Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 75


__ADS_3

Austin membuka kedua matanya secara perlahan. Kepalanya terasa berat. Tubuhnya juga seperti diselimuti es. Dingin. Itu yang dirasakan Austin. Pria itu demam tinggi semalaman. Sampai pagi demamnya masih naik turun. Ada handuk kecil di dahinya untuk mengompres.


Austin mengeryitkan dahi melihat ada handuk kecil di atas kepalanya. Pria itu mengambilnya sebelum memandang ke samping. Austin tertegun melihat Norah tertidur di samping tempat tidur dengan posisi duduk. Wanita itu seperti sangat kelelahan.


"Norah," ucap Austin ragu-ragu.


Norah membuka kedua matanya secara perlahan. Melihat Austin sudah sadar membuatnya merasa jauh lebih lega sekarang.


"Apa kepalamu masih pusing Austin? Apa kau masih demam?" Norah memegang lengan Austin untuk memeriksa apakah suhu tubuh pria itu masih tinggi.


"Dimana kita? Kenapa kau bisa ada di sini?"


"Kau tidak suka aku ada di sini?" Norah mengambil handuk kecil yang ada di genggaman Austin. Dia memasukkannya ke dalam air dan memerasnya sebelum meletakkan di dahi Austin lagi.


"Aku senang kau ada di sini. Sangat senang. Tapi ... bagaimana dengan Zion Zein?"


Norah kembali membisu mendengar nama kakaknya. Sebenarnya hingga detik ini dia masih belum bisa tenang. Pikirannya dipenuhi dengan rasa bersalahnya terhadap Zion.

__ADS_1


Munculnya Paman Tano membuat Austin semakin bingung. Saat dia ingin duduk, tiba-tiba Norah mendorongnya hingga kembali tertidur.


"Kau belum boleh banyak gerak," protes Norah.


Austin tidak berani membantah. Dia memandang Paman Tano dengan alis saling bertaut. "Norah, bisakah kami bicara berdua?"


Tanpa mau menjawab, Norah segera beranjak dari duduknya. Wanita itu keluar dari kamar bahkan tidak lupa untuk menutup pintunya. Paman Tano memandang Norah sekilas sebelum memandang Austin lagi. Pria itu menunduk hormat sebelum mengatakan maksud kedatangannya.


"Bagaimana kabar anda pagi ini, Tuan?"


"Kenapa Paman bisa ada di sini? Siapa yang sudah menghubungi Paman? Semua koneksiku hilang. Aku tidak tahu tertinggal dimana. Tadinya aku pikir Paman Tano tidak akan pernah tahu dengan apa yang aku alami. Lalu, Norah. Kenapa dia bisa ada di sini juga? Bukankah dia bersama Zion? Apa Paman Tano yang meminta Norah untuk datang? Apakah Norah sudah tidak marah lagi padaku? Bagaimana caranya dia kabur dari Zion Zein?"


"Nona Norah menghubungi saya. Sepertinya dia mengingat nomor telepon saya. Dia meminta saya untuk menjemputnya di sebuah bandara, Tuan. Setelah itu dia membawa kami untuk menemui anda dan menyelamatkan anda. Dia juga meminta saya untuk membawa anda ke tempat yang jauh dari keramaian. Bahkan tidak ada koneksi jaringan apapun. Rumah ini yang menjadi pilihan saya. Sebenarnya sampai detik ini saya sendiri tidak tahu sebenarnya apa tujuan Nona Norah meminta saya untuk membawa anda bersembunyi seperti ini, Tuan."


"Sepertinya Norah kabur dari Zion. Ini bahaya. Hubungan Zion dan Norah bisa semakin renggang," batin Austin di dalam hati.


"Tuan, apa anda mengetahui sesuatu?"

__ADS_1


Austin menggeleng. "Paman, tolong jaga rumah ini agar Mr. A tidak sampai menyerang. Aku belum bisa bertarung. Kondisiku masih lemah. Aku tidak mau mereka menculik Norah lagi."


"Ini semua perbuatan Mr. A, Tuan?"


"Ya, dia dalang dari semua ini. Dia tidak terima aku pergi meninggalkan The Bloods. Dia mengetahui perasaanku terhadap Norah. Lalu dia memanfaatkan Norah untuk memaksaku melakukan apapun yang dia inginkan."


Paman Tano menggeleng tidak percaya. "Lalu, siapa Zion Tuan?"


"Dia ... musuhku. Sekaligus kakak kandungnya Norah."


"Anda bermusuhan dengan kakak kekasih anda sendiri Tuan?"


"Ini sungguh aneh. Tapi, sepertinya kami dipertemukan karena permusuhan ini. Aku tidak pernah menyesalinya. Tetapi Paman, bisakah anda membantuku? Bantu aku untuk mendapatkan restu keluarga Norah."


Paman Tano tersenyum. "Itu masalah yang gampang, Tuan. Serahkan semua kepada saya."


"Anda memang selalu bisa di andalkan. Sekarang dimana Norah? Aku ingin menemuinya." Austin duduk di atas tempat tidur. Dia ingin menurunkan kakinya karena sudah tidak sabar untuk berjalan. Namun, Paman Tano memegang pundak Austin dan menahannya agar tidak bisa berdiri.

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri, Tuan. Biar saya yang memanggil Nona Norah. Sebaiknya anda tetap berbaring di kasur."


"Baiklah." Walau sebenarnya ingin sekali membantah perintah Paman Tano, tetapi Austin tidak mau sampai Norah marah.


__ADS_2