
Mr. A tersenyum puas melihat gedung-gedung tinggi yang kini dia lewati. Ada gedung rumah sakit, supermarket hingga hotel. Tidak hanya itu. Ada banyak sekali bangunan restoran dan wisata kuliner yang memenuhi pulau berukuran 20 KM² tersebut. Pulau itu bernama Dreamer. Mr. A telah memberikan nama di pulau itu pada dua tahun yang lalu.
Mr. A membeli pulau kosong yang dipenuhi hutan belantara awalnya. Dengan uang yang ia miliki, pria itu berhasil menyihir pulau ini menjadi sebuah kota yang sangat indah. Sayangnya, hingga saat ini pulau itu belum di buka untuk umum. Semua orang yang tinggal di sana adalah pasukan The Bloods. Mr. A sengaja membangun kota itu untuk dijadikan tempat tinggal yang aman dan juga nyaman. Apa saja yang dia inginkan bisa dia dapatkan. Tidak sembarang orang bisa menginjakkan kakinya di pulau tersebut.
"Bagaimana tingkat keamanan yang saya bicarakan semalam? Apa kalian sudah menyelesaikannya?" tanya Mr. A kepada pria yang duduk di depan.
"Aman, bos. Setiap ada penyusup yang melewati batas, akan langsung terdeteksi. Dalam hitungan detik anda bisa mengalahkan mereka karena kita sudah memasang bom di bawah laut," jawab pria itu dengan penuh percaya diri. "Keamanan juga semakin ketat ketika menara terakhir sudah berdiri. Dari atas menara, jika ada kapal datang akan terlihat. Dengan begitu kita tidak akan kebobolan."
Mr. A mengangguk dengan senyum bahagia. Mobil mewah yang ia tumpangi memasuki sebuah pagar putih yang tinggi dan kokoh. Beberapa pria senjata menyambut kedatangan Mr. A dengan menunduk hormat. Mr. A mengedipkan matanya beberapa kali dengan tatapan tidak percaya. Ini pertama kalinya dia datang setelah mansion mewah itu selesai di bangun. Hasilnya memang sangat memuaskan. Sama persis dengan desain yang diimpikan oleh Mr. A.
Mobil itu berhenti di halaman luas sebuah mansion mewah yang ada di tengah-tengah pulau. Mansion itu adalah gudang harta karun Mr. A. Di mansion itu dia menyimpan semua benda berharga miliknya. Termasuk menyekap Norah. Selain pulau itu tidak terlacak di internet, pulau itu juga sangat jauh dari kota. Butuh waktu hampir lima jam di lautan sebelum tiba di pulau tersebut. Mr. A sendiri lebih sering naik helikopter untuk tiba di pulau itu.
Jhon muncul dan segera membukakan pintu mobil. Mr. A menurunkan satu persatu kakinya sebelum berdiri di samping mobil. Dia merasa puas melihat mansionnya baik-baik saja.
"Selamat datang, Bos," sapa Jhon. Pria itu terlihat bahagia karena akhirnya dia bisa diberi kepercayaan sebesar itu oleh Mr. A.
"Jhon, aku ingin membicarakan satu hal yang sangat penting denganmu," jawab Mr. A. Jhon memberikan jalan kepada Mr. A.
__ADS_1
"Baik, Bos. Mari kita bicara di dalam."
Mr. A mengangguk sebelum melangkah masuk ke dalam mansion. Beberapa pengawal memperkuat penjagaan karena kini bos besar mereka telah tiba di mansion.
Beberapa pelayan wanita berbaris rapi menyambut kedatangan Mr. A. Mereka semua mengenakan seragam warna putih. Terlihat bersih dan rapi. Mansion bercat putih itu terlihat megah dan sangat mewah. Dekorasinya menggunakan gaya Eropa.
Mr. A mengukir senyuman puas melihat mansion impiannya telah berdiri kokoh. Kini dia merasa kalau dirinya sudah setara dengan seorang Zeroun Zein. Memiliki geng mafia yang kuat. Bisnis yang berkembang pesat. Serta pulau dan segala isinya yang terbilang lengkap.
Tidak hanya itu, Mr. A merasa kalau dia sekarang sudah jauh lebih kaya jika di bandingkan seorang Zeroun Zein. Dengan uang yang ia miliki, ia yakin bisa mengalahkan Zeroun Zein dan keluarga semudah membalikkan telapak tangan.
Mr. A duduk di sofa tunggal yang berukuran lumayan besar. Pria itu mengangkat kakinya dan meletakkannya di atas meja. Beberapa pelayan wanita segera muncul untuk melayani Mr. A. Jhon sendiri memilih tetap berdiri di depan Mr. A.
"Sudah, Bos. Anda sangat hebat. Tidak lama lagi, anda akan menjadi orang terkaya di benua ini." Jhon menahan kalimatnya. "Tidak tidak. Tapi di belahan bumi!"
Mr. A tertawa mendengar pujian dari Jhon. "Kau selalu bisa membuatku bahagia Jhon. Bagaimana dengan tugas yang aku perintahkan? Apa kau sudah berhasil?"
Jhon mengangguk sebelum mengambil ponselnya dari saku. Pria itu menunjukkan beberapa foto kepada Mr. A. Saya sudah memasang 10 bom di rumah Jordan Zein dan 15 bom di rumah Zeroun Zein, Bos. Kapan saja anda memberi perintah, maka dua rumah ini akan sama-sama rata dengan tanah," jawab Jhon apa adanya.
__ADS_1
"Bagus, Jhon. Kerja yang bagus. Aku sudah tidak sabar melihat mereka menderita. Keturunan Gold Dragon harus musnah. Gold Dragon harus hilang dari dunia ini. Hanya The Bloods yang boleh berkuasa. Hanya kita yang terkuat. Hanya kita yang boleh ditakuti!"
"Benar, Bos. Tidak lama lagi kita akan menjadi penguasa," jawab Jhon penuh dukungan. "Mereka sudah tidak sehebat dulu. Masa jaya mereka akan segera berakhir. Hanya nama anda yang boleh ditakuti di dunia gelap."
Mr. A merasa masih ada yang mengganjal dari rencana Jhon. Dia ingin tahu sampai mana perkembangan Jhon menyelidiki Austin dan juga Zion. Sudah pasti dua pria itu tidak akan diam saja setelah tahu Norah di culik.
"Jhon, bagaimana dengan Austin? Dia pasti sudah mencari cara untuk menyelamatkan kekasihnya. Apa yang sudah mereka rencanakan?"
"Austin bekerja sama dengan Zion, Bos. Sekarang mereka masih ada di kota. Sepertinya mereka kesulitan menemukan keberadaan pulau ini."
"Bagaimana dengan wanita itu? Apa kau sudah memberinya pelajaran?" Mr. A juga ingin memastikan Norah tidak memiliki kemampuan apapun untuk kabur.
"Saya sudah melumpuhkan kakinya, Bos. Anda tidak perlu khawatir. Urusan seperti itu sudah menjadi tugas saya."
"Oke, baiklah Jhon. Untuk pembukaan, aku ingin melihat rumah Zeroun Zein berantakan. Ledakan satu bom yang ada di rumah Zeroun Zein. Aku ingin melihat reaksinya," perintah Mr. A. Dia sudah tidak sabar melihat seorang Zeroun Zein menderita.
Jhon tersenyum setuju. Dia memberikan ponselnya kepada Mr. A. Lalu meminta seseorang membawakan layar monitor agar mereka bisa melihat apa yang terjadi di kediaman Zeroun Zein.
__ADS_1
"Bos, anda bisa melihat dimana saja saya meletakkan bom. Anda bisa pilih bom mana yang harus diledakkan lebih dulu," ucap Jhon sambil memperlihatkan titik-titik bom itu berada.
"Oke Jhon, ini sangat menarik." Mr. A memperhatikan peta rumah Zeroun Zein dengan saksama sebelum dia mengangguk. "Saya mau bom yang nomor 5 diledakkan," ucapnya sambil menunjuk. "Bukankah itu dekat dengan kamar Zeroun Zein?"