
Abio senyum-senyum sendiri melihat foto mesra Foster dan Daisy. Sebagai sahabat, dia ikut senang melihat sahabatnya bisa bersatu dengan wanita yang dicintai. Karena terlalu asik chatting dengan Foster, sampai-sampai dia lupa dengan Livy yang sejak tadi ada di sampingnya. Wanita itu terlihat cemburu karena Abio tidak memperhatikannya.
Namun Livy masih gengsi untuk mengungkapkan rasa cemburunya. Hingga akhirnya dia memilih untuk mengaduk minuman yang ada di hadapannya sampai tumpah. Melihat Abio tidak memberi respon, dia memutuskan untuk menyenggol gelas itu hingga jatuh dan pecah.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Abio sembari menurunkan ponselnya.
"Aku mau pulang. Aku bosan di sini," ketus Livy dengan wajah jutek. Pelayan yang ada di restoran itu segera mendekati meja mereka untuk membereskan kekacauan yang ada. Livy melirik sekilas pelayan tersebut sebelum memandang Abio lagi. "Ayo cepat! Aku mau pulang," ajaknya lagi.
"Kenapa harus pulang? Bahkan makanan yang kita pesan saja belum datang. Bukankah kau sendiri tadi yang bilang kalau perutmu sangat lapar," tanya Abio bingung.
"Ya, tadi aku memang merasa sangat lapar tapi sekarang sudah tidak lagi."
"Kenapa bisa cepat sekali berubah pikiran.
Livy memejamkan matanya sambil mencengkram tangannya dengan kuat. Dia berusaha sekuat mungkin agar tidak terpancing emosi. "Kau menyebalkan Abio! Sangat-sangat menyebalkan." Livy menggebrak meja sebelum beranjak dari sana dan pergi.
Hal itu memancing pengunjung restoran untuk memandang ke arah mereka. Abio yang kebingungan segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera mengejar Livy.
"Sayang, tunggu aku," teriak Abio sambil berlari lebih cepat lagi.
Ketika Livy ingin membuka pintu mobil tiba-tiba saja Abio mendorong pintu mobil itu hingga tertutup kembali. "Ada masalah apa? Apa aku melakukan kesalahan? Jika memang, katakan saja. Jangan diam dan marah-marah tidak jelas seperti ini. Aku tidak tahu apa kesalahan yang sudah kuperbuat," ucap Abio berharap tunangannya itu mau menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
"Tidak ada," ketus Livy masih dengan wajah jutek.
"Tidak mungkin. Sebelumnya kita baik-baik saja. Kau tiba-tiba saja berubah seperti ini." Abio masih tidak percaya.
"Kenapa kau tidak makan malam dengan ponselmu saja. Kenapa harus mengajakku untuk makan malam jika akhirnya aku dibiarkan duduk sendirian. Kau bahkan terlihat jauh lebih bahagia bersama ponselmu daripada denganku."
Abio diam sejenak. Sekarang dia tahu apa yang sudah membuat kekasihnya marah. Sebenarnya dia ingin tertawa mendengar jawaban Livy. Namun tertawa hanya akan memperburuk keadaan karena saat ini wanita yang ia cintai sedang bad mood.
"Maafkan Aku." Abio berusaha memegang tangan Livy. Tapi dengan cepatnya, wanita itu menyembunyikan tangannya. Dia tidak mau di pegang oleh Abio.
"Aku tidak mau memaafkanmu," jawab Livy sebelum memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak chatting dengan wanita lain. Ini Foster. Dia memberitahuku kabar baik. Apa kau mau tahu kabar baik yang dia sampaikan kepadaku?"
"Apa?" tanya Livy masih dengan wajah tidak mau memandang wajah Abio karena Gengsi.
"Ternyata selama ini Foster tinggal di Ukraina. Kemarin tiba-tiba saja Opa Zen dan Daisy berlibur ke Ukraina."
Livy memandang wajah Abio karena dia merasa berita ini adalah berita yang penting. "Mereka bertemu?" tanyanya cepat.
Abio mengangguk. "Ya, mereka bertemu. Bahkan sekarang hubungan mereka semakin erat. Mereka telah pacaran lagi. Tadi Foster mengirimkan foto mesranya bersama Daisy. Apakah kau mau lihat?" Abio segera mengambil ponselnya dan memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh Foster. "Ini Lihatlah. Bukankah Mereka terlihat sangat mesra."
Livy memandang foto itu dan tersenyum. Melihat Daisy bisa bahagia membuatnya juga bahagia. Dalam sejenak saja senyum wanita itu hilang lagi. Itu membuat Abio bingung.
"Apa ada yang salah?"
Livy memandang wajah Abio. "Bagaimana dengan Kak Zion. Kak Zion pasti marah besar sama Foster. Dia pasti tidak terima jika tahu Daisy berlibur hanya untuk menemui Foster di Ukraina."
"Foster bilang kalau Kak Zion tidak akan tahu masalah hubungan mereka yang sekarang. Mereka masih merahasiakan hubungan mereka. Satu-satunya orang yang mengetahui hubungan mereka hanya Opa Zen dan kita berdua."
"Tapi mata-mata Kak Zion ada di mana-mana. Bagaimana kalau mata-mata Kak Zion menyampaikan informasi ini? Dia akan semakin marah jika dia tahu Daisy merahasiakan sesuatu darinya." Livy kenal betul bagaimana sifat Zion. Hal ini membuatnya khawatir. Dia tidak mau sampai hubungan persaudaraan Zion dan Daisy renggang karena Foster.
Karena masalah yang terjadi sudah jelas, Livy jadi tidak kesal lagi. Wanita itu Memegang perutnya dan tersenyum penuh arti.
"Aku lapar. Apa makanan yang kita pesan masih bisa untuk dimakan?"
Abio menarik satu alisnya ke atas. Dia terlihat menahan senyum. "Restoran di sini pelayanannya kurang bagus. Bagaimana kalau kita cari restoran di tempat lain?" ajak Abio. Sebenarnya bukan karena pelayanannya yang tidak bagus. Tapi karena Abio tidak mau nanti ketika mereka masuk ke dalam mereka jadi bahan cerita orang-orang yang ada di dalam sana. Sebisa mungkin ia ingin menjaga perasaan Livy agar tidak sampai sakit hati.
"Baiklah, ayo kita berangkat. Aku sudah lapar sekali. Papa akan marah jika kita pulang larut malam."
"Ayo kita cari tempat lain tuan putri. Lain kali jangan langsung marah. Tanyakan dulu padaku apa yang aku terjadi."
Livy hanya diam saja. Wanita itu duduk di dalam mobil dan tersenyum manis. "Setelah aku jatuh cinta padanya aku ingin perhatian yang dia miliki hanya untuk aku seorang. Apa ini termasuk sifat egois?" gumam Livy di dalam hati.
Abio masuk ke dalam mobil dan menghidupkan mobilnya. Lagi-lagi ponsel pria itu berdering hingga akhirnya ia menunda untuk melanjukan mobilnya.
__ADS_1
"Ini telepon dari mama. Apa aku boleh mengangkatnya?"
"Kenapa harus izin?" tanya Livy dengan alis saling bertaut.
"Aku tidak mau kau marah lagi."
"Cepat angkat! nanti teleponnya keburu mati."
Abio segera mengangkat teleponnya dan melekatkannya di telinga. "Halo Ma."
"Kau ada di mana? Kenapa hari ini tidak menghubungi mama juga tidak ada kabar?"
Abio memandang wajah Livy dan mengusap pipi wanita itu. "Abio lagi pacaran bersama Livi, Ma. Maafkan Abio karena hari ini sangat sibuk jadi tidak bisa menghubungi Mama. Apa Mama baik-baik saja."
"Ya, Mama baik-baik saja. Kapan kau akan pulang. Bawa Livy ke sini. Mama ingin bicara banyak dengannya."
"Soal itu nanti Abio tanya langsung sama Livy, Ma."
"Baiklah. Maafkan Mama karena sudah mengganggu waktumu. Jika kau sudah memutuskan untuk pulang ke rumah kabari mama."
"Baik Mas. Abio sayang sama Mama." Pria itu segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia memandang Livy sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Kapan kau tidak sibuk?"
"Mulai besok aku sudah aktif lagi di rumah sakit. Ada apa?"
"Mama memintaku untuk membawamu ke rumah. Kapan kau ada waktu? Kita akan berangkat sama-sama ke sana."
Livy diam sejenak sambil berpikir. Sebenarnya dia bisa saja cuti lagi untuk tidak masuk. Tetapi bukan itu masalah yang sekarang ia pikirkan. Livy belum siap bertemu dengan kedua orang tua Abio. Walau dia tahu kedua orang tua Abio sangat menyayanginya. Tetapi entah kenapa dia belum siap. Dia ingin belajar banyak dulu dari ibu kandungnya sebelum bertemu dengan kedua orang tua Abio. Livy ingin terlihat sempurna di mata mertuanya.
"Sayang, kenapa kau diam saja?"
"Nanti kalau sudah ada waktu luang aku akan segera memberi tahumu."
__ADS_1
"Baiklah, jangan terlalu dipikirkan. Sekarang ayo kita pergi makan aku juga sudah lapar sekali." Abio melajukan mobilnya menuju ke restoran lain. Sedangkan Livy memandang keluar jendela sambil memikirkan permintaan kekasihnya. "Jika aku bertemu dengan calon mertuaku, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Kira-kira barang apa yang disukai oleh mertuaku?" gumam Livy di dalam hati.