
Austin kedinginan ketika hujan membasahi sekujur tubuhnya. Di tambah lagi angin malam yang begitu dingin. Bibirnya sampai biru karena kedinginan. Kakinya tidak bisa berjalan lagi karena luka tembak dan pukulan yang diberi pasukan Gold Dragon. Austin juga menahan sakit atas perutnya yang lapar. Sudah seharian dia tidak makan dan menahan sakit.
"Apa aku akan mati di tempat ini?" lirih Austin. Dia memandang langit dan tersenyum. Rintik hujan menghujam wajahnya. Austin memejamkan mata sambil meminum air hujan yang masuk ke dalam mulutnya. Wajah cantik Norah lagi-lagi muncul di ingatannya. Pria itu tidak marah. Dia justru semakin menyayangi Norah meskipun kini Norah sudah meninggalkannya sendirian di tempat ini.
"Norah sayang ... aku tidak akan menyerah. Aku pasti bisa mendapatkan cintamu."
"Austin!"
Austin tertawa kecil mendengar suara Norah memanggilnya. "Bahkan suaramu tidak bisa hilang dari pendengaranku sayang. Apa kau sudah sampai di Cambridge? Apa sekarang kau sedang menangis karena kehilangan sosok yang sangat kau sayangi?"
Austin batuk-batuk dan mengeluarkan darah. Pria itu benar lemah. Tiba-tiba ada tangan yang menarik kepalanya dan tubuhnya.
"Sorry ...sorry."
Austin membuka matanya dan memandang wanita yang kini memeluknya sambil menangis. Pelukan itu sangat erat hingga Austin tidak merasa kedinginan lagi.
"Norah sayang. Apa aku bermimpi?"
Norah melepas pelukannya. Dia mengecup kening Austin dan bibirnya. Darah yang tersisa di bibir Austin sampai menempel di wajahnya. Rambut wanita itu basah karena kehujanan. Dia sedang menangis tetapi air matanya tidak kelihatan.
"Maafkan aku. Maafkan aku."
Austin merasa pusing lagi. Pria itu memegang pipi Norah sebelum tidak sadarkan diri. Norah berteriak. Dia memeluk Austin sambil menangis sejadi-jadinya.
"Austin, bangun."
__ADS_1
"Nona, ayo kita bawa Tuan Austin ke kapal. Hujannya semakin deras," ajak Paman Tano.
Norah mengangguk. Dibantu oleh paman Tano dan anggota paman Tano, mereka membawa Austin pergi meninggalkan pulau tersebut. Norah meletakkan Austin di atas pangkuannya. Sama seperti yang dilakukan Austin ketika dia sakit kemarin.
"Nona, terima kasih," ucap Paman Tano. Dia memandang wajah Austin lagi sebelum memandang Norah. "Jika anda tidak menghubungi saya. Saya tidak akan tahu kalau Tuan Austin ada di pulau ini."
Norah hanya diam sambil mengusap rambut Austin. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Entah keputusan ini tepat atau tidak. Yang dia tahu, ketika Zion mengetahui ketidak beradaannya di dalam pesawat, pria itu pasti akan marah besar dan menyalahkan semua orang yang ada di dalam pesawat karena tidak bisa menjaganya dengan baik.
Norah berhasil kabur dari pesawat ketika pesawat itu mau berangkat. Ini memang sebuah keputusan yang sangat beresiko. Norah hampir kehilangan nyawanya saat itu. Tetapi, dia berhasil. Dia memang sudah di didik oleh Zeroun untuk jadi wanita tangguh yang serba bisa. Norah tidak menyangka kalau akhirnya kemampuan yang ia miliki ia gunakan untuk mengelabuhi kakak kandungnya sendiri.
"Maafkan aku Kak. Setelah Austin kembali sehat, aku akan menemui kakak. Aku yakin Austin hanya di jebak. Karena, jika dia ingin mencelakaiku, dia pasti sudah membunuhku sejak kemarin. Tidak perlu menjaga dan melindungiku dengan satu-satunya nyawa yang ia miliki," gumam Norah di dalam hati. Dia menghapus air mata yang lagi-lagi menetes membasahi pipi.
Paman Tano memandang Norah dengan wajah bingung. Pria itu sendiri tidak terlalu mengerti apa yang sebenarnya terjadi karena Norah tidak ada cerita apapun. Wanita itu hanya menghubunginya dan memintanya datang ke bandara. Setelah tiba di bandara, Norah segera masuk ke mobil dan membawa Paman Tano menuju ke dermaga. Sepanjang perjalanan Norah hanya menangis tanpa mau menjelaskan apapun.
"Nona, sebenarnya apa yang membuat anda menangis?" Paman Tano memberanikan diri untuk bertanya. "Siapa yang sudah mencelakai Tuan Austin sampai separah ini?"
Paman Tano tidak lagi mau bertanya. Dia juga tidak tega melihat Norah semakin sedih seperti itu. "Sebaiknya aku tunggu sampai Nona Norah kembali tenang saja," gumam Paman Tano di dalam hati.
...***...
Zion melangkah menuju ke tempat Norah tidur. Dia sudah terlihat jauh lebih segar. Setelah bangun, Zion langsung mandi dan mengganti pakaiannya. Dia membawa roti dan susu untuk membujuk Norah pagi ini. Zion yakin, adiknya itu pasti akan memaafkannya dan kembali menjadi Norah yang selama ini dia kenal.
"Norah, apa kau sudah bangun? Lihatlah apa yang kakak bawa," ucap Zion. Dia masih belum mau menggeser pintu yang menutup ruangan pribadi itu. Dia masih menunggu respon yang diberikan Norah dari dalam sana.
"Norah ... apa kau masih marah sama kakak? Kakak janji akan melakukan apapun yang kau inginkan, asalkan kau tidak sedih lagi."
__ADS_1
Bujukan demi bujukan seperti tidak artinya. Zion yang sudah mulai kesal meletakkan sarapan pagi yang dia bawa di meja. Pria itu menghela napas kasar melihat adiknya tidak juga membuka pintu.
"Baiklah. Kakak akan menggendongmu dan membawamu ke kamar mandi. Bagaimana? Kakak buka ya." Zion meletakkan tangannya dan menarik pintu yang menutup ruangan kamar tersebut. Berapa kagetnya Zion ketika melihat tempat tidur itu kosong. Norah tidak ada di sana.
"Norah." Zion memandang ke arah pintu. "Pengawal!" teriaknya.
Pasukan Gold Dragon dan pelayan yang bertugas segera berlari menghampiri Zion. Mereka semua menunduk dengan wajah takut.
"Ada yang bisa kami bantu, Bos?" tanya pasukan Gold Dragon.
"Dimana Norah?" tanyanya dengan nada ketus.
Pengawal itu memandang ke dalam. Dia sendiri juga tidak tahu kemana Norah pergi. Karena pesan Norah agar dia tidak di ganggu. Maka dari itu tidak ada satu orangpun yang berani mengganggu Norah.
"Nona Norah ...." Pengawal itu mendekati bantal dan mengambil kertas yang tergeletak di atasnya. Dia memberikan kertas itu kepada Zion.
Zion merampas kertas itu dengan emosi yang masih tertahan. Dia membaca tulisan adiknya dengan rahang mengeras.
"Maafkan aku kak."
Kertas itu langsung di rema*s hingga tidak berbentuk lagi. Zion menggertakkan giginya ketika tahu adil sudah tidak ada di pesawat lagi.
"Putar balik! Kita harus membawa Norah ke Cambridge!" teriak Zion penuh emosi.
"Baik, Bos." Pengawal segera berlari pergi. Diriku oleh pelayan wanita. Zion yang sendirian di sana terlihat geram membayangkan sifat adiknya.
__ADS_1
"Norah, kau memang sudah tidak bisa di percaya lagi. Kau sudah banyak berubah!"