pintu.
Ketika pintu terbuka dan Norah muncul, Leona berhenti sejenak. Dia mengukir senyuman manis ke putrinya. “Sayang, apa kau sudah makan?”
“Sudah, ma. Apa yang mama lakukan di sini?” tanya Norah curiga.
“Kak, mama datang ke kamar putrinya sendiri. Apa itu salah? Aku juga akan marah sama mama jika mama tidak pernah muncul di kamarku!” teriak Daisy.
Norah menghela napas. “Mama mau ke mana?”
“Mama mau jumpai papa. Apa kau ada melihat papa, Norah?”
“Papa sudah pergi sama Kak Zion, ma,” jawab Norah tidak bersemangat. Wanita itu melanjutkan langkahnya menuju ke sofa yang sama dengan Daisy. Leona tahu apa yang dirasakan putrinya. Namun, wanita itu juga memiliki banyak urusan hari ini. Dia sudah menyerahkan semuanya kepada Daisy. Leona yakin, putrinya itu pasti bisa membuat Norah tidak lagi marah padanya.
Tanpa mau mengucapkan beberapa kalimat lagi, Leona segera pergi meninggalkan kamar tidur Daisy. Wanita itu tidak lupa menutup pintunya. Melihat Leona sudah tidak ada di dalam kamar, membuat Norah memandang Daisy dengan tatapan curiga.
“Apa yang dilakukan mama di kamar ini? Mama pasti marah ya?”
Daisy menggeleng. “Mama sangat menyayangi kita. Mama tidak mungkin marah kak.”
Norah diam sejenak. “Aku sudah ngecewain mama.” Norah memandang Daisy lagi. “Tapi Daisy, kau harus percaya padaku. Aku di sekap oleh Mr. A dan di siksa di sana. Bahkan tidak diberi makan dan juga tidak diberi minum. Austin datang untuk menolongku. Kau juga harus tahu Daisy, penyerangan malam itu juga atas perintah Mr. A. Austin di ancam. Kalau dia tidak menyerang rumah ini, Mr. A akan membunuhku. Satu catatan yang harus kau ketahui. Waktu itu Austin tidak tahu kalau aku dan Zion Zein adalah kakak adik. Austin pria baik. Dia sudah berubah sejak kedua orang tuanya meninggal.”
__ADS_1
“Kedua orang tuanya meninggal?” Daisy mengeryitkan dahinya. “Kapan? Kok kakak bisa tahu? Sebenarnya sudah berapa lama kakak kenal Austin? Kenapa kakak gak pakai topeng waktu ketemu Austin?”
Norah bersandar di sofa. Wanita itu tidak mau menutup-nutupinya lagi. Dia akan ceritakan pertemuannya dengan Austin malam itu. Dia juga akan bercerita kalau kedua orang tua Austin mengalami kecelakaan dan dialah yang sudah membawanya ke rumah sakit. Tidak ada yang harus ia tutupi lagi. Sejak dulu Daisy selalu mengerti apa yang dia inginkan dan apa yang dia rasakan.