Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 94


__ADS_3

Austin tahu kalau perkataan Mr. A hanya ancaman semata. Dia tahu bagaimana sifat Mr. A ketika pria itu sedang dalam keadaan mendesak. "Apa anda pikir saya percaya dengan apa yang anda katakan pria tua?" Walaupun sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan Paman Tano, tetapi dia tidak mau sampai terjebak dalam permainan Mr. A.


"Pria tua?" Ada tatapan emosi ketika mendengar Austin memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Biasanya Austin akan memanggilnya dengan sapaan bos atau tuan. Sekarang Austin benar-benar kurang ajar. Tetapi, sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas sapaan. Mr. A hanya butuh cara untuk menyelamatkan nyawanya dan juga harta bendanya.


"Bukankah anda memang sudah tua?" ledek Austin semakin menjadi.


"Aku memiliki sebuah penawaran anak muda," ucap Mr. A dengan tatapan penuh arti. "Aku yakin, kau akan menyukai penawaran yang aku berikan ini."


"Penawaran?" Austin terlihat seolah dia tertarik.


"Ya. Aku akan membebaskan kekasihmu dan juga memberikan separuh pulau ini atas namamu. Sebagai gantinya kau hanya perlu membawa Zion Zein dan pengikutnya keluar dari pulau ini. Bagaimana? Bukankah penawaran yang aku berikan sama sekali tidak merugikan? Kita sama-sama untung. Kita akhiri pertarungan ini. Kita akhiri dendam yang pernah ada di antara kita. Kita tidak harus kembali dekat seperti dulu. Kita bisa bersikap tidak saling kenal. Bagaimana?"


"Aku tidak butuh pulau," sahut Austin. Sekali berkhianat, maka ucapan yang keluar dari bibir seorang pengkhianat tidak bisa dipercaya lagi.


"Bagaimana kalau emas? Berlian? Atau ... uang?"


"Saya butuh nyawa anda!" sahut Austin mantap.


Mr. A yang tadinya masih bisa tersenyum, kini sudah memasang wajah masam. Pria itu mengepal kuat senjata api di tangannya. Dia memandang keadaan sekitar. Tidak satu orangpun datang untuk menolongnya. Padahal seharusnya pasukan The Bloods datang untuk menyelamatkan nyawanya. Rencana Jhon memang telah berhasil. Walau pria itu tidak selamat, tetapi dia banyak membantu Zion dan juga Austin.


"Anda memang orang yang tidak tahu diri!" umpat Mr. A mulai terpancing emosi.


Austin tetap tenang. Pria itu berharap dengan cara mengukur waktu seperti ini, Zion dan Livy berhasil menemukan keberadaan Norah dan membawa Norah pergi meninggalkan pulau.


"Apa bedanya dengan anda? Bukankah anda juga pria yang tidak tahu diri. Mengkhianati bahkan berniat menghancurkan orang yang sudah membuat anda bertahan hidup sampai sekarang. Jika ingin saya ingatkan lagi, bukankah anda pernah hampir mati karena mengidap penyakit langkah? Tetapi anda saat itu ada di tangan yang tepat. Gold Dragon menolong anda. Membantu mencarikan obat untuk anda sampai anda bertahan hingga sekarang. Sebagai balasannya anda justru mengkhianati orang-orang yang sudah menolong anda. Miris sekali!"


"Jika kau tidak bisa diam, aku akan meledakkan rumah keluarga Clark sekarang juga!" ancamnya lagi.


"Hei, Tuan. Kenapa hanya mengancam saja? Lakukan sekarang juga. Cepat!" Austin mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang. "Cepat. Saya ingin mendengar langsung suara ledakannya."


Karena memang hanya ancaman saja, Mr. A tidak bisa berbuat banyak. Pria itu menggeram dan segera melayangkan satu tembakan di dekat kaki Austin. Ketika Austin sibuk menghindar, di detik itu Mr. A masuk ke dalam helikopter. Dia harus segera kabur untuk menyelamatkan nyawanya.


Austin tidak mau membiarkan Mr. A sampai kabur. Pria itu berlari kencang mengejar helikopter yang ingin diterbangkan oleh Mr. A. "Tidak akan aku biarkan kau lolos pria tua!"


Di sisi lain, Zion dan Livy berhasil masuk ke lokasi penyimpanan harta Karun milik Mr. A. Setelah membuka beberapa pintu dengan menggunakan sidik jari Jhon, sedikit lagi mereka akan bertemu dengan Norah. Zion seperti sudah tidak sabar untuk membawa adiknya meninggalkan tempat tersebut.


"Kak, ayo kita masuk. Kakak bisa letakkan Jhon di bawah sini." Livy menunjuk lantai yang ada di dekat pintu. Sebenarnya dia tidak tega meletakkan Jhon sendiri di sana. Tetapi mau bagaimana lagi? Mereka harus fokus menyelamatkan Norah.

__ADS_1


Zion hanya mengangguk sebelum meletakkan Jhon di tempat yang ditunjuk Livy. Bukan hanya Livy saja yang sedih. Zion sendiri menjadi sedih setiap kali memandang wajah Jhon. Jaman sekarang rasanya sulit untuk menemukan orang yang setianya seperti Jhon.


"Bom waktu akan segera bekerja. Kita harus cepat kak." Livy masuk lebih dulu ke dalam. Diikuti Zion di belakang.


Pertama kali melihat ruangan harta karun itu, Livy seperti menyesal karena sudah menyuruh Jhon memasang bom. Jika dia berhasil membawa emas dan segala benda berharga yang ada di sana, maka tujuh turunan dia tidak perlu bekerja lagi. Sudah pasti hartanya akan cukup.


Sama seperti Livy. Zion sendiri masih tidak menyangka kalau harta sebanyak itu dimiliki oleh mantan pasukan Gold Dragon. "Kau yakin akan meledakkan tempat ini?"


"Tidak bisa di tawar lagi kak. Bomnya akan segera menghitung mundur. Ayo kita cari Norah agar kita tidak terjebak di tempat ini."


Livy berlari ke arah lorong yang sangat terang. Sesuai dengan petunjuk yang diberikan Jhon. Zion memperhatikan keadaan sekitar untuk memastikan kalau memang hanya mereka yang ada di ruangan tersebut.


Livy berhenti di depan pintu bercat cokelat tua. Pintu itu terkunci. Tetapi sekarang mereka tidak tahu harus dimana mencari kunci. Di tubuh Jhon juga tidak ada kunci apapun yang disembunyikan.


"Sekarang bagaimana?" tanya Livy sambil memandang Zion.


"Akan aku dobrak saja. Mundurlah." Zion mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Livy menjaga lokasi tersebut untuk memastikan tidak ada musuh yang tiba-tiba menyerang.


Berulang kali Zion mendobrak pintu tersebut namun tidak juga berhasil. Pintu itu memang di desain dengan begitu kuat. Zion sendiri terlihat hampir menyerah.


Livy memandang jam di tangannya. "Bomnya sudah bekerja. Kita harus cepat."


Zion memandang ke tempat tidur. Di sana ada Norah yang berbaring dengan wajah yang pucat. Ada darah kering di lututnya. Zion segera berlari menghampiri Norah dengan wajah sedih.


"Norah, bangunlah. Apa kau bisa mendengar suara kakak?" Zion memeriksa denyut nadi adiknya untuk memastikan wanita itu masih hidup. Setelah ada tanda-tanda Norah masih hidup, Zion mulai bisa bernapas dengan tenang.


"Segera jahui mansion. Bom sudah bekerja," ucap Livy. Dia menghubungi pasukannya yang ada di dalam mansion untuk segera pergi. Toh sekarang mereka juga sudah berhasil menemukan Norah. Mereka tidak perlu lagi berlama-lama ada di mansion tersebut.


"Livy, terima kasih. Tanpamu aku tidak tahu akan seperti apa jadinya." Zion segera menggendong tubuh Norah.


Livy tersenyum mendengar perkataan Zion. "Norah adikku juga kak. Walau kami sering bertengkar, tetapi kami saling menyayangi."


Zion mengangguk. Pria itu segera membawa Norah dan Livy pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sesampainya di depan pintu keluar, mereka melihat seorang pria berbadan besar berdiri menghalangi jalan mereka. Waktu mereka tidak banyak. Mereka harus segera pergi agar tidak ikut meledak bersama bom yang sudah di pasang oleh Jhon.


"Aku akan mengurusnya," ucap Livy. Wanita itu mengangkat senjatanya ingin menembak pria tersebut. Belum sempat pelatuknya di tarik, pria berbadan tegap itu sudah berputar. Dia terlihat tidak senang ketika seseorang memukul punggungnya dengan balik kayu.


"Abio?" celetuk Livy. Dia tidak menyangka kalau Abio bisa tiba di pulau itu juga.

__ADS_1


"Apa aku terlambat?" tanya Abio dengan senyuman dibibirnya.


"Aku akan membawa Norah pergi," ucap Zion. Dia merasa yakin kalau Livy dan Abio pasti bisa menghadapi pria tersebut.


"Jangan! Kau ikut pergi saja sana. Aku bisa mengalahkannya sendirian," tolak Abio. Pria itu ingin memukul lagi pria berbadan tegap tersebut. Namun kali ini pukulan Abio seperti tidak ada apa-apanya. Pria itu ingin membalas pukulan Abio dengan sebuah tendangan.


DUARRR DUARRR


Livy berhasil menembak pria itu sebelum menyentuh tubuh Abio. Abio menaikkan satu alisnya dengan wajah protes.


"Kenapa kau menembaknya? Aku bisa menghadapinya!"


"Kelamaan! Mansion ini akan segera meledak!" sahut Livy. Setelah memastikan musuh mereka tewas, Livy segera berlari mengejar Zion.


"Tunggu!" Abio juga mengejar Livy.


"Ada apa lagi?"


"Kau juga akan meledakkan gudang harta Karun itu?"


"Ya."


"Kenapa? Bukankah aku sudah bilang. Pulau ini akan menjadi milikku!"


"Kau hanya bilang soal pulau. Tidak dengan harta karunnya," sahut Livy tidak mau disalahkan.


"Tetapi kau tidak bilang kalau hartanya sebanyak ini."


Livy tidak menghiraukan Abio lagi. Wanita itu fokus mengejar Zion yang jaraknya sudah lumayan jauh dari mereka.


Tidak butuh waktu lama Zion telah tiba di pinggiran pantai. Pria itu segera meletakkan tubuh Norah di kasur yang ada di dalam kapal. Bersamaan dengan itu, Livy dan Abio juga masuk ke dalam kapal.


"Jaraknya sangat dekat dengan mansion. Kita harus segera berangkat agar tidak terkena ledakan," ucap Livy.


"Tunggu!" cegah Zion. Pria itu memandang Norah sebelum memandang Livy. "Bawa Norah pergi dari sini. Aku harus menyelamatkan adikku lagi."


"Adik?" tanya Abio bingung.

__ADS_1


"Ya. Aku harus menyelamatkan adik iparku!"


__ADS_2