
Tidak butuh waktu lama Abio sudah tiba di rumah Livy. Mobilnya sengaja di berhentikan di depan halaman rumah. Pria itu disambut hangat oleh Livy yang sudah menunggu di depan pintu. Wanita itu terlihat cantik dengan gaun biru muda yang ia kenakan. Rambutnya sengaja digerai. Terlihat halus dan lembut. Sambil tersenyum manis, Livy melangkah turun menyambut Abio.
Abio segera turun dari mobil dan berlari menghampiri kekasihnya. Pria itu sempat melirik mobil baru milik Livy yang terparkir di depan. Tidak ada kata lain yang ia pikirkan selain kata keren. Selera Zeroun Zein memang tidak pernah diragukan. Dia selalu tahu apa selera anak muda zaman sekarang.
"Apa kau sudah siap? Di mana mama dan papa mertuaku. Aku ingin minta izin sama mereka sebelum membawamu pergi." Abio memandang ke pintu yang masih tertutup. Dia ingin masuk ke dalam untuk menemui Oliver dan juga Katterine.
"Mereka sudah pergi sejak pagi. Tapi aku sudah bilang kalau akan pergi bersamamu. Papa tidak marah." Livy tersenyum lagi. "Apa kau sibuk hari ini? Kenapa wajahmu seperti itu?"
"Aku terlalu bahagia." Abio mengusap pipi Livy dengan lembut. "Oke. Tunggu apa lagi? Ayo sekarang kita berangkat. Aku juga sudah tidak sabar mencoba mobil keluaran terbaru ini." Abio memberikan lengannya kepada Livy. Tanpa pikir panjang wanita itu segera merangkul lengan Abio dan berjalan beriringan.
"Tunggu dulu." Abio menahan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Livy bingung.
"Kau adalah seorang tuan putri. Berhenti di sini. Aku akan membukakan pintu mobilnya." Abio melepas genggaman tangan Livy.
Livy tertawa geli mendengar perkataan Abio. "Kau bener-bener playboy, Abio. Kau tidak pernah kehabisan kalimat untuk merayu seorang wanita."
"Kau wanita pertama yang aku perlakukan semanis ini sayang. Percayalah padaku," ucap Abio bersungguh-sungguh. Dia ingin Livy percaya padanya. Tidak boleh ada keraguan lagi di ata Livy setiap kali memandang dirinya.
"Jika Aku tidak percaya padamu, Aku tidak akan menerima lamaranmu. Sekarang Ayo kita segera pergi. Jangan banyak bicara lagi."
Abio menarik pintu mobil dan menunduk hormat. "Silakan masuk tuan putri," ucapnya dengan nada yang sangat lembut.
"Terima kasih pangeranku sayang," jawab Livy. Tapi dengan wajah malu-malu. Dia segera masuk karena tidak sanggup memandang wajah Abio secara langsung saat itu.
Abio sendiri hanya bisa tersenyum manis mendengar perkataan Livy. Setelah menutup pintu mobil pria itu segera berlari untuk masuk dan duduk di jok kemudi.
"Benar-benar mobil yang keren. Baru duduk saja sudah merasa nyaman," puji Abio sebelum menghidupkan mobilnya.
"Kau masih tinggal di hotel?"
"Tidak. Aku membeli rumah," jawab Abio. Dia memang ke arah Livy sejenak sebelum ke depan lagi.
"Membeli sebuah rumah? Tapi untuk apa?"
"Hanya rumah kecil. Setidaknya aku punya tempat untuk tidur jika kelelahan."
"Bukankah kau sudah membeli apartemen? Kenapa membeli rumah lagi?" Livy tidak setuju jika Abio terlalu boros.
"Jarak apartemen dengan rumahmu sangat jauh. Aku tidak sanggup menahan rindu," jawab Abio berharap Livy tidak marah lagi.
"Tidak terlalu jauh. Hanya 30 Menit saja."
"Tapi rumah baruku yang sekarang hanya 15 menit saja. Aku tahu akan sering-sering datang ke kota ini untuk menemuimu. Jadi aku putuskan saja untuk membeli rumah sederhana tidak jauh dari sini. Nanti setelah menikah aku baru akan membeli rumah yang bagus dan mewah. Lokasinya terserah kau saja di mana kau suka."
Livy memalingkan wajahnya ke arah luar karena terlalu bahagia mendengar perkataan Abio. Sebenarnya dia juga sudah berpikir ke arah situ. Livy ingin setelah menikah nanti mereka tinggal di sebuah rumah yang jauh dari keluarga. Entah kenapa Livy berkeinginan seperti itu. Dia ingin lebih mandiri menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Abio.
"Livy sayang ... Apa kau sudah makan?"
"Tadi pagi aku sudah sarapan. Bukankah sekarang belum waktunya untuk makan siang?"
"Kau tidak bertanya apakah tunanganmu ini sudah makan atau belum?" Abio terlihat serius.
__ADS_1
Livy tertawa lagi dibuat Abio. "Baiklah aku akan bertanya. Abio Sayang apakah Kau sudah sarapan?"
"Sudah Livy sayang. Tadi pagi aku sudah bilang kalau aku sudah sarapan saat kau menghubungiku. Apa kau tidak ingat?" Abio menahan tawanya. Rasanya bahagia sekali bisa mengerjai Livy seperti itu.
Secara spontan Livy mencubit perut Abio karena geram. "Kau mengerjaiku!"
"Kenapa daya ingatmu lemah sekali. Kau ini seorang dokter."
"Abio, kau benar-benar menyebalkan."
Abio hanya tertawa saja mendengar omelan Livy. Pria itu menambah laju mobilnya untuk mengetahui seberapa cepat mobil sport milik tunangannya.
...***...
Di saat Livy dan Abio tengah asyik berpacaran. Daisy terlihat sedang berkemas-kemas. Wanita itu ingin liburan ke Eropa. Ia tidak sabar mencoba pesawat baru yang dibelikan oleh Zeroun . Sudah berulang kali ia memeriksa barang bawaannya. Tapi tetap saja ada yang kurang hingga akhirnya jumlah koper yang ia bawa jumlahnya mencapai 10. Norah yang juga ada di dalam kamar terlihat sangat bosan. Walau dia tidak ikut, tapi dia sudah bisa membayangkan bagaimana kelakuan Daisy di Eropa nanti. Walau sudah membawa banyak baju, tetap saja wanita itu pasti akan berbelanja lagi. Pergi dengan 10 koper bisa-bisa pulang dengan membawa 30 koper.
"Kau yakin akan pergi dengan membawa semua barang-barang ini? Bukankah kau bilang tidak akan lama? Kenapa barang bawaannya seperti ingin minggat dari rumah?" protes Norah kurang setuju.
"Kak, aku pergi untuk liburan dan bersenang-senang. Aku akan membawa semua barang yang menurutku bisa membuatku senang. Tolong kali ini biarkan aku melakukan sesuatu yang aku suka. Jangan dilarang-larang lagi."
"Aku tidak melarangmu, aku hanya ingin memperingatimu. Kau boleh saja melakukan apapun yang kau suka. Aku hanya khawatir jika kau tidak pulang ketika pesta pertunanganku dengan Austin berlangsung."
"Kakak jangan bicara seperti itu." Daisy beranjak dari tempat tidurnya dan mendekati Norah. Wanita itu memeluknya dari belakang. "Bukankah aku sudah bilang. Aku tidak akan lama-lama. Aku pasti pulang sebelum pesta pertunangan Kakak berlangsung. Kakak tenang saja."
Norah masih belum terima. "Kenapa harus sekarang liburannya? Kenapa tidak setelah aku tunangan saja."
"Kak, sebenarnya ada sebuah rahasia yang aku sembunyikan dari kakak. Jika aku ceritakan, Kakak jangan cerita sama yang lain ya?"
Norah mengernyitkan dahinya. "Kenapa banyak sekali rahasia yang kau simpan? Cepat katakan padaku sekarang juga."
"Ya, Aku janji tidak akan cerita pada siapapun. Hanya aku sendiri yang mengetahuinya," jawab Norah dengan ekspresi wajah yang menyakinkan.
"Sebenarnya aku akan berlibur bersama dengan Opa Zen. Aku sendiri sempat tidak percaya ketika Opa mengajakku untuk pergi ke Eropa. Sepertinya Opa butuh liburan tapi tidak punya teman jadi pada akhirnya dia mengajakku yang anak manis ini." Daisy mengedip matanya berulang kali untuk menggoda Norah.
Norah tertawa geli mendengarnya. "Siapa yang bilang kau ini manis. Kau ini sangat menyebalkan. Jika memang ingin liburan, kenapa Opa Zen tidak memberitahu siapapun? Kenapa harus dirahasiakan? Masalah ini jadi membuat semua orang panik dan khawatir."
"Soal itu jangan tanya padaku. Aku juga tidak tahu alasannya apa. Opa Zen memintaku untuk tidak memberitahu siapapun. Ya sudah aku turuti saja. Tapi kalau dari apa yang aku lihat sepertinya Opa Lukas, mama dan papa mengetahuinya. Saat dikabarkan Opa Zen menghilang dari rumah Mereka terlihat tenang-tenang saja. Seharusnya mereka sudah khawatir dan memesan ratusan detektif untuk mencari Opa Zen jika memang Opa Zen benar-benar menghilang."
Norah diam sejenak. Dia baru saja menyadarinya kalau memang Opa Lukas dan kedua orang tuanya terlihat tenang-tenang saja akhir-akhir ini. Padahal mereka para cucu-cucu sedang mencari keberadaan Opa Zen. Terutama Zion yang sampai sekarang jarang pulang hanya karena mencari keberadaan Opa Zen.
"Seharusnya kau bilang sejak awal, jadi aku tidak perlu repot-repot menyuruh pasukan Gold Dragon."
"Maafkan aku Kak."
"Apa sekarang kau sudah selesai beres-beresnya? Aku lapar sekali. Apakah kau mau menemaniku makan siang di luar. Austin harus mengurus perusahaannya. Beberapa hari ini dia tidak akan ada di kota ini. Lalu kau dengan seenaknya saja liburan ke Eropa. Jika butuh teman aku harus menemui siapa.?"
"Kan masih ada Kak Zion," jawab Daisy tanpa rasa bersalah.
"Kak Zion tidak bisa diharapkan. Akhir-akhir ini dia terlihat seperti sedang mengurus sesuatu," jawab Norah kurang setuju.
"Kak Zion memang seperti itu. Tapi kapan saja Kakak hubungi dan kakak ajak untuk menemani Kakak makan atau jalan-jalan dia pasti akan selalu hadir kok. Percaya Padaku. Kak Zion itu sayang sekali sama kita. Apa saja yang kita inginkan selu diusahakan. Dia ingin kita selalu bahagia."
"Kakak selalu percaya padamu Daisy. Tetapi jalan-jalan bersama Kak Zion itu tidak enak. Apa lagi setelah dia tahu aku dan Austin akan bertunangan. Dia bahkan jauh lebih posesif dibandingkan Austin. Setiap detiknya ia memperingatiku untuk menjaga hati agar Austin tidak kecewa. Lama-lama aku berpikir kalau adik kandungnya itu adalah Austin bukan Aku."
__ADS_1
Daisy tertawa geli. "Kakak cemburu dengan calon suami kakak sendiri?"
"Awalnya. Aku senang melihat Kak Zion dan Austin dekat seperti sekarang. Tapi, aku juga tidak mau diasingkan. Kak Zion seharusnya memihakku jika aku dan Austin berselisih paham."
"Kak, ayo kita makan siang. Nanti keburu sore. Aku juga harus segera berangkat ke bandara," ajak Daisy. Jika dibiarkan cerita terus, mereka tidak akan pergi-pergi ke restoran.
"Ayo. Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh ya?" Norah merangkul adiknya.
"Itu sudah pasti," jawab Daisy dengan senyuman.
...***...
Zion memperhatikan foto wanita yang ia tolong dengan saksama. Wajahnya malam itu kurang jelas. Dari foto yang didapatkan oleh pasukan Gold Dragon, Zion bisa melihat jelas wanita yang dia tolong. Pria itu terlihat sangat serius melihat foto wanita tersebut. Sampai-sampai pasukan Gold Dragon yang ada di sana bingung.
"Bos, ada lagi yang bisa kami lakukan?"
"Hanya foto?" Zion terlihat kurang puas. "Aku juga butuh informasi lengkapnya. Aku harus tahu apakah dia wanita baik-baik atau tidak!"
"Kabar yang kamu dapatkan, dia di jual oleh ibu tirinya kepada rentenir. Lalu, rentenir itu menjualnya ke pria kaya yang sangat berkuasa. Karena dia sangat cantik, pria itu ingin menjadikan-"
"Siapa namanya?"
Pria itu diam sejenak. "Nama wanita ini adalah Faith. Semua memanggilnya dengan sebutan Faa. Pria yang ingin menikahinya bernama Dominic. Pria berkuasa yang sangat disegani. Wilayah kekuasaannya ada di Las Vegas."
Zion mengeryitkan dahinya. "Las Vegas? Kenapa sampai sini? Cukup jauh juga dia kabur dari Las Vegas sampai ke sini. Naik apa dia?"
"Maafkan saya, bos. Masalah itu saya tidak tahu."
"Sekarang bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?"
"Sudah dipindahkan ke ruang perawatan, Bos. Secepatnya dia akan segera sadar. Apa anda ingin menemuinya?"
"Tidak sekarang. Bagaimana dengan penjagaan di sana? Apa ada yang mencurigakan?" Zion ingin memastikan kalau anak buah Dominic itu tidak ada di rumah sakit untuk membawa Faith ke Las Vegas lagi."
"Sejauh ini semua masih aman, bos. Tapi kamu tetap menjaga ketat rumah sakit. Terutama ruangan tempat Nona Faith di rawat."
Zion mengangguk pelan. "Aku harus pulang. Malam ini Daisy akan berangkat ke Eropa. Jika ada informasi terbaru, beri tahu aku secepatnya." Zion beranjak dari kursi tersebut.
"Baik, Bos."
Setelah berpamitan Zion segera pergi. Namun, satu hal yang membuat curiga pasukan Gold Dragon. Dari sepuluh foto Faith yang mereka letakkan di atas meja, ada satu foto yang hilang. Tanpa sengaja mereka melihat Zion memasukkan foto Faith ke dalam saku.
"Apa yang kau lihat?" bisik rekannya pelan.
"Aku merasa ada yang aneh," jawabnya pelan.
"Aneh? Apa yang aneh?"
"Biasanya Bos Zion tidak peduli. Apa lagi hal yang menyangkut soal wanita. Kali ini dia terlihat sangat peduli. Padahal jelas-jelas mereka tidak saling kenal."
"Mungkin Bis Zion menolongnya karena kasihan. Kau tidak perlu berpikir yang aneh-aneh. Jika memang mereka berjodoh, tugas kita hanya satu. Memastikan kalau wanita itu tidak menjadi diri di dalam hidup Bos Zion."
"Kau benar. Sekarang kita harus melakukan penyelidikan lagi. Jangan sampai Bos Zion terjebak."
__ADS_1
Zion duduk di dalam mobil sambil memandang foto Faith yang dia ambil. Pria itu memperhatikan wajah Faith secara saksama. Dia merasa ada yang aneh. Melihat foto Faith membuatnya ingat akan seseorang. Tetapi Zion tidak tahu, siapa yang dia ingat saat ini. Bayangannya sangat tidak jelas.
"Kenapa aku merasa seperti pernah bertemu dengannya. Tapi dimana? Seingatku, selain Daisy, Norah dan Livy. Aku tidak pernah bertemu atau berbicara dengan wanita manapun. Apa mungkin ini hanya perasaanku saja?"