Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 52


__ADS_3

Daisy tiba-tiba terbangun membuat genggaman tangan Zion terlepas. Wanita itu memandang ke jendela yang sudah sore. Ternyata dia sudah tidur cukup lama karena memang sejak mendapat kabar duka itu dia belum ada istirahat. Zion memandang Daisy dengan bingung. Pria itu ternyata belum ada tidur sejak tadi. Matanya terlihat lelah dan bengkak. Ya, ternyata secara diam-diam dia menangis sambil menemani Daisy tidur.


“Apa kau mimpi buruk?” Zion mengambilkan air putih yang sudah tersedia di nakas. Tadi saat Daisy tidur dia meminta pelayan mengantarkan gelas yang baru.


“Ya. Aku mimpi buruk. Sangat buruk,” jawab Daisy. Dia menerima gelas itu dan segera meneguknya. Daisy seperti orang yang kehausan. Hanya hitungan detik saja air yang tadinya penuh kini hanya menyisakan gelas kosong.


“Mimpi apa? Apa kau masih ingat?” Zion menerima gelas itu dan meletakannya di nakas.


“Aku bermimpi kalau Kak Norah sudah tidak ada,” jawab Daisy dengan wajah polosnya. Zion terdiam. Pria itu mematung sambil memandang gelas kosong di hadapannya. Dia tahu, kalau Daisy pasti belum sepenuhnya sadar karena baru saja bangun tidur. Memang di pikiran semua orang kalau kepergian Norah hanya sebuah mimpi buruk. Padahal sebenarnya ini semua nyata. Wanita itu memang sudah tidak ada. “Kak, dimana Kak Norah? Biasanya dia juga ada di sini?” Daisy memperhatikan penampilannya yang acak-acakan. Wanita itu turun dari tempat tidur. “Sudah jam berapa ini kak? Kenapa aku belum mandi? Sebentar lagi kita akan makan malam.”


Saat Daisy ingin melangkah ke kamar mandi, tiba-tiba Zion memegang tangannya. Menahan wanita itu untuk melangkah lebih jauh lagi. Daisy memandang Zion dengan tatapan bingung. Sampai detik ini dia belum bisa menerima kenyataan kalau Norah sudah tidak ada.


“Kakak menyayangimu, Daisy … adikku.” Zion memeluk Daisy dengan begitu erat. Menyembunyikan wajah wanita itu di dada bidangnya. Air mata mulai menetes di pipi Daisy. Dia kini sudah sadar kalau sebenarnya memang Norah sudah tidak ada. Mereka telah kehilangan wanita 24 tahun itu.

__ADS_1


“Sebentar lagi ulang tahun Kak Norah. Aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Jika jenazah Kak Norah tidak ditemukan, kemana harus aku antar kado itu kak?” lirih Daisy hingga membuat Zion semakin sulit menahan air matanya. Pria itu mempererat pelukannya dan membenamkan wajahnya di rambut Daisy. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.


Suara ketuka pintu membuat Zion dan Daisy melepas pelukan mereka. Mereka sama-sama memandang ke arah pintu setelah mengizinkan orang di luar sana untuk masuk. Serena muncul di temani oleh Leona di sampingnya. Leona masih terlihat sedih. Namun dia sudah jauh lebih kuat jika dibandingkan tadi pagi. Dua wanita itu memandang Zion dan Daisy sebelum melanjutkan langkah mereka ke sofa.


Zion dan Daisy mengikuti Serena dan Leona menuju ke sofa. Mereka juga ingin tahu sebenarnya apa yang ingin di bicarakan oleh GrandNa dan mama mereka.


Leona duduk di samping Serena. Walau sudah terlihat kuat karena sudah bisa berjalan lagi, tetapi tatapan mata Leona masih sendu. Wanita itu belum bisa melupakan kesedihannya. Dia ingin menangis lagi. Tetapi air matanya telah kering. Hanya membisu yang kini bisa dia lakukan. Bahkan kehadiran Zion dan Daisy di hadapannya sudah tidak terlihat lagi. Di pikirannya hanya dipenuhi dengan nama Norah dan Norah. Kenapa ini bisa terjadi? Apa ini karma karena dulu dia pernah bekerja sebagai pembunuh bayaran? Ada banyak anak yang kehilangan ayahnya. Ada banyak istri yang kehilangan suaminya. Hari ini Leona merasakan rasa sakit tiada tara itu karena kehilangan putrinya tercinta.


“Jadwal jaga? Apa maksud GrandNa? Ada apa sebenarnya?” tanya Zion bingung.


“Opa Zen menemukan kejanggalan dari hilangnya Norah. Selama terekam cctv, Norah tidak pernah melihat ke arah Camera. Bukankah itu satu kejanggalan? Norah selalu memandang ke cctv setiap kali dia jauh dari kita. Dia tahu hanya itu alat yang bisa digunakan untuk menolongnya jika berada dalam bahaya.”


“Kak Norah masih hidup?” Daisy terlihat antusian. “Apa GrandNa mau bilang gitu? Kalau Kak Norah hanya di culik? Kak Norah masih hidup?”

__ADS_1


“Maafkan, GrandNa sayang. Tetapi, GrandNa tidak bisa memutuskan apapun saat ini. Kabar itu belum bisa dipastikan. Kita berdoa saja,” jawab Serena. Dia lagi-lagi memandang Zion. “Selain kabar itu, ada kabar buruk yang baru saja kita terima. Salah satu pasukan Gold Dragon yang lama, ternyata ada yang tidak setia lagi dengan Opa Zen. Mereka menyebarkan wajahmu, Norah dan juga Daisy ke semua musuh. Untuk saat ini dia masih dalam pengejaran. Tetapi, sayang sekali kalau wajahmu dan Norah sudah diketahui. Ini hanya akan membuat musuh mudah menangkap kalian. Sebaiknya kalian hindari tempat umum dalam waktu dekat ini sampai keadaan benar-benar aman. Terutama kau Zion. Mungkin saat ini yang mereka incar adalah kau.”


“Aku tidak peduli, GrandNa. Mau mereka tahu wajahku atau tidak, itu tidak akan membuatku takut. Tetapi Norah. Apa ini yang membuat mereka mengikuti Norah sampai ke Sapporo? Lalu mereka menangkap Norah di waktu Norah ingin berangkat ke bandara?”


“Belum ada bukti yang menunjukkan kalau Norah di culik. Jadi, jangan berharap banyak, Nak ….” Leona menghapus air matanya. Dia cuma tidak mau anaknya kecewa.


“Ma, maafkan Zion.” Zion hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak mau membuat Leona sedih. Kini ada semangat di hati Zion untuk melakukan pencarian. Dia juga harus bekerja keras agar bisa menemukan celah dimana Norah berada jika memang wanita itu di culik. “Zion mau nemuin Opa Zen, GrandNa.” Zion beranjak dari sofa dan berjalan ke pintu. Serena dan Leona tidak mau mencegahnya. Sedangkan Daisy memilih untuk duduk di tengah-tengah Leona dan Serena. Wanita itu memegang tangan Serena dan Leona lalu mengecupnya.


“Kita pasti bisa berkumpul dengan Kak Norah lagi kan, Ma … GrandNa. Aku yakin, Kak Norah pasti masih hidup."


Serena mengusap rambut Daisy tanpa menjawab. Sedangkan Leona hanya diam karena tidak mau berharap banyak walau sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam dia berdoa agar Norah baik-baik saja.


"Sebenarnya aku juga ingin Norah masih hidup. Tetapi, kalung itu. Kalung yang aku berikan kepada Norah. Kenapa bisa ditemukan di lokasi kecelakaan pesawat. Setelah aku periksa, kalung itu memang kalung yang aku pesan secara khusus untuk Norah dan Daisy. Bagaimana musuh cucuku saat ini? Apa dia jauh lebih cerdas dari cucu-cucuku? Aku sudah tidak mungkin turun tangan untuk bertarung. Lalu, bagaimana jadinya jika memang saat ini mereka dalam bahaya? Aku juga tidak bisa duduk diam melihat mereka," gumam Serena di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2