
Norah hanya diam saja selama diperjalanan. Bahkan wanita itu tidak banyak bertanya, kenapa Austin bisa muncul. Mau di bawa ke mana. Bahkan mengucapkan terima kasih saja tidak karena Austin sudah menolongnya. Norah benar-benar cuek seperti tidak peduli dengan Austin. Bahkan dia menganggap Austin itu tidak ada di sampingnya.
Berbeda dengan Austin. Pria itu memandang wajah Norah dengan wajah bersalah. “Maafkan aku karena sudah membuatmu terjebak dalam situasi seperti ini.” Pada akhirnya Austin yang bicara lebih dulu. Pria itu memandang Norah sekilas sebelum fokus ke depan lagi. “Mereka orang-orang yang pernah mengerjarku malam itu. Sepertinya mereka menandai sepeda motormu. Mereka pikir kau sekongkol denganku. Maafkan aku ya?” ucap Austin lagi. “Aku tidak ada niat untuk menyeretmu dalam masalah ini. Kau pasti sangat ketakutan tadi. Wanita sepertimu, pasti tidak pernah dapat masalah. Sepertinya aku sudah merepotkanmu, Norah.”
“Hmm,” jawab Norah malas. Bahkan memandang saja tidak. Bukan membuat Austin bosan, justru Austin semakin tertarik untuk lebih dekat dengan Norah. Pria itu seperti tertantang untuk bisa lebih akrab lagi dengan Norah.
“Kenapa kau tidak menghubungiku?” Austin kembali ingat dengan kartu nama yang ia berikan kepada Norah. Setiap saat Austin selalu memegang ponselnya berharap ada nomor baru masuk. Namun, semua penantiannya seakan sia-sia. Norah tidak juga menghubunginya sampai akhirnya Austin menyerah dan hari ini mereka dipertemukan lagi.
“Untuk apa?” jawab Norah cepat.
Austin menghela napas. “Aku ingin balas budi.”
“Tidak perlu. Aku bantunya juga ikhlas,” jawab Norah lagi. Padahal sebenarnya dia tidak ikhlas. Dia menolong Austin karena terpaksa. Kejadian malam itu terjadi dengan begitu cepat. Norah tidak diberi kesempatan untuk memilih. Austin memaksa Norah untuk menolongnya.
Austin mengangguk pelan. “Kau memang wanita baik, Norah.” Tiba-tiba pria itu mengerem mobilnya hingga terdengar suara decitan ban. Tidak mau sampai Norah celaka, Austin menghalangi kepala Norah dengan tangannya. Austin terpaksa mengerem mendadak ketika melihat segerombolan orang sudah menunggu di depan sana. Mereka menghadang Austin yang saat itu ingin membawa Norah ke rumahnya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Austin khawatir.
Norah mengangguk pelan sebelum memandang ke depan. “Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan? Apa mereka ingin mencelakaiku?” Tiba-tiba saja dia ingin tahu, apa Austin masih bisa berkelahi seperti dulu atau tidak. Norah sangat penasaran. Dia ingin tahu apa yang sudah menyebabkan Austin tidak semengerikan dulu. Apakah pria itu mengalami cacat di organ tubuhnya hingga tidak bisa berkelahi lagi atau memang ada alasan lain.
“Norah, tetap di dalam mobil. Aku akan menyingkirkan mereka,” ucap Austin. Di dalam pikiran Austin, Norah itu wanita lemah yang tidak bisa apa-apa. Dia bahkan tidak tahu kalau wanita memakai rok pendek itu selalu mengantongi senjata kemanapun dia pergi.
Norah melipat kedua tangannya dan menghela napas pelan. “Hanya sepuluh orang. Sepertinya dia akan menang,” ujar Norah. Dia mengambil ponselnya di dalam saku. Wanita itu ingin melacak keberadaan sepeda motornya yang tadi hilang di bawa oleh orang yang menyerangnya.
Austin melipat tangan kemejanya hingga ke siku. Mau tidak mau dia harus mengalahkan segerombolan pria bersenjata yang ada di hadapannya. Memang sudah lama dia tidak membunuh. Siang ini dia harus membunuh demi melindungi wanita yang ada di dalam mobil.
“Kalian akan menyesal karena sudah berani mengusik hidupku!” ujar Austin. “Aku diam bukan berarti aku tidak mampu mengalahkan kalian!” Dia menarik satu orang yang ada di dekatnya. Memelintir tangan pria itu sebelum meninju perutnya. Austin merebut senjata api musuhnya dan mulai menembak satu persatu musuh yang ada di hadapannya. Menggunakan pria pertama tadi melindungi dirinya dari peluru yang mengincar nyawanya.
Norah duduk santai seperti sedang menonton pertunjukkan action. Ia mempelajari setiap trik yang digunakan oleh Austin. Wanita itu terlihat kagum. Dia tidak menyangka, setelah Opa Zen dan Kak Zion. Masih ada orang yang bertarung dengan tenang seperti yang sekarang dilakukan oleh Austin. Pria itu seperti tidak takut mati walau jelas-jelas nyawanya dalam bahaya. Dia menghabisi musuhnya satu persatu dengan begitu cepat. Bahkan tanpa banyak mengeluarkan tenaga.
__ADS_1
“Ya, sepertinya ini kesempatanku untuk kabur. Aku tidak mau terus-terusan bersamanya. Aku juga ingin mengambil sepeda motorku kembali. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari sini. Hanya butuh jalan kaki selama beberapa kilometer saja,” gumam Norah. Dia turun dari mobil dan berdiri sejenak di samping mobil. Memperhatikan Austin yang masih bertarung. “Bye bye Austin. Aku harap kita tidak bertemu lagi. Aku tidak akan mungkin sebaik ini jika kau tahu aku adalah adik Zion Zein,” gumam Norah di dalam hati.
Austin yang saat itu terlalu fokus dengan pertarungannya sampai tidak sadar kalau Norah sudah turun dari mobil. Ketika musuhnya sudah hampir habis, tiba-tiba pria itu harus dikagetkan dengan suara yang begitu memekakan.
DHOOOM
Mobil yang tadi ia gunakan meledak hingga membuatnya terpental cukup jauh. Norah yang jaraknya sudah lumayan jauh melangkah menahan langkah kakinya.. Wanita itu berputar dan memandang ke belakang. Ia syok bukan main melihat mobil yang tadi ia tumpangi meledak. Apa jadinya kalau dia bertahan di dalam sana tadi?
Norah melihat Austin yang tergeletak di rerumputan yang tidak jauh dari lokasi mobil meledak. Wanita itu berlari untuk memerika Austin. Dia terlihat khawatir. Walau status Austin adalah musuh, tetapi Norah tidak pernah bisa membiarkan orang lain yang sedang celaka begitu saja. Siapapun itu pasti akan dia tolong.
“Tuan Austin, bangunlah.” Norah menepuk pelan pipi Austin.
Austin membuka kedua matanya secara perlahan. Pria itu tersenyum bahagia melihat Norah selamat. “Norah,” lirihnya sebelum dia tidak sadarkan diri.
“Tuan, bangun Tuan. Bangun!” teriak Norah. Dia memandang ke kanan ke kiri. Lokasi di sana sangat sunyi hingga membuat Norah bingung harus meminta bantuan siapa. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi rumah sakit terdekat agar segera mengirimkan ambulan. Jika sudah seperti ini, mau tidak mau dia harus membawa Austin ke rumah sakit. Tidak mungkin meninggalkan pria itu begitu saja tergeletak di rumput. Walau sekarang ambulan dalam perjalanan menuju ke lokasi mereka.
***
Norah hanya diam saja ketika pria paruh baya yang biasa di sapa Paman Tano itu menjelaskan apa yang sebenarnya di alami Austin. Kini Norah tidak bertanya-tanya lagi kenapa seorang Austin bisa berubah. Memang rasanya masih sulit di percaya. Mengingat, dulunya Austin pria yang begitu licik. Rela melakukan apapun demi mendapatkan kemenangan yang dia inginkan. Namun, cerita yang diucapkan Paman Tano tidak bisa diabaikan. Karena bisa jadi cerita Paman Tano memang benar adanya.
“Nona Norah, kalau boleh saya tahu. Apakah anda warga Sapporo? Apa anda lahir di Sapporo?” tanya Paman Tano.
Norah menggeleng pelan. “Saya ke sini untuk menjaga GrandNa. Dia sudah tua dan hidup sendiri,” jawab Norah tanpa mau menjelaskan siapa nama GrandNa nya.
“Anda benar-benar wanita yang baik dan berhati lembut, Nona. Pantas saja Tuan Austin tergila-gila pada anda. Belum pernah Tuan Austin bersikap lembut seperti sekarang. Saya perhatikan akhir-akhir ini dia mulai belajar bicara dengan nada lembut. Memasang wajah yang ceria. Bahkan sifatnya yang biasa terlihat dingin dan menakutkan kini berubah menjadi sifat seorang pria yang periang. Saya sangat senang melihatnya. Andai Tuan dan Nyonya Clark masih hidup, mereka pasti senang.”
Norah menghela napas panjang. Dia memandang ke depan lagi tempat Austin berbaring saat ini. Pria itu dinyatakan baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat karena tubuhnya sempat terpental cukup jauh. Ada luka di bagian kepalanya. Namun, luka itu tidak terlalu serius.
“Paman, saya harus pergi. GrandNa pasti mengkhawatirkan saya saat ini,” ucap Norah. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ponsel Norah mati karena beterainya habis. Tadinya ia ingin mengisi baterai di rumah Oma Shabira. Namun, dia gagal berkunjung ke sana.
__ADS_1
“Dimana anda tinggal, Nona? Biar saya minta supir untuk mengantarkan anda,” ucap Paman Tano khawatir. Dia tidak mau sampai Norah celaka.
“Tidak, Paman. Saya bisa naik taksi,” tolak Norah. Karena sepeda motornya belum ia temukan, jadi mau tidak mau Norah harus pulang naik taksi malam ini. Meminta di antarkan oleh supir yang bekerja dibawah pimpinan Austin itu sama saja dengan bunuh diri.
“Baiklah, Nona. Tetapi … apakah bisa besok pagi anda datang lagi?”
“Datang ke sini?” tanya Norah tidak percaya.
“Ya, Nona. Saya mohon.”
Norah terlihat keberatan. Dia seharusnya menjauh dari Austin bukan menjadi semakin dekat seperti ini. Tetapi, untuk menolak Norah tidak menemukan alasan yang tepat. Hingga akhirnya dia terpaksa mengangguk setuju. “Baiklah. Saya permisi dulu, Paman Tano.”
Norah segera pergi meninggalkan ruangan tempat Austin di rawat. Wanita itu melangkah menuju ke lift. Sebelum masuk ke lift, Norah memandang ke belakang karena merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Wanita itu memeriksa senjata api yang dia bawa sebelum masuk ke dalam lift.
Sebelum lift tiba di lantai satu, lift berhenti di lantai lima. Seorang wanita masuk ke dalam lift sambil mendorong kursi roda yang berisi seorang pria tua. Norah tidak terlalu peduli awalnya. Dia memperhatikan penampilannya di cermin yang ada di lift sebelum akhirnya sebuah belati melekat di kulit perutnya.
“Jangan berteriak atau aku akan membunuhmu,” ancam wanita itu.
Norah hanya diam saja seolah-olah dia memang takut dengan ancaman wanita itu. Dia juga tidak mungkin melakukan pertarungan di dalam lift yang ada di rumah sakit. Itu hanya akan membuat orang lain ikut celaka.
Wanita itu mendorong Norah agar berjalan lebih dulu ketika lift sudah tiba di lantai satu. Sedangkan pria tua yang duduk di kursi roda tadi salah satu anggota wanita itu. Dia berdiri dan tersenyum sinis melihat Norah.
“Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan?” gumam Norah di dalam hati.
Norah di bawa menuju ke parkiran. Karena sudah malam, lokasi parkiran memang terlihat sangat sunyi. Sebuah mobil sudah menunggu di sana. Dua orang pria bersenjata berdiri di samping mobil seolah sedang menunggu wanita itu.
“Kita harus segera pergi dari sini,” ujar wanita yang kini mengancam Norah.
Dengan sigap Norah memegang tangan wanita itu merebut belatihnya. Dalam hitungan detik saja, posisi menjadi tertukar. Kini Norah yang mengancam wanita itu. Dia melekatkan belatih yang tadi di pegang wanita itu di leher. Ada senyum tipis di sudut mata Norah. Dia memandang dua pria di hadapannya.
__ADS_1
“Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?”