Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 218


__ADS_3

"Kenapa cepat sekali?"


Faith menahan kalimatnya ketika melihat Zion muncul di dalam ruangan tempat Zean di rawat. Pria itu membawa parsel buah di tangannya. Tanpa permisi dia berjalan mendekati Zean yang sedang tertidur pulas.


"Maaf, aku pikir tadi Kak Dominic," ucap Faith sambil menundukkan kepalanya.


"Kau tidak suka jika aku muncul di hadapanmu?" Zion meletakkan parcel buah yang ia bawa di atas nakas.


"Bukan seperti itu. Kak Dominic baru saja keluar. Dia pergi untuk membeli beberapa makanan ringan. Tadinya aku pikir Kak Dominic kembali lagi karena ada sesuatu yang tertinggal."


Zion duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Zean. Mereka duduk berseberangan dan dibatasi oleh tempat tidur Zean. Zion masih bisa melihat jelas wajah cantik Faith dari posisinya berada.


"Lalu apa yang kau rasakan ketika melihatku muncul lagi di tempat ini?" tanya Zion.

__ADS_1


"Sedih," jawab Faith tanpa memandang.


"Sedih kau bilang?" celetuk Zion sambil mengernitkan dahi.


Faith mengangguk setuju. "Bukankah aku sudah bilang agar Kak Zion tidak datang ke sini. Kak Zion fokus aja sama urusan Kak Zion di sana. Tapi kenapa Kak Zion keras kepala sekali. Kak Zion rela meninggalkan pekerjaan Kak Zion hanya untuk melihat keadaan Papa," ucap Faith marah.


"Aku ke sini bukan untuk papamu!" ketus Zion keceplosan. Pria itu segera tersadar. Dia memandang ke arah lain sejenak sebelum memandang wajah Faith lagi. "Maksudku ... Mama yang sudah menyuruhku untuk datang ke sini. Dia ingin aku memastikan sendiri kalau keadaan Tuan Zean sudah jauh lebih baik. Mama tidak puas jika mendengar penjelasan dari dokter," sangkal Zion.


Faith sama sekali tidak curiga karena alasan yang dikatakan oleh Zion cukup masuk akal. "Berapa lama Kak Zion ada di sini?"


"Sebenarnya di sini tempatnya sangat nyaman. Dari segi ruangan, Aku tidak pernah ingat kalau sekarang tinggal di rumah sakit karena ruangan ini memang sangat nyaman. sudah seperti sebuah apartemen saja. Aku yakin biaya yang dikeluarkan juga tidak sedikit."


"Hanya itu saja yang kau pikirkan? Tidak ada yang lain lagi?" tanya Zion penuh selidik. Pria itu berharap dirinya selalu memenuhi pikiran Faith. Namun Zion tidak memiliki cara untuk membuat Faith mengakuinya.

__ADS_1


Faith mengangguk dengan wajah polosnya. "Sebenarnya itu hanya salah satunya saja yang saat ini memenuhi pikiranku." Faith tersenyum manis.


"Lalu hal-hal lain apalagi yang sekarang memenuhi pikiranmu. Apakah itu berhubungan dengan masa depanmu?"


"Sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa depanku. Aku merasa kasihan dengan Kak Dominic. Beberapa hari ini dia kurang tidur. Aku ingin dia istirahat. namun dia sangat keras kepala. Dia sama sekali tidak mau mendengar perintahku. Meskipun kedua matanya mengantuk dan tubuhnya sangat lelah, tetapi ia terus memaksakan diri untuk menjaga papa dan menjagaku."


"Ini kesempatan yang bagus bagiku. Aku harus bisa membujuk Dominic agar mau pergi meninggalkan rumah sakit ini. Pria itu harus istirahat di tempat yang jauh. Dengan begitu aku memiliki kesempatan untuk bersama dengan Faith," gumam Zion di dalam hati.


"Apakah Kak Zion sudah makan?"


"Bagaimana denganmu? Kau sudah makan?" tanya Zion balik.


"Aku belum makan. Kak Dominic juga belum makan. Jika Kak Zion juga belum makan, kita bisa makan bersama-sama nanti. Kak Zion hanya perlu mengatakan menu makanan yang Kak Zion suka. Nanti kita akan memesan makanan dari restoran yang tidak jauh dari rumah sakit ini. Masakannya sangat enak dan sudah menjadi langganan kami berdua."

__ADS_1


"Kenapa ujung-ujungnya jadi membahas makanan seperti ini," umpat Zion di dalam hati. Pria itu menyerah. Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Faith menjadi lebih peka terhadap perasaannya. "Yang terpenting sekarang dia bersamaku. Itu sudah lebih dari cukup."


__ADS_2