
Ruang operasi itu sungguh menakutkan. Dingin dan terang. Suara detak jantung terdengar jelas hingga memenuhi ruangan. Dokter dan para tim medis sedang berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa Dokter Livy. Tidak jauh dari sana, tim medis yang lain juga sedang berjuang menyelamatkan nyawa Abio. Di dalam ruang operasi ada dua pasien. Keduanya dalam keadaan kritis.
"Dok, detak jantung pasien melemah," ujar salah satu perawat. Dokter bedah itu memperhatikan monitor lagi sebelum melanjutkan tindakan yang akan dia lakukan.
Di antara tim medis yang ada di sana. Seorang pria dengan tatapan mencurigakan sedang menyabotase agar operasi gagal. Kali ini dia tidak bisa menggagalkan operasi keduanya. Dia memilih Abio sebagai targetnya kali ini.
Perlahan dia mengganti gunting yang sudah diracuni lalu kembali bersikap sewajarnya. Dia tidak mau sampai ketahuan karena itu hanya akan menggagalkan rencananya kali ini. Bisa di bilang ini bukan pertama kalinya dia bermain di ruang operasi seperti ini. Tetapi entah kenapa kali ini terasa jauh berbeda. Dia merasa sangat takut dan seperti di awasi oleh seseorang. Padahal jelas-jelas di ruangan itu tidak ada penjagaan apapun.
"Berhenti!"
Teriakan seseorang membuat semua tim medis yang ada di ruangan itu kaget. Selain dokter dan petugas operasi, di larang masuk ke dalam. Tetapi ini tidak. Dia pria berbadan tegap menerobos masuk. Meskipun mereka sudah di jamin steril, tetap saja mereka tidak memiliki izin untuk masuk ke dalam.
"Tuan, sebaiknya anda segera keluar dari ruangan ini. Operasi masih berlangsung dan anda dilarang masuk," usir salah satu tim medis yang ada di sana.
"Tidak. Kami baru saja mendapat informasi kalau ada penyusup di dalam ruang operasi ini. Operasi tidak boleh sampai gagal. Bos Livy harus selamat." Ternyata dua pria berbadan tegap itu adalah pasukan The Filast. Mereka tidak akan membiarkan operasi sampai gagal.
...***...
Zion dan Faith sudah tiba di rumah sakti. Ketika mereka ingin masuk, mereka melihat Norah dan Austin juga baru tiba. Mereka tidak hanya berduaan saja. Ada Jordan, Leona dan juga Opa Zen di sana. Mereka semua mendekati Zion. Karena ini pertama kalinya mereka bertemu Faith, wanita itu menjadi sorotan utama. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas soal Faith. Mereka harus segera melihat kondisi Livy dan juga Abio.
"Kak, kakak baru sampai juga?" tanya Norah.
"Ya," jawab Zion. Dia memandang Opa Zen yang saat itu terlihat tidak bersahabat. Pria itu tidak mau banyak bicara. Dia segera masuk ke dalam dan meninggalkan mereka semua yang masih berkumpul di depan pintu masuk.
__ADS_1
"Opa Zen marah besar. Dia tahu kalau ini bukan murni kecelakaan. Seseorang pasti sudah menyimpan dendam dan niat jahat terhadap Livy dan Abio," ucap Leona. Tebakan wanita itu tidak pernah salah. Memang tadi dia sempat melihat foto mobil Livy yang kecelakaan. Dia juga sudah mendengar jelas detail kejadiannya. Ada hal yang mengganjal di hati. Mobil truk itu tidak seharusnya ada di sana. Ada jalan khusus yang biasa di gunakan. Kesimpulannya hanya satu. Mobil itu sengaja keluar jalur karena ingin membuat mobil yang ditumpangi Livy dan Abio celaka.
"Tapi siapa yang sudah melakukan semua ini?" tanya Norah bingung.
"Dominic," sahut Faith. Hal itu menarik perhatian semua orang.
"Dominic? Siapa Dominic?" tanya Leona ingin tahu.
Zion menarik Faith agar berdiri di sampingnya. Pria itu tidak setuju jika harus membahas masalah Dominic sekarang juga. Karena saat ini mereka harus fokus terhadap Livy dan Abio. Zion juga tidak mau sampai keluarganya menyalahkan Faith atas kejadian ini.
"Ma, ayo kita masuk. Nanti kita bahas lagi masalah ini," ajak Zion.
Norah yang seolah tahu dengan apa yang dipikirkan kakaknya segera mencari cara untuk membuat kedua orang tuanya masuk ke dalam.
Zion mengangguk. Pria itu memandang lagi kedua orang tuanya yang kini memandang Faith dengan tatapan penuh arti.
...***...
Penyusup itu masih bersikap sewajarnya. Dia memang pria pilihan. Semua tugas tim medis dia bisa tahu. Gerak-geriknya sangat rapi hingga tidak ada yang curiga. Bahkan pasukan The Filast yang sejak tadi ada di dalam ruangan juga tidak berhasil mengetahui siapa yang menjadi penyusup di sana. Mereka hanya tahu kalau salah satu tim medis hilang. Namun mereka tidak berhasil menemukan identitasnya.
"Bagaimana ini? Kita tidak bisa diam saja," bisik pria satu.
"Tapi jika salah tangkap juga berbahaya. Mereka juga berjuang menyelamatkan nyawa Bos Livy," sahut rekannya.
__ADS_1
Mereka menatap sekali lagi satu persatu wajah tim medis yang kini menggunakan masker. Kali ini mereka berhasil menemukan penyusup tersebut. Mereka saling memandang dan mengangguk. Mereka berjalan mendekati seorang pria yang ada di dekat Abio.
Penyusup itu sendiri masih bersikap sewajarnya meskipun kini anak buah Livy berjalan mendekatinya. Pria yang ada di samping penyusup mereka tangkap dan mereka tarik. Dokter dan tim medis lainnya terlihat protes. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena pasukan The Filast memegang senjata api.
"Bodoh!" gumam menyusup di dalam hati. Dia melirik gunting yang sudah ia tukar kini akan di gunakan. Jika gunting itu sampai berhasil menyentuh kulit Abio, maka habislah sudah riwayat pria itu.
Hingga tiba-tiba saja sebuah suntikan mendarat di leher penyusup tersebut. Kerja anak buah The Filast sangat rapi. Penyusup itu kaget bukan main karena tadinya dia pikir dia tidak akan tertangkap.
"Kau pikir bisa dengan mudah membodohi kami?" celetuk salah satu pasukan The Filast. Ketika pria itu tidak sadarkan diri, dia di tarik menjauh dari Abio.
"Jangan gunakan alat yang sudah dia siapkan. Itu sangat beresiko!" ujar pasukan The Filast.
Dokter yang tadinya ingin menggunakan gunting menahan gerakannya. Mereka menunda operasi Abio sampai alat-alat kembali di ganti. Namun operasi Livy sudah berjalan lancar dan sepertinya tidak mengalaminya kendala sama sekali.
Di depan ruangan, Opa Zen menatap Lukas yang kini terlihat sangat khawatir. Pria itu seperti menyesal karena sudah membiarkan cucunya begitu saja. Tadinya dia pikir Livy adalah wanita hebat yang selalu bisa di handalkan. Tidak di sangka, wanita itu masih memiliki celah untuk dikalahkan.
"Bagaimana dengan Biao? Kau sudah menghubunginya?"
"Dia sudah dalam perjalanan menuju ke rumah sakit ini. Kecelakaannya sangat parah! Nyawa mereka benar-benar kritis!" sahut Lukas. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar sebelum memukul dinding yang ada di depannya dengan sekuat mungkin. "Aku akan membalas perbuatannya!"
"Kau tahu siapa yang melakukan semua ini?" tanya Zeroun lagi.
"Dia hanya tikus kecil, Bos!"
__ADS_1