
"Siapa mereka?" tanya Norah bingung. Dia juga tidak kenal dengan orang-orang yang kini berdiri untuk menghalangi jalan mereka. Melihat orang itu memegang senjata membuat Norah khawatir. Dia tidak takut kalah. Tapi rasanya malas sekali jika dalam keadaan seperti ini harus menghabiskan waktu untuk bertarung dengan orang yang tidak di kenal.
"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali!" perintah Austin. Pria itu mengambil senjata api yang dia simpan di samping jok mobil sebelum turun. Sedangkan Norah juga bersiap-siap. Senjata api sudah ada di tangannya. Dia akan segera turun jika memang keadaan memaksanya.
"Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi jalan kami?"
"Apa kau yang bernama Austin?" tanya salah satu pria. Hal itu membuat Austin bingung. Dia tidak kenal dengan semua orang itu tapi mereka bisa mengenalinya.
"Siapa yang sudah membayar kalian?"
"Kami di minta untuk membunuhmu!" teriak salah satu pria.
Austin menyunggingkan senyuman tipis. "Coba saja kalau kalian bisa." Pria itu bersiap dan mulai menghajar musuh yang ingin melukainya. Dengan mudahnya ia menghindar dari belatih yang ingin menancap di tubuhnya.
Di dalam mobil, Norah tidak bisa duduk dengan tenang. Wanita itu ingin sekali segera turun untuk menolong Austin. Tetapi dia tidak mau Austin marah karena tidak mendengar kata-katanya.
"Sekarang aku harus bagaimana?"
Ponsel Norah kembali berdering. Wanita itu segera mengangkat panggilan teleponnya ketika melihat nama Livy di sana. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu apa yang sekarang terjadi.
"Kak," ucap Norah tertahan.
"Ada apa?"
"Kami di serang. Tapi sepertinya kami bisa menghadapi mereka. Mereka berjumlah lima orang. Memiliki senjata tajam dan bertubuh kekar."
"Dimana?"
"Kak, temui Kak Zion dan katakan padanya untuk tetap waspada. Tadi aku sempat melihat penyusup di markas Gold Dragon. Bodohnya aku tidak memberi tahu Kak Zion soal ini."
"Norah, siapa yang sudah menyerangmu? Sekarang kau ada dimana? Beri tahu aku." Terdengar jelas kalau sekarang Livy sangat khawatir.
"Aku dan Austin bisa mengatasinya kak. Sekarang yang paling penting keselamatan Kak Zion dan Kak Faithh. Tolong temui mereka dan sampaikan pesanku ini."
Livy diam sejenak seperti sedang mempertimbangkan permintaan Norah. "Baiklah. Apa kau sudah menghubungi pasukan Gold Dragon untuk membantumu?"
"Kami bisa menghadapinya. Sekarang kakak fokus ke Kak Zion saja. Jangan pikirkan keselamatan kami," ujar Norah sekali lagi.
"Baiklah. Aku dan Abio akan kembali ke markas Gold Dragon. Setelah bertemu dengan Kak Zion, aku akan menghubungimu lagi nanti."
Panggilan telepon itu segera berakhir. Kali ini Norah tidak bisa menunggu lagi di dalam mobil. Pria yang ia cintai sedang bertarung nyawa di depan sana. Dengan membawa sebuah belatih, Norah turun dari mobil.
Austin mendengus kesal ketika melihat Norah turun dari mobil. "Kenapa kau tidak pernah mendengar kata-kataku. Aku tidak mau kau sakit. Tubuhmu butuh istirahat yang banyak."
__ADS_1
"Kepalaku semakin sakit jika hanya duduk diam di dalam mobil melihatmu bertarung dengan mereka. Semakin cepat semakin baik. Kita tidak bisa buang-buang waktu untuk saat ini. Kita harus segera berangkat ke markas Gold Dragon."
Austin tidak mau protes lagi. Pria itu segera menghajar orang-orang yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Norah. Austin menghadapi tiga pria sedangkan Norah menghadapi dua orang. Mereka semua belum ada yang menggunakan senjata api. Hanya senjata tajam yang mereka gunakan untuk melindungi diri mereka. Beberapa pengguna jalan terlihat takut melihat pertarungan itu. Hingga tidak lama setelahnya mereka mulai mendengar suara sirine polisi dari kejauhan. Sepertinya salah satu pengguna jalan yang sudah menghubungi polisi.
"Kita harus kabur sebelum polisi melihat semua ini," ucap Norah sambil menghajar pria yang ada di depannya sekali lagi. Sangat kuat. Bahkan seluruh kekuatan yang ia miliki telah ia keluarkan.
"Aku justru ingin memasukkan mereka semua ke dalam penjara!" sahut Austin penuh emosi. Dia memukul wajah pria di depannya. Menghindar ketika ada yang ingin memukul wajah tampannya.
Musuh mulai terlihat tidak tenang ketika mendengar suara sirine polisi. Hingga salah satu dari mereka segera mengeluarkan senjata api ingin menembak Austin.
Norah yang melihat kejadian itu segera mengangkat senjata apinya dan menembak tanpa aturan. Dia tidak peduli kemana pelurunya bersarang. Yang penting kekasihnya selamat.
Tanpa di sadari Norah, musuh yang tadi ia hadapi juga mengeluarkan senjata api. Dua lawan lima. Mereka semua bersenjata dan dalam posisi saling menembak.
"Kami tidak pernah takut mati selama target kami berhasil kami kalahkan," ujar salah satu pria yang ada di sana. Mereka membentuk posisi setengah lingkaran. Norah dan Austin ada di tengah-tengah saling bersandar sambil memantau musuh mereka dengan begitu teliti.
"Kau bilang semua akan mudah. Sekarang apa?" protes Norah. "Kalau saja sejak awal aku membantumu, mungkin sekarang tidak akan seperti ini."
"Maafkan aku." Austin tidak tahu harus berkata apa lagi. Salah gerak sedikit saja mereka bisa terkena tembakan.
Tiba-tiba saja Austin berputar dan menembak musuh di depannya. Bersamaan dengan itu dia menarik tubuh Norah agar tiarap bersama dengannya. Musuh saling menembak satu sama lain. Sisa satu yang hidup sebelum berhasil menembak Norah, Austin lebih dulu menembaknya dengan tewas.
Bersamaan dengan itu, mobil polisi telah tiba. Austin dan Norah tertawa puas karena menang. Mereka masih dalam posisi tiarap di jalan raya sambil memegang senjata.
Austin kaget. Pria itu hanya bisa tertawa kecil memandang Norah.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan? Siapa mereka? Apa mereka telah menyerang anda? Senjata siapa ini?" tanya polisi yang kini berdiri di sana. Satu polisi lainnya telah menghubungi ambulan dan rekan polisi lainnya. "Anda harus ikut bersama kami ke kantor untuk memberi keterangan."
"Sepertinya masalah ini akan menjadi panjang," ujar Norah sebelum memejamkan mata.
...***...
Dalam waktu lima menit saja Livy dan Abio sudah tiba di markas Gold Dragon. Mereka berdua terlihat sangat khawatir hingga cepat-cepat menerobos masuk ke dalam. Bahkan mengabaikan pasukan Gold Dragon yang saat itu menyambut kedatangan mereka. Abio memegang tangan Livy agar wanita itu tidak jatuh karena berlari terlalu tergesa-gesa. Mereka sama-sama masuk ke dalam sambil berpegangan tangan.
Waktu itu Zion ada di ruang pertemuan sedangkan Faith ada di dapur untuk masak makan malam. Jarak antara Zion dan Faith tidak terlalu jauh. Dari posisi Zion duduk saat ini dia bisa melihat Faith dengan begitu jelas. Hal itu membuat Zion terlihat senang. Secara diam-diam dia bisa memandang wajah Faith tanpa ketahuan.
Kemunculan Livy dan Abio membuat Zion khawatir. Dia takut jika Livy datang hanya untuk membawa kabar buruk saja. Pria itu meletakkan senjata apinya di atas meja dan beranjak dari sofa. Dia menghampiri Livy dan Abio dan memandang dua orang itu dengan alis saling bertaut.
"Ada apa? Kenapa kalian kembali lagi? Di mana Norah?" Zion memandang ke pintu masuk untuk menunggu kemunculan Norah di sana.
"Nora baik-baik saja. Dia yang meminta kami untuk kembali ke sini," jawab Livy dengan napas putus-putus.
"Untuk apa? Apa ada barang yang ketinggalan?"
__ADS_1
"Norah bilang ada penyusup di markas Gold Dragon," jawab Livy cepat agar Zion tidak penasaran lagi.
"Penyusup?" Zion segera berlari menghampiri Faith. Meskipun beritanya belum jelas tetapi ia ingin ada di samping wanita itu untuk melindunginya dari bahaya. Faith yang saat itu sedang asyik mencuci ikan dibuat kaget oleh kemunculan Zion. Ditambah lagi ketika Zion menarik tangannya dan membawanya menemui Livy dan Abio.
"Mau ke mana? Aku belum selesai masak?" protes Faith kesal.
Ikan yang ingin dia cuci juga dia bawa ke ruang pertemuan. Tadinya Faith ingin protes tetapi Zion sama sekali tidak memandangnya.
Livy mengernyitkan dahi melihat penampilan Faith dan ikan yang ada di genggaman wanita itu. Dia jadi tahu kalau Faith memang dalam posisi sedang memasak. Ada juga apron yang menutupi pakaian wanita itu agar tidak kotor.
"Aku juga tidak mengerti apa maksud dari Norah tadi. Tapi tadi dia sempat bilang di markas Gold Dragon ada penyusup selebihnya Aku tidak tahu. Aku akan menghubunginya lagi dan menanyakan hal ini kepadanya." Livy mengambil ponselnya dari dalam tas dan segera menekan nomor Norah.
Dia tidak mau sampai disalahkan oleh Zion karena membawa berita palsu. Sambil menunggu panggilan telepon diangkat Norah, dia memandang Abio dan meminta pria itu untuk membantunya. Suasana di sana menjadi tegang ketika Zion dan Faith sama-sama diam karena kesal melihat kemunculan mereka. Faith rasanya ingin kembali ke dapur untuk meletakkan ikan yang ada di genggamannya tersebut.
"Norah, kenapa kau tidak mengangkat teleponku di saat genting seperti ini. Sekarang apa yang harus aku katakan?" umpat Livy di dalam hati.
"Kak Faith, sepertinya sibuk sekali. Apa yang ingin kak Faith masak?" tanya Abio untuk mencairkan suasana.
"Kakak?" tanya Faith sambil menunjuk dirinya sendiri. Wanita itu merasa tidak pantas jika harus dipanggil kakak karena dia masih belum terlalu tua.
"Ya, bukankah Kakak akan menikah dengan Kak Zion? Itu berarti Kakak adalah kakak ipar kami," jawab Abio dengan wajah yang begitu polos.
Zion melebarkan kedua matanya mendengar perkataan Abio. Jika saja pria itu dekat dengannya mungkin ia sudah memukulnya dengan kuat. Jika ada di depan Faith, Zion ingin dirinya tetap terlihat baik dan sopan. Bukan pria kasar seperti yang selama ini dia lakukan.
"Aku dan Tuan Zion hanya berteman saja. Tidak lebih dari itu. Bagaimana bisa kau memandangku sebagai kakak ipar," jawab Faith sambil menunduk malu.
"Itu kan sekarang. Nanti juga akan dekat dan pacaran," jawab Abio sambil menaik turunkan alisnya di depan Zion.
"Norah tidak bisa di hubungi," ucap Livy frustasi. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas lagi. "Tapi tadi ketika menghubungiku Norah sempat bilang kalau dia dan Austin diserang di tengah jalan. Apa mereka tidak menang melawannya?"
"Diserang? Kenapa kau tidak bilang sejak awal." Zion kali ini tidak bisa terlihat tenang lagi. Dia segera mengambil pistol yang tadi tergeletak di atas meja.
"Kak Zion, Aku juga tidak tahu Norah di serang di mana. Dia tidak memberitahuku. Dia hanya memaksaku untuk ke sini dan memberitahu Kakak kalau ada penyusup."
Zion tidak bisa diam saja ketika tahu kalau adiknya sedang diserang. Pria itu memandang wajah Faith dengan begitu menyesal. "Sepertinya aku tidak bisa makan malam denganmu. Aku harus mencari Norah dan memastikan kalau dia baik-baik saja. Livy dan Abio akan tetap di sini untuk menjagamu."
Faith mengangguk dengan wajah kecewa. "Aku mau masak dulu di dapur." Zion segera pergi sedangkan Faith kembali ke dapur.
Tersisa Livy dan Abio Yang masih berdiri di sana dengan wajah bingung. Mereka merasa bersalah karena sudah mengganggu makan malam yang sudah direncanakan Zion dan Faith.
"Sekarang kita harus bagaimana? Bukankah kita juga ingin makan malam romantis. Aku juga ingin pacaran denganmu. Kenapa sekarang kita jadi dapat tugas lagi?" protes Abio kurang suka.
"Lain kali saja. Hitung-hitung kita mencoba masakan kakak ipar," jawab Livy Sebelum menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada di sana. Wanita itu memperhatikan sekelilingnya untuk menjamin tidak ada yang sedang menguping pembicaraan mereka. Abio juga duduk di sofa yang sama dengan Livy. Dengan manjanya pria itu menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan sang wanita.
__ADS_1
"Seperti ini saja juga nyaman. Aku ingin tidur. Tubuhku lelah sekali." Abio segera memejamkan matanya. Livy mengusap rambut Abio dengan lembut. Wanita itu tersenyum sebelum memejamkan mata.