Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 143


__ADS_3

"Mereka terlihat manis ya," ucap Norah sambil membayangkan tingkah laku Zion dan Faith di markas Gold Dragon tadi. Rasanya dia ingin terus-menerus meledek kakak dan kakak iparnya tersebut. Baru ini dia memiliki kebebasan meledek Zion tanpa adanya perlawanan.


"Mereka pasangan yang cocok. Semoga saja Faith juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Kakak iparku," sahut Austin. "Jika tidak. Seorang Zion Zein bisa jadi sad boy." Austin tertawa kecil.


"Itu tidak mungkin," jawab Norah cepat.


"Bagaimana kalau benar?" ledek Austin lagi. Dia senang sekali membuat kekasihnya berpikir.


"Tapi sepertinya tidak mungkin. Kak Faith tidak mungkin menolak pesona kak Zion. Kak Zion itu tampan, kaya dan pemberani. Apa lagi coba yang kurang?"


"Tidak romantis mungkin. Bukankah wanita suka dengan pria yang romantis?" sahut Austin sambil sesekali memandang Norah.


"Buktinya saja kau tidak romantis dan aku menerimamu," sahut Norah cepat.


"Apa di matamu aku ini bukan pria yang romantis?" Austin tidak terima dikatai tidak romantis.


"Apa kau tidak ingat kalau kau mengajakku menikah saat kita ada di rumah sakit. Kesannya terlalu dipaksakan. Kau waktu itu beruntung karena Aku cinta padamu. Kalau aku tidak cinta dan tidak tergila-gila padamu mungkin aku Langsung melempar cincin yang kau sematkan di jariku. Bukankah pria itu sebelum melamar wanitanya akan membuat sebuah kejutan yang sangat manis. Hingga akhirnya lamaran si pria itu menjadi kenangan tersendiri yang akan dikenang seumur hidup. Bahkan bisa diceritakan kepada anak cucunya nanti. Seperti yang dilakukan oleh Opa Zen terhadap Oma Emelie. Oma Emelie pernah cerita kalau Opa Zen melamarnya di atas gedung. Disaksikan oleh ratusan lampu yang sangat indah dan bunga api yang menyala-nyala. Aku membayangkannya saja sampai iri. Tadinya aku pikir aku akan mendapat pria yang seperti itu juga. Ternyata kau berbeda jauh dari Opa Zen."


"Ya ya ya maafkan aku karena melamarmu tidak romantis waktu itu. Aku tidak memikirkan apapun selain ingin menikahimu. Kejadian saat di pulau sudah membuatku merasa sangat trauma. Aku tidak mau kehilanganmu lagi. Yang penting sekarang kita sudah bersatu. Kita akan menikah dan hidup bahagia. Jika aku kurang romantis tolong ajari aku menjadi pria yang romantis. Aku bersedia berubah menjadi seperti yang kau inginkan asalkan kau bahagia Norah."


Kedua mata Norah berkaca-kaca mendengar perkataan Austin. "Kenapa kau jadi manis seperti ini. Dari mana kau mendapatkan kalimat romantis itu. Jika kau terus-terusan seperti ini aku akan semakin tergila-gila padamu. Jangan pernah berubah menjadi apa yang aku inginkan. Tetaplah jadi dirimu sendiri. Karena aku mencintaimu bukan karena ada syaratnya." Norah langsung memeluk Austin dan mengecup pipi pria itu hingga berulang kali. "Aku mencintaimu calon suamiku. Sangat-sangat mencintaimu."

__ADS_1


"Aku mencintaimu calon istriku. Sangat-sangat mencintaimu tapi bisakah kau lepas pelukan ini aku tidak bisa menyetir mobil dengan tenang jika kamu memelukku seperti ini. Tapi jika kau ingin lanjut ke tahap selanjutnya aku bisa memberhentikan mobilnya sejenak."


Norah segera melepas pelukannya. "Jangan mesum Austin! Kita belum menikah. Kau belum bebas terhadap tubuhku ini."


"Kau yang mesum Norah. Memangnya apa yang kau pikirkan. Aku hanya tidak mau kau mendekatiku. Aku tidak memikirkan hal apapun. Sepertinya kau yang sudah sangat bernafsu terhadap tubuhku yang gagah ini."


"Austin! Kenapa sekarang kau berubah menjadi sangat menyebalkan." Norah mencubit perut Austin dengan gemas.


"Maaf, Sayang. Maaf maaf. Tolong lepaskan! Ini rasanya sangat sakit."


"Tidak akan. Kau harus menerima hukuman atas perkataan yang baru saja kau ucapkan." Norah tetap mencubit perut pria itu.


"Tapi kita lagi di jalan. Ada banyak mobil di depan sana. Jika aku menabrak salah satu mobil yang berbaris di depanku itu akan jadi masalah besar untuk kita. Tolong sekarang lepaskan. Jika ingin main cubit-cubitan lanjutkan di rumah saja."


"Norah, ada apa. Apa yang kau pikirkan."


"Bukankah semua pasukan Gold Dragon memiliki tato di lengan mereka. Tato itu tidak bisa dibuat oleh siapapun. Kami memiliki pasukan yang bisa membuat tato itu untuk dijadikan identitas bagi pasukan Gold Dragon. Tato itu tidak bisa didapatkan di manapun."


"Ya, aku tahu itu. Bahkan aku ingin memasang tatonya di dadaku. Tato Gold Dragon itu sangat keren. Tapi sekarang masalahnya ada di mana. Setelah membahas soal pria romantis apa sekarang kau ingin beralih topik membahas persoalan tato."


"Pada saat keluar dan masuk ke dalam mobil aku melihat seorang pria berdiri di sana tapi tidak ada tato di tubuhnya."

__ADS_1


"Mungkin saja tatonya ada di dada dan kau tidak bisa melihatnya dengan jelas."


"Tidak, Austin! Tidak. Yang bisa memasang tato di dada hanya Opa Zen, Opa Lukas, Paman Oliver, Papa dan Kak Zion. Pasukan Gold Dragon hanya boleh memiliki tato di lengan mereka agar bisa dilihat identitasnya dengan jelas. Tapi tadi aku tidak melihat ada tato di tangan pria yaitu." Norah membenarkan posisi duduknya. Namun wajahnya tetap saja tidak tenang .


"Kau mau bilang kalau ada penyusup di markas Gold Dragon?"


"Aku tidak yakin. Tapi sekarang aku tidak tenang. Bisakah kita kembali saja ke sana. Aku ingin katakan semua ini kepada Kak Zion agar Kak Zion bisa lebih waspada. Aku tidak mau ada bahaya lagi."


"Tapi kita sudah mau sampai rumah. Apa sebaiknya ditelepon saja. Mama sudah sangat khawatir denganmu. Dia akan marah jika kita tidak segera tiba."


"Tapi ini juga menyangkut nyawa Kak Zion dan Kak Faith."


"Bagaimana kalau kau hubungi saja kak Zion sekarang dan katakan apa yang kau pikirkan?" Austin memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia juga tidak bisa melanjutkan perjalanan jika tidak ada kepastian seperti ini.


"Baiklah." Norah segera mengambil ponselnya dan menekan nomor telepon Zion. Wajah wanita itu semakin panik ketika nomor Zion tidak bisa di hubungi. "Kak Zion, angkat!" Norah memandang Austin sebelum memutuskan panggilan telepon itu. "Gak di angkat. Bagaimana ini?"


"Tenang. Biar aku yang telepon." Austin mengambil ponselnya. Sedangkan Norah mencoba menghubungi Livy. Berharap wanita itu belum jauh dari markas Gold Dragon.


"Tidak aktif. Sekarang bagaimana?" tanya Austin juga khawatir.


"Kak Livy juga gak di angkat. Ayo kita ke markas." Hanya itu solusi yang ada di pikirannya sekarang.

__ADS_1


"Baiklah...." Austin memandang ke depan dan menahan kakinya menginjak gas mobil. "Sayang, kau kenal dengan mereka?"


__ADS_2