Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 187


__ADS_3

"Sayang," lirih Kenzo dengan suara yang begitu lemah karena pria itu juga sudah sangat tua. Bahkan ketika istrinya terjatuh Ia hanya bisa memeluknya agar tidak terjatuh ke lantai. Tidak bisa lagi menahannya seperti dulu lagi apa lagi menggendongnya. Kondisi Kenzo juga tidak sesehat dulu.


"Oma!" Abio kaget. Pria itu segera berlari untuk membantu Kenzo menahan tubuh Shabira.


Lagi-lagi suasana pesta pernikahan yang tadinya dipenuhi dengan cinta kini berubah menjadi kekhawatiran. Mereka semua sangat takut ketika melihat Shabira memejamkan mata. Mereka tidak siap jika harus kehilangan lagi.


"Panggilkan dokter!" teriak Kenzo dengan wajah sedih.


"Opa, biar aku saja yang gendong Oma," tawar Abio.


"Jangan. Biar papa saja," sahut Kwan. "Kau tetap di sini. Tamu undangan ada banyak yang ingin menemuimu dan mengucapkan selamat. Oma Shabira hanya kelelahan saja. Dia pasti akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Kwan segera mengangkat tubuh Shabira di bantu oleh Kenzo. Mereka segera berlari pergi meninggalkan lokasi pesta.


Semua orang yang di sana menjadi panik ketika Shabira pingsan dan tidak sadarkan diri lagi. Rasanya mereka semua ingin mengikuti Kenzo namun banyak tamu undangan yang harus diperhatikan oleh sang mempelai. Mereka tidak bisa ikut bersama dengan Kenzo dan juga yang lainnya karena harus bertahan di sana dengan para tamu undangan.

__ADS_1


"Kita tidak bisa di sini saja. Kita juga tidak akan tenang jika melihat Oma Shabira dalam keadaan seperti itu," ujar Livy dengan wajah khawatir. Dia sudah sangat menyayangi Oma Shabira sampai-sampai ingin menangis ketika melihat Oma Shabira tidak sadarkan diri seperti itu.


"Semua akan baik-baik saja. Oma Shabira adalah wanita yang sangat kuat. Aku yakin sebentar lagi dia akan bangun dan bisa berkumpul lagi bersama kita," ujar Abio dengan penuh keyakinan meskipun kini pria itu tidak bisa bernapas dengan tenang lagi.


Opa Zen memutuskan untuk tetap di sana meskipun Oma Shabira adalah adik kandungnya sendiri. Bukan karena ia tidak mempedulikan kesehatan adiknya tetapi ia lebih memikirkan perasaan cucu-cucunya yang kini terlihat tidak tenang di hari pernikahan mereka. Bersama dengan Leona dan Katterine, mereka kembali menyambut tamu undangan. Acara pesta pernikahan itu tidak akan berlangsung sampai akhir karena kedua belah pihak memutuskan untuk mempersingkat acara berhubung Oma Shabira sakit.


"Masalah seperti ini pasti terjadi karena kami semua sudah tua. Cepat atau lambat masing-masing dari kami akan menyusul orang-orang tercinta yang sudah pergi lebih dulu," ucap Opa Zen hingga membuat Norah kesal dan mencubit Opa Zen.


Leona dan Jordan berusaha tetap tenang meskipun kini mereka ingin sekali melihat keadaan Shabira secara langsung. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Katterine dan Oliver.


Tapi di antara tamu undangan itu ada satu hal yang membuat Leona semakin khawatir. Tiba-tiba saja Zion menghilang. Entah di mana pria itu berada. Padahal seharusnya dia berada di sini bersama dengan Norah dan adiknya. Daisy juga yang tadi sempat terlihat kini sudah menghilang entah ke mana bersama dengan Foster. Leona benar-benar pusing melihat tingkah laku anak-anaknya. Mereka berdua selalu saja pergi tanpa berpamitan hingga akhirnya membuat Leona menjadi panik.


Jordan mengambil ponselnya dari dalam saku ketika dia tahu ada pesan masuk di dalam ponselnya. Pria itu segera membaca isi pesan yang baru saja masuk. Alisnya saling bertaut ketika Jordan membaca pesan tersebut. "Aku pergi sebentar, Pa. Tidak akan lama. Tiga hari lagi aku akan kembali. Maafkan aku karena tidak bisa hadir di resepsi penting pernikahan Norah. Masalah ini sangat genting dan tidak bisa diwakilkan oleh siapapun. aku harus berangkat sendiri untuk menyelesaikannya karena. Maafkan aku karena tidak berpamitan langsung. Aku tahu jika aku berpamitan langsung pasti Mama tidak akan setuju."

__ADS_1


Jordan segera memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku dan memasang ekspresi wajah setenang mungkin. Dia tidak akan menyampaikan kabar ini kepada Leona karena itu hanya akan membuat keadaan semakin kacau. "Sebenarnya apa masalah yang sedang dihadapi Zion?" gumam Jordan di dalam hati.


...***...


Zion sudah berada di dalam pesawat. Pria itu tahu kalau orang tuanya pasti sudah membaca pesan yang ia kirimkan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena dia tidak bisa menemani Norah di pesta pernikahannya sampai pesta pernikahan itu berakhir. Meskipun begitu hadiah yang sudah ia persiapkan telah Ia berikan kepada Norah dan juga Livy sebelum ia berangkat pergi. Hadiah itu telah Ia titipkan kepada Daisy.


"Aku sudah tidak peduli dengannya. Tapi tiba-tiba saja aku tidak tenang lagi mendengar kabar darinya dan memutuskan untuk menemuinya. Seperti ini yang namanya cinta. Meskipun hal ini sudah terjadi cukup lama. Rasa cinta di dalam hatiku tidak juga hilang. Aku di buat gila oleh perasaanku sendiri. Sulit untuk mengendalikan perasaan rindu ini. Aku tahu Mama pasti marah ketika tahu kalau aku pergi untuk menemui Faith dan mengatakan aku ini pria yang sangat bodoh. Tetapi mau bagaimana lagi?Aku tahu lokasi pesta pasti aman karena banyak orang hebat di sana. Sedangkan Faith berada dalam kesulitan." Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar dan menertawakan kebodohan yang kini terjadi di dalam dirinya.


Pasukan Gold Dragon yang saat itu bersama Zion juga terlihat bingung. Dia sudah memperingati Zion untuk tidak lagi mempedulikan keadaan Faith. Namun bukan Zion Zein namanya jika pria itu tidak keras kepala. Jika dia sudah mengambil keputusan tidak bisa dibantah lagi oleh orang lain termasuk orang tuanya sendiri.


"Bos, pasti ini hanya jebakan Nona Faith saja. Dia mengajak anda untuk ketemuan di Las Vegas. Bukankah itu adalah wilayah kekuasaan Dominic?Bagaimana jika setelah tiba di sana kita akan mendapat masalah. Anda juga tidak membawa pasukan Gold Dragon untuk menjaga anda hari ini. Bukan saya ragu dengan kemampuan anda tetapi jika kita dikeroyok seperti waktu itu lagi kita tentu tidak akan bisa keluar dari Las Vegas dengan selamat. Ini benar-benar keputusan yang sangat beresiko."


"Kita sudah ada di dalam pesawat. Berubah pikiran juga tidak akan membuat pesawat ini putar balik. Hadapi saja apa yang terjadi di sana." Zion memandang keluar jendela sambil mengenang percakapannya dengan Faith sebelum berangkat tadi. "Bahkan sampai detik ini aku masih tidak percaya kalau sedang duduk di dalam pesawat yang terbang menuju ke Las Vegas."

__ADS_1


__ADS_2