
Selama perjalanan menuju ke tengah-tengah hutan, Norah terus saja memandang wajah Austin. Sebenarnya dia sendiri tidak sadar kenapa sejak tadi memandang wajah Austin seserius itu. Berbeda dengan Austin yang terlihat santai saja ketika dia tahu Norah memandang wajahnya. Walau ada rasa gugup. Tetapi pria itu sungguh pintar menyembunyikan isi hatinya.
“Kenapa aku harus terjebak dengan musuh kakakku? Bagaimana kalau Kak Zion sampai tahu? Dia mungkin akan salah paham,” gumam Norah di dalam hati.
“Oke, kita sudah sampai. Sepertinya kita berhenti di sini untuk beberapa saat. Kakiku juga mulai lelah,” ujar Austin hingga membuat Norah memalingkan wajahnya. Dia tidak mau sampai Austin tahu kalau sejak tadi dia sedang memikirkan Austin dan memandang pria itu tanpa berkedip.
Norah di dudukkan di tumpukan daun kering yang ada di tengah hutan. Hutan itu seperti pernah dikunjungi oleh pemburu. Ada bekas bakaran dan tenda yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Austin mendekati tenda itu untuk memeriksa isi di dalamnya. Tidak lupa belatih tetap ada di genggamannya agar dia selalu bisa melindungi diri setiap kali ada sesuatu yang muncul secara tiba-tiba dan mengancam nyawanya.
“Apa yang ingin kau lakukan? Kau tidak memiliki niat untuk menggunakan tenda itu sebagai tempat istirahat kita kan?” Norah terlihat ragu. Melihat lokasi hutan itu membuatnya merinding.
“Setidaknya tenda ini bisa dijadikan tempat untuk berteduh jika hujan turun,” sahut Austin. Pria itu segera masuk ke dalam tenda dan memeriksa isi di dalamnya. Tenda berukuran 2 x 1,5 meter itu ternyata masih layak pakai. Walau di dalamnya tidak ada benda apapun yang bisa mereka gunakan untuk memasak.
“Austin, apa yang kau temukan di dalam?” Melihat Austin masuk ke dalam tenda dan tidak kunjung keluar membuat Norah khawatir.
“ARRRGGGHH!”
Norah melebarkan kedua matanya mendengar teriakan Austin. “Austin, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?” Austin tidak memberi jawaban. Hal itu membuat Norah menjadi tidak karuan. Dia sangat panik. “Austin, apa kau mendengar suaraku?”
Norah memandang kakinya yang terluka. Dia berusaha berdiri sambil berpegangan dengan tongkat kayu yang ada di dekatnya. Wanita itu berdiri dan mengatur keseimbangan tubuhnya. Ketika ingin melangkah, tiba-tiba Austin muncul dan tertawa.
__ADS_1
“Norah, kau mengkhawatirkanku? Eh?” ledek Austin.
Norah yang kesal hanya memalingkan wajahnya. “Ini tidak lucu.”
“Norah, kenapa kau dingin sekali? Tersenyumlah. Aku melakukan semua ini karena ingin melihatmu tersenyum. Apa aku seburuk itu sampai tidak pantas mendapatkan senyumanmu yang manis itu?”
Austin menatap wajah Norah dengan wajah sedih. Pria itu tahu dan sadar kalau cintanya masih bertepuk sebelah tangan. Tetapi dia yakin, tidak lama lagi wanita pujaannya itu pasti akan luluh dengan rayuannya.
“Aku hanya ingin pulang. Aku merindukan keluargaku, Austin ….”
Austin kali ini mulai serius. Ia mendekati Norah dan segera mengusap air mata yang menetes di pipi Norah. Dengan penuh perasaan dia menarik Norah dan memeluknya. Mengusap punggung wanita itu dengan lembut. “Aku akan membawamu pulang, Norah. Aku akan mempertemukanmu dengan keluargamu. Tapi, tidak sekarang. Aku janji Paman Tano akan mengirim orang untuk mencariku. Mungkin tidak secepat yang kau bayangkan. Namun setidaknya kita tidak akan mati di hutan ini.”
Saat suasana berubah menjadi sedih, justru perut Norah yang kelaparan berbunyi hingga membuat Austin menaikan satu alisnya. Walau Norah tidak peduli perutnya lapar. Tetapi cacing di perutnya protes dengan menggunakan toak. Hutan yang sunyi itu membuat suara perut Norah terdengar dengan begitu jelas.
“Kau lapar, Nona?” tanya Austin dengan bibir tersenyum.
“Apa kau memiliki sesuatu untuk di makan?”
“Tidak ada untuk sekarang. Tetapi, aku akan memasakkan sesuatu untuk kau makan.” Austin mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk memasak. Pria itu berjalan ke dekat tenda dan berjongkok. Dia menemukan korek api di depan pintu masuk tenda. Austin tersenyum bahagia karena keberuntungan masih berpihak padanya.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau masak? Apa kau butuh bantuan?” Norah berusaha menjalankan kakinya perlahan. Austin segera beranjak dan mendekati Norah. Dia juga terlihat bahagia melihat Norah mulai bisa berjalan lagi.
“Aku akan mencari ikan. Semoga saja bakat itu masih ada. Jika tidak ada, kita terpaksa makan ubi bakar malam ini. Hanyay ada pohon ubi di dekat kita. Aku tidak bisa menjelajahi hutan ini dan meninggalkanmu sendirian di sini.”
Norah melihat ke arah pohon ubi yang di tunjuk Austin. Bagi Norah makan apapun tidak masalah. Yang membuatnya bingung. Bagaimana bisa Austin kepikiran sampai sejauh itu? Bahkan dia saja yang wanita sejak tiba di sana tidak pernah memiliki pemikiran untuk menjadikan ubi itu sebagai menu makan malam mereka.
“Kau tidak suka ubi?” tanya Austin dengan wajah bingung.
Norah tersenyum sambil geleng kepala. “Cari kayu. Biar aku yang membakar ubinya. Kau pergi saja cari buah-buahan. Semoga saja hutan ini dipenuhi tanaman buah,” perintah Norah. Wanita itu terlihat bersemangat mendekati pohon ubi yang akan mereka olah menjadi ubi bakar. Walau langkahnya maish tertatih-tatih, tetapi setidaknya Norah sudah terlihat jauh lebih baik.
“Norah, ini belatih. Peganglah. Lindungi dirimu dengan benda ini.” Austin mengambil tangan Norah dan meletakkan satu-satunya belatih miliknya kepada Norah.
“Bagaimana denganmu?” Norah terlihat ragu untuk menerimanya.
“Percuma aku hidup jika kau celaka. Jangan pikirkan keselamatanku, Norah. Pikirkan saja dirimu sendiri. Kau harus bisa melindungi dirimu. Jika ada bahaya, berteriaklah. Aku akan segera datang.”
Norah tidak menjawab lagi. Dia menggenggam belatih itu dan memandang Austin. Pria itu berjalan cepat menuju ke hutan untuk mencari sesuatu untuk mereka makan. Norah memutar-mutar belatih tersebut sebelum menemukan logo The Bloods di sana.
“Kenapa Austin masih menggunakan nama The Bloods? Bukankah kata Paman Tano dia sudah melupakan The Bloods? Apa benar Austin sudah berubah? Bagaimana kalau semua ini hanya jebakannya sajaagar dia bisa mengalahkan Kak Zion?” Norah diam sejenak. “Tidak tidak. Dia tidak mungkin sejahat itu. Jika sejak awal dia ingin menjebakku, kenapa dia harus repot-repot menolongku dari rumah itu? Bahkan kami sampai terdampar di pulau ini.”
__ADS_1
Norah memandang ke arah laut mendengar suara kapal menuju ke pulau tempatnya berada. Wanita itu melangkah mundur dengan wajah takut. Orang-orang yang baru turun adalah orang-orang jahat yang pernah menyiksanya.
“Bagaimana ini? Kenapa mereka bisa tahu kalau aku ada di sini?”