Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 125


__ADS_3

Sambil menunggu matahari terbenam, Foster dan Daisy jalan-jalan menikmati keindahan sore. Mereka berdua terlihat sangat bahagia. Pasangan serasi yang memang seharusnya tidak pernah terpisahkan. Entah bagaimana tanggapan keluarga mereka besok ketika keluarga mereka mengetahui kabar ini. Yang penting sekarang Daisy dan Foster bahagia.


Opa Zeroun telah mendukung hubungan mereka berdua. Daisy yakin cepat atau lambat semua keluarganya akan mendukung dan mau menerima Foster untuk menjadi bagian dari keluarga mereka.


Foster sendiri sudah menyerah untuk memperjuangkan Daisy di depan orang tuanya. Tanpa restu orang tuanya dia akan tetap menikahi wanita pilihannya. Bahkan pria itu rela dikeluarkan dari daftar hari waris keluarga Matthew asalkan dia bisa bersama dengan Daisy selama-lamanya. Cinta Memang Buta. Cinta bisa merubah orang menjadi apa saja.


"Setelah ini kita ke mana," tanya Daisy sambil bergelayut manja di lengan Foster .


"Makan malam romantis," jawab Foster dengan penuh percaya diri.


"Makan malam romantis?" tanya Daisy dengan wajah ragu. Dia tahu kalau saat ini kondisi keuangan Foster sedang buruk. Bahkan untuk menyambung hidup saja Foster tidak memiliki simpanan. Bagaimana bisa pria itu mengajaknya untuk makan malam romantis. Yang banyak sedikitnya pasti harus menggunakan uang.


"Jika hanya untuk membayar makan malam romantis saja uangku masih cukup. Kau tidak perlu memasang wajah ragu seperti itu. Aku ini seorang pria. Percayalah padaku. Aku pasti bisa mendapatkan uang untuk membayar makan malam romantis kita nanti." Foster mengusap pipi Daisy.


"Makan malam romantis adalah makan malam yang indah bukan. Suasananya romantis. Di mana ketika kita makan malam kita ditemani oleh orang yang kita cintai. Tidak perlu mahal dan mewah yang penting orang yang kita cintai ada di hadapan kita. Makan roti di pinggir pantai juga termasuk makan malam romantis." Daisy berharap Foster tidak membayangkan makan malam romantis yang mewah. Karena itu hanya akan menyulitkan dirinya sendiri.


"Ya, kau benar. Selama kau ada di sampingku setiap makan akan menjadi makan yang romantis. Sarapan romantis, makan siang romantis, makan malam romantis. Bahkan minum romantis."


Daisy tertawa geli mendengar jawaban Foster . Wanita itu berhenti dan berdiri di hadapan Foster . Ia menatap kekasihnya dengan penuh cinta.


"Apa lagi yang sekarang kau pikirkan? Wanita cerdas sepertimu selalu saja ada hal-hal yang mengejutkan. Isi pikiranmu ini tidak bisa di tebak."


"I love you," ucap Daisy dengan lembut.


Foster tersenyum. "I love you too. Ini yang membuatku tidak bisa jauh darimu. Keusilanmu selalu saja memenuhi pikiranku."


"Ayo kita ke hotel. Kita harus temui Opa Zen dan minta ijin untuk pergi makan malam. Bukankah tadi Opa bilang kita tidak boleh lama-lama?" ajak Daisy. Dia melirik jam di pergelangan tangannya.


"Tapi aku masih belum puas bertemu denganmu. Kenapa langit cepat kali berganti sore. Sepertinya baru setengah jam yang lalu kita bertemu." Foster masih belum rela berpisah dengan Daisy. Walau sebenarnya mereka besoknya akan bertemu lagi.


"Kita bertemu dan bersama sejak tadi pagi.


Apakah kau belum puas dengan kebersamaan kita seharian ini?" Daisy mengeryitkan dahinya dengan alis saling bertaut.


"Aku belum puas dan tidak akan pernah puas. Setiap detiknya Aku ingin kita bersama seperti ini." Foster menautkan kesepuluh jari mereka. Pria itu menarik tangan dasi dan mengecup punggung tangannya dengan mesra. "Jangan Tinggalkan Aku. Perpisahan yang kemarin akan menjadi perpisahan terakhir. Setelah ini tidak akan ada perpisahan lagi," ucap Foster dengan bersungguh-sungguh.


"Berjanjilah. Kemarin adalah perpisahan yang terakhir. Sedikit pun jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi. Itu sangat sakit. Bahkan sampai detik ini sakitnya belum juga sembuh. Jika diulangi lagi, aku tidak tahu entah seperti apa bentuk hatiku nanti. Mungkin saja aku bisa berubah menjadi wanita gila yang tidak pernah kau bayangkan."

__ADS_1


Foster menarik Daisy dan memeluknya dengan erat. Pria itu tersenyum. "Tidak akan. Aku tidak akan pernah mau berpisah denganmu lagi Sayang." Pria itu mengecup pucuk kepala Daisy hingga berulang kali. Rasanya tidak ada bosannya dia melakukan hal itu walau sudah puluhan kali.


Di dalam hotel, dengan santainya Zeroun meneguk kopi panas yang baru saja dia pesan di restoran. Pria itu menikmati pemandangan sore melalui jendela. Dia terlihat sangat menikmati liburannya walau tidak kemana-mana. Langit yang hampir gelap dan matahari yang ingin tenggelam melengkapi keindahan sore itu. Sambil menyeruput sedikit kopinya dia membayangkan bagaimana sekarang cucunya bersama dengan pria yang dicintai.


Zeroun tidak pernah main-main ketika mengambil keputusan. Sebelum membawa Daisy ke Ukraina, dia sudah melakukan penyelidikan terhadap Foster . Dari penyelidikan itu Zeroun bisa memutuskan kalau Foster adalah calon suami yang baik untuk cucunya. Usaha Foster yang begitu keras membuat seorang Zeroun Zein kagum. Ditambah lagi bentuk kesetiaan Foster yang tidak ada batasnya.


Berulang kali Zeroun membayar wanita untuk menggoda Foster di saat pria itu sedang frustasi. Tetapi dengan kasar Foster menolak semua wanita yang ingin menggodanya. Dari situ Zeroun semakin yakin kalau Foster dan Daisy adalah pasangan yang serasi dan tidak sepantasnya dipisahkan.


"Bos, Setelah ini kita akan pergi ke mana. Apa kita akan bertahan di Ukraina sampai pesta pertunangan Nona Norah tiba?" tanya pria yang sejak tadi menemani Zeroun di hotel.


"Kapan pesta pertunangannya?" Zeroun meletakkan kopi itu di meja.


"Satu minggu lagi bos," jawab pria tersebut.


"Pastikan satu minggu ini keadaan aman terkendali. Biarkan Daisy dan Foster melewati masa-masa bahagia mereka. Setelah berpisah nanti mereka tidak boleh lagi bersedih."


"Anda akan memisahkan mereka lagi bos?" tanya pria itu tidak percaya. Tadinya dia pikir Zeroun akan membawa Foster kembali ke Cambride bersama dengan Daisy.


"Hanya berpisah untuk sementara waktu. Mereka tidak akan merasa kehilangan. Karena Setelah itu mereka akan bertemu setiap harinya."


"Mereka akan kuliah di Universitas Yale? Ehm, maksud saya anda akan mengurus Tuan Foster agar bisa kuliah lagi di Universitas Yale? Dengan begitu Nona Daisy dan Tuan Foster akan bertemu setiap harinya," tebak pria itu.


Pria di samping Zeroun mengangkat panggilan masuk di ponselnya. "Nona Daisy sudah ada di bawah? Baiklah, aku akan segera keluar." Pria itu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku. "Bos, saya harus segera pergi sebelum Nona Daisy melihat saya ada di sini. Jika anda butuh bantuan, Anda tidak perlu khawatir karena saya akan selalu ada di sekitar Anda."


"Terima kasih," ucap Zeroun.


"Saya permisi dulu Bos." Setelah berpamitan pria itu segera pergi. Dia juga tidak mau sampai bertemu Daisy hingga akhirnya Daisy berpikir yang aneh-aneh. Bagaimanapun juga dia salah satu orang kepercayaan Zion Zein. Dia tidak mau sampai Daisy merasa tidak nyaman.


Tidak lama setelah pria itu pergi, Daisy dan Foster masuk ke dalam kamar hotel. Mereka melepas genggaman tangan mereka karena sudah ada Zeroun Zein di sana. Daisy meminta Foster untuk duduk di sofa. Sedangkan dia sendiri menemui Zeroun Zein yang masih duduk di depan jendela.


"Opa, Apa yang Opa lihat?" Daisy memeluk Zeroun dari belakang. "Opa, terima kasih. Hari ini aku bahagia sekali. Kejutan Opa benar-benar membuatku ingin melompat karena terlalu bahagia. Daisy sayang sekali sama Opa," ucap Daisy sambil tersenyum bahagia.


"Apa itu artinya kau akan kalah taruhan?" ledek Zeroun sambil tertawa kecil.


Daisy melepas pelukannya dan memasang wajah cemberut. "Aku tidak mau kalah," ucapnya masih tidak terima.


"Sejak awal taruhan itu memang tidak pernah ada. Tetapi kau yang terlihat sangat bersemangat."

__ADS_1


"Waktu di pesawat aku tidak kepikiran kalau aku akan bertemu dengan Foster, Opa."


"Daisy, ada satu pertanyaan yang ingin opa tanyakan padamu. Jika sejak awal kau tahu kalau Opa akan membawamu untuk bertemu dengan Foster apakah kau mau ikut ke Ukraina?"


"Tidak, Opa. Aku tidak akan mau ikut pergi ke Ukraina bersama dengan Opa. Jika saja sejak awal aku sudah tahu ada Foster di sini," jawab Daisy.


"Kenapa?"


"Karena aku merasa belum siap untuk bertemu dengannya. Tetapi pertemuan tadi pagi sangat jauh berbeda dari apa yang aku pikirkan. Selama ini aku berpikir kalau poster bersenang-senang dengan wanita baru yang dia temui di Eropa. Tidak aku sangka ternyata dia ke Eropa agar ia bisa menjadi pria mapan. Walau pada akhirnya dia harus terjatuh, tetapi dia tetap setia. Semua itu aku lihat hari ini."


"Lalu, sekarang dimana Foster?" tanya Zeroun dengan alis saling bertaut.


"Kak Foster?" Daisy melebarkan kedua matanya. "Opa, ayo kita ke sofa. Kak Foster ingin bicara sama Opa," ajak Daisy dengan nada memaksa. Ketika Zeroun sudah beranjak dari kursi yang ia duduki, Daisy langsung menarik tangannya dan membawanya menuju ke sofa.


Foster berdiri dan tersenyum ketika melihat Zeroun. Pria itu menunduk hormat. "Apa kabar opa? Apa Opa sudah makan?" tanya Foster bingung. Dia tidak tahu harus bicara apa sekarang.


"Duduklah." Zeroun dan Daisy duduk di sofa yang sama. Sedangkan Foster ada di depan mereka.


"Opa, aku dan Kak Foster akan pergi makan malam. Apa boleh opa?" ucap Daisy dengan tatapan penuh harap.


"Foster, ada yang ingin opa tanyakn. Jawabannya menjadi penentu apakah Opa memberi ijin kalian untuk makan malam atau tidak." Ekspresi wajah Zeroun yang serius membuat Daisy tidak tenang. Wanita itu mengatur napasnya dan memandang Foster dengan penuh harap. Dia sendiri tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh Zeroun. Saat ini Daisy tidak bisa bantu apapun.


"Baik, Opa," jawab Foster dengan ekspresi wajah yang tenang.


"Jika nanti kau dan Daisy menemui Zion dan dia masih belum merestui hubungan kalian. Lalu Zion meminta Daisy untuk memilih antara dirinya dan kau. Saat itu Daisy lebih memilih Zion sebagai kakak kandungnya. Apa yang akan kau lakukan?"


Foster diam sejenak. Dia sudah kepikiran hingga sejauh ini. Namun, sampai detik ini dia juga belum menemukan solusi terbaiknya.


"Opa, kenapa bertanya seperti itu?" protes Daisy kurang setuju.


"Opa, saya akan mendukung Daisy untuk memilih Kak Zion. Saya ingin Kak Zion tahu, kalau cinta saya sangat besar. Walau harus kehilangan, saya tetap rela asal Daisy bahagia!"


"Opa, jangan seperti ini," lirih Daisy dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak bisa memilih. Keduanya sangat berarti dalam hidupku."


Zeroun mengangguk pelan. "Daisy, baju yang Opa berikan padamu saat di pesawat, malam ini kau harus memakainya. Kau pasti terlihat cantik mengenakan gaun itu." Zeroun memandang Foster. "Dan kau. Pergilah ke kamar yang ada di samping kamar ini. Sudah ada baju dan segala keperluan yang kau butuhkan di dalam sana. Malam Ini Kau boleh membawa cucuku untuk bersenang-senang. Tapi ingat kau harus menjaganya."


Foster terlihat bersemangat. "Terima kasih, Opa. Terima kasih."

__ADS_1


Daisy lagi-lagi memeluk Zeroun. "Terima kasih Opa. Aku sayang sekali sama Opa."


__ADS_2