Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 50


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti kediaman Leona dan Jordan. Mereka berdua tidak menyangka kalau anak kedua mereka akan pergi secepat ini. Dia masih muda. Masa depannya masih panjang. Pikiran seperti itu yang terus saja menyelimuti pikiran Serena. Ya, Serena. Wanita yang biasa di panggil dengan sebutan GrandNa itu kini sudah ada di Cambridge. Dia berangkat bersama Shabira dan Kenzo setelah mendapat kabar kalau pesawat yang ditumpangi Norah meledak di udara.


“Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi. Seharusnya aku mencegahnya,” lirih Serena yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


Jordan, Daisy dan Zion ada di dalam kamar. Mereka menemani Leona yang kini masih belum sadarkan diri. Kecelakaan itu memang sangat cepat. Walau tidak ada rekaman apapun yang memperlihatkan kecelakaan pesawat itu, tetapi puing-puing badan pesawat yang kini berserak di lautan sudah mewakili semuanya.


Zion telah mengirim pasukan terbaiknya ke lokasi kejadian. Namun, hanya sesuatu yang menyakitkan yang mereka dapatkan. Pasukan Gold Dragon datang dengan membawa kalung yang sempat diberikan Serena kepada Norah. Itu menandakan kalau Norah memang salah satu korban. Dia memang ada di dalam pesawat saat kecelakaan itu terjadi. Tidak ada tubuh korban yang ditemukan selamat. Mereka semua sudah dipastikan tewas saat pesawat meledak. Hanya sebagian barang bawaan penumpang yang tersisa dan menggenang di permukaan lautan. Sisanya ikut terbakar tanpa sisa.


“Kak, maafkan aku. Maafkan aku kak.” Shabira memeluk Serena sambil menangis pilu. Dia juga merasa bersalah karena barang titipan yang ingin diberikan Kenzo kepada Zeroun. Semua memang sudah takdir. Tapi, semua orang belum siap untuk kehilangan Norah.


Zeroun duduk di sebuah kursi sambil melihat rekaman cctv yang dia dapat dari Sapporo. Di situ terlihat jelas rekaman ketika Norah naik ke mobil. Bahkan ketika mobil itu berjalan dan meninggalkan rumah mewah Edritz Chen. Cctv yang ada di pusat kota dan bandara merekam secara jelas aktifitas yang dilakukan Norah. Mulai dari meletakan barang bawaannya hingga duduk di kursi untuk sejenak sebelum masuk ke pesawat. Setelah itu, dia hilang. Dia tidak ada kabar lagi. Tidak ada rekaman apapun yang menunjukkan tanda-tanda kalau Norah masih hidup. Tidak ada rekaman yang menunjukkan kalau Norah tidak jadi naik peswat.


Zeroun mengusap wajahnya dengan tangan. Pria itu tidak tahu harus bicara apa sekarang. Dia juga merasa kehilangan cucu yang sangat ia sayangi.


Livy dan Abio baru saja tiba. Mereka segera mendekati Serena yang memang saat ini semuau orang ada di dekat wanita itu. Livy duduk di samping Katterine. Dia juga terlihat sedih ketika mendapat kabar kalau Norah sudah tiada.


“Mom, apa benar?” bisiknya kepada Katterine.


Katterine mengangguk. Dia juga sedang menghapus air matanya sendiri dengan tisu. Wanita itu tidak bisa menjawab karena dia juga terluka mendengar kabar kalau Norah sudah tiada.


Dari arah tangga, Zion turun bersama dengan Jordan. Semua orang yang ada di sana beranjak dari tempat duduk mereka. Dua pria tangguh itu sedang sedih bahkan ingin menangis terus-terusan. Tetapi, mereka pria. Mereka harus kuat!

__ADS_1


Zion memandang semua orang yang datang. Papan bunga telah memenuhi pekarangan rumah. Pria itu mengepal kuat tangannya. Bibirnya kesulitan bicara. Tetapi, dia harus bicara.


“Selamat siang. Saya Zion Zein. Kakak kandung Norah Zein. Di sini saya ingin meminta maaf atas kesalahan yang pernah di perbuat oleh adik saya. Norah sudah dinyatakan meninggal dengan kondisi jenazah yang tidak bisa ditemukan lagi. Kami sekeluarga telah ikhlas melepas kepergiannya.”


Derai air mata membanjiri ruangan luas tersebut. Mereka semua tidak bisa membendungnya. Walau terbilang mustahil, tetapi mereka semua ingin Zion menyampaikan kabar bahagia. Bukan kabar duka seperti ini.


“Saya meminta kepada semua yang ada di sini untuk sama-sama mendoakan adik saya. Norah pergi dalam senyum. Kita semua sangat menyayanginya,” ucap Zion lagi sebelum menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Jordan merangkul Zion. Pria itu juga menangis. Bahkan hatinya meraung-raung karena tidak siap di tinggal putri tercintanya.


Zion memandang foto Norah yang kini sudah di sediakan di sana. Pria itu memalingkan wajahnya. “Aku harap semua ini mimpi. Kau masih hidup Norah. Kau harus masih hidup. Jangan tinggalkan aku!” gumam Zion di dalam hati.


***


Leona mulai menggerak-gerakkan tangannya. Daisy yang duduk di samping ranjang segera memegang tangan Leona. Wanita itu memeluk tangan Leona dan menciumnya hingga berulang kali. Dia sudah kehilangan kakak kandungnya. Dia tidak mau kehilangan ibu kandungnya. Daisy menangis sambil memejamkan mata.


Dokter yang ada di ruangan itu memeriksa keadaan Leona. Leona sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Tetapi, wanita itu belum mau membuka kedua matanya. Buliran air mata menetes di sudut bibirnya. Dokter tahu kalau Leona sudah sadar. Namun, wanita itu menolak untuk membuka mata dan memandang orang-orang yang ada di sekitarnya.


“Ma, jangan seperti ini Ma. Masih ada Daisy. Daisy dan Kak Zion akan selalu ada untuk mama,” lirih Daisy lagi.


“Norah putriku ….” Leona membuka kedua matanya secara perlahan. Dia menangis terisak-isak melihat Daisy. “Norah. Dimana dia? Apa dia sudah kembali?”


Daisy menggeleng pelan. Dia segera memeluk tubuh Leona dan menangis sejadi-jadinya. Kedua matanya sudah bengkak karena terlalu banyak menangis. “Relakan kepergian Kak Norah, Ma. Kak Norah sudah tenang. Kita tidak perlu menghalangi kepergiannya. Biarkan dia bahagia bersama Oma Emelie dan Opa Daniel.”

__ADS_1


“TIDAK! PUTRIKU MASIH HDUP!” teriak Leona. Teriakan itu membuat Daisy takut sampai berangsur mundur. Dokter dan perawat yang ada di sana mempersiapkan suntikan untuk membuat Leona kembali tenang.


“Mama,” lirih Daisy dengan air mata yang semakin menjadi.


Zion dan Jordan masuk ke kamar lagi. Daisy segera berlari dan memeluk Zion karena takut. Sedangkan Jordan mendekati Leona untuk membantudokter menenangkannya. Ibu mana yang sanggup dan ikhlas mendengar kabar kematian putrinya? Seperti itu yang dirasakan Leona. Dia masih belum siap kehilangan putrinya. Dia butuh waktu untuk menerima semua ini.


Zeroun dan Serena juga masuk ke dalam kamar. Tidak semua bisa masuk karena mereka juga harus menjaga privasi Leona. Serena segera mendekati Leona. Wanita itu berharap bisa membuat putrinya jauh lebih tenang.


“Sayang, mama tahu kau sedih. Tetapi, kau tidak boleh seperti ini. Larut dalam kesedihan juga tidak baik. Lihatlah Daisy dan Zion. Mereka juga anakmu. Mereka tidak mau kau seperti ini,” bujuk Serena.


Leona seperti tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Wanita itu menjambak rambutnya dan berteriak seperti orang gila. Jordan memegang tangan Leona ketika dokter ingin menyuntikkan obat penenang. Zeroun juga membantu Jordan. Serena hanya bisa berdiri sambil menangis. Wanita itu tahu bagaimana perasaan Leona saat ini. Tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya membujuk Leona.


“Daisy, kau harus istirahat juga. Ayo, kakak akan antarkan kau ke kamar,” ajak Zion. Daisy hanya mengangguk dengan derai air mata yang masih deras. Zion membawa Daisy keluar kamar. Pria itu sendiri harus kuat. Dia akan menjaga Daisy dengan sebaik mungkin agar tidak kehilangan lagi. Pria itu tidak mau kejadian yang sama terulang lagi.


Kalau saja Norah tewas karena di bunuh, mungkin saat ini Zion tidak ada di sini. Dia akan mengejar orang yang sudah menjadi dalang dari semuanya. Namun, pada kenyataannya Norah tewas karena kecelakaan. Tidak ada yang mau kecelakaan ini terjadi. Termasuk ratusan korban yang ikut tewas bersama dengan Norah.


“Kak, aku ingin tidur.” Daisy memandang wajah Zion. Dia memegang tangan Zion. “Tapi, di temeni. Kakak jangan pergi. Aku tidak mau kehilangan lagi,” pintanya dengan suara serak.


Zion mengangguk. Dia meminta Daisy duduk di atas tempat tidur sebelum memberikan segelas air putih. Zion mengusap rambut adiknya tanpa mengatakan satu katapun. Zion benar-benar bisu hari ini. Kalimat apa yang bisa dia katakan untuk membujuk Daisy agar tidak menangis lagi sedangkan Zion sendiri tidak bisa menenangkan hatinya sendiri?


Daisy memberikan gelas yang sudah kosong kepada Zion. Wanita itu berbaring miring setelahnya. Dia memandang Zion dan memegang tangan pria itu. Menjadikannya guling agar Zion tidak pergi meninggalkannya sendirian di kamar itu.

__ADS_1


Zion memandang foto mereka bertiga yang terpajang rapi di dinding di dekat tempat tidur Daisy. Senyum Norah di foto itu membuat Zion juga ingin menangis. Bahkan berteriak. Kenapa harus Norah? Dia yang selama ini suka membunuh tetapi kenapa harus Norah yang tewas?


“Aku harap aku bertemu dengan Kak Norah di dalam mimpi,” gumam Daisy di dalam hati sebelum memejamkan matanya.


__ADS_2